
Vani yang kesal menghentakkan kakinya ke lantai lalu merebahkan dirinya di tempat tidur.
dia menarik selimut hingga menutupi semua tubuhnya.
Nick menatapnya sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya.
Setelah selesai dia naik ke tempat tidur, dia memeluk Vani dari belakang namun Vani melepaskan pelukannya.
"Dalam tidur pun kamu masih marah padaku," gumam Vani
Nick tidak menggubris Vani, dia masih saja memeluk wanitanya meski Vani menolaknya, Karen pergerakan tersebut membuat Vani membuka matanya.
"Kamu tu apaan sih mas ganggu aku aja," gerutu Vani
"Aku kedinginan sayang jadi perlu sebuah pelukan," sahut Nick
"Meluk kompor sana biar hangat," timpal Vani kesal
"Di sini nggak ada kompor adanya kamu," ujar Nick
Vani yang kesal memutuskan tidur di sofa sehingga membuat Nick ikutan kesal.
"Tidurlah di tempat tidur, aku nggak akan menganggu kamu," kata Nick lalu mengambil jaketnya.
Dia berniat cari angin di luar daripada di kamar terus berdebat dan bertengkar dengan Vani.
"Kamu mau kemana?" tanya Vani
"Cari udara daripada di sini kamu kesal sama aku lebih baik aku keluar, dengan begitu tidur kamu pasti nyenyak," jawab Nick lalu pergi keluar.
Vani menatap jendela, terlihat Nick duduk di bangku depan hotel dengan menikmati rokoknya.
Ada rasa sesal di hati Vani, mereka kan berlibur kenapa malah saling berdebat hanya gara-gara hal kecil.
Vani mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Nick
"Mas maafin aku, jangan duduk disitu nanti kamu kedinginan,"
Nick yang membaca pesan Vani tersenyum penuh kemenangan.
Dia segera kembali ke kamar hotelnya, baru saja menutup pintu kamarnya Vani menghamburkan pelukan pada Nick.
"Maafkan aku," katanya lirih
"Maafkan aku juga," sahut Nick.
Nick menatap wajah Vani yang sedikit basah, tangan Nick menyusuri mata Vani lalu menghapus sisa air mata yang masih belum mengering.
Kini bibir mereka saling berpaut, tanpa melepas pautan mereka Nick membawa Vani ke kamar tidur, tangan Nick juga bergerilya kesana kemari membuat Vani menggeliat seperti cacing yang kepanasan.
Puas di bibir Nick turun ke bawah, dia menciumi leher Vani bahkan meninggalkan jejak di sana.
Tangan Nick tergerak melepas kancing baju Vani, tangan Vani sempat menolaknya namun Nick memohon dengan puppy eyes nya.
"Please," bisik Nick dengan suara berat karena hasratnya saat ini.
Pertahanan Vani jebol, dia membiarkan Nick membuka baju atasannya.
Dada Vani terlihat dengan jelas meski masih tertutup oleh pelindungnya.
Tangan Nick memainkan dua piramida di depannya, Vani men desah dengan hebat, suaranya menggelegar memenuhi seisi kamar.
"Kamu semakin membuatku liar sayang," bisik Nick
Nick melepas penutup dada Vani, hingga dua piramida kembar Vani terlihat jelas.
Nick menelan salivanya, dengan segera bibirnya memainkan dada Vani, dia menghisap dan menggigit ujungnya sehingga membuat Vani men de sah hebat, dia menarik rambut Nick dan menenggelamkan ke dadanya.
Puas bermain, Nick menatap Vani. Kini mata mereka saling bertemu, tatapan Vani maupun Nick mengisyaratkan hasrat yang tertahan.
"Selanjutnya kita lanjut setelah menikah, aku sudah janji dengan orang tua kamu," bisik Nick dengan suara yang berat.
Nampak bagian bawah Nick sudah mengeras dan memanjang seperti tanduk kuda poni.
Karena sudah tidak tahan Nick berniat bersolo karir di kamar mandi.
Vani yang sedari tadi menunggu Nick akhirnya menyusul, karena sudah tidak tahan Vani menerobos masuk kamar mandi dan betapa kagetnya dia melihat Nick bersolo karir di depan cermin.
"Aaaaaaaa mas Nick kamu ngapain?" teriak Vani yang membuat Nick kaget
Vani dengan segera menutup matanya, Nick yang merasa sudah sampai melanjutkan aksinya dan membiarkan Vani sejenak.
"Aku kebelet pipis," jawab Vani
Setelah Nick keluar Vani segera mengeluarkan hajat kecilnya, pikirannya masih traveling dengan kegiatan Nick tadi.
"Mataku kini udah nggak perawan lagi deh," gerutu Vani lalu keluar kamar mandi.
Vani yang malu lalu naik ke tempat tidur, dia menarik selimutnya dan memejamkan mata.
Nick yang melihatnya tersenyum lalu dia pun ikut memejamkan matanya.
***********
Pagi sekali Arini sudah bangun karena perutnya seperti diaduk-aduk.
Dia bergegas ke kamar mandi dan memuntahkan semua yang dia makan semalam.
Sean yang mendengar Arini muntah menyusul ke kamar mandi.
Dengan telaten dia memijat tengkuk Arini, setelahnya dia membantu sang istri kembali ke tempat tidur.
"Tumben sayang bocil kita berulah," kata Sean.
"Entahlah sayang, mungkin dia sedang sakit hati di dalam karena semalam permintaanya tidak kamu penuhi," sahut Arini.
"Bukannya nggak mau nurutin lalu bagaimana dengan pekerjaan di kantor kan kamu tau sendiri Nick sedang liburan," jelas Sean.
"Memangnya nggak ada yang lain, ayo lah sayang tiga hari saja." Arini memohon pada Sean dengan menangkupkan tangannya di dada dengan puppy eyes nya.
Melihat Arini seperti itu membuat Sean mau nggak mau menuruti keinginan Arini.
"Baiklah baiklah, anak ini ada ada saja. Ngapain sih minta ke Bali," gerutu Sean.
"Di Bali nggak ada Bule, karena masih lockdown," kata Sean yang mendekatkan bibirnya di perut Arini.
Tiba-tiba Arini memekik kesakitan dan itu membuat Sean panik.
"Ada apa?" tanya Sean
"Dia menendang aku sayang," jawab Arini.
Mata Sean membola, lalu dia meletakkan tangannya di perut Arini.
Benar saja baby-nya terus menendang seolah marah pada Sean.
"Kamu marah ya," kata Sean menggoda.
Mendengar kata-kata Sena baby-nya semakin kuat menendang sehingga membuat Arini dan Sean tertawa.
"Anak ini persis kamu, pemarah dan seenaknya sendiri," ucap Arini
"Iya, nggak dituruti ke Bali membuat mamanya mual," sahut Sean.
Bayi Sean dan Arini sangat aktif di dalam, apalagi saat mendengar suara Sean bayi ini seolah ingin bermain dengan papanya.
Meski sering dipanjat Sean namun bayinya di dalam baik-baik saja, bahkan tak sering Sean mengancam dokter jika dia dilarang melakukan hubungan dengan istrinya.
Ya begitulah Sean si raja me sum dan suka seenaknya sendiri.
"Kamu masih lemas, ayo aku bantu mandi," kata Sean.
"Iya ayo," sahut Arini.
Di dalam kamar mandi Sean menggosok tubuh Arini dengan sabun, saat menggosok dada Arini Sean malah memainkannya hingga membuat Arini mengeluarkan suara-suara gaibnya.
"Kamu tu sayang, paling ahli buat orang kepingin," gerutu Arini.
"Kalau pengen ya ayo, gitu aja kok sudah," sahut Sean
"Tapi aku lemas sekali sayang," timpal Arini
"Ya udah nanti malam saja saat fit, nanti aku akan menyuruh pelayan untuk membelikan vitamin untuk kamu dan anak kita," ujar Sean.
"Oh ya kamu pengen sekali ke Bali memangnya mau kemana?" tanya Sean.
"Pengen beli baju di pasar Sukowati," jawab Arini
Sean menepuk dahinya sendiri dengan tangan, bisa-bisanya jauh-jauh ke Bali hanya ingin beli baju di pasar.