Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 183


Amel dan Surya sudah sampai di rumah Cinta dan Melodi malam hari. Keesokan harinya mereka menyambut kepulangan Pak Ilham dan Bik Sumi dari tanah suci.


Wajah kedua orang tua itu tampak putih bersih dan bersinar. Masih terpancar kebahagiaan mereka yang baru saja pulang dari umroh.


Cinta dan Amel memeluk erat Bik Sumi. Mereka menjemput Pak Ilham dan Bik Sumi di Bandara.


"Alhamdulillah ya Bik sampai dengan selamat" ucap Amel.


"Iya, syukur Alhamdulillah. Kamu dan Surya kapan sampai Jakarta?" tanya Bik Sumi.


"Tadi malam. Nanti sore mau ke dokter kandungan Bik, udah jadwalnya" jawab Amel.


"Mudah - mudahan penyakit kamu sembuh, Bibik tak henti - hentinya berdoa untuk kamu juga Cinta. Semoga kalian secepatnya hamil" ungkap Bibik.


"Aamiin" sambut Amel dan Cinta.


"Gimana Pak umrohnya?" tanya Wildan.


"Luar biasa Den Odi. Subhanallah sekali rasanya Bapak bisa pergi ke sana" jawab Pak Ilham.


"Honeymoonnya juga luar biasa Pak?" goda Surya.


"Hahaha kalian ini, Bapak kan sudah tua. lagian di sana fokus ibadah" jawab Pak Ilham.


"Lho jadi gak ada manis - manisnya Pak?" tanya Melodi terkejut.


Apa iya walau sudah tua Pak Ilham bisa menahan hasra*nya. Bukannya laki - laki sehat untuk hal yang satu itu tidak ada kata pensiun.


Melihat Pak Ilham, Melodi sangat yakin kalau pria itu sangat sehat, masih kuat dan perkasa. Masak bisa melewatkan moment - moment indah di awal pernikahan keduanya.


"Kalau soal itu ya tentu saja ada donk Den Odi. Namanya juga sudah halal, tapi kalau sudah seusia ini bukan itu yang utama. Apalagi kesempatan umroh ini sangat langka. Kami tidak mau melewatkan kesempatan - kesempatan emas untuk melihat rumah Allah" ungkap Pak Ilham


Melodi bernafas lega.


"Syukurlah kalau Bapak masih sempat merasakan yang manis - manis" timpa Melodi.


Tiga pria beda usia itu tersenyum penuh arti bersama - sama. Setelah itu mereka berjalan menuju mobil Melodi dan segera pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah mereka disambut oleh Wildan dan Ratna.


"Selamat pulang ke rumah para pengantin baru" ucap Ratna setengah berteriak.


Pak Ilham dan Bik Sumi tersenyum malu - malu. Ratna dan Wildan menyambut kedatangan mereka dengan pelukan dan senyuman.


"Waaah Bibik tampah cantik aja ya setelah menikah" goda Ratna.


"Kamu bisa aja" sahut Bik Sumi.


"Itulah yang namanya kekuatan cinta yang halal. Kamu juga sebentar lagi akan mengalaminya Rat" potong Amel.


"Aamiin.. do'ain ya Mbak" sambut Ratna.


Cinta tersenyum menatap wajah sahabatnya. Dia sudah mendengar cerita Wildan yang berkunjung ke rumah orang tuanya. Dimana Wildan dengan sangat cepat dan cekatan menyelesaikan permasalahan keluarganya hanya dengan satu hari.


Cinta turut bahagia mendengarnya dan mendoakan semoga Wildan dan Ratna secepatnya menikah. Cinta sangat ingin melihat sahabatnya itu bahagia. Dia sudah terlalu lama menjalani kehidupan yang sangat berat.


Akhirnya mereka beralan masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga. Semua barang - barang Pak Ilham dan Bik Sumi sudah dibawa masuk ke dalam rumah.


Bik Sumi membagi - bagikan oleh - oleh untuk Melodi Cinta, Surya Amel, Wildan dan Ratna.


"Ini oleh - oleh untuk kalian. Maaf ya Bibik gak pintar beli barang - barang bagus" ucap Bik Sumi.


"Gak ada Bik yang penting Bibik ikhlas" sambut Amel.


"Kurma ini bagus lho Bik, enak lagi" sahut Cinta.


"Ini kurma muda, katanya sangar bagus makan ini kalau ingin hamil. Ayo kalian makan" perintah Bik Sumi kepada Amel dan Cinta.


"Aku boleh juga gak makan ini?" tanya Ratna sambil bercanda.


"Yaaaah Bibik gak adil" protes Ratna pura - pura sedih.


"Hahaha... kamu kan belum nikah Rat" ujar Amel.


"Ya persiapan Mbak" sahut Ratna.


"Nanti kalau kamu sudah nikah kamu sendiri aja sono pergi beli ke sana. Pasti Mas Wildan mengabulkan apapun permintaan kamu" ujar Cinta.


"Oh tentu saja Cin" sambut Wildan.


Amel dan Cinta memakan beberapa buah kurma muda dengan jumlah ganjil. Tak lupa membaca doa sebelum memakannya.


Satu jam kemudian..


"Pak, Bik kalian istirahat saja di kamar. Kalian pasti capek kan baru bepergian jauh. Sana gih kamarnya sudah kami siapkan. Sekarang kamar Pak Ilham pindah ke kamar Bik Sumi ya" ucap Cinta.


"Iya Non terimakasih. Yuk neng kita istirahat" ajak Pak Ilham.


Pak Ilham dan Bik Sumi segera masuk ke dalam kamar mereka untuk beristirahat. Kini tinggal dua pasutri muda di tambah satu pasang calon pasutri. Mereka sedang berbincang-bincang santai di ruang keluarga.


"Mbak Amel katanya mau ke dokter hari ini, jam berapa?" tanya Ratna.


"Sore Rat, jam empat janjian sama dokternya. Kemarin Cinta sudah daftarin Mbak" jawab Amel.


"Semoga hasilnya baik ya Mbak" ujar Ratna.


"Aamiin" sahut Cinta dan Amel.


"Eh aku ke dapur dulu ya mau nyiapin makan siang untuk kita" ujar Cinta.


"Bareng aja Cin, udah jam berapa juga. Biar lebih cepat selesainya" sahut Amel.


Mereka bertiga berjalan ke dapur dan mulai memasak hidangan makan siang. Tak memakan waktu lama, karena mereka sudah berbagi tugas untuk mempercepat proses memasaknya. Semua makan sudah selesai dihidangkan.


Setelah memanggil semuanya mereka kembali berkumpul di ruangan makan untuk makan siang bersama.


Sore harinya Amel dan Surya ke dokter kandungan diantar oleh supir Cinta. Dengan jantung yang berdebar kencang Amel dan Surya sudah berada di dalam ruangan praktek Dokter untuk melakukan pemeriksaan.


Amel berbaring di atas tempat tidur dan sudah siap untuk diperiksa.


"Wah perkembangannya bagus Bu, miomnya semakin mengecil, tidak sampai 1cm lagi. Mudah - mudahan kalau Ibu hamil dan melahirkan Miomnya bisa ikut terangkat. Atau kalau Ibu memang mau bersih kita bisa melakukan operasi saat proses lahiran nanti sekalian di angkat miomnya" ungkap Dokter.


"Alhamdulillah, kami senang mendengarnya Dok" sambut Amel.


"Saya tinggal kasih vitamin untuk program hamil ya Bu, mudah - mudahan dengan minum vitamin saja Ibu sudah bisa hamil. Tapi kalau belum hamil juga kita lanjut program hamil lainnya seperti inseminasi atau langsung proses bayi tabung" ucap Dokter.


"Iya Dok, tapi saya sangat berharap dengan vitamin ini saja saya sudah bisa hamil" balas Amel.


"Aamiin" sahut Dokter.


Dokter memberikan resep obat - obatan yang akan di minum Amel. Bukan hanya Amel saja tapi Surya juga diberikan vitamin dari dokter agar kualitas bibit Surya lebih banyak dan unggul.


Dengan perasaan senang dan lega mereka keluar dari ruangan dokter. Harapan memiliki anak kembali hadir di hati mereka. Sekarang semakin besar rasanya. Apalagi mereka sudah melakukan ikhtiar untuk menyembuhkan penyakit Amel dan program untuk kehamilanmya.


Surya menggenggam tangan Amel dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Semoga Allah melihat usaha dan kerja keras kita. Sehingga Allah tergerak untuk menitipkan kepada kita anak - anak yang soleh dan solehah ya sayang" ucap Surya.


"Aamiin Mas" sambut Amel dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


Semoga Allah mendengar doa - doa mereka.


.


.


BERSAMBUNG