
"Tapi ada satu obat yang mungkin bisa membuatku langsung sembuh sayang," sambung Sean kemudian.
Arini memutar bola matanya menatap Sean dengan lekat, penasaran obat apa yang bisa membuatnya langsung sembuh.
Sean tersenyum licik, lalu menyabukkan tangannya di pinggang Arini.
"Obatnya ya kamu, dengan aku memanjat kamu pasti akan sembuh," kata Sean
Arini mencibirkan bibir, heran sekali dengan suami terme sum sedunia. Baru saja panjat pinang sekarang mau nambah panjat tebing.
"Aku heran sekali dengan dirimu, baru saja selesai manjat kini menginginkan lagi," sahut Arini
"Kan aku sudah bilang kalau tubuhmu sudah menjadi candu buat aku, ingin selalu dan selalu aku memanjat mu," timpal Sean dengan terkekeh
Arini hanya bisa menggelengkan kepala, pusing memikirkan suami bule nya tersebut.
Bibir bawahnya sudah perih karena ulah rudal Sean yang berukuran XL, dan kini Sean menginginkannya lagi, bisa-bisa dedel duel ga karu-karuan.
Arini yang malas meladeni suaminya mencoba mengalihkan pembicaraan mereka ke Daffa yang mengakibatkan Sean cemburu.
"Untuk apa kamu bertanya Daffa? kangen?" sahut Sean dengan wajah yang kesal.
Arini tersenyum, paling tidak Sean sudah teralihkan sementara. Meski dia nanti harus berdebat dengan suaminya gara-gara bahasan Daffa.
"Mas Daffa kan temanku jadi wajar jika aku merasa rindu padanya," ucap Arini
"Nggak boleh! rindu, cinta, sayang dan semua rasamu hanya buat aku," kata Sean dengan kesal.
Arini memeluk suaminya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Sean.
"Teruntuk kamu hidup dan matiku sayang, meskipun banyak mahkluk indah lainnya pada datang padaku tetap kamulah raja di hatiku. Asal kamu tahu cintaku telah habis dan nggak tersisa sedikit pun untuk dunia kerena semua telah aku habiskan untuk dirimu," kata Arini. Meski terlihat gombal tapi kata-kata itu tulus dari dalam hatinya.
Mendengar kata-kata Arini membuat Sean melengkungkan ujung bibirnya. Tak menyangka Arini yang bar-bar bisa gombal.
Sean membalikkan badannya lalu memeluk erat Arini, bahkan dia berkali-kali mengecup kening Arini.
"Aku adalah manusia yang paling beruntung karena memiliki dan dimiliki kamu," bisik Sean.
Arini mengangguk.
*********
Keesokan harinya, Arini yang terbangun terlebih dahulu pergi keluar Villa nya, dia melihat matahari yang seolah keluar dari dalam laut.
"Indahnya, melihat matahari terbit dari Samudra Hindia." Arini takjub sekali.
Sean yang melihat Arini tidak ada di sampingnya pun mencarinya. Dia melihat Arini berdiri sambil melihat hamparan laut luas.
Sean mendatangi Arini lalu memeluknya dari belakang.
"Apa yang kamu lihat nyonya Sean?" tanya Sean
Arini tersenyum, "Aku melihat matahari yang terbit tuan Sean, lihatlah kekuasaan Tuhan." Jawab Arini
Arini semakin mengeratkan pelukan Sean, saat bersamaan Vani keluar dan melihat Sean dan Arini berpelukan.
"Mereka ini pagi-pagi udah tebar kemesraan membuat aku iri saja," gumam Vani
Tiba-tiba sebuah tangan menyusup dalam perutnya, "Morning Vani," sapa nya.
Siapa lagi kalau bukan Nick yang tiba-tiba memeluk Vani dari belakang.
"Kamu tu pak ngagetin aja," gerutu Vani
"Maaf sayang," sahut Nick
Nick kini mengganti panggilannya dengan sayang yang membuat Vani gemes dengan atasan sekaligus kekasihnya tersebut.
******
Hari ini adalah hari dimana Putri ikut test, dia sudah mempersiapkan sebelumnya.
Karena tesnya siang Putri bekerja dulu sebelum pergi.
Shane yang sudah datang langsung masuk ke dalam ruangan Daffa dan betapa kagetnya dia karena melihat wanita satu ruangan dengan Daffa.
"Ini siapa boz?" tanya Shane
Shane melirik ke arah Putri, "Masih bocah," batin Shane .
Shane duduk lalu melaporkan hasil kunjungannya di Kota Shanghai, mereka terlihat sangat serius hingga Putri yang hendak pamit sedikit sungkan.
Putri berdiri lalu mendekat
"Maaf pak saya mengganggu, saya ingin pamit mau keluar sekarang," ijin Putri
"Iya Put, hati-hati ya. Semoga sukses dan jangan lupa semangat," sahut Daffa dengan tersenyum.
Putri mengangguk, "Mari om," pamit Putri pada Shane,
"Apa!" teriak Shane kesal karena dipanggil Om oleh Putri.
Putri segera menutup mulutnya, "Maaf pak, soalnya wajah anda terlihat seperti om om," sahut Putri lalu pergi.
Daffa hanya tertawa melihat Shane kesal dengan Putri, "Bocah aneh, masa wajah ganteng gini dibilang seperti om om," omel Shane.
Daffa menenangkan Shane, "Tenanglah Shane jangan marah-marah," kata Daffa
"Lagian masih jam kantor mau kemana sih, seenaknya saja keluar. Lagipula kenapa anda diam saja boz," ujar Shane heran dengan Daffa.
Akhirnya Daffa menceritakan semua, dia sungguh tak habis pikir dengan jalan pikiran Daffa kenapa mau berkorban pada orang yang tidak dikenal.
"Nggak apa-apa Shane, kasian kalau anak sepintar dia tidak bisa mengenyam bangku kuliah. Dia sungguh pintar sekali bahkan cita-citanya sungguh besar. Kita memiliki harta yang lebih apa salahnya membantu dia menggapai cita-citanya," kata Daffa
Shane menganggukkan kepala, "kamu benar juga tapi bagaimana kalau dia nanti lupa padamu, seperti pepatah habis manis sepah dibuang," sahut Shane
Daffa tersenyum, "Kalau itu biar menjadi urusannya dengan Tuhan," timpal Daffa.
Meskipun kurang setuju namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Keputusan Daffa tidak bisa digagu gugat. Dia hanya berharap Putri kelak membalas Budi Daffa.
Setelah di kampus Putri segera ikut gabung untuk melakukan tes, dua jam berlalu dia pun sudah selesai.
Seminggu lagi pengumuman yang lulus akan diumumkan.
Putri kembali ke kantor dengan hari yang lega, kini tinggal banyak- banyak berdoa supaya lulus.
************
Seminggu sudah berlalu, hari ini adalah pengumuman hasil tes seminggu yang lalu.
Daffa yang penasaran ikut mengantar Putri ke kampus, banyak mata yang melihat mereka apalagi Daffa dan Putri turun dari mobil yang bersimbol kan kuda jingkrak.
"Wah cakep dan tajir banget," celoteh salah satu mahasiswi
"Beruntung ya ceweknya," sahut yang lain.
Daffa berjalan dengan memasukkan satu tangannya di saku celana, dia nampak sangat wibawa apalagi ditunjang dengan outfit serta gaya nya yang memukau.
Putri melihat hasil tesnya langsung memeluk Daffa, "Alhamdulillah pak, saya lolos lihatlah nama saya no satu," kata Putri dengan mengeratkan pelukannya sehingga banyak mahasiswi pada iri.
"Alhamdulillah ya Put," sahut Daffa.
Putri sungguh senang sekali, setelah dia sadar di segera melepas pelukannya.
"Maaf pak," katanya dengan malu.
"Dua kali Lo Put," timpal Daffa
Putri semakin menunduk, dia sungguh malu sekali apalagi Daffa menghitung berapa kali dia memeluknya.
Sean, Arini, Nick dan Vani sudah kembali dari Bali, meski mereka mundur dua hari dari jadwal yang di tetapkan.
Sepanjang perjalanan pulang, Arini melihat pohon mangga yang berbuah dengan lebat dan dia pun ingin sekali memakannya.
"Sayang aku ingin makan buah mangga," pinta Arini
"Nanti kita beli," sahut Sean.
"Nggak mau, aku ingin kamu sendiri yang memetiknya," timpal Arini
Sean membolakan matanya
"What! hancur reputasi aku jika ada yang tau seorang Sean sang Presdir memanjat mangga,"