
"Mengenai mertua kita. Kata Cinta mereka meninggal karena kecelakaan. Apa Mas tau gimana mereka kecelakaan? Apakah Cinta ikut serta dalam kecelakaan itu?" tanya Melodi.
"Mas gak tau tepatnya kejadian itu, karena Mas belum kenal sama mereka. Dulu mereka kan tinggal di Jakarta. Dari cerita Amel katanya kedua orang tuanya meninggal saat dalam perjalanan menuju kampung. Cinta turut serta dalam kecelakaan itu tapi dia tidak ingat apapun. Menurut dokter karena dia shock" jawab Surya.
Melodi menatap Surya dengan seksama mencari kejujuran di sana. Tapi dia tidak bisa mengambil keputusan apakah Surya bohong atau tidak.
Mas Surya berbohong atau dia juga mendengar cerita bohong dari Mbak Amel? Apa yang terjadi dengan mereka mengapa kecelakaan orang tua mereka di tutup sangat rapat seperti ini? Pantas saja aku sangat sulit mencari mereka selama ini. Mereka benar - benar menghilang dan jauh dari kota. Batin Melodi.
"Kenapa kamu bertanya Od?" tanya Surya.
"Nggak aku cuma ingin bertanya saja. Karena kata Cinta tanggal kematian orang tua kamu sama dan penyebabnya juga sama karena kecelakaan" jawab Melodi.
"Mungkin kebetulan Od" sambut Surya.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Bibik. Dan mereka sudah disambut dengan kopi dan singkong yang baru selesai dimasak Cinta.
"Gini Od enaknya tinggal di kampung. Sambil menunggu mata hari terbit menikmati kopi dan singkong goreng sambil melihat pemandangan sawah" ujar Surya.
"Iya Mas, buat fikiran jadi tenang ya" sambut Melodi.
Melodi dan Surya berbincang-bincang tentang rencana pembelian sawah dan pembangunan rumah Melodi di kampung. Setelah sarapan pagi Melodi pamit untuk kembali istirahat di kamar.
Jam sepuluh pagi Melodi dan Surya pergi melihat lokasi sawah yang akan mereka beli. Benar kata Surya letak sawahnya dekat dengan sungai. Melodi jadi makin semangat membayangkan rumah yang akan dia bangun di kampung. Pasti sangat nyaman dengan pemandangan indah persawahan dan sungai.
Melodi langsung setuju dan segera melakukan transaksi jual beli. Dia sengaja membeli tujuh petak sawah. Tiga untuk dirinya, tiga lagi untuk Surya dan satu petak sawah akan dia jadikan lokasi rumahnya yang akan segera di bangun.
Siang harinya setelah selesai bertransaksi Melodi dan Surya kembali ke rumah.
"Gimana Mas cocok lokasinya?" sambut Cinta yang sangat penasaran menunggu kabar.
"Bagus banget yank, dekat banget ke sungai. Aku suka pemandangannya, nanti kita bangun rumah di sana. Pasti nyaman banget tuh tinggal di sana" jawab Melodi bersemangat.
"Kalian mau bangun rumah?" tanya Amel.
"Iya Mbak, Mas Melodi katanya suka datang ke sini. Jadi kalau kami punya rumah di sini kami akan sering - sering berkunjung kemari dan gak ngerepotin Kakak dan Bibik lagi" jawab Cinta.
Amel tersenyum menanggapi perkataan Cinta tapi dalam hatinya tetap was - was.
Apakah Melodi memang tulus mencintai Cinta? Kalau dia tau kebenarannya, apakah dia bisa tetap mencintai Cinta? tanya Amel dalam hati.
"Mari makan" panggil Bibik.
"Yuk Mas, kita harus cepat pulang biar gak kemalaman sampai di Jakarta" ajak Cinta.
Mereka berkumpul di meja makan menikmati hidangan makan siang.
"Jangan lupa ya Mbak datang ke Jakarta saat resepsi pernikahan kami?" pinta Melodi.
"InsyaAllah kami akan datang" jawab Amel.
"Iya biar sekalian ziarah ke makam Papa Mama" sambut Cinta tanpa sadar.
"Uhuk... uhuk... " Amel terbatuk - batuk.
Surya langsung mengusap punggung istrinya untuk menenangkan. Kemudian dia memberi minum untuk Amel.
Ya Tuhan aku lupa, makam Papa Mama? Apa Cinta sudah mengajak Melodi kesana? Ya Allah lindungilah Cinta. Doa Amel dalam hati.
Wajah Amel tampak sedikit berubah dan Melodi dapat merasakannya. Suasana di depan meja makan juga sedikit berbeda. Amel dan Bibik jadi lebih banyak diam.
Melodi jadi semakin curiga dengan keluarga ini.
Apakah ada yang kalian rencanakan? Aku akan segera mencari tau kebenaran ini? Batin Melodi.
Barang - barang mereka sudah dimasukkan Melodi ke bagasi. Setelah berpamitan Melodi dan Cinta kembali menuju Kota Jakarta.
Setelah makan malam diluar baru Cinta dan Melodi pulang ke apartement mereka. Mereka tampak kelelahan tapi hati mereka tetap senang.
"Terimakasih ya Mas" ucap Cinta sebelum mereka tidur.
"Atas apa yank?" tanya Melodi.
"Kamu telah mewujudkan salah satu cita - citaku untuk membantu kehidupan Mbak Amel" jawab Cinta.
"Kak Amel kan keluarga kamu. Otomatis mereka juga keluarga aku. Aku hanya tinggal hidup sendiri di dunia ini. Hanya tinggal kalianlah keluarga yang aku punya" ujar Melodi.
Melodi memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Sekarang kita tidur ya sayang. Aku lelah, besok kita lanjutkan lagi obrolan kita" pinta Melodi.
"Iya Mas" jawab Cinta.
*******
Esok harinya mereka jalani kegiatan seperti biasanya. Cinta dan Melodi sekarang setiap hari pergi dan pulang kerja bareng.
Ada juga yang sekarang pergi dan pulang sama seperti pasutri itu. Mereka tak lain adalah Ratna dan Wildan. Sepertinya sangat sulit sekali untuk Ratna menjauh dari Wildan.
Dengan segala cara dan alasan Wildan bisa membuat Ratna tidak bisa menolak ajakannya.
"Rat, nanti kalau aku keluar dari Perusahaan kamu ikut aku ya" ajak Wildan.
"Lho Bapak mau keluar? Kenapa Pak?" tanya Ratna terkejut.
"Aku di pecat Melodi" jawab Wildan bersandiwara.
"Ha... serius Pak?" tanya Ratna tak percaya.
Wajah terkejutnya hampir saja membuat tawa Wildan pecah. Wajah Ratna sangat lucu sekali saat ini.
"Orang tuaku sudah tua Rat, harus ada yang menggantikannya untuk mengurus perusahaan keluargaku. Melodi sekarang sudah lebih kuat semenjak dia menikah. Sudah saatnya aku menyusun masa depanku sendiri" ungkap Wildan.
"Bapak punya perusahaan?" tanya Ratna masih dalam mode terkejut.
Hari ini Wildan sudah berulang kali membuatnya terkejut. Tadi aja saat dia mau masuk ke mobil Cinta yang saat ini sering antar jemput dia pergi dan pulang kantor, tiba - tiba saja Wildan menariknya untuk masuk ke dalam mobil Wildan.
Nah sekarang Wildan sudah berhasil membuat dia terkejut berulang kali juga.
"Bukan aku punya, tapi perusahaan keluarga. Karena aku anak tunggal jadi aku harus menjadi penerusnya" jawab Wildan.
"Ja.. jadi selama ini ngapain Bapak bantuin Pak Melodi kalau ternyata Bapak sendiri juga punya perusahaan yang harus Bapak pimpin?" tanya Ratna bingung.
Ada ya orang kata tapi mau jadi pesuruh? Aku kira Pak Wildan itu hanya sahabat Pak Melodi yang bekerja di perusahaan Pak Melodi karena memang butuh pekerjaan untuk hidupnya. Ternyata aku salah selama ini. Batin Ratna.
"Saat SMU kedua orang tua Melodi meninggal karena kecelakaan. Perusahaan orang tuanya di kelola oleh asisten pribadi Papanya dan dikelola dengan tidak baik. Perusahaannya hampir bangkrut. Melodi bekerja keras untuk menyelamatkan perusahaan Sanjaya Corp. Dia yang saat itu sedang berduka butuh seseorang sebagai teman seperjuangan. Aku juga lakukan itu agar Melodi tidak merasa kesepian, bahwa masih ada orang yang sayang dengannya" ungkap Wildan.
Uuuuh Pak Wildan so sweet banget. Ternyata dia sangat baik. Aku kok jadi semakin meleleh ada didekatnya. Batin Ratna.
.
.
BERSAMBUNG