
Wildan sampai di kantornya. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya setelah tadi terbengkalai karena dia mengintai keberadaan Ratna agar dia tenang bisa memastikan Ratna aman.
Sampai sore hari akhirnya Wildan menerima laporan melalui email. Wildan meminta asisten pribadinya untuk mencetak data yang baru saja dia terima.
Wildan memeriksa dan membacanya dengan teliti hingga akhirnya dia mendapatkan beberapa data karyawan yang kira - kira seumuran dengan Bapaknya Ratna.
"Hakim coba kamu pesankan tiket pesawat sore ini ke Semarang. Aku akan berangkat malam ini ke sana, ada yang harus aku selesaikan di sana" perintah Wildan pada asisten pribadinya.
Wildan sengaja tidak mencari sekretaris baru karena masih berharap Ratna akan kembali. Sementara semua pekerjaannya dibantu oleh asisten pribadinya dan satu orang staff yang dia pinta untuk membantu Hakim sang asisten pribadi.
Posisi Ratna tidak boleh digantikan oleh siapapun karena memang Wildan tidak menginginkan ada orang yang menggantikan kedudukan Ratna di kantornya.
Setelah mendapat tiket Wildan langsung berangkat menuju Bandara. Jam delapan malam Wildan berangkat ke Semarang.
Begitu sampai Kota Semarang Wildan langsung memesan hotel untuk tempat dia istirahat malam ini. Wildan sudah menyusun rencana apa yang akan dia lakukan besok di kantor anak perusahaan milik orang tuanya.
Keesokan paginya setelah sarapan pagi di Hotel Wildan langsung menuju PT. Raharjo Pelangi. Salah satu anak perusahaan yang tergabung dalam PT. Raharjo Group.
Wildan langsung disambut oleh para pejabat di perusahaan tersebut. Mereka sangat terkejut atas kedatangan Wildan yang sangat tiba - tiba.
"Apa gerangan yang bisa kami bantu Pak?" tanya Direktur PT. Raharjo Group.
Wildan segera mengeluarkan data pegawai yang dia terima tadi malam.
"Saya meminta para pegawai yang sudah saya tandai dalam berkas ini di kumpulkan semua. Saya ingin mengadakan rapat dadakan" perintah Wildan.
Sontak sang Direktur terkejut dan wajahnya memucat karena namanya tertera menjadi salah satu nama yang ditandai dalam berkas tersebut.
Pria itu tampak sedikit pucat dan berkeringat. Dalam hati dia menebak - nebak apa gerangan yang akan Wildan bahas dalam rapat.
Kalau mengenai masalah perusahaan mengapa hanya karyawan - karyawan yang terpilih saja? Dan pria itu melihat karyawan - karyawan yang diminta Wildan semuanya adalah karyawan lama yang hampir sebaya dengan dirinya.
Tapi untuk bertanya rasanya dia sangat sungkan walau umur Wildan jauh berada dibawahnya. Bagaimanapun Wildan adalah atasannya sekaligus anak dari pemilik perusahaan tempat dia bekerja.
Wajah Wildan terlihat sangat serius. Pria yang ada di hadapannya langsung memanggil sekretarisnya dan memberi perintah untuk mengumpulkan semua karyawan yang Wildan pinta.
Satu jam kemudian mereka sudah duduk di ruangan rapat. Ada sekitar tujuh orang karyawan yang Wildan tandai dan sekarang sudah duduk di hadapan Wildan
Tatapan mereka semua terlihat menyimpan tanda tanya besar. Mengapa mereka dikumpulkan Wildan dalam rapat dadakan pagi ini.
Wildan akan segera memulai rapatnya.
"Selamat pagi, mungkin Bapak - Bapak pasti bertanya - tanya mengapa saya kumpulkan disini sepagi ini. Dan saya juga sengaja memilih orang - orang yang akan rapat bersama saya" ucap Wildan memulai pembicaraannya.
Semua terdiam dan mendengarkan ucapan Wildan.
"Saya akan langsung bicara ke inti permasalahan. Saya sudah melihat data kepegawaian Bapak - Bapak sekalian. Ada kesamaan yaitu kalian semua adalah karyawan lama yang bekerja di Perusahaan ini. Saya ingin mengulang sekilas ingatan kalian sekitar dua puluh tahun yang lalu. Apa kalian mengenal seorang pria yang bernama Ramlan?" tanya Wildan to the point.
Wildan memperhatikan semua gerak gerik karyawan yang ikut rapat pagi ini. Mereka terlihat sedang berpikir dan mengingat - ingat kejadian yang sudah sangat lampau. Bahkan beberapa dari mereka masih baru bekerja di perusahaan ini.
"Kalian belum ingat? baiklah akan aku perkecil lagi informasinya. Dua puluh tahun lalu ada seorang pria yang bekerja sebagai kepala proyek di Perusahaan ini. Dia bernama Ramlan dan beliau dipecat karena di tuduh telah melakukan penggelapan. Apa kalian ingat dan mengenalnya?" tanya Wildan.
Sontak semua karyawan terkejut. Dari wajah mereka Wildan sangat yakin mereka semua mengetahui permasalahan Pak Ramlan saat itu.
"Ada yang bisa menceritakan kronologis kejadian saat itu? Apa sebab Pak Ramlan di PHK?" tanya Wildan.
"Mengapa Bapak bertanya kejadian yang sudah sangat lama? Seingat saya kejadian itu memang murni karena kesalahan dari Ramlan sendiri" tanya Direktur.
"Bapak sepertinya kenal baik dengan beliau?" tanya Wildan.
Pria yang ada di depan Wildan tampak salah tingkah.
"Dia dulu teman saya Pak" jawab pria itu.
"Apa Bapak tahu bagaimana kehidupannya setelah berhenti dari perusahaan ini?" tanya Wildan.
Pria itu diam dan menundukkan wajahnya.
"Yang lain apakah ada yang mengenal Pak Ramlan?" tanya Wildan.
Seorang pria mengangkat tangannya.
"Saya mengenalnya Pak. Kami bekerja di proyek yang sama. Dia adalah pria yang baik, jujur dan pekerja keras. Saat itu beliau di tuduh menggelapkan bahan - bahan proyek. Saya sebenarnya tidak percaya Pak tapi kasihan Ramlan dia tidak bisa membela diri" jawab Pria itu.
"Apa ada kemungkinan dia di fitnah?" tanya Wildan.
"Saya tidak tau Pak, tapi saat itu laporan sudah naik dan Pak Raharjo langsung memecat beliau" jawab pria itu.
"Kalian tau apa yang terjadi dengan dia dan keluarganya?" tanya Wildan.
Semua menatap wajah Wildan penuh tanda tanya.
"Kalian semua bisa bekerja dan mendapat kehidupan yang layak karena bekerja sedangkan teman kalian diluar sana yang bernama Ramlan putus asa dan kecewa karena sudah di fitnah. Dia jadi seorang pemabuk dan istri juga anak - anaknya terlantar. Bapak katanya temannya Pak Ramlan, kenapa saat itu Bapak tidak membelanya?" tanya Wildan pada Direktur PT. Raharjo Pelangi.
Sontak pria itu terdiam dan menunduk malu.
"Saya minta saat ini laporan keuangan Perusahaan ini. Dalam waktu satu jam saya ingin semua laporan sudah sampai di meja saya" perintah Wildan.
Semua menatap wajah Wildan dengan tatapan terkejut.
"Kita lihat apakah ada yang bisa saya temukan di perusahaan ini? Siapa tau bisa dihubungkan dengan kejadian dua puluh tahun yang lalu" ujar Wildan sambil menatap wajah Direktur dengan tatapan intimidasi.
Wajah pria itu terlihat berubah - ubah seperti bunglon.
"Ba.. baik Pak" jawab Pria itu patuh.
"Rapat saya tunda sampai satu jam lagi. Saya akan menunggu kalian semua menyiapkan bahan - bahan yang perlu untuk rapat ini. Saya minta semua laporan dari setiap departemen" perintah Wildan.
"Baik Pak" jawab semua anggota rapat.
Para Pejabat PT. Raharjo Pelangi langsung meninggalkan ruangan rapat. Kini hanya tinggal Wildan sendiri yang tinggal di ruangan itu.
Wildan sudah mengantongi target yang dia curigai, tapi dia tidak bisa menuduh tanpa alasan. Dia akan mencari kelemahan orang tersebut.
Kalau ada penggelapan apalagi penggelapan dana bisa jadi dia memang pelakunya dua puluh tahun yang lalu. Hanya saja saat itu dia mengorbankan Pak Ramlan dan menjadikannya kambing hitam dari semua permasalahan yang dia perbuat.
Lihatlah Ratna aku akan segera menyelesaikan masalah Bapak kamu dengan secepatnya. Kamu hidup yang baik ya di sana selama aku jauh dari kamu. Tunggu aku, aku akan menemui dan menjemput kamu. Batin Wildan.
.
.
BERSAMBUNG