
Vani menatap Nick dengan lekat tersirat kekecewaan di mata Vani yang dalam untuk Nick.
"Mas, aku mohon mengertilah posisiku, aku butuh waktu untuk menerima anak kamu," pinta Vani sambil terisak.
Melihat istrinya menangis membuat Nick tak tega dia dapat merasakan sakit yang Vani rasakan, menyesal ya itu yang Nick rasakan kini, akibat dosa masa lalunya kini istrinya ikut menanggung beban yang telah diperbuatnya.
Tak hanya Vani, Kinan kekasihnya dulu juga menderita. Mungkin bisa dijadikan pelajaran untuk semua baik kaum adam maupun hawa jangan sampai lepas kendali dalam memadu kasih pikirkan dampak yang akan terjadi, jangan terbuai akan nikmat sesaat namun menderitanya bisa dirasakan setiap waktu bahkan berdampak juga pada orang terdekat.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku. Akibat dosa masa lalukan kamu ikut menderita sekarang," kata Nick lirih
Vani tidak merespon perkataan Nick, hanya Isak tangis yang keluar dari mulutnya.
Nick yang kesal pada dirinya sendiri mengusap rambutnya kasar, matanya kini pun basah karena turut merasakan perih yang istrinya rasakan.
Keira masing asing dengan keluarga Nick untuk itu dia meminta pada mama Nick supaya tidur bersama papanya.
Kini Nick dan keira tidur di kamar Nick sedangkan Vani masih tidur tamu.
"Ya Tuhan, ampuni segala dosa masa lalu, karena terbuai dengan kenikmatan sesaat banyak orang yang tersakiti sekarang," gumam Nick dengan mata basah.
Keira yang terganggu tidurnya pun terbangun, dia melihat Nick berkali-kali mengusap ujung matanya.
"Papa menangis?" tanya Keira
Nick yang kaget segera menghapus sisa-sisa air matanya dan menoleh
"Eh nggak kok sayang, papa kelilipan," jawab Nick bohong.
"Maafin Keira pa, Mama dan papa susah gara-gara Keira, seharusnya yang sakit Keira saja jangan mama," kata Keira.
Entah kekuatan bicara darimana sehingga bocah se kecil itu bisa bicara seperti itu.
Mata Nick semakin basah, dia memeluk anaknya dan menangis.
"Mama dan Papa sayang Keira, jangan bilang seperti itu," pinta Nick.
Nick membawa Keira dalam pangkuannya, tidak ada yang bisa Nick katakan hanya penyesalan yang teramat dalam yang dia rasakan.
Karena hari semakin larut meraka tidur saling peluk, Vani yang tidak bisa tidur mencoba melihat suaminya, sebenarnya Vani sangat merindukan Nick Umumnya pengantin baru terus-terusan manjat namun ini Nick dan dirinya harus berhenti karena masalah ini.
Kebetulan sekali pintu kamar tidak Nick kunci, Vani mendekat ke arah ranjang nampak bocah kecil ini memeluk papanya.
Air mata Vani leleh, dia tak bisa membayangkan hari-hari Keira tanpa papanya dulu.
"Ma jangan tinggalin Keira ma. Kalau mama pergi Keira tidak punya mama lagi ma." Keira mengigau dan igauannya mampu membuat Vani tersentuh.
"Ya Tuhan, apa aku terlalu jahat karena belum bisa menerimanya," batin Vani lalu pergi meninggalkan kamar
Vani menangis di tepi ranjangnya, sungguh takdir Tuhan sangat kejam padanya.
"Kenapa, kenapa harus aku," gumamnya dalam Isak tangis.
Puas menangis Vani mencoba untuk memejamkan matanya, otak, mata dan mulutnya lelah karena daritadi dia menangis terus.
Tak terasa hari sudah pagi, Vani bangun lalu membersihkan diri, saat dia turun nampak Nick dan Keira sudah berbaur dengan keluarga Nick.
"Maaf ma, Vani kesiangan," kata Vani menyesal.
Mama Nick yang tahu permasalahan anaknya memilih diam dan tidak ikut campur karena posisi Vani juga sulit saat ini.
"Nggak papa kok Vani, ayo makan," sahut mama, "Kamu tu Nick lihatlah istrimu pucat begini kenapa nggak dijaga dengan baik," kata Mama dengan menatap Nick.
Mama yang merasa kurang enak badan pamit ke kamar sedangkan Brian harus kerja begitu pula dengan papa Nick.
Nick mengambilkan makan untuk Vani, Keira juga ikut mengambilkan lauk untuk Vani.
"Tante makan yang banyak ya," kata Keira dengan tersenyum.
Vani hanya terdiam, ingin sekali bilang terima kasih namun mulutnya seakan terkunci.
Saat bersamaan Sasa menghubungi Nick, dia bilang kalau dirinya saat ini tidak bisa menjaga Keira karena anaknya sakit.
"Keira sayang, Tante Sasa tidak bisa menjaga Keira sedangkan nenek sakit bagaimana kalau Keira main sendiri nanti kalau Keira lapar minta makan bibi itu ya?' kata Nick sambil menunjuk art nya.
"Iya pa," sahut Keira.
Nick menghampiri art nya, dia meminta art nya untuk menjaga anaknya.
Nick masih belum berani untuk meminta bantuan Vani begitu pula dengan Vani juga tidak menawarkan dirinya.
Nick mengecup kening Vani dan mencium anaknya lalu dia berangkat.
Keira pamit pada Vani untuk bermain namun lagi-lagi Vani hanya terdiam sehingga membuat anak kecil yang tidak tau apa-apa ini takut.
Keira bermain di luar ditemani art, karena art harus melakukan pekerjaannya sebentar dia meninggalkan Keira bermain sendiri namun sebelumnya dia sudah memindahkan Keira di ruang keluarga.
Vani yang bosan turun ke bawah dia melihat Keira main sendiri,
Entah mengapa kakinya membawa Vani untuk mendatangi Keira.
"Halo Tante," sapa Keira
Vani hanya diam, dia duduk samping Keira.
"Mama kamu mana?" tanya Vani.
"Mama di rumah sakit," jawan Keira.
Entah angin dari mana, Vani tiba-tiba mempunyai keinginan untuk melihat Kinan, dia penasaran sekali dengan wanita yang bernama Kinan.
Dia pernah dengar Nick mengobrol sama mamanya kalau Kinan dirawat di rumah sakit xxx.
Vani mengajak Keira untuk ke rumah sakit, tentu Keira senang sekali karena dia bisa menemui mamanya.
Tak berselang lama, mereka sudah di rumah sakit, Vani bertanya pada resepsionis ruang perawatan Kinan namun suster bilang kalau Kinan berada di ruang ICU.
Vani dan Keira pergi ke ruang ICU dia melihat Kinan berbaring tak berdaya.
"Mama," panggil Keira.
Keira langsung saja memeluk mamanya, dia sungguh kangen sekali dengan mamanya.
"Mama kamu istirahat Keira jadi jangan diganggu," kata Vani.
Tiba-tiba Kinan sadar,
Bibirnya melengkung senyuman saat melihat buah hatinya.
"Kamu kesini sama siapa?" tanya Kinan
Keira menunjuk Vani.
Kinan menatap Vani dengan lekat, lalu dia tersenyum.
"Kamu pasti istri mas Nick ya," kata Kinan dengan lirih
Vani mengangguk,
"Terima kasih telah menjaga anakku," ucap Kinan lagi.
Lagi-lagi Vani mengangguk, suster yang melihat Kinan siuman memanggil dokter untuk memeriksa pasiennya.
Kini Kinan dipindahkan kembali ke ruang perawatan, Vani menemani Kinan.
"Maafkan aku Vani, telah datang ke kehidupan kalian, aku hanya bingung setelah aku tiada siapa yang akan menjaga Keira," kata Kinan.
"Iya, jika aku di posisi kamu, aku juga akan melakukan hal yang sama," sahut Vani.
Saat Vani ingin pulang, Keira malah tidak mau diajak pulang hingga mau nggak mau Vani tetap tinggal di sana.
"Jangan beri tahu mas Nick kalau aku kesini," pinta Vani