Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Di luar dugaan


Sean mendudukkan Arini di sofa, dia yang kesal membuang barang yang ada di atas meja sehingga membuat Arini tersentak kaget


Sean duduk di samping Arini sambil memegangi kepalanya, dia sungguh kesal dan sakit hati pada Arini dan juga Marcel.


"Kamu tau siapa Marcel itu?" tanya Sean dengan melemparkan tatapan mautnya pada Arini.


Arini menggeleng, jelas dia tidak tau siapa itu Marcel, yang dia tau kalau Marcel itu penggemar suaminya, seorang pebisnis juga, seorang yang baik dan juga humble person.


"Dia adalah saingan bisnis ku." Sean menjawab sendiri pertanyaannya.


Arini jadi terkejut karena dia tidak tau kalau ternyata Marcel adalah saingan bisnis Sean.


"Maafkan aku tapi aku tidak tau kalau dia saingan bisnis kamu, yang aku tau dia adalah penggemar kamu sayang," sahut Arini membela diri.


Sean melemparkan tatapannya ke sembarang. Tadi Sean sengaja cepat menyelesaikan ulah yang dibuat Marcel, dengan perasaan senang dia kembali dan akan mengajak Arini untuk ke desa Trunyan namun saat dia membuka kamarnya Sean tidak menemukan Arini lalu Sean pun mencari Arini ke restoran dan betapa kagetnya dia saat melihat Arini bercanda tawa dengan Marcel.


"Mangkanya lain kali jangan percaya pada orang asing dan satu lagi aku nggak suka kamu berbicara dengan pria lain," timpal Sean.


"Iya," ucap Arini menyesal.


Arini dan Sean memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana, mereka akan kembali ke kotanya pada keesokan harinya.


Di sisi lain Marcel menyunggingkan senyuman, dia juga ikut kembali ke kota nya yang juga kota Arini dan Sean.


Dia memikirkan rencana selanjutnya untuk bisa menemui Arini.


Karena ditinggal beberapa hari ke Bali pekerjaan Sean jadi menumpuk, berkas-berkas yang harus ditandatangani, kerja sama yang menunggu persetujuannya hingga laporan-laporan yang belum dicek.


"Jika bukan karena desakan dari Arini mana mungkin aku mengijinkan kamu liburan," gerutu Sean sambil membolak balikkan berkas yang dibawa.


Di laptopnya ada beberapa pemberitahuan email masuk yang harus segera dicek juga.


Sean yang pusing mengambil ponselnya lalu menghubungi Nick, Waktu di Prancis menunjukkan pukul tiga dini hari. Berkali-kali Sean melakukan panggilan namun tidak ada jawaban dari Nick.


Sean tidak putus aja, panggilan ke enam baru diangkat oleh Nick.


*Kemana saja, kenapa panggilanku tidak diangkat (Sean)


Maaf Pak saya habis berkelana dalam alam mimpi


(Nick)


Cepat buka email dan cek segera


(Sean)


Baik pak


(Nick*)


Lalu Sean memutuskan sambungan telponnya, Nick yang masih mengantuk kembali ke tempat tidur lalu memeluk Vani yang masih tidur tanpa menggunakan baju atasannya karena semalam dia bergelut liar lagi dengan Vani.


Sean yang tau kalau Nick belum membuka email-nya menghubunginya lagi.


"Cepat buka email! jangan tidur lagi!" teriak Sean kesal pada Nick.


Nick segera bangun lalu mencuci mukanya kemudian membuka laptop miliknya.


"Nasib bawahan selalu begini bahkan saat tidur pun dibangunkan untuk bekerja," gerutu Nick.


Dua jam kemudian Nick sudah menyelesaikan tugasnya, setelah itu dia mematikan ponsel dan laptopnya, Nick sungguh mengantuk terserah nanti Sean marah atau tidak yang penting dia bisa tidur sambil memeluk Vani.


Setelah mengecek email nya Sean menyunggingkan senyuman, Nick sudah mengecek semua bahkan dia juga sudah membalas yang perlu dibalas.


"Kamu selalu bisa ku andalkan maaf mengganggu waktu tidurmu," gumam Sean.


"Bagaimana aku bisa menemuinya?" gumam Marcel


Karena tak kunjung mendapatkan cara untuk menemui Arini, Marcel membuang semua benda yang ada di atas meja karena kesal.


Sore ini Arini rencananya mau keluar untuk belanja kebutuhannya, karena hanya belanja dekat-dekat sini jadi dia tidak meminta ijin pada Sean, Arini keluar juga mengendarai sepeda motor yang beberapa waktu lalu dibelikan Sean karena ngidam.


"Nyonya tolong jangan buat kami dalam masalah jika tuan tau anda keluar kami bisa di pecat," cegah kepala pelayan.


"Astaga pak, aku hanya belanja di ujung jalan sana. Barang barang pribadiku habis," sahut Arini.


Karena tidak ingin debat Arini mengajak salah satu pelayan untuk ikut dengannya dan itu membuat kepala pelayan sedikit lega.


Seusai bekerja tampak Marcel masuk dan pura-pura menghampiri Arini.


Marcel tersenyum dan menyapa Arini namun Arini hanya tersenyum sekilas dan hendak pamit.


"Pasti Sean marah padamu ya," kata Marcel


"Nggak, cuma aku juga harus jaga jarak dengan pria lain termasuk kamu," sahut Arini.


Marcel nampak murung entah pura-pura atau sungguhan tapi hal itu tak mampu menarik simpati Arini lagi.


Saat Arini hendak melangkahkan kaki, Marcel berucap, "Kamu seperti adikku, dan aku sangat menyayanginya tapi adikku meninggal gara-gara suami kamu." Marcel kini mengatakan kenyataanya pada Arini.


Arini terdiam dan terpaku mendengar ucapan Marcel, kemudian Arini membalikkan badannya.


"Jangan memfitnah suamiku!" maki Arini


"Untuk apa aku memfitnah Sean," timpal Marcel.


Marcel mengajak Arini duduk sebentar sambil menceritakan semuanya.


"Tragis, mungkin itu nasib yang harus dijalani adikku. Dia dan kekasihnya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kekasihnya meninggal, dia sempat depresi karena keduanya akan melangsungkan pernikahan. Akhirnya dia sadar dan mulai menjalani hidupnya kembali hingga dia bertemu Sean, adikku sangat mencintai Sean namun Sean hanya menjadikannya teman ranjangnya saja yang bila sudah puas dia buang begitu saja seperti sampah, karena stres akhirnya adikku jatuh sakit dan meninggal," jelas Marcel yang membuat Arini kaget.


Arini menghela nafas, "Memang begitu kelakuan Sean, tau Sean sepeti itu kenapa adikmu baper sekali jadi wanita," sahut Arini


Marcel menatap Arini dengan lekat, dia mengerutkan alisnya heran dengan Arini.


"Dia wanita sungguhan atau lelaki yang berubah jadi wanita?" Marcel bermonolog dengan dirinya sendiri dalam hati.


Di luar ekspektasinya, dia mengira dengan menceritakan semuanya Arini akan membenci Sean namun apa yang terjadi tidak sesuai.


"Suamiku memang dulu bisa di bilang ahli neraka, dosanya menumpuk segunung, tapi sekarang dia berubah, aku tahu kamu sedih akan meninggalnya adikmu namun semua itu juga bukan salah Sean seratus persen, adikmu dan dirimu juga salah," kata Arini


Marcel tidak terima jika Arini menyalahkannya,


"Kenapa aku juga di salahkan?" Marcel tak terima


"Ya iyalah, dia kan adikmu seharusnya kamu bisa menjaganya dengan baik dan benar sehingga sakitnya bisa disembuhkan," jawab Arini


Marcel menghela nafas, dia mengalah dengan Arini karena percuma saja berdebat dengan Arini.


"Iya kamu benar," sahut Marcel mengalah.


"Intinya semua yang terjadi biarlah terjadi, aku harap kamu tidak memiliki dendam dengan Sean," pesan Arini.


"Tidak, tapi bisakah kita berteman. Setelah pertemuan kita di Bali kemarin, aku merasa menemukan adikku kembali," kata Marcel berbohong.


Arini menyanggupinya bahkan mereka bertukar nomor telepon, Marcel berdalih dia menganggap Arini adiknya jadi dia juga ikut menjaga Arini.


Karena takut Sean keburu pulang, Arini pamit pada Marcel. Mata Marcel terus menatap Arini yang sudah menghilang dari pandangannya.


"Bagaimanapun juga tetap Sean yang harus bertanggung jawab atas meninggalnya adikku," gumamnya lalu beranjak.