
Melihat senyum sinis mamanya membuat Daffa menatap mamanya dengan lekat.
"Dia adalah wanita pilihanku, jadi mama nggak usah repot-repot menjodohkan aku," jawab Daffa.
Putri yang takut semakin menggenggam erat tangan Daffa, ingin rasanya dia menghilang dari tempat itu.
Mama tersenyum sinis pada Putri, melihat mama Daffa menatapnya lagi-lagi membuat Putri sedikit takut.
"Jangan takut Put, mama Daffa dan dirimu sama-sama makan nasi untuk apa takut," batin Putri menyemangati dirinya sendiri.
"Halo nona, siapa namamu?" tanya Mama Daffa
"Saya Putri," jawab Putri
"Apa pekerjaan kamu? tanya Mama Daffa menyelidik
"Saya sekertaris pak Daffa," jawab Putri.
Mama Daffa bertepuk tangan, "Pantas, kalian saling suka karena sering bertemu," sahut Mama Daffa.
"Latar belakang keluarga kamu bagaimana nona Putri?" tanya mama Daffa lagi yang lebih tepatnya pertanyaan menyelidik.
Putri terdiam dia sungguh bingung harus bilang apa, pasti mama Daffa akan menghinanya jika tau kalau ayahnya tidak memiliki pekerjaan karena sakit.
"Ayah Putri menjabat sebagai DPRD tingkat satu, selain itu dia juga pemilik sebuah rumah sakit di kota C," jawab Daffa asal.
Putri semakin pusing, untuk apa Daffa harus berbohong. Sean, Nick dan juga Shane juga mengiyakan atas kode dari Daffa.
"Kami sudah lama mengenalnya," sahut Sean.
Mama Daffa melirik Daffa, "Statusnya bukan seperti istrimu kan Sean?" Mata mama Daffa menyelidik menatap Sean dengan sinis.
Ingin sekali Arini menarik rambut mama Daffa hingga botak, sombong sekali jadi orang.
"Mama cukup," pinta Daffa.
Mama Daffa memanggil Daffa, dia ingin berbicara berdua pada Daffa sedangkan Putri berjalan mengambil minum, dia ingin sekali pergi dari pesta yang menyebalkan ini.
"Bodoh, aku mau pulang," gumamnya dengan kesal.
Tiba-tiba ada wanita cantik yang menemani Putri,
"Halo," sapanya
"Halo," sapa Putri balik.
Mereka berdua akhirnya mengobrol panjang kali lebar.
"Daffa tidak mau, Daffa mencintai Putri. Mengertilah ma," pinta Daffa
"Tidak Daffa, mama tidak merestui kamu dengan Putri," bentak Mamanya.
"Terserah, yang jelas Daffa akan tetap mempertahankan cinta Daffa," sahut Daffa
"Berani kamu melawan mama Daffa," timpal Mama
Daffa terdiam, dia juga tidak ingin melawan mamanya tapi bagaimana lagi mamanya sangat egois, dia hanya ingin hidup bersama orang yang dia cintai kenapa harus dihalangi?
"Daffa mohon ma, hargai keputusan Daffa dan restui kami," pinta Daffa memohon pada mamanya.
"Tidak, kamu tetap harus menikah dengan Diana," sahut mama
Daffa sangat kesal sekali,
"Kenapa mama nggak jodohin dia dengan papa saja," ujar Daffa yang membuat mamanya marah.
Mama yang marah menampar Daffa dengan keras, sehingga membuat seluruh tamu menatap drama ibu dan anak tersebut.
"Anak kurang ajar kamu Daffa!" seru mama.
Daffa memegangi pipinya dengan tersenyum sinis, lalu dia pergi. Mamanya terus memanggil nama Daffa tapi tidak digubris oleh Daffa.
Dengan pikiran yang kalut Daffa menarik Putri, dia ingin mengajak Putri pergi dari tempat itu,
Namun bukannya Putri yang ditarik melainkan wanita yang akan dijodohkan dengannya.
Putri memaku melihat Daffa membawa wanita itu pergi bukannya dirinya. Putri menganggap kalau Daffa menerima perjodohan tersebut.
Shane yang tau akhirnya mengajak Putri keluar,
"Tenangkan dirimu," kata Shane.
Daffa yang sadar kalau yang digandeng bukannya Putri pun melepas tangannya.
"Siapa kamu?" tanya Daffa
"Aku Diana, calon tunangan kamu," jawab Diana
"Maaf aku salah menggandeng orang, dan untuk perjodohan ini jangan terlalu berharap," kata Daffa.
Wanita itu terdiam memandang punggung Daffa yang masuk kembali ke dalam namun saat dia masuk, dia tidak melihat teman-temannya maupun Putri.
Arrrgggggg
"Pasti dia marah denganku karena aku salah menarik orang," guman Daffa.
"Put," panggil Daffa
Putri menoleh lalu membuang wajahnya karena Putri masih kesal dengan Daffa.
"Maaf tadi aku salah bawa orang," kata Daffa
Daffa yang tidak mau basa-basi menarik tangan Putri dan mengajaknya pergi meninggalkan Shane yang duduk di sana.
"Main pergi saja" gerutu Shane
Daffa mengajak Putri ke sebuah tempat di pinggiran kota.
"Ini tempat apa mas," tanya Putri
"Tempat singgahku jika aku sedang ada masalah ," jawab Daffa.
Mereka saling diam, Daffa sungguh bingung harus bagaimana sekarang begitu pula dengan Putri yang juga bingung.
"Apa sebaiknya kita berpisah saja mas, orang tuamu tidak merestui aku jadi pendamping kamu. Latar belakang keluargaku yang dari kalangan bawah memang tak pantas bersanding dengan kamu," kata Putri melerai keheningan di antara mereka.
Daffa hanya diam, dia telah merasakan sakit saat Arini tidak membalas cintanya dan sekarang dia tak ingin kehilangan cintanya untuk kedua kalinya.
"Memangnya kapan kita jadian kenapa kamu ingin pisah dariku," kata Daffa yang membuatnya melemparkan tatapan mautnya ke Daffa.
"Ya malah bagus dong, jadi gak susah bilang pisah," sahut Putri kesal.
Daffa tertawa melihat wanita di sampingnya,
"Aku mencintaimu Put, semakin hari keinginan untuk bersamamu semakin kuat meskipun kamu masih Bocil, tapi aku sungguh mencintaimu," ucap Daffa
Putri menitikkan air mata, "Aku juga mas, meskipun aku masih Bocil tapi aku sangat mencintai kamu yang udah dewasa," sahut Putri.
Mereka pun saling memeluk bahkan bibir mereka saling bertemu dan menyerang.
Dan beberapa saat kemudian mereka saling mengambil nafas.
"Oh ya, aku kan ulang tahun mana kado buat aku?" tanya Daffa
Arini meringis, "Maaf mas aku nggak bawa kado buat kamu," jawab Arini bohong.
Sebenarnya dia membelikan kaos untuk Daffa, dia juga mendesain kaos tersebut dengan tulisan Daffa Putri love forever, dia membuat dua kaos satu untuknya dan satu untuk Daffa.
Daffa melirik sebuah paper bag yang disembunyikan Putri di bawah kakinya.
"Itu apa?" tanya Daffa
Daffa mengambil bungkusan tersebut dari tangan Putri lalu segera membukanya, bibirnya mengukir senyuman.
"Bagus sekali, aku suka Put," kata Daffa lalu dia mengecup kening Putri.
Daffa dan Putri berpelukan. Mereka pun saling berjanji untuk akan memperjuangkan cinta mereka meski mama Daffa tak suka dan papa Daffa melarang bahkan meski bumi menolak pun tak akan ada yang sanggup memisahkan mereka.
Hari semakin larut akhirnya mereka memutuskan menginap di Villa Daffa.
Daffa dan Putri tidur satu kamar tapi mereka tidur di ranjang yang terpisah.
"Aku tidur di sofa kamu di ranjang," kata Daffa
"Jangan mas biar aku saja yang di sofa mas Daffa yang di ranjang," sahut Putri tidak setuju jika Daffa tidur di sofa.
"Sebenarnya pengen tidur bersama tapi takut khilaf," goda Daffa dengan terkekeh.
Putri melempar tatapannya pada Daffa, sedangkan Daffa hanya tertawa.
Saat tengah malam tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelegar dan lampu pun mati.
"Mas Daffaaaa!" teriak Putri
Putri yang takut gelap terus menangis, Daffa yang terbangun menyalakan ponselnya dan menuju ke tempat dimana Putri berada.
Dia langsung memeluk Putri dan menenangkannya,
"Aku takut mas," kata Putri
"Jangan takut ada aku," sahut Daffa.
Daffa merebahkan Putri lalu mengelus pucuk rambutnya sehingga Putri terlelap kembali.
Keesokannya Daffa mengantar Putri pulang,
"Mungkin hari ini aku nggak ke kantor nggak papa kan?" tanya Daffa
"Ya nggak papa lah mas, kan mas Daffa pimpinannya kenapa bertanya," jawab Putri dengan tertawa.
Setelah Putri turun Daffa melajukan mobilnya, pulang ke rumah untuk menyelesaikan masalahnya dengan mama.
"Bagus, semalam nggak pulang. Jangan bilang kalau kamu tidur dengan wanita itu," kata mama sinis
"Sudahlah ma, Putri bukan wanita seperti itu," ujar Daffa kesal dengan mamanya
"Mama nggak mau tau, kamu harus meninggalkannya, karena kamu akan segera menikah dengan Diana,"