Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 255


Wildan menghubungi Cinta. Hanya Cinta dan Melodi yang dia ingat saat ini.


"Assalamu'alaikum Cinta" ucap Wildan memulai pembicaraan.


"Wa'alaikumsalam Mas Wildan" jawab Cinta.


Melodi langsung melirik Cinta, penasaran mengapa Wildan menghubungi istrinya malam - malam seperti ini. Sudah jam sembilan malam dan mereka sudah bersiap untuk tidur.


"Cin, aku dan Ratna saat ini sedang di Rumah Sakit. Ratna mengalami keguguran. Program bayi tabung kami gagal Cinta" ungkap Wildan dengan suara sedih.


"Innalillahi... di Rumah Sakit mana Mas?" tanya Cinta.


Melodi semakin serius melirik istrinya karena sekilas dia mendengar pembicaraan Cinta dan Wildan.


"Rumah Sakit Ibu dan Anak" jawab Wildan.


"Oke Mas kami akan segera ke sana. Yang sabar ya Mas" sambut Cinta.


"Iya Cin terimakasih" jawab Wildan.


Telepon terputus.


"Ada apa yank?" tanya Melodi penasaran.


"Ratna keguguran Mas, saat ini mereka sedang di Rumah Sakit Ibu dan Anak. Kita ke sana yuk Mas, pasti Ratna sangat terpukul sekali saat ini. Aku ingin menghiburnya, dia pasti sangat sedih" ajak Cinta.


"Ya sudah yuk kita bersiap" sambut Melodi.


Cinta dan Melodi segera bersiap lalu keluar dari kamar mereka.


"Bik titip Radit ya, aku dan Mas Melodi mau lihat Ratna di Rumah Sakit. Kata Mas Wildan Ratna keguguran" pinta Cinta pada Bik Sumi.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un... kasihan sekali Ratna" sambut Bik Sumi begitu mendengat berita duka tersebut.


"Titip salam untuk Ratna ya Cin, semoga dia sabar menerima ketentuan Allah ini" doa Bik Sumi.


"Aamiin.. kami pergi dulu ya Bik" ujar Cinta.


Cinta dan Melodi masuk ke dalam mobil lalu segera meluncur menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak. Satu jam kemudian mereka sudah sampai di Rumah Sakit dan langsung menuju kamar rawat inap Ratna.


Mereka masuk dan sudah melihat Ratna terbaring di atas tempat tidur dengan mata sembab karena menangis.


"Cintaaaaa" tangis Ratna kembali pecah begitu melihat sahabatnya datang.


"Ratna sayaaaaang... kamu yang sabar ya.. Ini semua sudah ketetapan dari Allah. Kita hanya bisa berusaha tapi Allah yang menentukan semuanya. Mungkin Allah punya rencana lain, dan ini adalah ujian untuk rumah tangga kamu" hibur Cinta.


"Mengapa cuma sebentar kebahagian itu datang Cintaaaa?" tanya Ratna sambil menangis.


Cinta memeluk Ratna sambil mengelus punggungnya.


"Rat Allah memberikan cobaan pada kamu karena Allah tau kamu pasti bisa melewatinya. Tetap berbaik sangka ya kepada Allah. InsyaAllah ada rencana yang lebih indah di balik semua ini" nasehat Cinta.


Wildan menatap istrinya dengan sedih.


"Dia tidak berhenti menangis sejak tadi" ucap Wildan.


"Menurut aku setelah ini kalian berhenti dulu Wil. Biarkan Ratna santai tidak stress karena di kejar - kejar ingin segera hamil. Nanti kalau Ratna sudah sehat coba kamu bawa jalan - jalan" pesan Melodi.


"Iya Od akan aku lakukan. Apapun akan aku lakukan agar Ratna ku ceria kembali" sambut Wildan.


"Ratna terlalu terbebani dengan keinginan ingin segera hamil" ujar Melodi.


"Semua gara - gara Papa mendesak aku menikah lagi dengan Rania" sahut Wildan.


"Kalau ada kesempatan aku akan coba temui Papa kamu agar tidak menekan kalian seperti ini. Kasihan Ratna dia sangat terpukul seperti ini" balas Melodi.


"Yah namanya juga usaha Wil, gak ada salahnya semua cara kita lakukan" sambut Melodi.


Satu jam Cinta dan Wildan mencoba menenangkan Ratna hingga akhirnya Ratna tertidur karena sudah lelah menangis. Matanya bengkak karena terus menerus menangis.


Setelah Ratna tertidur barulah Cinta dan Melodi pamit pulang.


"Kasihan banget Ratna ya Mas, dia sangat sedih sekali dan rapuh" ucap Cinta.


Melihat sahabatnya seperti itu Cinta juga ikutan menangis. Hatinya ikut sakit melihat hancurnya perasaan Ratna. Cinta tau bagaimana sedihnya kehilangan anak, dia juga dulu pernah keguguran.


Tapi pasti Ratna lebih sedih karena dia sudah lama menginginkan seorang anak dan sudah melakukan berbagai cara agar dia bisa hamil. Tapi kehamilannya hanya hitungan jam. Baru saja siang tadi Ratna begitu senang saat dia tau dia hamil, malamnya Ratna langsung menerima cobaan seberat ini.


"Mereka pasti bisa melaluinya. Ratna kan perempuan kuat sama seperti kamu. Kamu sering - sering hibur dia ya biar dia tambah kuat. Aku akan coba bantu mereka. Aku punya rencana ingin menemui Om Raharjo besok" ujar Melodi.


"Benarkah Mas? Tolong yakinkan Om Raharjo Mas agar tidak menekan Ratna dan Mas Wildan untuk secepatnya punya anak. Kasihan mereka sampai tertekan seperti itu" pinta Cinta.


"Kamu doakan ya agar Om Raharjo mau mendengarkan aku. Kita sama - sama tau bagaimana kerasnya hati Om Raharjo. Aku takut dia tidak mau menerima nasehat dari seorang anak yang usianya sangat jauh darinya" ujar Melodi.


"Semoga Om Raharjo mau mendengar perkataan Mas" doa Cinta.


Besok harinya Melodi sengaja datang pagi - pagi ke rumah orang tuanya Wildan.


"Lho Melodi tumben kamu datang ke rumah ini, ada apa?" tanya Pak Raharjo.


"Aku ingin bicara dengan Om" jawab Melodi.


Tak lama Mama Wildan datang menemui Melodi.


"Apa kabar kamu Od" sapa Mama Wildan.


"Alhamdulillah sehat Tante" sambut Melodi sambil mencium tangan Mamanya Wildan.


Mereka kembali duduk di sofa ruang tamu.


"Kedatangan aku pagi ini ingin menyampaikan kabar duka. Tadi malam Ratna keguguran dan saat ini dia masih di rawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak" ucap Melodi memulai pembicaraan.


"Innalillahi.. ya Allah Ratna" sambut Bu Raharjo terkejut.


"Mengapa kamu yang menyampaikan kabar seperti ini kepada kami. Kami adalah orang tuanya Wildan tapi mengapa dia tidak memberitahunya langsung kepada kami?" tanya Pak Raharjo emosi.


"Saat ini baik Wildan ataupun Ratna dalam keadaan terpukul Om. Selama ini mereka sudah melakukan berbagai cara program hamil agar Ratna bisa segera hamil. Mulai dari program hamil sederhana, inseminasi dan akhirnya program bayi tabung. Tapi mungkin Allah belum kasih mereka kesempatan untuk mempunyai anak" ungkap Melodi.


"Itu berarti Ratna memang tidak bisa memberikan keturunan bagi Wildan" sambut Pak Raharjo.


Melodi langsung menatap wajah Pak Raharjo dengan tatapan terkejut dan tidak senang mendengar ucapan pria tua itu. Untung saja itu Papanya Wildan, kalau orang lain mungkin akan di hajar Melodi.


"Astaghfirullah Papa... " ucap Bu Raharjo.


"Aku tidak menyangka Om setega itu berkata seperti itu kepada Ratna dan Wildan. Mereka adalah anak dan menantu Om, keluarga dekat Om. Selama ini aku selalu menghormati Om sebagai pengganti orang tuaku dan sebagai orang tua dari sahabatku. Tolong Om jangan tekan mereka dengan keinginan Om ingin segera memiliki cucu. Mereka sudah cukup berjuang untuk mewujudkan impian Om itu. Jangan pernah salahkan mereka harusnya Om mendukung usaha mereka" pinta Melodi.


"Jangan coba untuk memisahkan Wildan dari Ratna Om. Aku mengenal Wildan, dia sangat mencintai Ratna jadi jangan pernah Om berpikir untuk menyuruh Wildan menikah lagi dengan wanita mana pun. Jangan Om paksa Wildan untuk menjadi anak durhaka. Wildan sudah besar, dia sudah dewasa. Dia punya rumah tangga sendiri. Jangan ikut campur terlalu dalam pada rumah tangga mereka Om. Biarkanlah mereka menjalani rumah tangga mereka sesuai dengan keinginan mereka berdua tanpa ada tekanan dari mana pun" sambung Melodi.


"Dan satu lagi aku mohon Om jangan buat rasa hormatku pada Om hilang karena hal ini. Aku berpikir karena usia dan pengalaman Om, Om akan berpikiran lebih legowo. Tapi ternyata pikiran Om masih sempit. Memikirkan berumahtangga hanya untuk mendapatkan keturunan. Menikah itu untuk bahagia dan beribadah Om. Beribadah tidak hanya dengan mendidik anak. Masih banyak ibadah lain yang bisa dilakukan Wildan dan Ratna. Rasulullah dan Aisyah menikah juga tidak memiliki keturunan dan Rasulullah tidak pernah memaksa Aisyah. Rasulullah menikah dengan istri - istrinya yang lain karena sebab yang lain dan juga karena perintah Allah. Kita bisa belajar dari kehidupannya" ucap Melodi.


Pak Raharjo tampak terdiam, kata - kata Melodi barusan terdengar sebuah nasehat dan juga ancaman. Pak Raharjo merasa sangat terpukul dengan perkataan Melodi.


Semoga Pak Raharjo berubah ya...


.


.


BERSAMBUNG