
Sean yang kesal membuang semua barang-barangnya, dia sungguh frustasi.
Pikirannya sungguh kalut, baru saja ingin meresmikan hubungan mereka namun kenapa ada cobaan seperti ini.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan, aku sangat mencintainya," gumam Sean
Nick yang masuk kembali ke ruangan Sean menjadi kaget karena semua barang Sean berantakan dan berserakan di lantai.
"Ada apa pak?" tanya Nick heran
"Nggak papa, suruh OB membereskan semua," jawab Sean
"Baik pak," sahut Nick
Nick memberikan laporan yang diminta Sean sekalian dia memberikan laporan dari perusahaan Daffa.
Sean yang masih kesal dengan Daffa melempar laporan dari perusahaan Daffa ke lantai.
Melihat sikap Sean terlihat jelas kalau dia ada masalah dengan Daffa.
"Apa anda ada masalah dengan pak Daffa?" tanya Nick
Sean melirik Nick dengan tajam sehingga membuat Nick jadi merinding.
Sebelum Sean marah dia pamit untuk kembali ke ruangannya.
Di sisi lain Daffa juga termenung di meja kerjanya, bahkan saat Shane memanggilnya dia hanya diam saja.
"Boz," panggil Shane lagi
Daffa yang mendengarnya lalu menyahut
"Iya Shane," sahut Daffa
Shane menghela nafas, " Anda kenapa?" tanya Shane
"Aku memeluk Arini dan Sean melihatnya, aku takut kalau Sean menyakiti Arini," jawab Daffa
"Wanita itu lagi," gumam Shane kesal
"Saran saya, move on dari Arini dan cari wanita lain," imbuh Shane
Daffa menggeleng, dia belum bisa melupakan Arini
"Kalau begini terus bukan hanya anda yang tersakiti tapi anda akan menyakiti Sean dan Arini juga," ucap Shane
"Tapi keputusan ada di tangan anda," imbuh Shane lalu kembali lagi ke ruangannya.
Apa yang dikatakan Shane benar adanya, sekarang Daffa semakin frustasi.
*******
Sean mengambil kontak mobilnya lalu pergi keluar, dia ingin menenangkan pikirannya dengan minum.
Sepanjang perjalanan Sean memukul-mukul setir mobilnya, dia sungguh dilema kini. Mengikuti ego atau mengikuti hati.
Mengingat kata-kata Arini yang terakhir membuatnya berfikir dan takut.
Akhirnya Sean memutar balikkan mobilnya dan pulang, setibanya di rumah Sean memarkirkan mobilnya sembarang lalu berlari masuk
Para pelayan yang sedang bersih-bersih menunduk pada Sean.
"Nyonya sudah pulang?" tanya Sean datar
"Sudah tuan, nyonya ada di atas," jawab pelayan.
Dengan langkah cepat dia menuju kamarnya, terlihat Arini sedang berkemas.
Dia mengeluarkan semua barang-barangnya.
"Mau kemana?" tanya Sean dengan datar
"Minggat," jawab Arini tanpa menatap Sean, dia sibuk dengan memasukkan baju-bajunya ke koper.
"Kemana?" tanya Sean lagi
Arini menghentikan aktivitasnya lalu melemparkan tatapan tajamnya pada Sean.
"Kalau aku kasih tau itu namanya bukan minggat," jawab Arini kesal
Mendengar jawaban Arini membuat Sean ingin tertawa tapi sebisa mungkin dia menahannya.
"Kalau minggat yang jauh, bila perlu pergi ke luar negeri dan jangan lupa bawa uang yang banyak biar tidak kekurangan di sana," sahut Sean
"Sinting," kata Arini
Sean duduk di tepi ranjang melihat melihat Arini sedang memasukkan baju ke koper.
"Aku ingin bertanya, Apa yang akan kamu lakukan jika melihat orang yang kamu cintai dipeluk orang lain?" tanya Sean dengan menatap Arini lekat.
Arini menatap Sean sesaat, Arini terdiam mendengar pertanyaan Sean.
"Aku pasti Marah," jawab Arini
"Jadi apa aku salah jika aku marah?" tanya Sean lagi
Arini menggeleng, dan itu membuat Sean tersenyum.
"Tapi kan aku sudah minta maaf," sahut Arini tak terima
"Apa maaf saja cukup untuk kesalahan yang besar," timpal Sean
Arini nampak berfikir, dia bingung apa maksud Sean sebenarnya. Kenapa dia mengolah kata menjadi kalimat kalimat yang membuat Arini bingung.
Plak
Sean menepuk kening Arini sehingga Arini memekik kesakitan.
"Apa sih mau kamu sebenarnya?" tanya Arini kesal
"Jangan pergi," jawab Sean lirih
"Tapi tuduhan mu sungguh menyakitkan, aku tau aku salah namun aku tak pernah sedikitpun menghianati dirimu. Anak ini benar-benar anakmu bukankah kamu yang setiap hari lomba panjat pinang, lalu kenapa kamu ragu akan anak ini," jelas Arini dengan mata yang basah
"Pikir pakai logika kalau pun aku selingkuh nggak mungkin aku melakukannya di rooftop perusahaan kamu, pasti kami akan cari tempat lain yang lebih aman," imbuh Arini
Sean terdiam, memang benar apa yang dikatakan Arini.
"Apa kamu tega ninggalin aku?" tanya Sean lagi
"Tega lah," jawab Arini singkat
"Nanti kalau kamu pergi nggak ada yang manjat kamu, nggak ada yang kamu peluk, nggak ada yang marahin kamu," sahut Sean mencoba membujuk Arini
Arini menghela nafas," nggak akan tau jika nggak dicoba, lagian kemarin aku bisa tuh," timpal Arini
Raut wajah Sean benar-benar berubah, dia sungguh tidak ingin kehilangan Arini. Semua kata menyakitkan yang keluar itu semua kerena emosinya sudah meninggi setinggi langit.
"Aku mohon jangan pergi," pinta Sean dengan lirih
"Apa kamu nggak kasian pada anak kita, kalau dia ingin ini dan itu bagaimana?" Sean mencoba memprovokasi Arini
Arini berjalan ke arah jendela matanya menerawang jauh ke luar jendela.
Dia teringat kembali saat ayahnya diambil yang Maha Kuasa, dia menangis histeris saat itu. Setiap malam dia merindukan sosok ayahnya yang telah pergi menghadap yang Maha Esa.
"Apa anakku harus bernasib sama denganku, bahkan saat dia lahir sudah tidak ada ayah di sampingnya?" batinnya dengan meneteskan air mata,
Dia lemah sekarang, pikirannya traveling entah kemana kemungkinan kemungkinan kalau dia berpisah dengan Sean tergambar jelas, bagaimana status anaknya. Mungkin dia kuat tapi bagaimana dengan anaknya???
Arini memegangi kepalanya, dia benar benar bingung, Sean yang melihatnya pun mendekat.
"Are you okay?" tanya Sean dengan khawatir
Arini masih terdiam, tangan Sean memutar wajah Arini lalu dia menatap Arini. Air mata Arini lolos begitu saja saat berhadapan dengan wajah Sean yang amat dia sayangi.
"Kamu mau aku hukum, kan aku sudah bilang kalau kamu nggak boleh menangis," omel Sean dengan menghapus air mata Arini
"Kamu yang buat aku menangis," sahut Arini kesal
Sean tersenyum, "Jangan pergi ya," bujuk Sean
"Aku pikirkan dulu, tergantung upaya kamu bagaimana menahan ku," tantang Arini
"Kamu mau apa, perhiasan berlian, tas Hermes, jam tangan Rolex, mobil sport Lamborgini Aventador atau Huracan atau mobil ferrari, rumah, apartemen, jalan-jalan keliling dunia atau yang lain bilang saja," kata Sean antusias
Arini mendengus kesal, cara merayu yang nggak tulus. Dia bukan seperti wanitanya yang lain, bagi Arini semua itu nggak penting.
"Kurasa kamu belum mengenalku dengan baik," ujar Arini
"Siapa tau sekarang Ariniku sudah menjadi matre," timpal Sean dengan tertawa
"Baiklah aku nggak akan pergi asal kamu.........,"
Arini memotong kata-katanya sehingga membuat Sean penasaran.