
"Daffa, beraninya kamu berkata seperti itu pada mama, memangnya kamu siapa! mama juga menyesal mengeluarkan kamu dari rahim mama," teriak mama Daffa kesal.
Jauh di lubuk hatinya dia sangat sakit hati dengan ucapan Daffa maupun kata yang dia keluarkan, dia tidak menyangka Daffa bisa berkata seperti itu padanya.
Air mata lolos dari mata wanita paruh baya tersebut, "Asal kamu tau mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu, mama tidak ingin punya menantu dari kalangan bawah, Putri tidak cocok bersanding dengan kamu," gumam Mama.
Papa Daffa segera pulang setelah mendengar kabar kalau mama Daffa mencabut saham miliknya.
Saat hendak masuk ke dalam rumah, papa Daffa melihat Daffa keluar dengan mobil yang dilajukan sangat kencang.
Papa segera masuk dan mencari istrinya, dia menemukan istrinya meneteskan air mata mata di kamar Daffa.
"Honey, what happen?" tanya papa Daffa panik karena setaunya mama Daffa wanita yang tangguh dan jarang menangis.
Mama Daffa segera menghapus air matanya.
"Tidak apa-apa," jawabnya dengan angkuh.
"Aku dengar kamu menarik saham dari perusahaan Daffa, kenapa? kasian Daffa," tanya papa
"Aku kesal dengan Daffa karena lebih memilih wanita itu daripada mama," jawab Mama Daffa.
Papa Daffa melepas kacamatanya lalu merangkul istrinya.
"Awalnya papa juga tidak setuju tapi Daffa tetap bersikeras untuk tetap bersamanya, mungkin sebaiknya kita menyerah dan membiarkan mereka bersama," kata papa Daffa
Mama Daffa membolakan matanya, heran dengan suaminya yang menyetujui hubungan Daffa dengan Putri.
"Tidak! sampai kapanpun mama tidak setuju," sahut mama.
"Sampai kapan kamu akan berseteru dengan Daffa, dia adalah penerus kita, anak kita satu-satunya apa kamu rela dia meninggalkan kita, jadi tolong kesampingkan ego kamu," timpal papa dengan menepuk bahu istrinya lalu keluar kamar Daffa menuju kamarnya.
Mama terdiam lalu dia menyusul suaminya ke kamar.
Daffa melajukan mobilnya kembali ke kantornya setiba di kantornya Daffa menemui Putri di ruangannya.
Tanpa aba-aba Daffa menarik Putri dan langsung mencium bibir Putri.
Mereka saling berpaut dan menghisap, hingga kehabisan nafas.
Setelah melepas pautannya Daffa memeluk Putri, Daffa nampak resah dan gelisah.
"Hanya kamu yang aku butuhkan saat ini," bisik Daffa dengan mengecup pucuk kepala Putri.
"Iya pak," sahut Putri.
"Kalau berdua panggil mas saja, gimana gitu kalau dipanggil pak oleh calon istri sendiri," timpal Daffa dengan terkekeh.
Seusai makan siang Shane baru kembali, wajahnya nampak murung karena semua investor serentak menarik invest mereka, sungguh besar kekuasaan mama Daffa. Dalam sekejap dia bisa menumbangkan perusahaan raksasa milik Daffa.
Dalam ruangannya Shane membanting berkas yang dibawanya ke meja.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja," gumam Shane dengan senyuman miringnya.
Di sisi lain Sean sangat terkejut mendengar kalau perusahaan Daffa mengalami Devisit, dia tidak menyangka kalau mama Daffa tega menghancurkan anaknya.
"Apa kita harus membantu pak Daffa?" tanya Nick
"Coba kamu hubungi Shane dulu, bagaimana keadaan perusahaan Daffa sekarang. Kalau kita langsung membantunya aku takut kalau Daffa menolak," jawab Sean.
Nick mengangguk pelan,
"Bagaimana persiapan kamu ke Eropa?" tanya Sean dengan melirik Nick
"Sudah semua Pak, tinggal berangkat kan semua sudah anda siapkan " jawab Nick
"Pengennya begitu tapi kelamaan pak, sayang tiketnya, di sana aku juga bisa mencicipinya sedikit," sahut Nick dengan tertawa.
"Cicip banyak juga nggak papa nanggung sekali kalau cuma sedikit," timpal Sean dengan tertawa.
********
Beberapa hari sudah berlalu, kini perusahaan Daffa benar-benar mengalami devisit, Sean yang tidak bisa melihat sahabatnya kesusahan datang sendiri menemui Daffa untuk membahas tanam saham pada perusahaan Daffa.
"Sudahlah yang terpenting perusahaan kamu tidak devisit lagi, jangan buang-buang waktu," kata Sean menyakinkan Daffa.
"Aku pikirkan dulu," sahut Daffa
Sean menghela nafas, memang begitulah Daffa dia sering menolak bantuan dari orang lain termasuk Sean.
Di rumahnya mama Daffa duduk di balkon kamar, pandangannya menerawang entah kemana, kini dia sedang berperang dengan dirinya sendiri.
Di sisi lain, ingin sekali mengikuti egonya namun di sisi lain jiwanya meronta ingin sekali memeluk Daffa dan mengembalikan apa yang sudah dia ambil.
"Kenapa aku merindukan putraku saat ini, ingin sekali aku memeluknya," gumam Mama Daffa.
Sudah dua hari ini mama menguntit Daffa memastikan kalau Daffa baik-baik saja.
Tangan Papa Daffa membuat mama tersentak, dia menatap suaminya dengan pandangan yang tak biasa.
"Kamu memikirkan apa? Daffa?" tanya papa
Istrinya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Kini dia menatap hamparan rumah-rumah megah di sekitar rumahnya.
Papa Daffa tersenyum, lalu dia menggenggam tangan istrinya.
"Sudahlah turunkan ego kamu, pasti kamu tenang. Mengalah lah demi kebahagiaan anak kita," bujuk papa. "Tidak sederajat tidak apa-apa asal dia tulus mencintai Daffa, aku dengar-dengar anak itu sangat pintar, berprestasi di universitas siapa tau kelak dia bersinar melebihi kita," imbuh papa Daffa.
Air mata mama Daffa lolos begitu saja, dia pun menjatuhkan kepala di dada suaminya. Jujur mama Daffa khawatir sekali dengan Daffa.
Segera mama Daffa mengambil ponselnya dan menyuruh orang kepercayaannya menanam kembali saham di perusahan Daffa dia juga mentransfer uang beberapa T untuk membantu keuangan perusahaan Daffa karena pasti perusahaan Daffa membutuhkan suntikan dana.
Sedikit lega itu yang dirasakan mama Daffa saat ini, hal yang dia lakukan membuat dadanya bisa sedikit bernafas dengan lega berbeda dengan kemarin.
Mama dan papa Daffa memutuskan untuk kembali ke luar negeri secepatnya, dia juga tidak ingin mencampuri urusan anaknya lagi.
"Pak, ada berita baik, Mama anda menanam kembali sahamnya bahkan mama anda menyuntikan dana yang cukup fantastis ke perusahaan kita.
Mendengar kabar dari Shane membuat Daffa mengerutkan alisnya, lalu dia mengambil kunci mobilnya untuk pergi ke rumah mamanya.
Saat masuk rumahnya Daffa melihat mamanya sedang membaca majalah di ruang tamu.
"Ma," panggil Daffa
Mamanya menoleh lalu tersenyum manis pada Daffa,
"Daffa," panggil mama balik.
Mama langsung memeluk anaknya, "Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, mama sakit Daffa jika kamu menyesal telah lahir dari rahim mama," kata mama.
"Maafkan Daffa ma, yang telah menyakiti hati mama," sahut Daffa dengan mata yang basah.
Mama dan Daffa saling berpelukan membuang Egi masing-masing. Papa yang melihatnya tersenyum lega kini anak dan istrinya telah akur kembali.
"Mama dan papa akan kembali lagi, mulai sekarang mama tidak akan mengurusi urusan kamu lagi," ujar mama
Daffa membolakan matanya, "Apakah mama merestui hubungan Daffa dengan Putri?"