
Daffa menggelengkan kepala, heran dengan tingkat kebucinan Seen. Daffa tak menyangka mantan Casanova bisa cemburu juga.
"Sean Sean, bisa cemburu juga dirimu," kata Daffa
"Bisa lah, kamu pikir aku manusia tak berhati dan tak berperasaan," sahut Sean kesal
"Padahal dulu dingin banget mas, kami para pegawai tidak pernah melihatnya tersenyum. Tiap dia masuk kantor suasananya jadi beda," oceh Arini dengan tertawa
Sean nampak kesal dengan ocehan Arini, sedangkan Daffa terus saja tertawa.
Karena ada pekerjaan lain Daffa pun pamit undur diri. Begitu pula dengan Sean yang ingin pulang.
Dalam perjalanan pulang Arini mengeluh lapar lagi,
"Tuan suami aku kok lapar lagi," kata Arini
Sean mengerutkan alisnya, perasaan baru makan kok sudah lapar lagi.
"Kamu yakin lapar lagi?" tanya Sean
"Yakinlah tuan suami, dengerin saja dia di dalam menangis minta makan," jawab Arini
"Dia bayi apa Buto ijo sayang," sahut Sean
Nick tertawa mendengar ocehan Sean, dia tak menyangka Sean mengatai anaknya Buto ijo begitu pula dengan Arini yang kesal lantaran Sean menyebut anaknya Buto ijo.
"Dasar papa durhaka! anak sendiri dibilang Buto ijo," gerutu Arini
Sean hanya tertawa mendengar umpatan Arini, dia pun membawa Arini dalam pelukannya. Berkali-kali Sean mendaratkan bibirnya di kening Arini.
"Kalau anak anda Buto ijo bearti anda kolor ijo pak," sahut Nick
Arini tertawa cekikikan mendengar Nick menyebut Sean kolor ijo,
Sean yang kesal membogem jok pengemudi bagian belakang,
"Nyetir saja nggak usah ikut menyahut," umpat Sean
Sean kembali memutar bola matanya pada wanita yang kini dia dekap,
"Kamu mau makan apa?" tanya Sean
"Sate," jawab Arini
Sean meminta Nick untuk mencari sate dan tak selang berapa lama mobil Sean sudah memasuki resto yang khusus menjual aneka sate.
"Tuan suami satenya nggak enak," kata Arini
"Enak kok," sahut Sean yang ikut melahap sate di depannya.
Arini menggeleng
"Aku maunya kamu sendiri yang bakar satenya," timpal Arini
Sean membolakan matanya, dia menatap kesal Arini. Kesabarannya seakan diuji oleh Arini
"Ogah, Nick saja yang bakar satenya," tolak Sean
"Biar saya saja nona yang membakar satenya untuk anda," sahut Nick
"Nggak mau." Arini tidak mau jika Nick yang membakar sate untuknya.
Sean mengepalkan tangannya lalu membuang nafas," sabar Sean sabar," katanya lalu beranjak dari tempat duduknya menuju bapak-bapak yang sedang membakar sate.
"Pak kami pesan lagi sate satu porsi, tapi biarkan saya sendiri yang membakarnya," ucap Sean
Bapak tukang sate membiarkan Sean membakar sate, para pengunjung resto tersebut pada melihat Sean yang sedang membakar sate.
"Aku juga mau dong mas, satu porsi ya," kata salah satu pengunjung
Sean memutar bola matanya menatap wanita yang menyuruhnya membakar sate
"Kamu pikir aku tukang sate, jika bukan karena istriku yang ngidam mana mungkin aku mau bakar sate!" Seru Sean
Ingin rasanya Sean menendang bakaran yang ada di depannya. Dia tak terima jika di bilang tukang sate.
Seluruh pengunjung yang melihat Sean jadi lari karena pada takut dengan suara Sean yang menggelegar bak petir yang menyambar.
"Ganteng-ganteng tapi galak, Pitbull kalah galak," oceh salah satu pengunjung
Sean melemparkan tatapan tajamnya pada pengunjung yang mengatainya.
"Bisa-bisa pelanggan ku lari semua," gumamnya
Arini dan Nick yang melihatnya juga menggeleng-gelengkan kepala
"Mungkin dulu mama nyidam Pitbull kali ya pak Nick," kata Arini
"Mungkin nona," sahut Nick dengan tertawa.
Setelah matang Sean kembali lagi ke mejanya, dia segera memberikannya pada Arini.
"Ini makanlah setelah itu ayo kita pulang, gerah sekali habis bakar sate," kata Sean dengan kesal
Arini hanya mengangkat ibu jarinya, dengan lahap dia memakan satu porsi sate ayam dengan bumbu kacang khas Madura.
Sean dan Nick yang melihatnya melongo, karena dalam sekejap sate habis tanpa ada sisa.
"Dasar Buto ijo," ejek Sean dengan tertawa
"Dasar kolor ijo," sahut Arini tak mau kalah
Sean dan Arini saling tatap,
Tak ingin lama-lama Nick mengajak mereka untuk pulang. Saat di mobil Arini memeluk Sean dengan erat, bau keringat Sean sungguh membuat Arini tak ingin jauh dari Sean.
"Sumpah seger banget sih," ucap Arini
"Anak apa yang kamu kandung sayang aneh banget," sahutnya
"Ya karena kamu sendiri aneh mangkanya anak kita juga aneh," timpal Arini
Sean diam seribu bahasa tanpa ingin berkata-kata lagi, Nick yang melihat drama mereka dari kaca spion hanya bisa tersenyum.
"Hanya nona Arini yang mampu menaklukkan anda pak," batin Nick
Seusai mengantar Sean dan Arini, Nick langsung pulang ke rumahnya.
Di rumahnya Nick tinggal bersama orang tuanya, Nick memiliki adik tapi adik Nick bekerja di luar negeri.
Arini melarang Sean untuk mandi dia tidak mau kalau aroma asam tubuh Sean plus bau-bau sate hilang, lagi-lagi Sean dibuat kesal dengan keinginan Arini, kesabarannya benar-benar diuji oleh Arini.
Di sisi lain Daffa diminta orang tua Amira untuk menemui Amira.
Awalnya Daffa menolak namun karena orang tua Amira terus mendesaknya akhirnya dia mau.
Saat Daffa masuk dalam kamar Amira, dengan segera Amira memeluk Daffa.
"Sean menolak ku gara-gara Arini," kata Amira
Daffa melepas pelukannya dan menatap Amira, "Kamu kenapa jadi seperti ini Amira?" tanya Daffa
"Kalian berdua kenapa tega padaku, dulu kamu sekarang Sean," jawab Amira
Daffa menghela nafas
"Cinta itu mengenai hati dan perasaan, tidak bisa dipaksa dan tidak bisa dihindari ketika dia datang, bukan maksud kami tega padamu semua itu karena kami memang tidak ada rasa padamu," kata Daffa
Mendengar kata-kata Daffa membuat Amira menangis
"Sudahlah Amira, buang jauh-jauh rasa cintamu untuk Sean. Masih banyak laki-laki lain yang akan bisa menyayangimu lebih dari Sean," imbuh Daffa
Sehabis menangis Amira tertawa,
"Kenapa tidak kamu saja Daffa," kata Amira
"Maaf tapi dari dulu rasaku padamu masih sama, aku hanya menganggap mu teman kalau pun lebih hanya sebagai adik yang aku sayang, itu saja tapi untuk cinta mohon maaf," ungkap Daffa
Amira semakin histeris, setelah itu Amira mendekat ke arah Daffa. Dia pun mencium bibir Daffa, tentu hal itu membuat Daffa marah.
Karena Amira tidak melepas ciumannya Daffa pun mendorong Amira dengan kuat sehingga Amira jatuh ke lantai
"Kenapa Daffa kenapa!" seru Amira
Daffa yang marah beranjak dari tempat duduknya lalu berjongkok
"Sikapmu tadi benar-benar membuat aku muak Amira, jika aku tak ingat kalau kita adalah sahabat mungkin aku sudah menamparmu supaya otakku yang bergeser kembali ke tempatnya semula," kata Daffa lalu pergi meninggalkan Amira yang menangis histeris
"Om Tante bawalah Amira berobat, kelihatannya mental Amira terganggu," pesan Daffa pada orang tua Amira.