
Hari menuju Pernikahan Daffa dan Putri kelihatannya tak semulus Shane dan juga Amira.
Ada beberapa masalah yang datang menguji mereka.
Siang ini sebelum Daffa menjemput Putri dia mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Pesan tersebut adalah foto-foto kedekatan Putri dengan Lucas.
Semenjak Putri memaafkan Lucas memang membuat Lucas lebih dekat dengan Putri hal ini membuat semua teman-teman Putri iri padanya.
Bagaimana tidak suaminya bos besar, kaya, tampan di tambah lagi Putri sangat pintar di kampus dan kini anak rektor juga dekat dengannya.
Daffa meremas berkas yang baru saja di berikan oleh Shane.
Shane hanya dapat diam dengan segala macam umpatan dalam hati melihat hasil kerjanya daritadi pagi diremas-remas oleh Daffa,
"Fix aku lembur malam ini, gagal sudah kencan dengan calon istri tercinta," batin Shane dengan ekspresi kecewa.
Melihat ekspresi Shane membuat Daffa meletakkan kertas yang tadi diremasnya.
"Shane kerjakan lagi, maaf aku merusakkan kerja kerasmu hari ini," kata Daffa lalu beranjak dari kursinya.
Dari kejauhan nampak Putri dikejar oleh Lucas, "Put, please. Nyontek ya," pinta Lucas
"Nggak, enak aja nyontek," sahut Putri
"Pelit," timpal Lucas
"biarin," ucap Putri.
melihat mobil Daffa yang sudah terparkir membuat Putri berlari.
Tidak seperti biasanya, Daffa hanya diam bahkan sepanjang perjalanan pulang dia hanya diam, kali ini dia tidak kembali ke kantor padahal biasanya Daffa selalu mengajak Putri ke kantor.
"Mas kamu kenapa? sariawan? bibir pecah-pecah? gigi sakit? sakit tenggorokan?" Putri menyebutkan satu-satu penyakit yang membuat orang enggan untuk bicara.
Daffa melemparkan tatapan tajamnya pada Putri,
"Nggak," jawab Daffa singkat dan juga dingin.
"Ada masalah?" tanya Putri lagi
"Iya," jawab Daffa singkat.
Putri terus saja nerocos tanpa henti sehingga membuat Daffa semakin kesal, tanpa aba-aba Daffa memaksa Putri melakukan hubungan suami istri, bukanya Putri tidak mau, namun Daffa melakukannya dengan sedikit kasar sehingga Putri memberontak.
"Sakit mas," kata Putri
Areanya yang langsung saja dimasuki rudal Sean tentu membuat Putri sakit, karena pelumasnya belum keluar.
Daffa terus memompa tubuh Putri, entah kemana Daffa yang lembut.
Puas memaksa istrinya Daffa tumbang di samping istrinya.
"Sekali lagi kamu menghianati aku, jangan harap kamu sekolah di sana lagi," ancam Daffa
Putri menangis tanpa terisak dia sungguh bingung apa yang terjadi dengan Daffa, kenapa suaminya tiba-tiba menjadi berubah jadi monster.
Keesokan harinya Daffa masih sama, entah Putri bingung sekali dengan perubahan sikap Daffa.
Masalah apa sebenarnya.
Daffa meminta orang untuk mengawasi istrinya,
Posesif kini telah menguasai Daffa hilang sudah Daffa yang bijak.
Foto-foto Putri terus saja dikirim sehingga membuat Daffa semakin emosi, sebelum jam kampus selesai Daffa segera menyusul Putri di kampus, dia ingin melihat sendiri kelakuan istrinya jika di kampus.
Benar saja Daffa melihat Putri dan Lucas pergi ke kantin bersama, sebenarnya tadi dengan mega namun Mega entah pergi kemana.
Daffa mengkode Putri untuk ikut dengannya, dia sungguh marah saat ini,
Daffa mengajak Putri pulang sebelum jam kuliah selesai.
Sesampainya di rumah Daffa menarik tangan Putri dan membawa Putri ke kamar kemudian Daffa membuang Putri ke tempat tidur.
"Katakan sekarang! apa yang telah aku lakukan padamu masih kurang? hah!" maki Daffa.
"Apa maksud kamu mas?" tanya Putri penasaran.
"Jangan pura-pura polos, aku tau kamu bermain dengan Lucas di belakangku kan?" jawab Daffa dengan penekahan di akhir dengan senyum sinisnya.
Plak
Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Daffa,
"Dengar! aku masih waras, otakku masih bisa berfikir dengan normal. Aku masih ingat dan sadar dengan apa yang kamu perbuat untuk aku. Aku tidak sekejam seperti yang kamu sangkakan mas membalas kebaikanmu dengan sebuah penghianatan," jelas Putri dengan menangis
Kelihatannya tamparan Putri membuat Gilang berfikir normal kembali, dengan rasa kesal di dadanya dia meminta Shane mencari tau nomor siapa yang telah mengirim foto-foto Putri dengan Lucas.
Berbeda dengan Daffa dan Putri, Arini dan Sean sungguh bahagia dengan baby Arsen.
Meski hanya bisa menangis tapi cukup mampu membuat Sean dan Arini bahagia gemas sekali dengan tangisannya.
Sering juga Sean menggoda bayi mungilnya tersebut.
Setiap malam yang Sean tanyakan hanyalah kapan banjirnya surut, sehingga membuat Arini kesal sekali dengan suaminya.
"Sayang.... Ingat! dengar! dan jangan bertanya lagi, orang nifas itu biasanya empat puluh hari," kata Arini kesal.
Lagi-lagi Sean melemas, bukannya Arini tdiak mau melayani Sean dengan cara lainnya tapi Sean mintanya sehari tiga kali dan itu cukup membuat tangan Arini cukup berotot.
"Tadi kan sudah sayang, kasihanilah aku. Tanganku bisa-bisa berotot seperti Ade Ray jika turun up and down rudal pabrikan german kamu," sahut Arini memelas.
Melakukan up and down di rudal Sean membuat tangan Arini lelah apalagi keluar lahar dinginnya sungguh lama hingga pegal semua tangan Arini.
Malam ini Sean sungguh tersiksa dengan rudalnya yang terus menegang,
"Please rudal jangan buat aku frustasi," gumam Sean dengan mengusap rambutnya dengan kasar ingin sekali membangunkan Arini namun tidak berani.
Dengan malas Sean pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya.
Kelihatannya rudal Sean memang rindu sarangnya, hingga meski sudah dengan cara solo karir namun entah mengapa dia belum puas.
Bawaannya menegang saat di samping Arini.
"Dia masih kebanjiran besok kalau sudah selesai kita gempur sampai seminggu full nonstop," kata Sean dengan terkekeh.
Memang raja Casanova Sean sungguh luar biasa, naf su bercintanya seperti kaisar jaman kerajaan dulu yang memiliki tingkat naf su luar biasa.
Sean dua kali melakukan solo karier sehingga keesokan harinya dia terkena flu karena tengah malah mandi untuk mengurangi hasrat yang membara.
Keluarga Sean datang kembali mereka sayang sekali dengan Arsen, Keluarga Sean kembali dari german seminggu yang lalu, mereka bahagia karena kini memiliki cucu terlebih Ben karena cucunya mengikuti gen dirinya yaitu gen bule.
Sean tekena flu sehingga dia tidak datang ke kantor takutnya malah semakin parah dan juga pasti tidak akan fokus bekerja.
"Kamu nggak ke kantor sayang?" tanya Arini heran karena suaminya memakai baju biasa.
"Nggak sayang, aku meriang," jawab Sean
"Merindukan kasih sayang," sahut Arini sambil terkekeh.
"Betul," timpal Sean.
Kini Arini turun ke bawah dan bergabung dengan keluarga Sean, mereka semua bergantian menggendong Arsen
Sean segera menyusul, melihat anaknya yang sakit membuat Mama Sean bertanya
"Kamu kenapa Sean?" tanya mama khawatir.
"Meriang ma," jawab Sean.
"Kok bisa meriang?" tanya mama lagi
"Pasti tiap malam kamu solo karir di kamar mandi ya?" terka papa yang membuat Sean membolakan matanya bagaimana papanya bisa tahu.
"Papa kok tau," tanya Sean
"Tau lah," jawab papa Sean
Mereka semua menggelangkan kepala karena heran dengan Sean maupun papanya.