
Oma sungguh kesal mendapat sahutan dari Arini, Fatma menantunya saja tidak pernah menyahut kata-katanya.
"Kamu tidak sopan sekali Arini, berani menyahut kata-kataku," maki Oma
Arini menatap Oma, "Salah Oma sendiri kenapa tiba-tiba menjewer telingaku, aku bukan anak kecil yang harus dijewer," sahut Arini
Oma memegangi kepalanya, tiba-tiba kepalanya sakit karena perkataan Arini.
"Fatma tolong kepalaku sakit sekali," kata Oma
Arini berusaha membantu Oma, dia membawa Oma ke bed pengunjung di samping bed Sean.
"Oma tidak apa-apa kan?" tanya Arini dengan khawatir
Oma melepas tangan Arini, "Setiap bicara padamu pasti kepalaku sakit," jawab Oma
"Maaf Oma," sahut Arini
Sean, Mama dan Papa hanya tertawa melihat Oma dan Arini. Hanya Arini lah yang berani melawan Oma.
Satu jam kemudian, Nick dan Vani datang dengan membawa buah mangga yang tadi dipetik Sean.
Arini yang sudah tidak berselera meletakkan mangga di meja.
Sean sedari tadi melihat mangga yang tergeletak entah mengapa ingin sekali memakannya.
"Sayang," panggil Sean
Mama dan papa yang mengobrol di kursi pun ikut menoleh.
Arini segera mendekat, "Apa?" tanya Arini
"Aku ingin mangga itu," jawab Sean.
"Sejak kapan Sean suka buah mangga yang belum matang," batin Arini
Arini pun segera mengupas buah mangga yang masih setengah matang tersebut.
Dengan lahap Sean memakan buah mangga seolah mangga itu manis.
"Sejak kapan anak kamu suka makan buah mangga muda?" tanya Papa
"Entahlah pa, lihat Sean makan buah itu rasanya Saliva mama mengucur deras," jawab mama
Oma pun ikut menyahut
"Itu namanya anak kamu ngidam,"
Sean terus saja minta mangga padahal dia sudah menghabiskan tiga buah mangga.
"Dasar rakus," batin Arini.
*********
Hari pun berlalu dengan cepat, Sean kini sudah diperbolehkan pulang. Namun untuk sementara waktu dia belum bisa ke kantor oleh sebab itu Nick lah yang sementara memegang kendali sehingga membuat Nick tidak punya waktu untuk berkencan dengan Vani.
Beberapa hari hanya berbaring dan sedikit melakukan aktivitas membuat Sean bosan apalagi dia tidak bisa memanjat istrinya.
"Brengsek, sudah beberapa hari tidak memanjatnya rasanya sungguh rindu sekali," gerutu Sean.
Arini yang baru datang dengan makanan di nampan ikut menggerutu, "Seharusnya banyak-banyak istighfar bukannya mengumpat," sahut Arini.
Arini duduk di tepi ranjang sisi Sean, dia menyuapi Sean makan lalu kemudian minum obat.
Saat Arini keluar, Sean beranjak dan meletakkan kakinya di lantai. Dia mulai berjalan pelan-pelan, meski masih sakit tapi Sean menahannya.
"Yes, akhirnya bisa juga," kata Sean dengan senang.
Sean membuka perban kakinya lalu mengoleskan sendiri salep di bagian yang terluka.
Arini yang sudah kembali di kamar pun panik karena Sean melepas perbannya.
"Kenapa dilepas sayang?" tanya Arini
"Aku sudah tidak membutuhkannya lagi, aku sudah sembuh," jawan Sean berjalan tertatih di depan Arini.
Keesokannya Sean datang ke kantor karena hari ini ada meeting besar terkait pembagian deviden.
Daffa pun hadir dalam meeting penting tersebut.
Di rumah Arini merasa bosan, dia ingin nyusul Sean ke kantor tapi dia malas. Akhirnya matanya tertuju pada laptop Sean yang berada di meja.
Arini menyalakan laptop Sean, dia penasaran dengan Video yang tempo hari Sean tunjukan padanya.
Ternyata Sean sudah menyalin semua film panas dari flashdisk ke laptopnya.
Awal pertama dia melihat film panas tersebut Arini berteriak, dia tak menyangka permainan mereka yang ada di video liar sekali.
Arini menutup matanya dengan tangan yang Arini renggangkan sehingga Arini masih bisa melihat adegan panas tersebut.
"Pantas imajinasinya liar sekali la wong menyontoh adegan di film," gumam Arini
Arini terus saja melihat hingga satu film sudah selesai. Akibat melihat film tersebut badan Arini menjadi panas,
"Arrggg ini pasti gara-gara aku lihat film tadi," teriak Arini frustasi.
Arini mondar mandir, dia akhirnya menghubungi Sean.
Sean yang sudah selesai meeting langsung menerima panggilan dari Arini.
~Sayang, nggak bisakah pulang sekarang?~ Arini
~Nanti sayang, ada apa?~ Sean
~Aku kangen~ Arini
~Tumben, kamu kesini saja minta antar sopir~ Sean
Arini menutup ponselnya secara sepihak, dia bingung harus menunggu sampai Sean pulang atau kesana sekarang.
Akhirnya tanpa pikir panjang, Arini pergi ke kantor Sean dengan diantar sopir.
Saat masuk dalam ruangan Sean, Arini langsung saja memeluk Sean yang sibuk dengan berkas-berkas serta benda elektronik di depannya.
"I Miss you, sayang," bisik Arini
Arini terus mengendus leher Sean sehingga membuat Sean heran dengan sikap Arini.
Bahkan tangan Arini dengan berani meraba-raba bidang datar Sean dan mengarah ke bawah.
Bola mata Sean membola, lalu dia menatap Arini dengan lekat.
"Hey ini benar kamu kan, nggak lagi berubah jadi Kunti kan?" tanya Sean
Arini mendengus kesal, "Nggak lah, ini aku istrimu Arini," sahut Arini
Setelah itu Arini menyahut bibir Sean, dia mel umat bibir Sean dengan sesekali menyesap bibir manis suaminya tersebut.
Tanpa pikir panjang Sean mendudukkan Arini di atas meja kerjanya.
"Kamu yang memulai, mari kita selesaikan," kata Sean
Arini mengangguk, dia mende sah hebat sehingga ruangan kerja Sean dipenuhi suara suara gaib.
Daffa, Sean dan Shane yang hendak masuk pun harus membolakan mata mereka dan saling pandang.
"Brengsek Sean, bisa-bisa nya melakukan hal itu di kantor," umpat Daffa
"Perasaan tadi Arini tidak ikut, apa jangan-jangan dia....," Nick menggantung ucapannya sehingga membuat Daffa merubah mimik wajahnya.
Karena tak ingin merinding dengan suara-suara gaib mereka bertiga pergi ke ruangan Nick.
"Fix nanti malam aku cari wanita," kata Shane melerai keheningan di antara mereka bertiga.
Nick dan Daffa menoleh ke arah Shane yang asal bicara.
Pikiran Daffa terbang kemana-mana, "Aku akan menghajar kamu dengan kedua tanganku jika kamu menyakitinya Sean," batin Daffa
Pikiran ketiga orang ini berkecambuk, traveling kemana-mana. Asumsi-asumsi negatif hinggap merasuk ke dalam pikiran mereka.
Sedang dalam ruangan Sean, dua insan yang sedang dimabuk asmara terus menikmati perang panas mereka, bak memanjat pinang seperti acara tujuh belasan, baik Sean dan Arini bersemangat saling memburu kenikmatan surga dunia yang tengah mereka rasakan.
Setelah puas, mereka berdua segera membersihkan diri dan duduk bersantai di sofa.
Meski kakinya sedang sakit tapi kalau soal manjat memanjat Sean tak mau kalah.
"Sayang, kamu agresif sekali. Ada apa denganmu? kamu nggak dalam kungkungan obat perangsang kan? atau jangan-jangan ada yang menjebak mu dengan memberimu obat perangsang seperti cerita yang marak di novel-novel," kata Sean curiga
Arini menatap Sean, lalu dia menghela nafas
"Aku tadi lihat film panas yang ada di laptop kamu sayang, yang membuat aku panas dan membutuhkan kamu untuk memadamkan panas dalam tubuhku," sahut Arini dengan menunduk malu.
Sedangkan Sean tertawa mendengar penuturan istrinya.