Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Tamparan Arini


"Cari saja di rooftop," kata Daffa dengan santai


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Sean dengan tatapan mautnya


Daffa tidak menjawab pertanyaan Sean, dia berjalan berlalu meninggalkan Sean yang menatap kepergiannya.


Nick yang ada di situ jadi heran, "Tuan kenapa tuan Daffa selalu tau di mana nona Arini, sedangkan anda yang suaminya tidak tau apa-apa tentang nona Arini," kata Nick


Perkataan Nick seperti tamparan buat Sean bagaimana mungkin orang lain lebih tau semua tentang istrinya daripada dirinya.


Makanan kesukaan Arini saja dia tidak tau, apa-apa tentang Arini dia tidak tau.


"Diam lah!" bentak Sean


Sean segera berjalan ke rooftop dan ternyata benar Arini ada di sana. Dengan langkah panjangnya Sean menghampiri Arini dan langsung memeluknya dari belakangan.


"Sayang maafkan aku," katanya lirih


Arini membalikkan badannya dan menatap Sean dengan lekat.


"Kenapa minta maaf?" tanya Arini heran


"Karena aku terlalu asik dengan rekan bisnisku dan mengabaikan mu," jawab Sean


Arini tersenyum, "Baguslah kalau kamu sadar," sahut Arini


Sebenarnya Arini tidak marah pada Sean dia pergi karena tidak ingin mengganggu obrolan mereka saja.


"Kenapa kamu pergi?" tanya Sean


"Aku hanya males dengerin kalian yang mengobrol tentang kerjasama, profit, bisnis, manajemen dan lain lain. Lagipula aku rindu tempat ini, setelah resign aku kan nggak pernah kesini lagi," ungkap Arini


Sean lega karena istrinya tidak marah, semenjak kejadian beberapa waktu lalu, Sean sungguh takut kalau Arini pergi meninggalkannya.


**********


Amira pulang dengan membawa kekesalan yang mendalam pada Arini, sesampainya di rumah dia mengamuk dengan membuang semua benda benda yang ada di meja riasnya.


"Brengsek kamu Arini, Sean adalah milikku selamanya tetap milikku!" teriak Amira


Asisten rumah tangga nya yang mendengar suara gaduh dari kamar Amira segera datang, betapa kagetnya mereka melihat kamar Amira yang berantakan.


Orang tua Amira yang baru pulang cemas setelah mendengar laporan dari art,


"Kamu kenapa Amira?" tanya mama


"Nggak papa ma," jawab Amira bohong


Mama Amira mendekati Amira yang duduk di tepi ranjangnya.


"Kamu jangan berbohong," kata mama


Amira menatap mamanya, "Amira kesal dengan istri Sean ma, Sean adalah milik Amira sampai kapan pun akan menjadi milik Amira," ungkap Amira


Mama menghela nafas, "Sayang, bukannya mama bela istri Sean, tapi kamu nggak boleh gitu. Mereka sudah menikah, wajar kalau Sean sekarang milik istrinya," jelas mama


Amira semakin kesal dengan nasehat mamanya sedangkan papanya yang mendengar di ambang pintu berniat bicara pada orang tua Sean.


Dulu orang tua Sean sempat meminang Amira namun orang tua Amira tidak memberikan tanggapan untuk itu sekarang dia akan mempertanyakan lagi pinangan orang tua Sean.


"Papa akan menemui Ben dan Fatma, Amira," batin Papa


Keesokan harinya Papa Amira benar benar menemui papa Sean.


"Maaf menganggu waktu mu Ben, tujuanku kesini adalah untuk membahas pinangan mu pada Amira beberapa tahun yang lalu," kata Firma papa Amira


Ben mengerutkan alisnya, dia sungguh tidak mengerti maksud dari Firman temannya


"Maaf Firman bukannya aku nggak mau membahas masalah itu tapi kan kamu tau sendiri kalau Sean dan Arini sudah menikah," ucap Ben


"Tapi kan mereka hanya menikah bawah tangan," ucap Firman tak terima


"Sebentar lagi kami akan meresmikan mereka," timpal Ben


Pak Firman pulang dengan rasa kecewa.


******


Sean yang takut kalau Arini meninggalkannya berniat untuk selalu berada di dekat Arini 24 jam nonstop


Sean setiap hari membawa Arini ke kantor, sampai mandi dia ingin selalu dengan Arini.


Hal ini membuat Arini sedikit kesal,


"Nggak boleh, kamu harus tetap di sini denganku," sahut Sean


"Aku nggak akan ninggalin kamu tuan suami," timpal Arini


Sean tetap bersikeras tidak mengijinkan Arini pulang, dia ingin mengawasi istrinya dua puluh empat jam nonstop


"Ya sudah tapi aku mau kebawah dulu, aku mau menemui Vani." Arini mencoba bernegosiasi


Namun Sean tetap bersikeras melarang Arini untuk pergi,


"Kalau kamu melarang aku, aku pastikan akan pergi beneran dari hidup kamu," ancam Arini


Sean yang takut akhirnya mau nggak mau mengijinkan Arini menemui Vani temannya.


Arini sangat senang dapat bebas dari pandangan Sean,


"Monster itu gila banget, masa iya aku disuruh melihat wajahnya dua puluh empat nonstop, dia pikir aku ga butuh hiburan lain apa. Suami ya suami tapi mataku juga butuh vitamin," gumam Arini


Saat Arini pergi ke lantai bawah untuk menemui Vani datanglah Amira ke ruangan Sean.


"Sean," panggil Amira


Sean menoleh dan betapa kagetnya dia Amira datang,


"Ada apa Amira?" tanya Sean


"Aku rindu padamu," jawab Amira lalu berjalan menuju meja Sean


"Jaga ucapan mu Amira, aku ini pria yang sudah beristri," sahut Sean


Amira tidak menggubris kata-kata Sean, baginya Sean tetaplah Sean yang dulu.


"Aku mencintaimu Sean," timpal Amira


"Tapi aku sudah membuang rasa itu Amira," kata Sean dengan memalingkan wajahnya


Sean berjalan menjauh, dia mendekat ke arah jendela, Amira mengikuti Sean lalu memeluk Sean dari belakang.


"Bisakah kamu menumbuhkan kembali rasa itu Sean, tinggalkan lah istrimu. Aku janji akan menjadi istri yang baik untukmu," kata Amira


Sean meronta untuk melepas pelukan Amira, saat bersamaan Arini datang dan dia mematung di ambang pintu


Sean yang kesal dengan Amira lalu membuang tubuh Amira di lantai.


"Ku peringatkan kamu Amira, jangan memaksakan kehendak mu, jangan buat aku membencimu!" seru Sean


Arini berjalan mendekat, dia membantu Amira untuk bangun.


"Bangunlah," kata Arini


Setelah Amira bangun,


Plak


Arini menampar pipi Amira dengan keras,


"Tamparan itu supaya otak kamu berfungsi lagi dengan normal, supaya kamu sadar siapa orang yang kamu kejar," kata Arini


Amira memegangi pipinya yang panas akibat tamparan dari Arini.


"Brengsek kamu Arini beraninya kamu menamparku, orang tuaku saja tidak pernah melakukan ini padaku," maki Amira


Amira pun hendak membalas perbuatan Arini namun Sean memegangi tangan Amira.


"Berani kamu menyakiti wanitaku, tangan ini lah yang akan membunuhmu," ancam Sean


Amira menarik tangannya yang dipegangi Sean, dia pun pergi dari ruangan Sean dengan menangis.


Obsesinya untuk memiliki Sean sangat besar, dia sungguh menyesal karena di masa lalu dia telah menolak Sean.


Dia menyesal telah mencintai Daffa yang tidak pernah mencintainya.


Selepas kepergian Amira, Sean meminta maaf pada Arini.


"Maafkan aku sayang," kata Sean menyesal


"Iya, lepaslah bajumu dan ganti yang baru, aku tidak mau mencium parfumnya yang menempel di bajumu itu, baunya membuat aku mual," omel Arini


Setelah mengucap kata mual, tiba-tiba Arini mual sungguhan.