
Malam harinya Wildan dan Ratna mengajak Ibu dan adik - adik Ratna makan di sebuah restoran terbaik di kota Pati. Tentu saja tanpa Bapaknya Ratna.
Karena sudah menjadi kebiasaan Bapaknya pergi sore dan baru akan pulang esok harinya dalam keadaan mabuk. Jadi tanpa kehadiran Bapaknya Ratna ingin membahagiakan Ibu dan adik - adiknya.
"Silahkan makan Bu" ucap Wildan dengan sopan santun kepada calon mertuanya.
"Ba.. baik Nak Wildan. Sebenarnya kamu tidak perlu melakukan semua ini" sambut Ibunya Ratna.
"Membuat orang yang Ratna sayangi bahagia adalah keharusan bagiku Bu. Sebentar lagi kan Ibu akan menjadi orang tuaku juga. Karena orang tua Ratna adalah orang tuaku juga. Ratna adalah putri Ibu. Ibu menginginkan aku untuk membahagiakan Ratna sementara kebahagiaan Ratna itu adalah memastikan Ibu dan adik - adinya juga hidup dengan bahagia" sambut Wildan.
Ibunya Ratna tersenyum lega karena ternyata pilihan putrinya tidak salah. Semakin dia mengenal Wildan dia semakin yakin kalau Wildan adalah pria baik dan bertanggung jawab. Dan yang terpenting Wildan terlihat sangat mencintai putrinya.
Mereka makan malam bersama, adik - adik Ratna sangat senang sekali diajak makan seperti ini. Seumur hidup mereka, belum pernah makan di tempat semewah ini.
"Mbak Ratna beruntung banget ya dapat Mas Wildan. Udah ganteng, baik, kaya lagi" ucap Riska.
"Huuus.. " potong Retno.
"Maaf.. maaf.. " sahut Riska cepat.
Setelah makan malam mereka singgah ke Mall. Wildan memaksa mereka untuk berbelanja apa pun yang mereka inginkan.
Adik - adik Ratna memilih untuk membeli perlengkapan sekolah. Sedangkan Ibunya tidak membeli apapun.
"Ibu tidak membeli apapun?" tanya Wildan.
"Nggak Nak Wildan. Ibu tidak butuh apa - apa" tolak Ibunya Ratna.
"Rat" panggil Wildan.
"Gak apa Mas, Ibu udah aku bawain oleh - oleh yang banyak dari Jakarta" jawab Ratna.
"Baiklah kalau begitu" sahut Wildan.
Mereka kembali ke rumah Ratna, setelah mengantar Ratna dan keluarganya Wildan pamit kembali ke Hotel tempat dia menginap.
"Saya pamit ya Bu, besok siang saya akan kembali lagi untuk bertemu Bapak" ucap Wildan.
"Apa Nak Wildan yakin?" tanya Ibunya Ratna memastikan.
"Saya yakin, saya akan berusaha untuk melakukan yang terbaik" jawab Wildan.
"Baiklah, terimakasih atas semuanya ya Nak Wildan" balas Ibunya Ratna.
"Jangan berkata seperti itu Bu, harusnya saya yang mengucapkan terimakasih karena sudah disambut dengan baik di rumah Ibu" ucap Wildan.
"Kalau begitu Ibu masuk duluan ya" pamit Ibunya Ratna.
Dia langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Mas Wildan terimakasih banyak ya" ucap Retno, Riska dan Rafika.
"Sama - sama adik - adik yang manis" balas Wildan ramah.
Adik - adik Ratna masuk ke dalam rumah menyusul Ibu mereka. Kini hanya Ratna yang menemani Wildan menunggu taxi online datang.
"Siapa nama lengkap orang tua kamu?" tanya Wildan.
Ratna menatap mata Wildan.
Apa yang sedang kamu rencanakan Mas? tanya Ratna dalam hati.
"Nama Bapak Ramlan Mas" jawab Ratna.
Wildan tersenyum membalas tatapan Ratna.
"Pantas saja nama kalian semua diawali huruf R ternyata Bapak kamu penggemar huruf tersebut. Sepertinya Bapak kamu cocok dengan Papaku sama - sama berawal R nama mereka" canda Wildan.
Ratna tersenyum tipis menanggapi candaan Wildan barusan. Selama mereka datang ke rumah ini baru kali ini Wildan bisa kembali melihat senyuman manis dari wajah wanita yang menjadi pemilik hatinya.
"Gitu donk, senyum kamu manis sekali. Dari tadi aku kangen banget lihat senyum kamu" ucap Wildan.
Tak lama taxi online pesanan Wildan datang. Wildan bergegas hendak meninggalkan rumah Ratna.
"Hati - hati ya Mas" ucap Ratna.
Wildan menatap Ratna sebelum dia pergi.
"Mimpi indah ya sayang, jangan pikirkan hari esok. Aku tidak akan mundur, aku pasti akan berjuang untuk mendapatkan kamu" ujar Wildan sebelum dia pergi.
Wildan langsung masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah orang tua Ratna. Wildan meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Kamu cari informasi tentang pria yang bernama Ramlan tinggal di Kota Pati desa XXX. Aku mau informasi yang akurat, jangan ada yang terlewatkan sedikitpun" perintah Wildan pada seseorang melalui panggilan telepon.
Esok harinya Ratna dan adik - adiknya sibuk membantu Ibu mereka memasak di dapur. Hari ini mereka akan memasak makanan spesial untuk menyambut kedatangan Wildan di rumah mereka.
Bapak Ratna baru pulang sebelum adzan subuh tadi pagi. Dan saat ini dia masih tidur di kamarnya.
Ratna tampak sangat cekatan membantu Ibunya memasak. Hal ini tentu saja membuat Ibu dan adik - adiknya merasa heran. Sejak kapan Ratna sangat pintar memasak seperti ini.
"Kamu belajar masak dimana?" tanya Ibu Ratna.
"Aku belajar sama Cinta Bu, dia sangat pintar sekali memasak" jawab Ratna.
Ibunya Ratna tampak menarik nafas panjang.
"Ibu sudah bersalah pada kalian, harusnya sejak awal Ibu ajari kalian memasak karena ini adalah tugas seorang wanita. Kalian anak - anak Ibu semuanya perempuan harusnya Ibu sudah mengajari kalian sejak dulu" ungkap Ibunya Ratna merasa bersalah.
Ratna memeluk Ibunya penuh kasih sayang.
"Kami sangat bangga memiliki Ibu seperti Ibu. Jangan pernah merasa bersalah kepada kami Bu. Ibu sudah melakukan yang terbaik kepada kami. Justru kami yang masih belum bisa membalas semua kerja keras Ibu selama ini" sambut Ratna.
"Aku juga berjanji akan membantu Ibu memasak setiap hari, mulai hari ini" ucap Retno.
"Aku juga Bu" sambut Riska.
"Aku juga" ucap Rafika.
"Kalian anak - anak Ibu yang baik - baik. Kalian belajar dengan tekun Ibu sudah sangat senang. Capailah cita - cita kalian, Ibu akan berusaha berjuang mengantar kalian sampai gerbang kesuksesan. Jangan seperti Ibu jadi perempuan yang lemah" ucap Ibunya Ratna dengan sedih.
Mereka saling berpelukan bersama di dapur.
"Waaaah sepertinya akan ada pesta ya" ucap Pak Ramlan yang baru saja keluar dari kamarnya.
Semua tampak tegang melihat keberadaan satu - satunya pria di rumah ini.
"Apa kalian melakukan semua ini untuk menyambut pria miskin kemarin?" tanya Pak Ramlan.
"Pak" ucap Ratna.
"Apa? Kamu ingin membela pria itu? hahaha ternyata kamu bodoh Ratna, selama ini Bapak kira kamu wanita pintar hingga bisa kuliah di Jakarta tapi semua ilmu kamu percuma kalau kamu tidak bisa memilih pria yang tepat untuk keluargamu" ujar Pak Ramlan.
"Assalamu'alaikum... " terdengar suara Wildan dari arah pintu depan.
"Lihat pria pilihan kamu sudah datang. Aku akan lihat apakah dia bisa diandalkan sebagai seorang pria calon suami kamu?" ujar Pak Ramlan menyambut kedatangan Wildan di rumahnya.
"Pak sebaiknya Bapak mandi saja, setelah itu baru bicara baik - baik dengan Nak Wildan.
Cegah Ibunya Ratna.
"Kamu malu mempunyai suami jorok seperti aku? Hahaha.. gak usah pura- pura bersih, buktinya kamu sudah melahirkan empat anak dariku" balas Pak Ramlan.
Ibunya Ratna hanya bisa mengelus dada melihat sikap suaminya itu. Mereka berjalan di belakang tubuh Pak Ramlan. Pak Ramlan membuka pintu rumah mereka dan menyambut kedatangan Wildan.
Saat pintu terbuka Wildan mencium bau yang tak enak. Setelah melihat siapa yang ada di hadapannya Wildan langsung mengerti.
"Assalamu'alaikum Pak, saya datang lagi untuk meminta restu Bapak melamar Ratna" ucap Wildan.
"Masuk" perintah Pak Ramlan.
Wildan masuk ke dalam rumah. Dia melihat Ratna bersama Ibu dan adik - adiknya menatap kedatangannya dengan wajah tegang. Wildan melemparkan senyuman untuk membuat mereka semua tenang.
Wildan duduk tepat di hadapan Pak Ramlan.
"Bagaimana, apakah kamu sudah memikirkan penawaran aku kemarin?" tanya Pak Ramlan to the point.
Wildan tersenyum penuh percaya diri.
"Sudah Pak, tapi sebelumnya maaf jika saya ingin membawa beberapa orang tamu lain" jawab Wildan.
"Siapa?" tanya Pak Wildan penasaran.
"Silahkan masuk" perintah Wildan.
Ada lima orang pria masuk ke dalam rumah Ratna. Sontak Pak Ramlan terkejut dan wajahnya berubah pucat saat mengenali empat dari lima orang yang datang ke dalam rumahnya.
Siapakah mereka?
.
.
BERSAMBUNG