Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Perubahan Sean


"Apa!" teriak Arini


"Aku lelah, aku sungguh bingung apa artinya aku di mata kamu? cuma teman ranjang atau teman hidup yang berhak atas semua apa yang kamu punya." Arini melontarkan pertanyaan yang seketika membuat Sean terdiam.


Sean memalingkan wajahnya, dia sungguh tidak sadar jika perbuatannya akan membuat Arini terluka.


"Maafkan aku," ucapnya lirih


Arini yang masih kecewa memejamkan matanya, dia malas berdebat dengan Sean.


Dia hanya ingin mengistirahatkan otaknya yang leleh meskipun dia tidak bisa tidur.


Sean ikut tidur di samping Arini, dia ikut memejamkan mata meskipun otaknya masih kemana-mana memikirkan sikapnya selama ini.


"Aku akan belajar lebih peka lagi Arini," gumam Sean lalu bangun untuk mengecup istrinya yang pura-pura terlelap.


Arini membuka matanya sedikit, dia melihat Sean yang sibuk memainkan ponselnya.


"Aku lapar sekali," batin Arini


Karena sudah tidak tahan, Arini bangun dan keluar. Sean yang takut kalau Arini pergi pun membuntutinya


"Arini," panggilnya


Arini menghentikan jalannya dan menoleh


"Mau kemana?" tanya Sean


"Makan," jawab Arini singkat lalu melangkahkan kaki kembali


Sean tersenyum lalu mengejar Arini.


Arini membuka kulkas dan melihat isi di dalamnya.


Dia mengambil buah dan juga es krim.


"Mau es krim?" tanya Arini


"Iya," jawab Sean


Mereka berdua makan es krim sambil mengobrol, Sean bertanya pada Arini kalau tadi kemana saja.


"Aku bersama Daffa," jawab Arini


Sean nampak kesal tapi dia mencoba meredam emosinya supaya tidak membuat Arini marah.


"Kamu kan istri orang kenapa pergi dengan pria lain," sindir Sean


"Kamu juga suami orang kenapa lebih perhatian pada perempuan lain?" sindir balik Arini


Sean terdiam, begitu pula Arini.


Setelah selesai menghabiskan es krim dan buahnya Arini kembali ke kamar dan meninggalkan Sean yang masih duduk di meja makan.


*********


Pagi sekali Sean sudah bersiap,


"Arini kalau kamu lebih nyaman di rumah kamu bisa berhenti bekerja," kata Sean dengan lembut.


Arini nampak bingung namun dia juga tidak banyak bertanya.


"Aku berangkat dulu ya," pamit Sean lalu mengecup kening Arini


Baru beberapa langkah Sean kembali lagi, "Maafkan soal kemarin," kata Sean dengan tersenyum lalu keluar kamar.


Arini bengong melihat tingkah Sean, seratus delapan puluh derajat berbeda dengan Sean yang biasanya.


"Pagi-pagi kesambet, jangan-jangan kamar ini ada penghuninya lagi," gumam Arini lalu beranjak.


Setelah memakai pakaiannya, Arini turun kebawah. Pelayan sudah menyiapkan sarapan Arini. Saat asik sarapan ada supir yang disuruh menjemput Arini lagi.


"Ada apa ya mereka menjemput aku lagi," batin Arini bingung.


Arini ikut dengan supir suruhan orang tua Sean, saat sampai di sana nampak keluarga Sean berkumpul semua termasuk papa Sean.


"Selamat pagi nyonya nenek, nyonya dan tuan papa," sapa Arini


Oma yang mendengarnya menjadi marah sedangkan Mama dan Papa Sean tersenyum.


"Aku kemarin bilang apa, panggil Oma, bukan nyonya Oma," protes Oma


Arini menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Baik Oma maaf lupa," sahutnya


"Kami menjemputmu karena ada yang ingin kami bicarakan padamu," kata Papa Sean


"Apa tuan papa?" tanya Arini


Papa Sean tertawa," panggil papa saja," suruh papa Sean


Lagi-lagi Arini menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kami ingin kamu dan Sean meresmikan hubungan kalian baik negara maupun agama. Meski dalam agama kalian sudah halal namun kalian masih belum menikah karena belum terdaftar di pengadilan agama," jelas papa Sean


Arini nampak bingung, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Semua saya serahkan pada Sean pa, ma dan Oma," sahut Arini


Mereka mengobrol bersama terlebih nenek yang bertanya macam-macam pada Arini.


"Kamu bisa memasak?" tanya nenek


Arini hanya tertawa dan menggeleng" Nggak Oma,"


Mama Sean yang tau kalau ibu mertuanya pasti sakit kepala segera mengambil obat, papa sean yang ada urusan juga pamit undur diri.


"Istri jadi-jadian Oma," sahut Arini


Oma hanya menggelengkan kepala, sedangkan Arini menutup mulutnya


"Lalu apa keahlian kamu?" tanya Oma


Arini nampak berfikir hingga akhirnya dia menjawab pertanyaan Oma,


"Dulu waktu acara tujuh belasan orang-orang meminta saya untuk menari dan juga menyanyi Oma," jawab Arini bersemangat


"Apa Oma mau mendengar aku menyanyi?" tanya Arini dengan PD


Belum sempat Oma menjawab Arini sudah memposisikan dirinya seperti artis nasional yang sedang memegang mic siap untuk menyanyi


Yowes ben duwe bojo sing galak


yowes ben sing omongane sengak


seneng gawe aku susah nanging aku wegah pisah


tak tompo Ono ing Jero ati


tak trimo sliramu tekan Saiki


mungkin wes dadi dalane


senajan kahanane koyo ngene


Arini mengiringi lagunya dengan berjoget sehingga membuat Oma dan mama Sean saling pandang.


"Stop Arini!" teriak Oma


"Fatma Fatma ambilkan obatku, kepalaku pusing sekali," pinta Oma dengan memegangi kepalanya


Arini yang melihat Oma kesakitan menghentikan jogetannya.


"Anak kurang ajar, didepan orang tua asik joget," omel Oma


Arini menundukkan kepala, "Maaf Oma, mama." Arini meminta maaf


Mama dan Arini membawa Oma istirahat


"Arini mendengar lagu yang kamu nyanyikan apa Sean galak padamu?" tanya mama


Arini hanya tersenyum bingung harus bilang apa


"Banget jahatnya, suka berteriak dan suka memaki maki aku seenaknya," batin Arini


Mama menepuk bahu Arini, "galak ya?" tanya mama


"Nggak kok ma, tuan suami baik padaku bahkan dia sayang sekali padaku," jawab Arini bohong


Mama mengerutkan alisnya, "Tuan suami?" tanya mama


"Hehe maksudnya suamiku ma," jawab Arini


Mama tersenyum dan mengangguk meskipun dia tidak yakin dengan jawaban Arini.


Lama mengobrol Akhirnya mama Sean menyuruh Arini untuk istirahat di kamar Sean.


"Istirahatlah di kamar Sean," kata mama


"Iya ma," sahut Arini


Mama mengantarkan Arini ke kamar Sean, saat masuk mata Arini membola melihat begitu banyak piala penghargaan yang didapat Sean. Selain itu banyak buku-buku tertata rapi di sana.


"Pintar juga dia, pantas sekarang dia menjadi Presdir," gumam Arini


Arini melihat satu persatu barang milik Sean, ada banyak fotonya bersama Daffa.


"Kalian berdua memang tampan dari lahir," kata Arini menatap foto suaminya dan juga Daffa.


Mata Arini menemukan foto Sean, Daffa dan juga seorang wanita.


"Siapa dia?" gumam Arini


Asik melihat barang-barang Sean, tiba-tiba ponsel Arini berbunyi.


"Monster kampret memanggil"


Segera Arini menjawab telpon dari Sean


***Halo Arini


Iya tuan suami


kamu di rumah ku ya?


iya, ini lagi di kamar kamu


Aku akan kesana


Ok***


Tut Tut


panggilan ditutup


Sean yang rencananya ingin makan di rumah namun karena Arini tidak pergi ke rumah orang tuanya jadi dia pergi menyusul Arini.


Setibanya di rumah orang tuanya, Sean bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Dia memeluk Arini dari belakang, "Sayang," bisik nya