Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 225


Keesokan harinya di apartement Ratna.


Ya Allah mengapa mataku berat sekali dibuka. Batin Ratna.


Dengan sekuat tenaga Ratna mencoba melawan rasa kantuknya. Perlahan - lahan dia membuka matanya. Ratna melihat sekeliling kamarnya.


Ingatan Ratna langsung berputar. Ratna melihat pakaiannya masih lengkap dipakainya. Dia tidur menggunakan pakaian kerja lengkap dengan jilbab yang menutup kepalanya hanya dengan diikat di lehernya.


Ratna meraba seluruh tubuhnya. Tidak ada yang sakit ataupun luka. Dia berusaha keras mengingat kejadian tadi malam.


"Terakhir aku ingat tadi malam aku sedang menunggu Mas Wildan di Cafe bersama Wahyu. Tapi mengapa aku jadi melupakan sesuatu? Mengapa aku bisa ada di kamarku dengan pakaian lengkap seperti ini. Bahkan jilbab ku saja masih terpasang walau sudah tak beraturan" gumam Ratna.


Ratna mencoba bangkit tiba - tiba kepalanya terasa pusing.


"Aaduuuh kenapa kepalaku sangat pusing?" tanya nya pada diri sendiri.


Ratna ingat terakhir dia dan Wahyu mendapat service dari Cafe berupa minuman.


"Yaaaah setelah minum aku merasa kantuk yang sangat luar biasa dan setelah itu aku tak ingat apapun lagi. Ada apa denganku tadi malam? Siapa yang membawa aku pulang ke apartement?" tanya Ratna.


Perlahan Ratna turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi. Ratna mandi lalu berwudhu. Setelah selesai dia keluar kamar mandi dan memilih pakaian rumah.


Dia akan mengirim pesan kepada Wildan kalau hari ini dia tidak ke kantor karena kepalanya masih sangat pusing. Setelah memakai pakaiannya Ratna melaksanakan shalat subuh walau kepalanya terasa sangat berat.


Usai shalat subuh Ratna kembali ke atas tempat tidur dan menarik selimutnya. Ratna kembali tertidur dengan begitu cepat.


Sekitar jam setengah delapan pagi Wildan menghubungi ponsel Ratna tapi tetap tidak diangkat. Wildan masuk ke apartement Ratna karena khawatir dengan keadaan Ratna.


Tok.. Tok..


"Rat... Ratnaaaa" panggil Wildan.


Tok.. Tok..


Wildan kembali mengetuk pintu kamar Ratna. Tapi tidak juga ada tanggapan.


"Maaf Rat aku harus masuk ke kamar kamu lagi untuk memastikan keadaan kamu" gumam Wildan.


Wildan membuka pintu kamar dan dia melihat Ratna sedang tidur dengan nyenyak dan damai. Wildan menatap wajah cantik Ratna di pagi hari.


"Sepertinya kamu sudah mandi dan berganti pakaian. Tapi mengapa kamu belum bangun juga. Maaf aku kembali melihat kamu dalam keadaan seperti ini" gumam Wildan.


Wildan menyentuh kepala Ratna untuk memastikan bahwa Ratna tidak sakit. Dan tubuh Ratna suhunya normal. Tapi sepertinya Ratna memang nyenyak sekali tidurnya sampai dia tidak terusik dan bangun karena sentuhan Wildan.


Wildan kembali menatap wajah Ratna.


"Apa yang terjadi dengan kamu tadi malam Ratna? Apakah kamu tidak merasa bingung tadi saat bangun mengapa kamu bisa tidur di kamar kamu? Apa kamu tidak ingat apa yang kamu lakukan tadi malam bersama.... Wahyu?" tanya Wildan pelan.


Ponsel Wildan berdering, dia segera keluar dari kamar untuk mengangkat telepon.


"Ya halo.. coba kamu cari rekaman CCTV di Cafe XXX dan juga CCTV Hotel XXX kamar XXX sekitar jam 9 sampai jam setengah 11 malam. Aku mau siang ini aku sudah mendapatkannya" perintah Wildan.


Telepon terputus, Wildan menatap jam tangannya. Dia harus berangkat ke kantor tapi tiba - tiba Wildan ingat dengan Ratna.


Wildan memasak bubur dan membuat kopi pahit untuk Ratna. Nanti kalau Ratna bangun pasti dia lapar. Setelah selesai memasak bubur baru Wildan berangkat meninggalkan apartement Ratna.


Jam sembilan pagi Ratna bangun karena perutnya sangat lapar. Kepalanya masih pusing walau tidak sesakit tadi. Ratna turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar lalu menuju dapur.


Dia terkejut melihat di atas kompos sudah ada panci kecil yang berisi bubur. Ratna juga melihat catatan di atas meja makannya.


Habiskan bubur ini dan minum kopi yang aku simpan di microwave. Jangan lupa minimum obat setengah jam kemudian. Kepala kamu pasti masih pusing.


Tertanda


Wildan


"Mas Wildan datang ke sini tadi? Mengapa dia tahu kepalaku sangat pusing? Apa dia mengetahui kejadian tadi malam?" gumam Ratna.


Ratna hanya ingat terakhir dia dan Wahyu minum minuman yang diberikan pelayan Cafe. Setelah itu dia merasa sangat ngantuk dan tidak tau apa yang terjadi setelah itu.


Setelah selesai sarapan Ratna kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Wildan. Satu kali panggilan, dua kali, tiga kali tapi Wildan tidak mengangkat panggilan telepon dari Ratna.


"Hari ini seingatku Mas Wildan gak ada jadwal meeting" ucap Ratna penasaran.


Ratna mencoba menghubungi Wildan kembali tapi tetap tidak diangkat.


"Mas Wildan sibuk atau marah padaku? Tapi kenapa dia marah? Aku kan tidak salah apapun?" gumam Ratna.


Ratna mengirim pesan kepada Wildan


Ratna


Mas tolong angkat teleponnya, aku mau bicara sesuatu?


Ratna kembali mencoba menghubungi Wildan dan kali ini Wildan mengangkat panggilan teleponnya.


"Assalamu'alaikum Mas" sapa Ratna.


"Wa'alaikumsalam" jawab Wildan singkat.


Ratna bisa langsung merasakan sambutan Wildan yang dingin, itu artinya Wildan sedang marah kepada Ratna.


"Mas apa kita bisa bicara tentang kejadian tadi malam? Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada kamu?" tanya Ratna.


"Ya sudah kamu tanyakan saja" jawab Wildan ketus.


"Kita harus bertemu langsung Mas" pinta Ratna.


"Tidak bisa aku ada janji dengan seseorang" tolak Wildan.


"Seingat aku hari ini Mas tidak ada janji pada siapapun" ujar Ratna.


"Kalau kamu benar - benar mengingat jadwal aku hari ini coba kamu ingat apa yang terjadi dengan kamu tadi malam" sahut Wildan cepat.


"Itu dia Mas, aku gak bisa mengingat apapun. Terakhir yang aku ingat, aku hanya sedang menunggu kamu di Cafe ditemani Wahyu. Setelah itu aku tidak ingat apapun" ujar Ratna.


"Kamu tidak ingat apapun? kamu jangan bohong Ratna. Apa yang sudah kamu lakukan tadi malam bersama Wahyu?" tanya Wildan mulai emosi.


"Kami tidak melakukan apapun Mas, kami hanya minum" jawab Ratna.


"Hanya minum hingga mabuk dan berakhir di kamar hotel berduaan tanpa busana dan kalian berdua sampai tidak sadarkan diri. Itu yang kamu katakan hanya minum?" tanya Wildan.


Wildan sengaja melakukan penekanan di kata - kata hanya minum


Deg...


Jantung Ratna seperti hendak berhenti berdetak saat mendengar jawaban Wildan.


"A.. apa Mas? Aku dan Wahyu berakhir di kamar hotel tanpa busana dan tidak sadarkan diri? Apa maksud kamu Mas?" tanya Ratna terkejut.


"Kamu mau berkata kalau aku mengarang cerita, begitu? Dengan tanganku sendiri aku memakaikan pakaian kamu dan menggendong serta membawa kamu pulang ke apartement. Aku tidak akan mengarang cerita seperti itu Ratna? Apa untungnya bagiku? Persiapan pesta pernikahan kita sudah hampir rampinht, undangan sudah di cetak, cincin kawin dan mahar untuk kamu sudah di beli. Untuk apa aku sampai harus bercanda seperti ini kepada kamu?" tanya Wildan.


Sontak ponsel yang ada di tangan Ratna terjatuh, air matanya deras mengalir membasahi pipinya.


"Tidak mungkin.. ini tidak mungkin. Oh ya Allah" isak tangis Ratna.


.


.


BERSAMBUNG