
"Sudah Pak, tapi sebelumnya maaf jika saya ingin membawa beberapa orang tamu lain" jawab Wildan.
"Siapa?" tanya Pak Wildan penasaran.
"Silahkan masuk" perintah Wildan.
Ada lima orang pria masuk ke dalam rumah Ratna. Sontak Pak Ramlan terkejut dan wajahnya berubah pucat saat mengenali empat dari lima orang yang datang ke dalam rumahnya.
Pak Ramlan langsung berdiri menyambut kedatangan empat orang yang sangat dia kenal. Begitu juga dengan Istri dan anak - anaknya.
Mereka terkejut mengapa Wildan bisa membawa empat pria itu datang ke rumahnya.
"Ju.. juragan" ucap Ramlan merasa takut, malu dan merasa bersalah.
"Silahkan duduk Pak" ucap Wildan.
Pak Ramlan terkejut melihat Wildan dengan sangat tenang menghadapi empat orang pria yang sangat berpengaruh di kampung mereka.
Lima pria yang ada di hadapan mereka duduk di ruang tamu rumah Pak Ramlan.
"Ambil kursi lagi" perintah Bu Ratna pada putri - putrinya.
Retno dan Riska mengambil kursi di dapur dan membawanya ke depan untuk tempat duduk tamu mereka.
"Jadi begini Pak, kedatangan saya ke rumah ini membawa Bapak - bapak ini berhubungan dengan jawaban saya atas tawaran yang Bapak berikan kemarin kepada saya. Bapak mungkin kaget mengapa saya bisa membawa mereka semua datang ke sini. Sebelumnya saya mohon maaf kepada Bapak dan Ibu karena sudah lancang melakukan suatu tindakan tanpa izin kalian. Tadi malam saya menyuruh seseorang untuk mencari informasi tentang Pak Ramlan. Dan saya menemukan beberapa fakta. Bapak mempunyai hutang kepada empat orang rentenir di kampung ini. Bahkan saya juga tau kalau surat tanah rumah ini sudah digadaikan kepada salah seorang Bapak - Bapak ini " ungkap Wildan.
Wajah Pak Ramlan pucat pasi, dia tidak bisa bertingkah kasar ataupun mengeluarkan kata - kata kasar lagi kepada Wildan. Melihat empat orang yang berkuasa di kampungnya ini bisa ikut manut dengan Wildan dia merasa kalau Wildan bukanlah pria biasa.
Pasti ada sesuatu yang Wildan sembunyikan dan Wildan pegang sehingga empat pria yang paling Ramlan takuti di kampung ini terlihat takut kepada Wildan.
"Pada kesempatan ini saya akan membayar semua hutang - hutang keluarga Bapak. Saya dan para Bapak - Bapak ini sudah menghitung semua hutang - hutang Bapak dan jumlah keseluruhannya sekitar seratus tujuh puluh lima juta. Disini saya membawa seorang pengacara untuk mengurus semua pelunasan hutang - hutang Bapak. Sekalian surat tanah rumah ini nantinya juga akan dikembalikan kepada Bapak. Tapi maaf karena hutang Bapak sudah saya lunasi saya yang berhak atas surat tanah rumah ini. Surat tanah ini akan segera saya balik namakan atas nama Ratna yang nantinya akan menjadi istri saya. Saya sudah membayar biaya renovasi rumah, rencananya nanti di depan saya akan bangun ruko untuk Ibu membuka usaha. Saya juga sudah membeli sawah yang selama ini Ibu sewa untuk bersawah. Sekarang sawah itu sudah menjadi milik Ibu sendiri. Dan terakhir Bapak pengacara sudah membuat surat perjanjian untuk Bapak agar tidak melakukan kekerasan kepada Ibu dan adik - adik di rumah ini. Kalau Bapak melanggar isi surat perjanjian Bapak harus siap menjalani hukuman yang tertulis dalam surat perjanjian. Silahkan dibaca dulu Pak isi surat perjanjiannya" ungkap Wildan.
Bapak pengacara mengeluarkan beberapa lembar kertas dan memberikannya kepada Wildan. Wildan meneruskannya kepada Pak Ramlan.
Dengan tangan gemetar Pak Ramlan menerima dan membaca isi surat perjanjian yang telah dibuat oleh pengacara.
Mata Pak Ramlan terbelalak saat melihat jumlah angka yang Wildan berikan kepada keluarga. Total keseluruhannya hampir berjumlah satu milyar.
Pak Ramlan juga semakin berkeringat ketika membaca isi surat perjanjian yang dibuat di dalam surat itu. Di dalam surat tersebut dia dilarang untuk meminjam uang lagi kepada para rentenir. Bapak Pak Ramlan dan Rentenir yang berani melanggar surat perjanjian mereka akan mendapatkan hukuman penjara.
Jika ada satu saksi saja yang melihat atau melaporkan adanya terjadi kekerasan dalam rumah ini maka saat itu juga Pak Ramlan akan dibawa oleh polisi.
Pak Ramlan juga dilarang keras untuk minum - minuman keras lagi. Jika dia melanggarnya maka dia juga akan mendapatkan hukuman.
Pak Ramlan melirik ke arah Wildan. Saat ini Wildan terlihat berbeda dengan pria yang datang ke rumahnya kemarin. Aura penguasa dan intimidasi sangat dirasakan jelas oleh Wildan.
"Bagaimana Pak, apakah Bapak menerima surat perjanjian ini?" desak Wildan.
Pak Ramlan tampak sedang berpikir.
"Sebaiknya kamu terima saja perjanjian itu Ramlan. Aku tidak mau dipenjara gara - gara hutang - hutang kamu" ucap salah seorang pria yang dikenal sebagai rentenir.
"Benar dan harusnya kamu bersyukur anak muda ini mau melunasi semua hutang kamu. Sangat langka menemukan pria yang mau menikahi anak dari seorang pemabuk dan punya banyak hutang seperti kamu" sahut pria lainnya.
"Aku ingin masalah ini secepatnya selesai Ramlan. Sudah tanda tangani saja secepatnya agar kami bisa pergi dari rumah kamu" ucap pria satu lagi.
"Bagaimana Pak Ramlan?" tanya pengacara.
Wildan menatap dalam ke mata Ratna yang berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka. Air mata Ratna sudah berhasil lolos mengalir di pipinya.
Wildan tersenyum tulus menatap calon istrinya. Tatapan matanya memberi isyarat agar Ratna tenang dan tersenyum. Dia sudah berhasil menyelesaikan masalah dalam rumah tangga orang tua Ratna.
"Bagaimana Pak Ramlan?" tanya Wildan santun tapi sangat menusuk dan membuat takut Pak Ramlan.
"Ba.. baik saya setuju dengan isi surat perjanjian ini" jawab Pak Ramlan.
"Alhamdulillah syukurlah kalau Bapak bersedia" sambut Wildan.
Empat orang pria yang ada di hadapan Pak Ramlan juga sangat lega karena urusan mereka dengan Pak Ramlan sudah selesai. Mereka tidak ingin mendapat ancaman yang mengerikan dari Wildan.
Wildan sukses membuat empat orang pria itu ketakutan kepadanya. Apalagi saat pengacara tadi sempat mengatakan kepada mereka kalau Wildan adalah seorang pengusaha muda yang sukses di Jakarta.
Pengacara tersebut juga mengatakan kalau kekayaan Wildan sangat banyak dan akan dengan mudah memenjarakan empat orang rentenir itu yang sudah terbukti melakukan tindakan kejahatan dalam usahanya meminjam - minjamkan uang kepada warga kampung.
Pak Ramlan kemudian menanda tangani Surat Perjanjian yang telah di rancang oleh pengacara yang Wildan tunjuk.
"Ini cek pembayaran hutang - hutang Pak Ramlan. Dan saya minta surat tanah rumah ini Pak" pinta Wildan kepada salah seorang rentenir.
Pria yang menyimpan surat tanah rumah Pak Ramlan segera mengeluarkannya dari dalam tasnya.
"I.. ini Pak" jawab pria itu ketakutan.
Wildan memberikan surat tanah itu kepada Pengacara.
"Tolong urus Pak balik nama surat tanah ini atas nama calon istri saya Ratna" ucap Wildan.
"Baik Pak" jawab Pengacara.
"Kalau begitu apakah kami sudah bisa pergi?" tanya empat pria lainnya.
Urusan hutang piutang mereka dengan Pak Ramlan sudah selesai. Mereka tidak mau berlama-lama berada di rumah Pak Ramlan karena mereka takut kepada Wildan.
"Silahkan Pak urusan kita sudah selesai" jawab Wildan.
Empat orang pria itu segera bergegas keluar dari rumah Pak Ramlan.
"Maaf Ibu bisa kau Ibu duduk sebentar di sini?" pintar Pengacara kepada Ibunya Ratna.
"Bi.. bisa Pak" jawab Ibunya Ratna.
Ratna dan adik - adiknya juga duduk disamping Ratna dan Ibu mereka.
"Tolong semua tanda tangan dalam surat perjanjian ini. Karena ini sangat dibutuhkan untuk janji Pak Ramlan kepada keluarganya bahwa dia tidak akan melakukan kekerasan lagi pada kalian dan juga dia tidak akan mabuk - mabukan lagi" perintah Pengacara.
Ibunya Ratna dan adik - adiknya menandatangani surat perjanjian.
"Nah sekarang Bu Ratna tolong tanda tangani surat kuasa balik nama sertifikat rumah ini" ucap Pengacara.
"Tunggu sebentar" cegah Ratna.
Ratna menatap mata Wildan mencoba memohon sesuatu.
"Apakah kamu memang ingin memberikan surat tanah ini kepadaku?" tanya Ratna kepada Wildan.
"Ya tentu saja" jawab Wildan.
"Kalau begitu aku berhak kan melakukan apapun terhadap rumah ini?" tanya Ratna.
"Ya" sahut Wildan.
"Kalau bagitu aku ingin memberikan tanah beserta rumah ini kepada Ibu. Balik namakan saja atas nama Ibu. Aku ingin rumah ini diatas namakan kepada Ibu" pinta Ratna.
.
.
BERSAMBUNG