Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 159


Hari ini Wildan akan meeting dengan rekan bisnisnya dari Singapura. Rekan bisnisnya kali ini adalah pria bule yang akan mengembangkan sayap bisnisnya di Indonesia.


Karena pengalaman Rania yang sekolah di luar negeri, Wildan sengaja membawa Rania ikut meeting bersamanya.


"Ran bersiap, kita akan pergi satu jam lagi" ajak Wildan.


"Siap Wil eh Pak" jawab Rania dengan senyuman memikatnya.


Lagi - lagi Ratna hanya bisa melirik sekilas Wildan yang duduk di meja kerjanya.


"Kamu jaga kantor ya Rat, kalau ada tamu susun aja jadwalnya. Tolong juga siapkan jadwal aku besok dan bahan - bahan rapatnya" perintah Wildan kepada Ratna.


"Baik Pak, kalau bagitu saya pamit Pak" ujar Ratna sambil berbalik langsung keluar dari ruangan Wildan


Rania yang merasa sudah menang berperang dengan Ratna merasa posisinya diatas langit


"Wil apa aja yang harus aku siapkan?" tanya Rania dengan nada manja dan sok dekat.


"Jaga sikap kamu Rania, ini di kantor. Panggil saya dengan sebutan Bapak, tolong jaga sopan santun kamu. Walau kamu anak dari teman Papa saya, tapi saya tidak akan segan - segan untuk memecat kamu saat ini juga" bentak Wildan.


Sontak Rania terkejut melihat perubahan sikap Wildan.


Sial.. bukannya tadi dia bersikap manis kepadaku saat ada Ratna. Sekarang mengapa dia jadi marah? Bukannya hanya ada kami berdua saja di sini? tanya Rania bingung.


"I.. iya Pak" jawab Rania memperbaiki panggilannya kepada Wildan.


"Kamu minta datanya sama Ratna dia sudah menyiapkan semuanya dengan baik, bukan seperti kamu yang masih harus banyak koreksi setiap menyiapkan data ataupun bahan" perintah Wildan


"Baik Pak. Kalau begitu saya pamit Pak" ujar Rania.


Rania berbalik badan dan kembali ke meja kerjanya.


Bisa - bisanya dia jelek - jelekin dan banding - bandingkan aku dengan Ratna. Aku dan dia jauh banget bedanya, bagaikan langit dan bumi. Tidak - tidak.. bagaikan langit dan kolong bumi. Umpat Rania dalam hati.


"Ratna Pak Wildan minta data yang akan dibawa dalam rapat, cepat" perintah Rania sudah seperti bos pemilik perusahaan ini.


Satu jam kemudian Wildan sudah keluar dari ruangannya.


"Ayo Ran kita pergi" ajak Wildan.


"Baik Pak" sahut Rania.


Rania segera membawa tas dan berkas rapat. Wildan berlalu tanpa sedikitpun mengapa dan melitik Ratna. Ratna jadi semakin sedih melihat kepergian Wildan dan Rania.


"Mereka memang terlihat serasi, yang satu tampan dan satunya lagi cantik. Aku ini tak sebanding dengan Rania. Aku hanyalah remahan kerupuk tujuh belasan" gumam Ratna.


Wildan dan Rania sudah dalam perjalanan menuju sebuah hotel. Karena relasi bisnis mereka orang dari luar negeri meeting dilakukan di ruangan private Restoran yang disediakan oleh pihak Hotel.


Mereka sudah menunggu di dalam ruangan tempat meeting akan berlangsung. Tak lama kemudian dua orang pria bule masuk menghampiri mereka. Wajah Rania terlihat pucat pasi dan dia hanya bisa diam mematung.


"Selamat siang Mr. Wildan" sapa tamu mereka.


"Selamat siang Mr. Smithson" sambut Wildan.


Mereka saling berjabat tangan.


"Hai Rania" ucap Mr Smithson saat menyapa Rania.


Wildan terlihat terkejut.


"Kalian saling kenal rupanya?" tanya Wildan.


"Owh tentu saja, Rania adalah teman kuliah saya dulu" jawab Mr. Smithson.


Rania hanya bisa diam membisu tanpa suara. Wildan tersenyum ramah menanggapi ucapan Mr. Smithson.


"Kalau bagitu kerjasama kita ini bisa berlangsung dengan lancar kan Mr. Smithson? Anda pasti sudah kenal baik dengan Rania?" tanya Wildan.


"Ya tentu saja Mr. Wildan" jawab Mr. Smithson.


"Silahkan duduk" ujar Wildan.


Mereka semua duduk di dan memulai meeting kerjasama mereka. Wildan mulai menjelaskan proposal kerjasama yang akan mereka tawarkan dan Mr. Smithson terlihat mengerti dan tertarik.


Tapi ada yang berbeda dengan Rania kali ini. Wildan merasa Rania lebih dingin dan hanya diam saja. Wildan tidak tau apa penyebabnya. Wildan hanya berusaha fokus menjelaskan proposal kerjasama mereka.


"Jadi begini tawaran kerjasama kami Mr. Smithson, bagaimana menurut anda?" tanya Wildan.


"Baiklah, silahkan tanda tangani perjanjian kerjasama kita" perintah Wildan.


Wildan dan Mr. Smithson bersama - sama menandatangani kesepakatan kerjasama perusahaan mereka. Setelah semua selesai barulah pelayan datang untuk menghidangkan makanan yang sudah dipesan oleh Rania sebelum acara dimulai.


Rania pernah kuliah di luar negeri sehingga dia mengerti karakter dan selera rekan bisnis mereka.


"Waaah ternyata Rania masih ingat makanan favoritku" ujar Mr. Smithson.


Wildan hanya tersenyum tipis dan mulai curiga.


Sepertinya ada sesuatu diantara mereka. Aku perhatikan Mr. Smithson dari tadi tidak berhenti melirik Rania. Tapi mengapa Rania jadi pendiam begini. Aku lihat dia sedikit gugup dan pucat. Ada apa dengan mereka? Apa hubungan mereka dulu? aku rasa mereka bukan hanya teman biasa, pasti lebih dari itu? karena Mr. Smithson tampak sangat tertarik dengan Rania. Batin Wildan.


"Maaf Mr. Smithson saya permisi ke belakang sebentar" pamit Wildan.


Wildan meninggalkan ruangan meeting dan berjalan menuju toilet. Sepuluh menit kemudian Wildan kembali ke ruangan meeting. Wildan melihat Rania berbincang akrab dengan Mr. Smithson.


Bahkan Mr. Smithson menggenggam tangan Rania dengan mesra.


"Mengapa kamu menghilang begitu saja, aku sudah lama mencarimu?" tanya Mr. Smithson.


Wildan menghentikan langkahnya, dia berhenti sejenak agar bisa mendengar pembicaraan Rania dengan rekan bisnisnya yang baru.


"Aku harus pulang Smith, Daddy memanggilku" jawab Rania.


"Tapi mengapa kamu bekerja dengan Mr. Wildan bukan di Perusahaan Daddy kamu?" tanya Mr. Smithson.


"Ceritanya panjang, aku harap kamu tidak mengganggu kerjaku Smith. Saat ini sedang bekerja" elak Rania.


Benar dugaanku mereka mempunyai hubungan dan aku tebak pasti hubungan mereka sangat dekat sekali sampai Mr. Smithson tau Perusahaan Papanya Rania. Batin Wildan.


"Tapi banyak yang ingin aku tanyakan pada kamu Rania?" ujar Mr. Smithson.


"Sudahlah semua sudah selesai. Aku harap kamu bisa menjaga sikap kamu" Rania mencoba menarik tangannya yang berada dalam genggaman Mr. Smithson tapi pria itu menahannya.


"Rania.. " panggil Mr. Smithson.


"Ehm.. " Wildan sengaja batuk untuk memberi kode bahwa dia sudah dekat.


Sontak Rania menarik tangannya dengan kuat dan Mr. Smithson melepaskan genggaman tangannya.


"Maaf kalau aku lama" ujar Wildan.


"Tidak apa Mr. Wildan. Aku sedang ngobrol dengan sekretaris kamu" sahut Mr. Smithson.


Rania terlihat sibuk menikmati makanannya dan tidak berani mengangkat wajahnya. Wildan tersenyum tipis.


Menarik. Batin Wildan.


Tiga puluh menit berlalu, setelah selesai makan bersama dan ngobrol ringan Wildan pamit kepada Mr. Smithson.


"Baiklah Mr. Smithson kamu pamit undur diri. Senang berbisnis dengan anda" ucap Wildan sambil mengulurkan tangannya kepada Mr. Smithson dan pria itu menyambutnya.


"Sama - sama Mr. Wildan" jawab Mr. Smithson.


"Apa anda masih lama tinggal di Jakarta?" tanya Wildan basa - basi.


"Dua hari lagi. Lusa saya akan kembali ke negara saya" jawab Mr. Smithson.


"Kalau begitu enjoy di Jakarta ya.. semoga anda menyukai negara ini" ujar Wildan.


"Oh pasti, sudah lama saya jatuh cinta dengan negara ini, apalagi dengan masyarakatnya yang terdengar sangat ramah dan cantik" sahut Mr. Smithson sambil melirik ke arah Rania.


"Kabari kalau anda mau pulang, mungkin kami bisa memberikan sedikit buah tangan untuk anda bawa pulang ke negara anda. Rania kamu pasti lebih tau apa yang bagus untuk oleh - oleh buat Mr. Smithson" ujar Wildan.


"Oh tentu saja Mr. Wildan. Rania sering membawa oleh - oleh dari Indonesia setiap kali dia pulang liburan dan I like it" sambut Mr. Smithson.


Wildan tersenyum lebar, sepertinya dia punya rencana baru untuk menggagalkan rencana perjodohan orang tuanya.


.


.


BERSAMBUNG