Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 179


"Aku ingin memberikan tanah beserta rumah ini kepada Ibu. Balik namakan saja atas nama Ibu. Aku ingin rumah ini diatas namakan kepada Ibu" pinta Ratna.


Wildan tersenyum puas menatap wajah Ratna.


"Aku sudah menduganya, kau pasti tidak akan seegois itu kepada keluargamu" ucap Wildan.


Wildan menatap Pak Ramlan.


"Harusnya Bapak bersyukur mempunyai istri seperti Ibu yang selalu patuh dan taat kepada suaminya walaupun suaminya tidak pernah melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Ibu sudah berhasil mendidik putri - putri Bapak menjadi anak soleh yang selalu takut kepada Allah dan patut kepada Bapak" ujar Wildan.


Pak Ramlan menatap Wildan dengan tatapan tidak suka.


"Kamu mengancam saya?" tanya Pak Ramlan.


"Saya tidak mengancam Bapak. Saya hanya mencari jalan terbaik untuk kita semua" jawab Wildan.


"Kamu mau mengatur hidupku. Melarangku untuk minum? Jangan sok suci kamu" ujar Pak Ramlan.


"Saya memang bukan manusia yang suci Pak. Kejahatan yang saya lakukan mungkin lebih banyak dan lebih hebat dari Bapak. Dulu hidup saya lebih kelam dari Bapak. Tapi putri Bapak lah yang menyadarkan saya untuk bertaubat. Mengingatkan saya bahwa kita hidup bukan untuk dunia saja. Ada akhirat setelah kematian. Aku rasa setiap manusia yang telah berbuat kesalahan masih diberi Allah kesempatan untuk menyadari dan memperbaiki kesalahannya. Termasuk Bapak salah satunya" sahut Wildan.


"Ingat Pak surat perjanjian yang baru saja Bapak tanda tangani. Jangan sampai Bapak melanggarnya" ucap Pengacara memberi peringatan.


Pak Ramlan menarik nafas panjang. Perkataan pengacara itu membuat dia merasa takut. Sebenarnya dia sedikit merasa lega karena seluruh hutangnya sudah lunas dibayar oleh pria yang ada di hadapannya. Sudah lama Pak Ramlan merasa bingung dan terjepit oleh kejaran lara rentenir itu.


Tapi untuk berhenti mabuk - mabukan bukanlah hal yang mudah karena kebiasaan itu sudah dia lakukan sejak lama. Dan dia melakukannya setiap harinya. Bisakah dia berhenti melakukan semuanya, berpisah dengan minuman keras.


"Jujur aku katakan, aku sangat sulit untuk berhenti minum - minuman keras. Aku tidak tau bagaimana cara menghentikannya" ungkap Pak Ramlan.


Wildan tersenyum tipis menanggapi ungkapan hati calon mertuanya.


"Jika Bapak bersedia, aku sudah memiliki solusi terbaik untuk Bapak" ujar Wildan.


"Apa itu?" tanya Pak Ramlan.


"Tempat rehabilitasi" jawab Wildan.


"Apakah tempatnya jauh?" tanya Pak Ramlan.


"Ada diluar Kota Pak" jawab Wildan


"Apakah akan lama aku menjalaninya?" tanya Pak Ramlan lagi.


"Tergantung dengan niat dan usaha Bapak untuk sembuh" jawab Wildan.


Pak Ramlan menarik nafas panjang.


"Baik lah aku mau sembuh tapi aku punya satu permintaan kepada kalian" ucap Pak Ramlan sambil menatap Ratna dan isterinya.


"Apa itu Pak?" tanya Ratna.


"Tunggu aku sembuh baru kalian menikah, aku ingin aku sendiri nanti yang akan menikahkan kamu" pinta Pak Ramlan dengan wajah yang serius.


Air mata Ratna meluncur tanpa bisa dibendung. Sambil menahan isak tangisnya.


"Kami akan menunggu Bapak sembuh. Aku hanya ingin Bapak yang menikahkan aku nanti" jawab Ratna.


"Kami juga Pak, Bapak harus kuat dan tetap sehat ya" sambut Retno.


Mereka berempat memeluk Pak Ramlan. Pak Ramlan tiba - tiba merasa hatinya menghangat dan air matanya basah karena haru. Ibu Ramlan juga terlihat menangis.


"Alhamdulillah ya Allah" gumam Bu Ramlan.


"Maafkan Bapak Nak. Bapak sudah banyak menyusahkan kalian selama ini. Bapak tidak pernah menjadi contoh yang baik untuk kalian. Bapak juga sering menyakiti fisik dan perasaan kalian. Terlebih kamu nduk" ucap Pak Ramlan pada Ratna.


Pak Ramlan menghapus air mata Ratna.


"Gak terasa kamu sudah besar sekali. Bahkan kamu sudah berani membawa seorang pria ke hadapan Bapak. Meminta izin dan restu Bapak untuk menikah. Bapak malu Nak, malu karena selama ini tidak bisa menjadi Bapak yang baik untuk kamu" ucap Pak Ramlan sambil menangis.


Hatinya kini benar - benar sudah melembut dan sadar dengan semua kesalahannya selama ini.


"Jangan lihat masa lalu lagi Pak yang penting adalah masa depan. Mari kita sama - sama perbaiki hubungan kita, tata kembali keluarga kita" sambut Ratna.


Pak Ramlan melepaskan pelukan anak - anaknya. Dia menatap ke arah istrinya yang masih menangis. Pak Ramlan duduk bersimpuh di depan istrinya.


"Bu.. maafkan Bapak yang sudah banyak sekali membuat kesalahan kepada kamu" ucap Pak Ramlan.


Bu Ramlan menangis menutup wajahnya.


"Pukul Bapak Bu, marahlah kepada Bapak" Pak Ramlan menyentuh tangan istrinya dan menariknya ke dadanya.


"Jangan diam saja Bu, Bapak pantas untuk mendapatkan kemarahan kamu. Selama ini Bapak sudah banyak menyakiti hati Ibu. Membiarkan Ibu yang membesarkan dan menyekolahkan anak - anak. Bapak selalu tidak perduli bahkan Bapak tidak pernah melakukan apapun pada kalian selain menyakiti hati dan fisik kalian. Marahlah pada Bapak Bu... " ucap Pak Ramlan sambil terisak.


Bu Ramlan semakin kencang tangisannya. Pak Ramlan meletakkan kepalanya di kedua lutut istrinya untuk meminta maaf. Bu Ramlan yang tak tega melihat suaminya berbuat seperti itu di depan semua orang langsung memeluk suaminya.


"Ibu tidak mendendam Pak, Ibu tidak ingin melakukan apa yang Bapak pinta. Ibu sangat bersyukur saat ini Allah sudah mengabulkan doa - doa Ibu. Bapak mengakui kesalahan dan berjanji untuk berubah. Itu saja sudah cukup. Lihat Pak, lihat lah anak - anak kita. Kami semua menyayangi Bapak, jika Bapak juga menyayangi kamu berubah lah. Jangan berjanji kepada kami tapi berjanjilah pada diri Bapak sendiri. Ibu rela Pak, pergilah.. demi kebaikan kita semua pergilah Pak untuk sembuh. Kami akan dengan sangat sabar menunggu Bapak datang kembali dengan sosok yang baru" ucap Bu Ramlan memeluk tubuh suaminya.


Sudah lama sekali rasanya mereka tidak pernah berpelukan syahdu seperti ini. Kedua pasangan suami istri itu saling menumpahkan perasaan masing - masing. Menangis bersama dalam pelukan erat.


"Terimakasih Bu, terimakasih sudah mau menerima Bapak kembali. Bapak berjanji pada diri Bapak akan kembali ke rumah ini dengan sosok pribadi yang berbeda. Dengan pribadi yang lebih baik lagi. Nunggu Bapak ya Bu, Bapak tidak akan pergi lama. Mari kita hidup bersama menjalani hari tua" sambut Pak Ramlan.


Mereka menghapus air mata masing-masing. Pak Ramlan kemudian berdiri.


"Nak Wildan hari ini juga Bapak akan pergi ke tempat rehabilitasi. Tapi sebelumnya Bapak mau mandi dulu. Terimakasih Nak Wildan sudah menyadarkan Bapak. Terimakasih sudah mencintai putri Bapak dengan begitu hebatnya. Bapak titip Ratna ya, tolong jaga dia baik - baik" ucap Pak Ramlan.


Wildan tersenyum bahagia menatap calon mertuanya itu.


"InsyaAllah saya akan menjaganya Pak dan mencintainya dengan sepenuh hati saya" jawab Wildan.


Pak Ramlan segera berjalan menuju dapur lalu masuk ke dalam kamar mandi. Bu Ramlan segera mempersiapkan pakaian suaminya yang akan dibawa ke tempat rehabilitasi.


Bapak Pengacara pamit pulang dan keluar dari rumah Ratna. Sedangkan adik - adik Ratna menyiapkan hidangan makan siang. Mereka akan makan siang bersama sebelum Pak Ramlan pergi.


Ratna menatap calon suaminya dengan tatapan penuh rasa terimakasih.


"Mas terimakasih, kamu sudah sangat banyak berbuat untuk keluargaku, aku tidak tau harus bagaimana membalas semua kebaikan kamu" ucap Ratna.


Wildan tersenyum penuh cinta.


"Cukup kamu menikah saja denganku, itu cara membalas yang paling benar" jawab Wildan.


.


.


BERSAMBUNG