
Sepulang dari kantor Shane menuju rumah Amira rencananya dia ingin mengajak Amira untuk menjenguk Arini dan Sean.
Pikirnya dengan mengajak Amira Sean akan sungkan dan tidak akan menghajarnya.
Shane dan Amira baru saja jadian, dan Shane telah memanggil Amira dengan sebutan sayang, awalnya Amira sedikit malu namun lama-lama dia terbiasa dengan panggilan Shane untuknya.
"Sayang, yuk ikut aku?" ajak Shane
"Kemana?" tanya Amira
"Rumah sakit untuk menjenguk Sean dan Arini?" Jawab Shane.
"Mereka kenapa?" tanya Amira lagi
"Sean habis digebukki orang dan Arini tertembak," jawab Shane.
Shane akhirnya menceritakan semua pada Amira dengan panjang kali lebar, Amira yang tahu kalau sahabatnya masuk rumah sakit menjadi khawatir.
"Ayo mas kita segera kesana," ajak Amira sambil menarik Shane.
Shane ditarik saja oleh Amira sehingga jungkir balik dari bangku.
Aaauuwwwww
Teriak Shane yang pura-pura kesakitan, sehingga membuat Amira panik.
Amira mengelus bagian yang sakit tentu hal ini dijadikan kesempatan oleh Shane.
"Kakiku sakit sekali sayang," katanya dengan berpura-pura sakit.
Amira mengelus dan meniupi kaki Shane, "Gimana udah enakkan?" tanya Amira.
"Belum, entah aku bisa berjalan atau tidak, rasanya sungguh sakit sekali," ujar Shane yang semakin membuat Amira semakin panik.
Amira membantu Shane berdiri dan duduk kembali di bangku, "Lalu ini bagaimana? aku ingin segera ke rumah sakit," kata Amira yang membuat Shane kesal
"Yang kekasihmu tu siapa sih, aku atau Sean?" tanya Shane kesal.
"Kamu dong mas," jawab Amira dengan tersenyum manis.
Melihat senyuman Amira membuat Shane tidak bisa berkutik, kekesalannya menghilang seketika.
Shane memang sangat mencintai Amira, Cinta untuk Amira sungguh dalam.
Amira yang merasa bersalah pun mendaratkan ciumannya di bibir Shane, tentu hal ini membuat Shane menjadi shock karena ini pertama kalinya Shane dan Amira berciuman.
Tak jauh dari sana ada papa Amira yang keluar rumah, matanya kini ternodai oleh aksi panas anak dan kekasihnya tersebut.
"Shaaaaane!!!" teriak papa yang membuat dua insan muda ini melepas pautan mereka dan gelagapan.
"Mati aku," gumam Shane
Papa Amira mendekat, "Apa-apaan kalian!" seru papa Amira
"Maaf calon Papa, nggak sengaja kami ciuman," kata Shane
"Nggak sengaja tapi menikmati sampai memejamkan mata," sahut papa kesal.
Shane dan Amira seperti kucing yang tertangkap basah sedang mencuri ikan, dia sungguh tak enak sekali dengan calon mertuanya tersebut.
"Ayolah papa mertua, anda seperti tidak pernah muda saja," bujuk Shane.
"Aku tidak mempermasalahkan ciuman kalian namun yang jadi masalah kenapa kalian melakukan hal ini di tempat umum yang siapa juga bisa melihat aksi panas kalian," ungkap Papa Amira.
Shane nampak tersenyum
'Ayo sayang kita lanjut dulu dikamar udah boleh ma calon papa mertua," kata Shane yang membuat papa Amira kesal.
"Shaaaaaaaneeeee," teriaknya melengking.
"Iya maaf calon papa mertua," sahut Shane.
Karena telah membuat papa Amira kesal Shane kena skors satu bulan, dan itu membuat Shane melemas.
"Kasihanilah saya calon papa mertua," bujuk Shane memelas dengan Puppy eyes nya.
"Ya sudah hukumannya aku kurangi," sahut papa
Shane nampak tersenyum, puas sekarang karena calon papa mertuanya mengurangi hukumannya.
"Hukuman kamu jadi 29 hari," ujar papa Amira dengan tertawa lalu meninggalkan Shane dan Amira.
Amira hanya tertawa melihat Shane, meskipun di skors namun kali ini Amira tetap pergi ke rumah sakit.
*********
Kini semua berkumpul di ruang perawatan Arini.
Shane dengan Amira, Daffa dengan Putri dan Nick dengan Vani.
"Jadi kalian bersembunyi di ketiak pasangan kalian masing-masing," kata Sean lalu mendekat dimana sahabatnya berkumpul.
Semua hanya tertawa, minimal dengan begitu Sean tidak akan mengajar mereka.
"Amira minggir lah sebentar," kata Sean.
Setelah Amira pindah tempat Sean langsung saja mengapit kepala Shane dengan ketiaknya.
Dia mengguncang tubuh Shane.
"Kamu lah otaknya, Karena ulah mu aku menangis sesenggukan dan kalian pasti telah menertawakan aku tadi," omel Sean
"Ampun pak Sean, aku hanya pencetus ide, pak Daffa dan Nick juga menyetujuinya ya sudah dieksekusi idenya," sahut Shane berkilah.
Melihat sang kekasih dianiaya, membuat Amira mengiba pada Sean supaya melepaskan Shane.
"Untung ada Amira jika tidak habis dirimu," omel Sean lalu melepaskan Shane.
Shane berpura-pura menjadi mahkluk yang paling sengsara sedunia untuk mendapatkan perhatian Amira.
"Sayang tolong aku," kata Shane lirih.
Amira mendekat lalu memijat pundak Shane, "Kamu ini Sean, kenapa menganiayanya?" tanya Amira
"kamu tidak tau ketiga orang ini mengerjai aku, mereka bilang Arini meninggal dan berhasil membuat aku menangis sesenggukan, dan kekasihmu inilah pencetus idenya," jawab Sean.
Amira melemparkan tatapan mautnya pada Shane , "Tau gitu nggak akan mungkin aku mengiba pada Sean dan memintakan pengampunan untukmu," gerutu Amira kesal.
Kini tatapan Sean tertuju pada Daffa, "Maafkan aku Sean, aku membawa anak di bawah umur jadi jangan melakukan tindak kekerasan di depannya," kilah Daffa dengan tertawa.
"Baiklah tapi mobil sport kamu yang terbaru menjadi milikku ya?" Sean bernegosiasi dengan Daffa.
Daffa memiliki mobil sport yang sangat diinginkan Sean, harganya juga cukup fantastis. Mobil itu hanya beberapa unit saja di seluruh dunia.
"Ogah, mobil itu hanya di produksi beberapa unit saja, limited edition, mintalah yang lain," Daffa menolak keinginan Sean.
"Baiklah baiklah, kali ini kamu aku lepaskan namun lain kali jangan harap," ancam Sean.
Terdengar suara ringikkan dari bed Arini. Putri, Vani dan juga Amira datang mendekat untuk melihat keadaan Arini.
Arini tersenyum saat melihat mereka, "Eh kalian," sapa Arini dengan tersenyum.
Para lelaki kini minta pamit keluar, karena mereka ingin merokok.
Ketiga wanita itu mengangguk barengan bagai paduan raga.
"Kamu sekarang dengan Shane Amira?" tanya Arini basa basi padahal dia sudah tau.
"Iya, Arini," jawab Amira.
Saat Arini menyibakkan selimutnya nampak perut Arini bergerak-gerak, sehingga membuat temannya membolakan mata.
"Rin, dia bergerak," kata Amira dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Iya," sahut Arini.
Vani dan Putri menyentuh perut Arini dan benar saja Bayi yang di dalam merespon sentuhan Putri dan Vani.
"Wahhhhh," kata Vani
"Baik-baik di dalam yah," bisik Vani
Arini tersenyum, melihat tingkah para sahabatnya.
"Apa besok kalau kita hamil juga seperti ini?" tanya Putri
"Ya iyalah put," jawab Vani dan Amira barengan.
"Jadi nggak sabar," sahut Putri.
Vani dan Amira melemparkan tatapan mautnya pada Putri, "Hust anak dibawah umur belum boleh menikah, lebih baik sekolah dulu yang pinter baru deh kamu mikir menikah," Nasehat Vani dan Amira.