Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 256


Pak Raharjo dan istrinya segera berangkat ke Rumah Sakit begitu Melodi pergi dari rumah mereka.


"Ini semua karena Papa terlalu keras memaksa mereka untuk segera mempunyai anak. Mama sudah ingatkan berulang kali. Apa perlu Mama mengancam Papa untuk pergi dari rumah agar Papa sadar?" ancam Bu Raharjo.


"Ma.. jangan begitu" sambut Pak Raharjo.


"Ya biar Papa bisa merasakan punya anak juga percuma kalau kita tidak bisa mendidiknya dengan baik. Papa harusnya bersyukur Wildan bisa baik seperti ini karena siapa? Semua karena Ratna Pa bukan karena Papa. Papa dulu terlalu sibuk dengan pekerjaan Papa sehingga Wildan dan Melodi sempat hidup dalam dunia bebas. Untung Ratna dan Cinta hadir dalam kehidupan mereka. Bisa mengingatkan mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Wildan sudah berubah menjadi suami yang bertanggung jawab Pa. Harusnya Papa bangga punya seorang anak yang sebaik Wildan bukan malah menekan hidup mereka" ucap Bu Raharjo.


Pak Raharjo hanya bisa diam mendengarkan nasehat istrinya.


"Kalau Papa mau hidup kita baik - baik saja, nanti begitu sampai di Rumah Sakit katakan pada mereka untuk kuat dan bersabar. Anak itu rezeki dari Allah jadi serahkan semuanya kepada Allah kapan DIA memberikan anak pada Wildan dan Ratna. Jangan ancam lagi mereka dan coba merusak rumah tangga mereka. Jika Papa tidak mau maka rumah tangga kita yang akan rusak" ancam Mama Wildan.


Kali ini Mama Wildan dengan tegas memberikan ancaman keras pada suaminya.


"Aku akan tinggal bersama anak dan menantuku. Biar aja Papa tinggal sendirian di rumah kita yang besar itu, biar Papa kesepian" lanjut Bu Raharjo dan membuang muka dari suaminya.


Kali ini dia benar - benar marah pada suaminya.


"Jangan begitu donk Ma, kita sudah tua masak mau bubar" bujuk Pak Raharjo.


"Biarin, terserah Papa mau nikah lagi Mama gak perduli. Mungkin kalau Papa menikah lagi Papa bisa dapat anak lagi dan lanjutkan keturunan Papa" ujar Bu Raharjo semakin kesal.


"Iya.. iya maaf.. Papa mengaku salah. Papa tidak akan memaksa mereka untuk mempunyai anak. Papa tidak akan mengatur rumah tangga mereka. Biar mereka menjalani rumah tangga mereka sesuai dengan keinginan mereka berdua" janji Pak Raharjo.


Bu Raharjo menatap tajam ke mata suaminya.


"Janji ya Pa, kalau Papa melanggarnya Mama akan laksanakan ucapan Mama tadi" ancam Bu Raharjo lagi.


"Iya.. iya.. Papa janji" ikrar Pak Raharjo.


"Kalau begitu kita mampir di toko kue itu, aku mau bawa makanan untuk menantuku. Dia pasti sangat bersedih sekarang ini. Semoga kedatangan kita membawa cake kesukaannya bisa menghibur hatinya yang sedang terluka" pinta Bu Raharjo.


"Baik Ma kita mampir ya" sambut Pak Raharjo cepat.


Pak Raharjo menepikan mobilnya di depan toko roti favorit Ratna. Bu Raharjo langsung memilih cake kesukaan Ratna lalu membayarnya. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak tempat Ratna di rawat.


"Assalamu'alaikum... " ucap Pak Raharjo dan istrinya.


"Wa'alaikumsalam" jawab Wildan dan Ratna.


Suasana hening sejenak dan tegang saat Ratna dan Wildan melihat siapa tamu yang datang. Bu Raharjo langsung menghampiri Ratna dan memeluknya.


"Sayang kamu yang sabar ya.. Kamu harus kuat InsyaAllah nanti akan Allah kasih penggantinya. Jangan berkecil hati, ini hal yang biasa kok. Mama, Cinta juga dulu pernah mengalaminya" hibur Bu Raharjo.


"Bagaimana Mama tau kalau Ratna di rawat di sini?" tanya Wildan terkejut dengan kedatangan kedua orang tuanya.


"Tadi Melodi mampir ke rumah sebelum dia berangkat ke kantor" jawab Pak Raharjo.


"Dia menceritakan kalau Ratna keguguran. Papa turut bersedih mendengarnya. Papa mengaku salah pada kalian. Mungkin karena ucapan Papa sehingga membuat kalian tertekan. Papa tidak akan memaksa kalian untuk segera memiliki anak. Papa ikhlas yang penting rumah tangga kalian baik - baik saja" ucap Pak Raharjo merasa bersalah.


"Maafkan aku Pa.. aku belum bisa memberikan Papa cucu" ucap Ratna sambil menangis.


"Sudah.. sudah sayang itu tidak masalah. Papa tidak akan memaksa kalian lagi. Mama tadi sudah mengancamnya. Kalau Papa tidak mau, Mama akan pergi dari rumah dan tinggal bersama kalian. Biar Papa tinggal sendiri" hibur Bu Raharjo.


"Maafkan aku Ma" ucap Ratna masih terisak.


"Ini Mama bawa cake kesukaan kamu. Ayo makan nak" ucap Bu Raharjo sambil membuka bungkusan yang tadi dia bawa.


"Kamu harus makan yang banyak biar cepat sehat. Bapak dan Ibu kamu sudah di kabari?" tanya Bu Raharjo penuh kelembutan.


Ratna menggelengkan kepalanya.


"Belum Ma, aku tidak mau mereka khawatir. Lagian kata dokter aku baik - baik saja. Karena usia kandunganku baru satu bulan jadi keguguranku tidak terlalu berat. Sebentar lagi aku juga akan sembuh" jawab Ratna.


"Ya terserah kamu kalau gak mau kasih kabar sama Bapak dan Ibu di kampung. Sekarang kamu fokus pada kesehatan kamu ya. Jangan pikiran yang macam - macam, jangan stress nikmati hidup kalian. Bahagia dan bersenang-senang, bila perlu kalian pergi bulan madu lagi ya" ujar Bu Raharjo.


Wildan menatap haru melihat perhatian Mamanya pada Ratna. Sejak awal Mamanya yang selalu mendukung hubungannya dengan Ratna. Mamanya yang selalu berbuat baik pada Ratna dan menganggap Ratna sebagai anak kandungnya sendiri.


"Nanti kalau Ratna sudah sembuh kalian pergi jalan - jalan. Biar Papa yang urus kantor" ucap Pak Raharjo.


"Nanti kami pikirkan lagi Pa, yang penting Ratna pulih dulu. Setelah itu baru pikirkan yang lainnya" sambut Wildan.


****


Dua minggu setelah Ratna keluar dari rumah sakit. Kondisinya semakin membaik. Tapi Ratna masih juga terlihat murung.


Wildan sudah melakukan berbagai cara agar Ratna ceria kembali tapi selalu gagal. Kehilangan Ratna kemarin sepet membawa separuh diri Ratna ikut pergi.


"Sayang rencananya minggu depan aku akan ambil cuti. Kamu mau kita pergi kemana?" tanya Wildan.


Ratna terdiam dan tidak tau harus menjawab apa. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sayaaang" panggil Wildan.


Ratna menatap mata Wildan dengan serius.


"Mas yakin akan mengabulkan apapun yang aku pinta?" tanya Ratna.


"Selama hal itu masih wajar untuk aku kabulkan aku akan berusaha mengabulkan permintaan kamu" jawab Wildan.


Kalau kamu meminta aku menikah lagi tentu saja akan aku tolak. Batin Wildan.


"Aku ingin umroh Mas, aku ingin lebih dekat kepada Allah. Aku ingin mengadu kepadaNYA di sana" pinta Ratna.


Wildan membalas tatapan istrinya. Permintaan mulia seperti ini mana mungkin Wildan menolaknya. Dia saja yang punya banyak uang dan sudah berkeliling dunia kemana - mana belum pernah menginjakkan kaki ke Mekah. Entah mengapa belum ada pikiran ke sana.


"Kamu mau kita ke sana?" tanya Wildan meyakinkan lagi.


Ratna hanya mengangguk lemah. Wildan langsung memeluk istrinya dengan erat.


"Baiklah kita akan pergi umroh. Aku akan mengabulkan semua permintaan kamu" jawab Wildan.


"Terimakasih Mas" jawab Ratna sambil membalas pelukan Wildan.


.


.


BERSAMBUNG