Teman Ranjang Billionaire

Teman Ranjang Billionaire
Aku bahagia


Mama segera melepaskan pelukannya, "Maaf nggak sengaja meluk," katanya.


Putri mengangguk, dalam hati berbunga-bunga karena bisa menaklukan hati nenek sihir yang kejam.


Mama Daffa mengajak Putri masuk, dia juga menyuruh Putri meletakkan rendang yang dibawanya ke meja karena dia ingin ke kamar sebentar.


Putri mengambil piring dan mulai plating rendang yang dibawanya.


Putri meminta ijin pada pelayan di sana untuk membuka kulkas, dia mencari selada dan juga tomat.


Setelah selesai Putri menata makanannya di atas meja beserta makanan yang lain.


Mama yang baru kembali dari kamarnya melihat Putri menata makanan jadi tersenyum, " Rajin sekali kamu Put," gumam mama lalu mendekat.


"Eh Tante, udah siap semua makanannya," kata Putri dengan senyum manisnya.


"Kamu bangunin Daffa, anak itu sudah siang masih saja molor," suruh mama.


"Baik Tante," timpal Putri.


Putri segera berjalan menuju kamar Daffa, beberapa kali dia mengetuk pintu namun tak ada jawaban, akhirnya Putri membuka pintu dan ternyata pintu tidak dikunci.


Daffa tidur dengan memakai baju singlet tipis sehingga otot lengannya kelihatan.


Putri berjalan mendekati Daffa yang masih terlelap dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Mata Putri terus saja menatap Daffa, terukir senyuman di sana.


"Kamu ganteng bangat sih mas, beruntungnya aku yang telah memilikimu," gumam Putri dengan tangan yang menyusuri wajah Daffa.


Entah dorongan dari mana Putri mengecup kening Daffa," I love you mas," kata Putri.


"I love you Putri," sahut Daffa dengan mata yang terpejam.


Tanpa membuka matanya dia menunjuk pipinya supaya Putri mengecupnya juga.


"Nggak, kening aja dulu," ucap Putri


"Pelit," sahut Daffa


"Biarin," timpal Putri


Daffa membuka matanya dengan tersenyum, " morning sayang, pagi-pagi kamu kok sudah ada disini?" tanya Daffa lalu bangun


"Ngantar makanan untuk camer dan untuk calon imam ku yang ganteng ini," jawab Putri dengan tersenyum.


Daffa menyingkap selimutnya tanpa sengaja Putri melihat bagian bawah Daffa yang mengeras hendak menyembur keluar.


"Mas Daffa itu kenapa membesar, kamu me sum sekali sih mas," kata Putri dengan menutup matanya.


"Siapa yang me sum sih, ini normal karena memang setiap bangun pagi dia akan mengeras," sahut Daffa.


"Ooohhh, kiraen kamu mau itu," timpal Putri dengan terkekeh.


Daffa menggelengkan kepala lalu dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sepuluh menit Daffa sudah keluar dengan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.


Putri yang melihatnya pun menelan ludahnya, pikirannya traveling kemana-mana membayangkan hal yang tidak-tidak sambil senyum-senyum sendiri.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Daffa lalu menyemprotkan body spray ke tubuhnya.


"Nggak papa kok mas," jawab Putri


Daffa mendekati Putri yang masih duduk di ranjangnya.


"Kamu mau apa mas?" tanya Putri gugup


Daffa duduk di samping Putri lalu menyambar bibir Putri tanpa aba-aba. Karena duduk mereka di tepi ranjang sehingga mereka berdua terjatuh.


"Mas Daffa," teriak Putri


Daffa dan Putri bangun, "Maaf sayang," sahut Daffa terkekeh.


Sebelum terjadi hal-hal yang sangat diinginkan Putri bergegas menuju pintu, "Aku tunggu di bawah," kata Putri lalu menutup pintu kamar Daffa.


Daffa nampak tersenyum, dia sungguh bahagia pagi ini.


Berbeda dengan Putri yang menggerutu sambil memegangi kepalanya yang terbentur lantai.


"Masih ganti baju Tante," jawab Putri.


Tak berselang kemudian Daffa turun dengan outfit yang membuat Putri menatapnya lekat.


Lagi-lagi otaknya traveling kemana-mana.


Daffa tersenyum melihat kekasihnya tersebut lalu dia menepuk bahu Putri dan berbisik


"Habis ini kembali ke kamar ya, kelihatannya kamu menginginkan hal itu,"


Putri yang pun berkilah "Nggak kok mas,"


Melihat anaknya malah mengobrol membuat mama kesal padalnya sedari tadi menunggu dengan menahan jiwanya yang meronta melihat rendang yang tersaji di meja.


"Sudah, ayo makan. Dari tadi mama itu sudah lama menunggu, udah nggak sabar pengen segera makan rendang," omel mama


Daffa dan Putri tersenyum lalu mereka bertiga makan bersama.


"Enak banget rendang ini," batin mama


"Wah enak sekali rendangnya," puji Daffa


Daffa bertanya pada mama ingin tau pendapat mamanya, "Bagiamana ma, enak nggak?" tanya Daffa


"Biasa," jawab mama


Daffa tersenyum, meskipun mamanya bilang biasa namun terus saja mengambil rendang yang tersaji, bahkan mama Daffa sampai nambah nasi lagi.


"Katanya biasa ma, kok nambah lagi?" goda Daffa


Mama hanya melemparkan tatapan mautnya pada Daffa, lalu melanjutkan makannya kembali.


Mama benar-benar tidak mau diganggu karena ingin fokus dengan makan rendangnya.


Daffa dan Putri pamit terlebih dahulu pada mamanya yang asik makan rendang, Putri dan Daffa menuju taman belakang rumahnya untuk mengobrol.


Bola mata Putri memutar melihat view yang indah di halaman belakang rumah Daffa.


"Kamu itu benar-benar kaya ya mas, beruntungnya nasib kamu yang lahir dengan materi yang melimpah ruah berbeda denganku," kata Putri membandingkan dirinya dengan Daffa.


"Jangan bilang seperti itu sayang, meskipun aku lahir dengan bergelimang harta aku kekurangan kasih sayang orang tuaku, aku dibesarkan oleh baby sitter, berbeda dengan kamu yang mendapat kasih sayang orang tua kamu," ungkap Daffa dengan melemparkan tatapannya ke sembarang tempat.


"Iya sih mas, setiap orang memiliki plus dan minus dalam kehidupannya, aku dulu selalu berfikir kalau orang kaya itu hidupnya pasti bahagia tapi setelah mendengar cerita kamu ternyata aku bersyukur dengan hidupku," sahut Putri.


Daffa dan Putri asik bercerita kehidupan masing-masing. Satu poin yang didapat Putri bahwa tidak semua orang kaya itu bahagia malah justru kehidupan simpel sepertinya lah yang membuatnya bahagia.


Di sisi lain Nick dan Vani bersiap untuk pergi ke Eropa, negara yang ingin dia kunjungi adalah Belanda dan Irlandia karena Vani ingin sekali melihat Aurora.


Kini mereka berada di Bandara, Vani diantar oleh orang tuanya.


"Nak Nick ibu nitip Vani ya, tolong jangan di apa-apakan ya," pesan Ibu


"Baik Bu, jangan khawatir saya akan menjaga Vani dengan segenap jiwa raga saya," timpal Nick dengan tersenyum.


Setelah sayonara dengan orang tuanya Vani dan Nick masuk ke dalam karena pesawat akan segera berangkat.


Selama kurang lebih dari lima belas jam Vani dan Nick berada di burung besi. Tepat jam dua belas siang waktu setempat mereka sudah berada di Bandar udara Schiphol di Kota Amsterdam.


Vani dan Nick sudah dijemput oleh mobil, lalu mereka menuju hotel the craftsmen yang terletak di tengah kota Amsterdam.


Vani yang sangat bahagia langsung melemparkan tubuhnya di tempat tidur, dia melihat view dari kaca jendelanya.


"Bagus sekali mas," kata Vani


Lalu Nick memeluk Vani dari belakang,


"Kamu bahagia?" tanya nya


Vani mengangguk, dia benar-benar bahagia saat ini pergi ke luar negeri dengan orang yang terkasih.


"Kita tidur yuk Van," ajak Nick dengan tersenyum licik


"Jangan macam-macam mas, atau aku potong rudal kamu lalu aku lempar dari sini biar dimakan burung," ancam Vani


"Waooo sadis sekali," sahut Nick