Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 250


Wildan dan Ratna keluar dari kamar mereka dengan membawa empat koper. Wildan meminta asisten rumah tangga Mamanya membawa koper - koper mereka ke dalam mobil Wildan.


"Kalian mau kemana?" tanya Mama Wildan terkejut.


"Mulai hari ini kami akan kembali ke apartement Ma. Kami akan mencoba hidup berdua saja" jawab Wildan


"Ada apa ini, mengapa kalian tiba - tiba pindah tanpa ada sebab musababnya?" tanya Mama Wildan tidak mengerti.


"Tanyakan saja pada Papa Ma. Kami pamit dulu ya Ma" ucap Wildan sambil mencium tangan Mamanya.


Begitu juga dengan Ratna yang mengikuti Wildan. Setelah mencium tangan Mamanya Wildan mencium tangan Papa nya sebagai tanda pamit perpisahan.


"Kalian gak makan dulu?" tanya Mama Wildan.


"Tidak usah Ma, kami bisa makan di apartement" jawab Wildan.


"Kami pergi dulu ya Ma, Pa" ujar Ratna sambil menundukkan kepalanya.


"Ayo yank kita pergi" ucap Wildan sambil menggenggam tangan Ratna dan mengajaknya pergi meninggalkan rumah orang tuanya.


Begitu Wildan dan Ratna pergi Bu Raharjo langsung bertanya pada suaminya.


"Ada apa ini semua Pa? Papa bisa jelaskan?" tanya Mama Wildan kepada suaminya.


"Aku ingin menyambung tali perjodohan dengan putri Sudibyo" jawab Papa Wildan.


"Apa? Yang benar saja Pa? Papa mau jodohin Wildan dengan Rania lagi setelah apa yang terjadi dengan pertunangan mereka dulu? Papa lupa bagaimana Rania mempermalukan kita semua? Semua orang sudah tau Pa masa lalu Rania seperti apa? Papa mau punya cucu dari Rania? Papa gak kasihan dengan cucu Papa kalau sudah besar dia akan di cemooh dan di ejek orang karena Mamanya pernah di tonton orang menjalin cinta di Hotel dengan seorang pria tanpa ikatan pernikahan?" tanya Mama Wildan.


"Tapi Rania sekarang sudah berubah Ma, dia sudah menjadi wanita solehah" jawab Papa Wildan.


"Wanita solehah seperti apa dia. Teman menusuk dari balakang. Selama ini dia berhubungan baik dengan Ratna, eh bisa - bisanya di dalam hati masih tersimpan keinginan untuk merebut Wildan dari Ratna" ujar Mama Wildan kesal.


"Awalnya Rania menolak Ma tapi Papa dan Sudibyo memaksa. Lagian dengan keadaan Rania seperti ini mana ada laki - laki lajang yang mau menerima dia Ma. Mengingat masa lalunya seperti itu makanya dia rela menjadi istri kedua Wildan" bela Papa Wildan.


"Mama tetap gak setuju, mau Rania berubah jadi satria baja hitam juga Mama tidak mau punya menantu seperti dia. Mama ngerasain apa yang Ratna rasakan Pa. Mungkin Mama lebih beruntung karena Allah masih berikan Wildan dalam rumah tangga kita. Mungkin kalau Mama tidak hamil - hamil Papa akan menikah lagi dan menduakan Mama" ucap Bu Raharjo kesal.


"Mama kok ngomong begitu?" tanya Pak Raharjo yang tidak senang dituduh seperti itu oleh istrinya.


"Ya iya buktinya Wildan Papa suruh nikah lagi. Ini masih soal cucu Pa, kalau soal anak pasti Papa akan bertindak duluan. Sabar aja dulu baru juga dua tahun. Kalau seperti ini ceritanya Mama setuju mereka pindah. Biarkan saja mereka jalani rumah tangga mereka sesuai keinginan mereka. Biar tidak ada beban dari pada tinggal sama kita Papa desak - desak Wildan nikah lagi. Mama juga gak habis pikir sama Papa tega - teganya Papa nyakitin hati Ratna dan keluarganya. Apa coba yang dipikirkan orang tua Ratna kalau mereka tau Papa memaksa Wildan menikah lagi. Mereka akan terluka untuk yang kedua kalinya. Papa lupa bagaimana dulu kita sudah menyakiti perasaan Bapaknya Ratna? Papa lupa bagaimana hancurnya Wildan saat Ratna harus memutuskan hubungan mereka dulu. Papa mau kejadian itu terulang lagi?" amuk Mama Wildan semakin marah.


"Papa gak menyuruh mereka pisah Ma" elak Pak Raharjo.


"Ah terserah Papa mau bilang apa untuk membela diri. Mama gak mau bicara sama Papa lagi. Mama marah sama Papa" Bu Raharjo langsung meninggalkan meja makan dan pergi menenangkan pikirannya.


"Hari ini kita libur ya, kita pergi berbelanja membeli kebutuhan dapur dan kebutuhan kita sehari - hari. Sore aku sudah daftar, kita akan ke Dokter kandungan" ujar Wildan.


Ratna lebih banyak diam. Selama suaminya masih menunjukkan sikap perhatian dan membela juga mempertahankan rumah tangga mereka Ratna akan mengikuti apapun keputusan Wildan.


Ratna menarik nafas panjang.


"Aku sudah memikirkan semuanya Mas, mungkin aku akan bekerja sebagai sekretaris Mas selama satu minggu ini. Mas cari sekretaris baru ya, senin depan aku akan berhenti" ujar Ratna.


Wildan menatap wajah istrinya dengan serius.


"Kamu serius sayang? Bukannya dulu kamu meminta agar kamu tetap bekerja setelah kita menikah. Aku tidak mau kamu terbebani dengan keadaan ini?" tanya Wildan.


"Dulu kan aku berpikir untuk membiayai kuliah adik - adikku. Sekarang Bapak kan sudah bekerja, jualan Ibu juga semakin maju. Sawah mereka juga sudah lebih luas sekarang. Aku rasa itu sangat cukup untuk menyekolahkan adik - adikku sampai perguruan tinggi. Sudah saatnya aku fokus pada rumah tangga kita. Mungkin ini juga teguran dari Allah untukku Mas, aku belum full melayani Mas sebagai seorang istri. Harusnya kan seorang istri tinggal di rumah mengurus rumah dan menunggu suaminya pulang kerja. Lagian mungkin benar apa yang Cinta dan Bik Sumi katakan. Aku tidak boleh terlalu lelah dan banyak pikiran" ungkap Ratna.


Wildan menggenggam erat tangan istrinya.


"Aku tidak memaksa kamu untuk mengambil keputusan seperti ini. Tapi kalau kamu sudah memikirkan dan memutuskannya, apapun itu aku akan mendukungnya. Hanya saja aku takut kamu akan bosan jika sendirian di apartement tanpa ada kerjaan" ujar Wildan.


"Aku akan cari kesibukan lain di rumah. Mungkin aku bisa belajar memasak" jawab Ratna.


Wildan menarik nafas panjang.


"Baiklah kalau itu keputusan kamu. Ya sudah siap - siap, kita akan pergi berbelanja" akal Wildan.


Usai sarapan pagi mereka kembali keluar menuju supermarket membeli semua perlengkapan sehari - hari mereka di apartement. Ratna membeli banyak bahan makanan.


Dia sudah bertekad setelah berhenti bekerja dia akan lebih serius belajar masak. Ratna akan mencoba menikmati hidupnya sebagai ibu rumah tangga. Walau hal ini tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.


Sejak sekolah dia selalu bercita-cita menjadi wanita karir untuk membantu kehidupan keluarganya. Bahkan keinginannya ini adalah syarat dia mau menikah dengan Wildan.


Ratna ingin menjalani kehidupan yang baru. Pindah dari rumah mertua dia ingin jalani hidup rumah tangga yang baru. Dia ingin fokus pada Wildan dan dirinya.


Karena Ratna merasa rumah tangganya sudah mode siaga, karena sudah ada ancaman - ancaman yang datang dari mertuanya. Ratna akan berjuang untuk mencapai semua yang dia inginkan dan cita - citakan. Apalagi menyangkut masa depan rumah tangganya semua akan dia lakukan tentunya bersama - sama dengan Wildan.


.


.


BERSAMBUNG