
Tamu undangan satu persatu meninggalkan lokasi acara. Wildan dan kedua orangtuanya tak berhenti meminta maaf. Kini hanya tinggal Wildan PaK Raharjo bersana istrinya dan Melodi beserta rombongannya tadi.
Pak Raharjo menatap wajah Wildan dengan seksama.
"Papa tau kamu yang merencanakan semua ini kan?" tanya Pak Raharjo.
Dia sudah curiga dengan Wildan karena setiap kali bertemu dia pasti akan membahas tentang membatalkan perjodohannya dengan Rania.
"Ya mau gimana lagi, habisnya Papa tidak mau mendengarkan permintaanku. Papa hanya mengatakan perjodohan ini boleh batal kalau memang ada sesuatu yang bisa membatalkannya dan itu tidak boleh dari aku. Aku sudah jelaskan kepada Papa tentang hubungan Rania dan Mr. Smithson tapi Papa tidak mau mempercayaiku. Aku pikir seperti inilah jalan yang harus kuambil. Walau keluarga kita malu tapi aku tidak perduli yang penting pertunangan ini batal dan bukan kita yang menyebabkannya. Keluarga Rania tidak akan menyalahkan kita karena putrinyalah yang melakukan kesalahan" ujar Wildan.
"Tapi mereka akan marah kepada kita jika tau kamu yang merencanakan semua ini" ujar Pak Raharjo.
"Bukan aku yang merencanakan semua ini Pa. Aku hanya menyetujui video tadi diputar diacara pertunanganku. Selebihnya bukan aku yang melakukannya" ungkap Wildan.
"Kalau bukan kamu siapa yang berani melakukannya?" tanya Pak Raharjo.
"Tak lama lagi Papa dan kalian semua akan tau siapa yang melakukan semua ini" jawab Wildan.
"Sudahlah Papa mau pulang ke rumah, mau istirahat" ujar Pak Raharjo.
Bu Raharjo menghampiri putranya.
"Selamat mengejar cinta kamu Nak" bisik Bu Raharjo.
Wildan tersenyum penuh kasih sayang kepada Mamanya.
"Terimakasih Maa.. Doakan semoga berhasil" sambut Wildan.
Bu Raharjo melangkahkan kakinya mengejar suaminya yang sudah berjalan pergi meninggalkan ruangan ini. Wildan dan rombongannya segera menghampiri.
"Jadi ini pertunjukan seru yang kamu katakan kemarin?" tanya Melodi.
Wildan tersenyum menang.
"Yup, gimana seru kan?" tanya Wildan.
"Gila kamu" umpat Melodi.
"Jadi kita harus mengucapkan turut berduka atau malah kata selamat?" tanya Cinta.
"Ucapkan saja kata selamat" jawab Wildan.
"Untuk?" tanya Cinta.
"Untuk masa depan yang baru" jawab Wildan.
Wildan melirik ke arah Ratna tapi Ratna membuang wajahnya ke arah lain.
"Ratna apakah kamu mau pulang bersamaku? Aku butuh seseorang yang bisa menghiburku malam ini" pinta Wildan dengan tatapan penuh harap.
"Maa.. maaf Pak Aku menginap di rumah Pak Melodi malam ini" elak Ratna.
Sejak tadi jantung Ratna tak berhenti berdetak kencang.
"Hibur lah Wildan Rat, dia butuh seorang teman malam ini untuk menghibur hatinya yang sedang terluka karena pertunangannya batal" sambung Wildan dengan senyum tipisnya.
"Benar Rat, besok kamu bisa datang ke rumah untuk mengambil barang - barang kamu" ucap Cinta.
"Kalau kalian ingin makan silahkan saja" ujar Wildan.
"Lebih baik kami makan ditempat lain saja" sahut Melodi.
Melodi menggengam tangan istrinya dengan mesra.
"Ayo kita pulang sayang" ajak Melodi.
Melodi, Cinta, Pak Ilham dan Bik Sumi pergi meninggalkan tempat acara. Kini hanya tinggal Ratna dan Wildan ditemani para WO yang sedang membereskan semuanya.
"Pak bagaimana dengan semua hidangan malam ini?" tanya salah satu karyawan dari WO.
Tak lama ada ratusan anak - anak yang masuk ke dalam ballroom hotel tempat acara pertunangan Wildan berlangsung.
"Si.. siapa mereka Pak?" tanya Ratna bingung.
"Mereka adalah anak - anak panti asuhan dan anak - anak jalanan yang ingin sekali makan di tempat seperti ini. Biarkan mereka menikmati malam ini. Ayo kita pulang" ajak Wildan tersenyum lega.
Wildan dan Ratna keluar dari ballroom hotel dan berjalan menuju mobilnya. Setelah mereka sampai dan masuk ke dalam mobil Wildan langsung menginjak gas dan mereka melaju pulang ke apartement.
Sesampainya di apartement Wildan lampu di dalamnya mati semua. Wildan mencari saklar listrik dan menyalakan lampu.
Alangkah terkejutnya Ratna saat melihat di meja makan sudah tersedia hidangan makan malam untuk berdua. Ratna menatap wajah Wildan dengan tatapan bingung.
Wildan tersenyum menatap wajah cantik Ratna malam ini. Makan malam ini sudah dia persiapkan sejak tadi.
"Kamu belum makan kan?" tanya Wildan dengan sangat lembut.
Ratna hanya bisa mengangguk tak sanggup mengeluarkan suara.
"Yuk kita makan" ajak Wildan.
Wildan menarik kursi untuk Ratna dan mempersilahkannya duduk. Setelah itu baru Wildan duduk tepat di depan Ratna. Sesaat mereka hanya saling tatap. Tapi setelah itu Ratna menundukkan pandangannya karena malu.
"Kamu pasti bingung mengapa ada semua ini di sini?" tanya Wildan.
Ratna mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk menatap Wildan. Wildan tersenyum penuh percaya diri.
"Aku sudah merencanakan semuanya. Hari ini pertunanganku gagal. Aku bebas dari perjodohan orang tuaku. Kini saatnya aku meraih masa depanku sendiri dan memilih pasangan hidupku sendiri" ucap Wildan memulai pembicaraan.
Jantung Ratna semakin kencang berdetak.
"Maaf mungkin beberapa pekan ini kamu bingung dengan sikapku yang seperti mencuekin kamu, mengabaikan kamu dan mendiamkan kamu. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Rania, pergi bersama Rania dan lebih dekat dengan Rania agar dia tidak curigacuriga" sambung Wildan.
Wildan menarik nafas panjang.
"Kamu tau, Rania itu tipe wanita yang nekat dan akan menghalalkan segala cara mendapatkan semua keinginannya. Aku tidak mau karena kedekatanku dengan kamu dia akhirnya menyakiti kamu" ungkap Wildan.
"Jangan minta pindah kantor ya? Jangan tinggalkan aku. Aku gak bisa hidup tanpa kamu" ujar Wildan.
Air mata Ratna sukses jatuh membasahi pipinya. Dia sangat terharu mendengar kata - kata Wildan malam ini.
"Sudah lama aku tertarik dengan kamu. Tapi aku harus fokus membantu Melodi menemukan cinta dan hidupnya yang baru. Aku pernah mengutarakan kalau aku ingin pergi tapi sepertinya dia belum siap. Sejak saat itu aku memutuskan untuk membantu Melodi dulu baru aku berpikir tentang diriku. Barulah setelah Melodi menikah aku putuskan untuk konsentrasi pada Perusahaan keluargaku. Dan tujuan aku mengajak kamu ikut agar aku bisa selalu dekat denganmu. Tapi ternyata di kantor ada Rania dan aku juga baru tau kalau Papaku dan Papa Rania menjodohkan kami" lanjut Wildan.
Ratna terus menatap Wildan.
"Aku tau Rania sering menekan kamu dan membully kamu. Aku sengaja membiarkannya dan aku tidak ingin ikut campur dalam urusan wanita. Karena apa? Seperti yang aku katakan tadi Rania tega dan berani melakukan apapun termasuk menyakiti kamu. Aku tidak mau kamu tersakiti dan terluka. Hingga akhirnya Papa berkata padaku perjodohan ini bukan kawin paksa, tapi Papa meminta kalau bisa jangan kami yang membatalkannya. Allah mendengar doa - doaku dan menghadirkan Mr. Smithson yang ternyata adalah mantan pacar Rania. Hingga terjadilah apa yang kamu lihat dalam cuplikan video tadi" ungkap Wildan.
"Sekarang semua sudah berakhir dan aku bebas. Jadi.. mau kau kamu menerima lamaranku Rat? Aku sudah sejak lama mencintai kamu tapi maaf kalau baru saat ini aku bisa mengungkapkannya pada kamu" ucap Wildan.
Ingin sekali rasanya Wildan menggenggam erat tangan Ratna saat ini tapi dia masih sadar akan batas mereka. Wildan hanya menatap wajah Ratna dengan penuh harap.
"Pak.. A.. aku bi.. " ucap Ratna gugup.
"Jangan bingung Rat, kamu cukup keluarkan saja semua isi hati kamu" pancing Ratna.
Dengan kesal tanpa sadar Ratna memukul lengan Wildan dengan tasnya.
"Bapak jahat... " teriak Ratna.
Ratna menangis terisak membuat Wildan terkejut.
"Rat.. Ratna.. " panggil Wildan.
.
.
BERSAMBUNG