
"Malah itu yang aku tunggu Daffa, aku mencintaimu aku rela memberikan apapun padamu termasuk harga diriku," sahut Diana.
Dia mendekat ke arah Daffa, kini Daffa bagai seorang harimau yang berbulan-bulan tidak makan dan disuguhi daging. Jiwa nya meronta ingin sekali menerkam daging mentah di depannya.
Daffa benar-benar di kuasai nafsu yang membara, api dalam dirinya bergejolak membakar sistem saraf warasnya, yang ada adalah keinginan untuk segera menyalurkan hasrat yang sedari tadi sudah di ubun-ubun.
Kemolekan tubuh Diana tidak dapat dipungkiri, Daffa mendekat membuang Diana ke tempat tidur.
Diana tersenyum puas, dia berpose dengan tubuh mulusnya menarik Daffa supaya melakukan hal lebih padanya.
Daffa mulai melepas kaosnya, nampak tubuh atletis Daffa yang membuat Diana semakin tak sabar untuk segera diterjang Daffa.
Tiba-tiba Daffa teringat Putri, senyum manisnya muncul dalam pikiran Daffa sehingga Daffa bisa mengerem nafsu liarnya untuk menerkam Diana.
"Maafkan aku Put, hampir saja aku melakukannya. Ya Tuhan, tolong aku," gumam Daffa.
Mungkin kekuatan cinta tulus Putri mampu menahan gejolak nafsu liar Daffa yang membara.
Daffa mengambil selimut dan menutupkannya pada tubuh polos Diana sehingga membuat Diana menatap Daffa dengan lekat.
"Ayo kita lakukan Daffa," katanya dengan berat karena Diana juga menahan keinginan untuk segera dikerjai Daffa.
"Kamu adalah seorang wanita baik-baik dari keluarga yang baik pula kenapa rela melakukan hal serendah ini demi aku yang jelas-jelas tidak mencintaimu, bahkan seorang pel acur pun tidak mau memberikan tubuhnya pada pelanggan yang tidak menginginkannya," kata Daffa yang membuat raut wajah Diana berubah.
Diana terdiam, kata-kata Daffa bagai petir di siang bolong. Dia meneteskan air mata mengingat dalamnya kata Daffa, Dirinya dari kacamata Daffa lebih rendah dari seorang wanita malam.
"Jangan samakan aku dengan wanita malam Daffa, aku hanya jatuh cinta padamu dan ingin hidup bersama kamu," gumam Diana dalam tangis.
Daffa tidak menggubris Diana yang menangis,
dia segera keluar kamar sebelum dia benar-benar tidak bisa menahan nafsu liarnya.
Entah kebetulan atau tidak di luar ada Putri yang mendapatkan bisikan bisikan yang menyakitkan dari mamanya.
"Daffa sekarang telah menjalin kasih dengan Diana, jadi jangan berharap lebih pada Daffa," kata mama Daffa.
Rencana mama Daffa sungguh licik, dia memberikan obat perangsang pada Daffa dan menyuruh Diana untuk tidur dengannya. Setalah itu dia memanggil Putri supaya datang dan melihat Daffa dan Diana tidur bersama.
Putri hanya terdiam, hatinya sungguh sakit mendengar perkataan Mama Daffa hingga Daffa memanggilnya.
"Put" teriak Daffa
Daffa mendekati Putri lalu menarik tangan Putri, dengan segera membawa Putri masuk dalam kamar tamu yang ada di apartemennya.
Mama Daffa bingung dan heran, kenapa Daffa keluar dan malah membawa Putri masuk ke dalam kamar tamu, apa yang sebenarnya terjadi dengan Daffa dan Diana?
Terlihat Diana keluar dari kamar Daffa dengan menangis. Mama Daffa segera menarik tangan Diana yang bertanya.
"Kamu kenapa?" tanya Mama Daffa
Diana melepaskan tangan Mama Daffa lalu menatap wanita paruh baya yang ada di depannya.
"Sudahlah tante, lebih baik putuskan saja perjodohan ini, Daffa tidak mencintaiku sampai kapan pun tidak mencintaiku yang ada jika aku memaksakan diriku dia malah semakin membenciku," jawab Diana.
"Kita masih bisa menggunakan cara lain Diana," pungkas Mama Daffa
"Hentikan cara kotor anda Tante sebelum Daffa juga membenci anda," sahut Diana lalu keluar dari apartemen Daffa.
Cinta boleh-boleh saja tapi harus pakai logika dan jangan buta.
Di kamar tamu Daffa mencium setiap jengkal wajah dan leher Putri dengan rakus sehingga membuat Putri menggeliat," Hanya kamu yang bisa memadamkan api yang sekarang ini bergejolak di dadaku sayang," kata Daffa dengan lirih.
Kemudian Daffa membawa Putri ke tempat tidur, Daffa terus saja menciumi bibir dan leher Putri bahkan dia meninggalkan banyak tanda cinta di sana. Tak hanya di situ tangan Daffa bergerilya kemana mana.
"Jangan mas, please kita belum menikah," kata Putri lirih.
Daffa tak mendengarkan kata-kata Putri dia terus saja melakukan aksinya hingga terdengar isak tangis.
Melihat Putri menangis membuat Daffa frustasi, dia segera masuk kamar mandi dan mencoba memadamkan api yang membara sendiri.
Merasa lebih baik baik Daffa keluar, terlihat Putri meringkuk di atas tempat tidur dengan menangis.
"Maafkan aku Put, mereka memberiku obat yang membuat aku menggila," kata Daffa dengan menyesal.
Putri bangun dan segera memeluk Daffa, "Aku takut mas, aku tidak ingin kita melakukan hal itu sebelum menikah," sahut Putri
Daffa mengangguk dan mengecup kening Putri.
"Aku janji tak akan mengambilnya sebelum kita halal," timpal Daffa menenangkan Putri.
Daffa segera keluar untuk mempertanyakan semua ini pada mamanya, kenapa mamanya begitu tega menjebak anak sendiri untuk melakukan maksiat.
Daffa mendekati mamanya yang sedang duduk di ruang tamu.
"Ma, kenapa mama tega menjebak Daffa dengan cara licik seperti ini," kata Daffa marah pada mamanya.
"Karena kamu tidak menurut Daffa!" teriak mama
"Mama kenapa masih saja tidak mengerti kalau yang Daffa cinta bukan Diana melainkan Putri," sahut Daffa.
"Cinta cinta, jangan membawa cinta. Banyak mereka yang menikah tanpa cinta tapi mereka bahagia, kamu tau karena apa? karena uang," timpal Mama Daffa
Daffa hanya menggelengkan kepala, heran dengan mamanya yang sudah menjadi budak harta, tahta serta status sosial.
"Tapi kini Daffa dengan Putri sudah menyatu, Mama lah yang membuat Daffa melakukan hal itu pada Putri, sekarang tidak ada alasan lagi bagi Daffa untuk segera menikahi Putri karena Daffa sudah menanam benih di rahim Putri," ujar Daffa yang membuat Mama kesal.
"Seharusnya kamu menanam benih kamu di rahim Diana bukan rahim dia!" teriak mama sambil menunjuk wajah Putri.
Mama sungguh kesal dan marah, bagaimana rencananya bisa seperti ini. Alih-alih untuk memisahkan Daffa dengan Putri justru dia malah membuat Daffa tidur dengan Putri.
Mama menatap Putri sekilas nampak merah-merah pada leher Putri yang sudah pasti Daffa lah pelakunya.
"Sampai kapanpun mama tidak akan merestui kalian," teriak mama
"Terserah, suka nggak suka setuju nggak setuju Daffa tetap menikah dengan Putri," sahut Daffa
Mama Daffa keluar dengan hati yang kesal, rencannya gagal total apalagi Diana sekarang sudah menyerah dan memutuskan perjodohannya.
Setelah kepergian mamanya Daffa memeluk Putri dan meminta maaf kalau berbohong.
"Kenapa mas Daffa berbohong?" tanya Putri
"Mama harus diberi shock terapi, mungkin dengan begini dia tidak memaksakan kehendaknya padaku," jawab Daffa.