
Mama dan papa Amira sangat sedih, Daffa yang mereka kenal lemah lembut dan menyayangi Amira sampai bisa bicara seperti itu.
"Kelihatannya kita harus bawa Amira berobat ke luar negeri. Mungkin dengan begitu dia bisa mendapatkan suasana baru dan semoga bisa lupa dengan Sean maupun Daffa." Mama memberi ide
Papa setuju dengan istrinya, sekeras apapun usahanya Sean dan Daffa tidak bisa membantu yang ada Amira semakin parah.
"Secepatnya ma kita bawa Amira ke luar negeri," ucap Papa
Mama mengangguk lalu mereka menenangkan Amira yang terus saja berteriak memanggil nama Daffa dan juga Sean bergantian.
*******
Hari berjalan dengan cepat sudah seminggu berlalu seperti biasa Sean dipusingkan dengan keinginan yang aneh-aneh dari Arini.
"Rasanya otakku mau pecah," gerutu Sean
"Sabarlah tuan suami, dia adalah anugerah yang terindah yang diberikan Tuhan pada kita jadi kamu harus sabar," kata Arini menenangkan Sean
Sean menatap Arini dengan kesal ingin rasanya dia memanjat istrinya sampai pagi.
"Aku mau tidur, siapkan dirimu," kata Sean
Arini mengangguk, meskipun dia terkadang melawan dan selalu membantah Sean tapi kalau mengenai kewajibannya menjadi seorang istri dia tidak pernah menolak.
Seusai mendapatkan pelepasannya Sean langsung tertidur lelap.
Arini yang masih terjaga menatap wajah suaminya dengan lekat. Tangannya menjelajah setiap lekuk wajah Sean.
"Kamu kini adalah pemilik hatiku sayang, i love you," ucap Arini lalu mengecup kening suaminya.
Sean tersenyum dalam tidurnya seolah merasakan kecupan dari istrinya.
Arini yang sudah dirasuki kantuk perlahan memejamkan matanya dan akhirnya dia terlelap dengan memeluk Sean.
Keesokan harinya Arini terbangun lebih dahulu, setelah membersihkan diri dia membangunkan Sean dengan tetesan air dari rambut basahnya.
Sean yang merasa terganggu pun membuka matanya,
"Sayang, apa-apaan sih," ucapnya kesal
"Maaf maaf, aku cuma ingin membangunkan mu sayang," sahut Arini
Sean yang mendengar Arini memanggilnya sayang malah menarik tubuh Arini sehingga jatuh di atasnya.
"Apa? kamu panggil aku apa?" tanya Sean
"Kalo nggak suka ya udah, aku ralat," jawab Arini
"Suka kok, suka banget malah," sahut Sean
Arini tersenyum,
"Sudah mandi sana, ayo kita ke kantor," kata Arini
"Seperti kamu Presdirnya," sahut Sean lalu beranjak ke kamar mandi
Arini tertawa dengan menatap punggung Sean yang masuk kamar mandi.
Pagi ini Sean merasakan ada yang aneh dengan Arini, sedari tadi Arini selalu memeluknya.
"Kamu nggak lagi kesambet kan sayang?" tanya Sean heran dengan Arini
"Kesambet gundul mu, entah mengapa hari ini aku tuh bawaannya pengen meluk orang," jawab Arini
Sean mengerutkan alisnya, dia bingung dengan kata Arini yang menurutnya ambigu.
Sesampainya di kantor, Sean menyuruh Nick mengumpulkan pegawai untuk menerima briefing pagi.
Semua laporan sudah ada di tangan Sean, saatnya mengevaluasi kinerja para pegawai.
Arini menunggu di ruangan Sean dan saat Sean kembali Arini langsung saja memeluk suaminya tersebut.
"Sayang, aku kangen banget," kata Arini
Sean tersenyum melihat istrinya bilang rindu padanya padahal baru dua jam ditinggal.
"Aku juga kangen sekali sayang, satu menit berasa berabad-abad," sahut Sean
Arini melepas pelukannya lalu mencibirkan bibir, "lebay," timpal Arini
Sean sangat kesal sekali, ingin rasanya menggetok kepala Arini supaya otaknya tidak konslet. Asik asik menggombal malah dibilang lebay.
Sean menyuruh Arini untuk rebahan di sofa supaya tidak capek sedangkan dirinya harus mengerjakan pekerjaannya serta mengecek laporan perusahaan.
Arini yang merasa boring ingin turun ke bawah untuk menemui Vani. Dengan posesif Sean tidak mengijinkan Arini namun karena Arini terus merengek mau nggak mau Sean mengijinkannya.
Saat bertemu Vani, Arini juga langsung memeluk sahabatnya tersebut. Hari ini kelihatannya dia terkena ngidam peluk.
Arini terus saja memeluk Vani tanpa ingin melepasnya.
"Bentar lagi Van, ini kemauan keponakan kamu,' sahut Arini
Merasa puas dia melepas pelukannya,
Arini dan Vani mengobrol di bangku bawah pohon di samping kantor, banyak yang mereka obrolkan dan obrolan mereka harus berhenti karena perut Arini yang terus berbunyi.
"Kamu lapar Rin?" tanya Vani
"Iya ni, aku kok pengen makan semur jengkol. Kamu mau nggak belikan aku semur jengkol di langganan kita dulu?" tanya Arini
"Mau lah Rin, apa yang nggak buat kamu tapi masalahnya aku nggak bawa sepeda," kata Vani
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Nick berjalan hendak ke parkiran mobil, entah dia mau kemana.
"Pak Nick," panggil Arini
Tau Arini memanggil Nick membuat Vani gugup dan dia semakin gugup saat Nick semakin dekat dengan mereka.
"Ada apa nona?" tanya Nick
"Bisa nggak ngantar Vani untuk membeli semur jengkol," jawab Arini
"Bisa nona," sahut Nick
Nick mengajak Vani untuk segera berangkat karena selain membeli semur jengkol, dia juga harus segera setor tunai ke bank.
"Ya Allah jantungku rasanya mau copot, bagaimana ini," batin Vani
Nick sesekali menoleh ke arah Vani yang terlihat sangat gugup.
"Kamu kenapa gugup begitu Van?" tanya Nick
Vani hanya meringis tanpa menjawab pertanyaan Nick.
Selepas kepergian Nick dan Vani, Arini kembali lagi ke ruangan Sean, saat Arini masuk ternyata di dalam ada Daffa yang sedang melaporkan hasil terbaru proyek mereka serta mendiskusikan hitungan RAB arsiteknya.
Arini segera menghampiri Daffa namun Sean yang tau kalau istrinya ingin mendekat kearah Daffa menghalanginya dengan berpindah duduk.
"Aku kangen mas Daffa sayang," kata Arini
"Lalu mau ngapain?" tanya Sean
"Boleh nggak aku minta dipeluk mas Daffa sayang," pinta Arini
Sean membolakan matanya sedangkan Daffa hanya tersenyum
"Dengan senang hati Arini," sahut Daffa
"Nggak aku nggak ikhlas kamu memeluk atau dipeluk Daffa," ucap Sean marah
Arini menatap Sean dengan tatapan puppy eyes nya, dia berharap supaya Sean mengijinkannya.
"Biar aku saja yang menggantikan nyidam kamu," kata Sean marah
Mendengar kata-kata Sean membuat Daffa mengerutkan alisnya, tentu dia ogah jika Sean menggantikan posisi Arini
"Nggak mau," sahut Arini kesal dengan Sean
"Kenapa nggak mengantikan aku hamil sekalian," imbuh Arini mengomel
Sean menjadi frustasi,
Arrrggggggg
"Sayang, please nyidam yang lain ya," pinta Sean
Setelah melakukan negosiasi yang lumayan panjang, akhirnya Sean setuju jika Arini memeluk Daffa.
Sebelum memeluk Daffa, Sean mengenakan jasnya pada Arini.
"Ingat jangan di tempelkan ya bagian dadanya," pesan Sean
Karena sudah tidak sabar Arini langsung memeluk Daffa, dan baru sebentar saja Sean menarik tubuh Arini dan memeluknya
"Aku mewakili Daffa," kata Sean
"Tapi akunya mau mas Daffa sayang," sahut Arini
Daffa hanya tertawa melihat keposesifan Sean. Karena sudah tak ada yang dikerjakan Daffa pamit undur diri.
Pamitnya Daffa sebenarnya lebih karena sakit hati melihat ke posesif an Sean, dia merasa iri dengan Sean karena bisa memiliki Arini.
Daffa datang ke rooftop untuk menenangkan dirinya, dia mengingat masa-masa berdua dengan Arini di sana.
"Aku rindu kamu, Arini" gumamnya