
"Syukurlah dia mendengar kita, sehingga menstabilkan irama detak jantungnya," kata Dokter lega, semua beban lenyap seketika.
"Berpuluh-puluh tahun bekerja sebagai dokter baru kali ini aku merasa takut sekali," sahut dokter lainnya.
Mereka semua bangun dan saling peluk setidaknya mereka lega sekarang meski kemungkinan kemungkinan bisa saja terjadi nanti, mengingat kondisi Arini sangat lemah.
Lampu operasi sudah dimatikan sehingga membuat ke empat orang ganteng ini berdiri barengan menantikan dokter yang sebentar lagi akan keluar.
Saat pintu ruang operasi dibuka, para dokter diberondong pertanyaan oleh Sean.
"Kenapa operasinya lama sekali, sekarang bagaimana keadaan istri saya, apa lukanya parah?" Sean memberondong dokter dengan berbagai macam pertanyaan.
Para dokter saling pandang, lalu mereka menjawab pertanyaan Sean bergantian.
"Operasinya lama karena nona Arini mengeluarkan banyak darah, timah panasnya dekat sekali dengan jantung jadi kami harus hati- hati," kata Dokter.
Yang satunya lalu menjawab pertanyaan Sean selanjutnya, "Keadaan istri anda masih amat sangat lemah mengingat banyaknya darah yang keluar."
Belum sempat Dokter selanjutnya menjawab Daffa menyela, "Maaf apa saya boleh masuk?" tanya Daffa
"Silahkan," jawab Dokter.
Sean menatap punggung Daffa yang masuk terlebih dahulu daripada dirinya.
"Apa-apaan dia yang suaminya siapa," gumam Sean dengan kesal.
Sean meninggalkan dokter dengan satu pertanyaan yang belum terjawab.
Daffa nampak menatap Arini dengan tatapan sedihnya,
"Tak kuduga seorang wonder women sepertimu bisa berbaring lemah seperti ini," kata Daffa sedih
Sean segera menggenggam tangan Arini, "Bangunlah sayang, maafkan suami mu ini yang tidak bisa melindungi dirimu," ucap Sean dengan mata yang berkaca.
Daffa menjatuhkan tangannya di bahu Sean, "Kamu sudah berusaha melindunginya Sean, kita banyak-banyak berdoa dan menyerahkan semua pada Tuhan biar Sang ilahi mengerjakan bagiannya," hibur Daffa
Kini Arini berada dalam ruangan ICU karena kondisi
nya yang masih belum stabil, kondisi Arini masih memerlukan pemantauan medis yang intensive.
Sean dan Nick kembali ke ruang perawatan Sean, karena bagaimana pun juga kondisi tubuh Sean juga masih belum sembuh betul.
"Kenapa dia belum sadar juga Nick?" tanya Sean dengan raut wajah sedih.
Nick menatap bosnya yang sedang galau tersebut.
"Tenanglah pak, nona Arini tidak mungkin berani meninggalkan anda," hibur Nick dengan tersenyum.
Setelah minum obat, Sean tertidur begitu pula dengan Nick yang tidur karena matanya sudah tidak bisa di kompromi.
Baru tiga jam tidur Nick bangun lalu dia pulang dan bersiap untuk pergi ke kantor, dia sengaja meninggalkan Sean yang masih tidur karena tidak ingin menganggu.
Perlahan mata Sean terbuka dia kaget sekali karena hari sudah siang, Sean segera melangkahkan kakinya pergi ke ruangan ICU.
"Mana sih Nick bisa-bisa nya dia meninggalkan aku yang masih tidur, awas aku potong gaji kamu,' gerutu Sean.
Sean berpapasan dengan Suster yang hendak memberinya obat supaya keadaan Sean cepat pulih.
"Pak kita kembali dulu karena saya mau menyuntikan obat untuk pak Sean," kata Suster tersebut.
"Di sini saja," sahut Sean.
Mau nggak mau suster menyuntikkan obat pada Sean di lorong karena Sean menolak untuk kembali, dia juga mengecek detak jantung Sean dengan stetoskop.
"Mau kemana pak?" tanya suster basa basi
"Kemana-mana urusanku, urusanmu hanya mengobati orang,' jawab Sean dingin yang membuat Suster tersebut menyesal telah bertanya pada Sean.
Seusai diberi obat, Sean segera pergi ke ruang ICU.
Mata Sean membola, dia melihat segerombolan suster melepas semua alat pasien, bahkan kain putih sudah menutup orang yang berbaring di atas bed rest tersebut.
Sean memucat, "Ada apa ini, Kenapa mereka menutup kain tubuhmu?" gumam Sean di depan pintu ruang ICU.
"Tidak Arini, beraninya kamu meninggalkanku?" Sean bermonolog dengan dirinya sendiri dengan pandangan menatap dalam ruang ICU.
"Ariniiiiii," teriak Sean.