Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 71


Ini adalah makan malam pertama mereka yang mereka lalui dengan obrolan yang serius dan bermutu. Ini juga makan malam berdua yang terasa lebih akrab dan dekat.


Keduanya sudah merasakan kenyamanan berdua. Tidak ada lagi perasaan canggung.


"Kalau ngobrol dengan saya santai aja Cin. Kamu bisa sebut diri kamu dengan kata aku, jangan kaku" ujar Melodi.


"Iya Pak" sambut Cinta.


"Kalau kamu mau kamu juga bisa panggil saya dengan sebutan lain" sambung Melodi.


"Panggil apa Pak?" tanya Cinta penasaran.


"Mas atau apapun boleh" jawab Melodi.


"Jangan Pak.. saya gak sopan. Lagian kalau teman - teman dengar gak enak. Masak saya panggil Bapak dengan sebutan Mas. Bos aja ya seperti dulu waktu saya kerja di apartement Bapak" balas Cinta.


"Tapi saya merasa ketuaan kalau kamu panggil Bapak. Dan Bos udah kayak ketua geng aja. Emang saya mafia?" tanya Melodi.


"Hahaha si Bos bisa bercanda juga rupanya. Saya kira si Bos selalu serius, habis wajahnya ketat banget kayak CD baru" sambar Cinta.


Melodi tersenyum dan menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Ada - ada aja perumpamaan kamu" ujar Melodi.


Tak lama es krim mereka datang.


"Lho kok dua? tadi kan cuma kamu yang pesan?" tanya Melodi bingung.


"Tadi saya minta di tambahin Bos, gak enak kalau saya aja yang makan es krim sendiri. Tapi kalau Bos gak mau sini biar saya habisin hehehe" jawab Cinta.


"Melihat bentuknya sepertinya enak, saya coba aja deh" sahut Melodi.


"Ya pasti enak Bos makanya saya pesan karena saya suka" ujar Cinta.


Suasana mulai mencair karena candaan mereka. Sebelumnya mereka sempat berbincang tentang pernikahan. Sebenarnya itu adalah sinyal - sinyal yang di kirim Melodi untuk Cinta.


Bukan Cinta tidak curiga tapi dia tidak mau baper karena obrolan mereka. Cinta tidak mau kecewa karena menurutnya tidak mungkin Melodi menyukainya.


Apalagi yang dia dengar dari orang - orang kantor kalau wanita - wanita Melodi itu cantik dan se*y semua. Jauh banget dengan penampilan Cinta.


"Kamu lahir di Jakarta Cin, tapi kok besar di kampung?" tanya Melodi.


"Ceritanya panjang Pak dan kalau saya cerita saya pasti akan menangis. Saya gak mau menangis di depan Bapak" jawab Cinta.


"Santai aja Cin, anggap saja saya teman kamu. Udah gak perlu formil panggil aku kamu aja" tegas Melodi.


Cinta menarik nafas panjang.


"Kedua orang tua saya meninggal dunia saat saya duduk di bangku SMP. Saat itu kehidupan kami sangat sulit. Kakak harus menjual semua asset milik orang tua saya demi menyambung hidup. Kakak berhenti kuliah dan kami pindah ke kampung dibawa Bibik. Di sana kami tinggal dan hidup sampai saya tamat SMU, saya dapat beasiswa lewat jalur undangan di Universitas Negeri di Jakarta ini Pak. Kakak sangat mendukung dan bersedia membantu biaya hidup saya di Jakarta ini. Saya juga tidak mau tinggal diam. Saya bekerja sambil kuliah dan seperti yang Bapak tau selanjutnya saya berkerja di apartement Bapak" jawab Cinta.


Wajahnya memang tampak sedih membuat Melodi juga bisa ikut merasakannya.


"Yah walau setiap mengingat itu aku selalu sedih tapi aku berusaha untuk positif thingking Pak. Dulu aku adalah anak yang manja dan karena kejadian menyedihkan itu aku tumbuh jadi anak yang kuat dan harus selalu semangat" sambung Cinta.


Melodi tersenyum akhirnya Cinta mau menyebut dirinya dengan sebutan aku. Itu artinya Cinta sudah merasa santai berbincang dengannya.


"Hebat kamu, aku malah sebaliknya. Aku hidup dengan dendam, kesepian dan kesedihan. Aku merasa sendiri dan marah dengan keadaan ini. Akhirnya aku lari pada kehidupan gelap dan terjerumus dalam" ungkap Melodi.


"Kasihan Pak orang tua kita. Mereka sudah tiada hanya kita yang bisa mendoakan dan membantu mereka di sana. Doa anak soleh dan solehah itu langsung tersampaikan Pak pada orang tuanya" sambut Cinta.


Seketika Melodi tersadar selama ini dia sangat kehilangan atas kematian orang tuanya tapi dia lupa cara mendoakan dan menolong mereka.


"Mereka pasti menangis menunggu kiriman doa sebagai wujud kasih sayang kita kepada mereka. Kalau Bapak memang menyayanginya jangan marah Pak pada keadaan sampai lupa untuk mengirimkan doa untuk mereka. Mungkin sudah tiba saatnya Bapak untuk benar - benar berubah. Perbaiki hubungan Bapak dengan Allah dan kedua orang tua Bapak. Kita saling membutuhkan Pak. Bapak butuh Allah dalam hidup ini. Karena DIA lah Sang Pemilik Dunia ini. Bapak membutuhkan dan merindukan kedua orang tua Bapak, kirimi mereka doa terbaik, itu yang dibutuhkan kedua orang tua Bapak " pesan Cinta.


Melodi terdiam sesaat. Kata - kata Cinta benar - benar menampar perlakuannya selama ini. Sebagai anak dia tidak sempat berbakti kepada orang tuanya saat mereka masih hidup.


Setelah mereka meninggal, Melodi tetap tidak bisa berbakti pada mereka. Melodi malu selama ini merasa kehilangan dan sedih karena kepergian orang tuanya tapi sekalipun dia tidak pernah menitipkan doa untuk mereka.


Kamu terus mengingatkan aku Cin untuk berubah dan bertaubat. Aku sepertinya memang harus mencari Pak Tua itu. Batin Melodi.


Cinta melirik jam tangannya.


"Pak sudah malam, sebaiknya kita pulang" ucap Cinta.


"Eh iya gak kerasa. Pesan makanan untuk Ratna dan Wildan Cin" perintah Melodi.


Cinta memanggil pelayan dan memesan makanan untuk sahabatnya dan juga wakil Bosnya.


Setelah pesanan mereka siap, Melodi membayar bill makan malam mereka lalu mereka keluar dari Cafe tersebut.


Melodi mengantar Cinta sampai ke kosannya.


"Aku serius Cin tentang kosan kalian yang sangat kecil itu" ucap Melodi.


"Sebentar lagi Pak. Mudah - mudahan bulan depan Ratna wisuda dan langsung bekerja di kantor Bapak. Baru kami cari kontrakan baru untuk kami berdua" sambut Cinta.


"Pindah saja ke apartement ku yang ada di lantai yang sama dengan Wildan" perintah Melodi.


"Terimakasih Pak, tidak perlu. Saya tidak mau merepotkan. Kami bisa cari rumah kontrakan saja Pak" tolak Cinta dengan lembut.


"Ya sudah saya pulang dulu ya Cin, sampai ketemu besok" ujar Melodi.


Cinta turun dari mobil dan melambaikan tangannya mengantarkan kepergian Melodi dari kosannya. Setelah itu baru dia masuk ke dalam dan mampir sebentar ke kamar Ratna untuk mengantarkan makan malam sahabatnya itu.


.


.


BERSAMBUNG