
"Rania apa kamu sudah membeli oleh - oleh untuk Mr. Smithson?" tanya Wildan mengingatkan.
"Sudah Pak" jawab Rania.
"Antarkan sore ini juga. Besok pagi Mr. Smithson akan berangkat dengan penerbangan yang pertama. Aku tidak mau dia pulang ke negaranya tanpa ada membawa buah tangan dari Indonesia" perintah Wildan.
"Baik Pak" jawab Rania tanpa semangat.
Sikap Rania ini sudah diperhatikan Wildan sejak awal. Dia memang sedang merencanakan sesuatu terhadap Rania.
Rania segera meraih tas kerjanya dan turun ke basement menuju mobilnya untuk mengantarkan buah tangan dari PT. Raharjo Group untuk rekan bisnis mereka. Dan yang mengantarkannya adalah sekretaris CEO langsung.
Lima menit berselang setelah kepergian Rania, Wildan keluar dari ruangannya.
"Ratna jadwal ulang kegiatan aku sore ini. Aku mau pergi ada keperluan penting" perintah Wildan.
"Baik Pak" jawab Ratna.
Wildan langsung pergi meninggalkan Ratna yang masih terus menatap kepergiannya. Wildan turun ke basement dan masuk ke mobilnya lalu pergi keluar kantor.
Satu jam kemudian Rania sudah sampai di Hotel tempat Mr. Smithson menginap. Mereka janjian di Restoran untuk bertemu.
"Hai honey.. akhirnya kamu datang juga. Aku sudah menunggu kedatangan kamu dari tadi" sambut Mr. Smithson penuh semangat.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan honey Smith, hubungan kita sudah berakhir sejak lama" bantah Rania.
"Kamu yang memutuskan secara sepihak aku tidak bisa menerimanya. Kamu masih berhutang sesuatu padaku honey. Ayo come on.. aku sangat merindukan kamu" bujuk Mr. Smithson.
"Aku sudah tidak membutuhkan kamu lagi Smith" gumam Rania.
"Kamu curang Ran, kamu hanya memanfaatkan aku. Aku tulus mencintai kamu" ujar Mr. Smithson.
Ya jelas Wildan lebih tampan dari kamu dan aku sudah mencintainya. Aku bosan dengan kamu Smith. Batin Rania.
Rania menarik nafas panjang.
"Baiklah aku akan melakukannya terakhir untuk kamu. Anggaplah sebagai salam perpisahan. Setelah itu aku tidak mau berkenalan dengan kamu lagi" ujar Rania akhirnya.
Tanpa Rania dan Mr. Smithson sadari ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan berbinar.
Mr. Smithson mengeluarkan senyuman bahagianya dia langsung merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan Rania. Rania membalas pelukan Mr. Smithson. Mereka berjalan menuju lift lalu naik ke lantai atas dimana kamar Smithson berada.
Seseorang yang memantau mereka dari kejauhan kini mengikuti mereka dari belakang.
Cekrek.. cekreeeek..
Orang tersebut tersenyum karena sudah mendapatkan beberapa foto Rania dengan Mr. Smithson.
Rania masuk ke dalam kamar Mr. Smithson, entah apa yang akan mereka lakukan di dalam. Hanya mereka berdua yang tau, eh tidak pasti tentunya seseorang yang mengikuti mereka dari belakang bisa menebak apa yang mereka lakukan di dalam kamar.
Satu jam kemudian Rania keluar dari kamar Mr. Smithson dengan rambut basah, make up tebal dan lipstik yang baru di poles. Rania tampak seperti baru selesai mandi.
Cekrek.. Cekreeeek...
Lagi - lagi seseorang yang mengikuti Rania mengambil foto Rania.
Tamatlah sudah riwayat kamu Rania. Ucap orang tersebut sambil tersenyum menang.
****
Wildan sudah sampai di rumah orang tuanya.
"Mamaaaaa" Wildan memeluk Mamanya dari belakang.
"Sayang kamu kok gak bilang mau datang. Kamu datang sama siapa? Mana Ratna?" tanya Bu Raharjo.
"Ratna ya di apartementnya donk Ma, masak aku bawa - bawa" jawab Wildan.
Wildan duduk di samping Mamanya.
"Ya siapa tau pulang kerja kamu ajak ke sini. Mama kan mau ajak dia masak di dapur" ujar Bu Raharjo.
Wildan tersenyum penuh arti, dia sangat senang mendengar Mamanya berkata saperti itu.
"Mama yang sabar ya, sebentar lagi impian Mama akan segera terlaksana. Do'ain aja rencana Wil berjalan dengan lancar" sahut Wildan.
Bu Raharjo tersenyum penuh kasih sayang kepada putra semata wayangnya.
"Papa mana Ma?" tanya Wildan sambil mencari sosok Papanya di rumah orang tuanya.
"Papa kamu lagi main golf tadi sama Papanya Rania" jawab Bu Raharjo.
"Seru apanya?" tanya Bu Raharjo penasaran.
"Ada deeeeh.. nanti juga Mama akan tau" jawab Wildan.
Bu Raharjo bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur tak lama kemudian dia datang lagi sambil membawa sepiring pusing.
"Nih makan, tadi Mama buat puding" ucap Bu Raharjo.
"Waaah enak nih" Wildan langsung menyantap hidangan yang disajikan Mamanya.
"Kamu rupanya yang datang. Gimana kerja sama dengan Mr. Smithson?" tanya Pak Raharjo yang baru pulang dari main Golf.
"Baik, semua lancar. Dia setuju menjalan kerjasama dengan perusahaan kita" jawab Wildan.
Wildan berdiri dan mencium tangan Pak Raharjo dengan santun. Pak Raharjo duduk diantara anak dan istrinya.
"Makan apa kamu?" tanya Pak Raharjo.
"Puding Pa, Papa mau" jawab Bu Raharjo.
"Mau donk Ma" sahut Pak Raharjo.
"Tunggu sebentar ya" ujar Bu Raharjo.
Bu Raharjo kembali ke dapur dan mengambilkan puding untuk suaminya. Kemudian dia menghidangkan nya untuk suami tercinta.
"Makasih sayang" ucap Pak Raharjo.
Pak Raharjo mulai mencicipi dessert yang dibuat oleh istrinya.
"Papa tadi sudah bicara sama Papanya Rania. Rencananya pertunangan kalian akan dipercepat bulan depan" ucap Pak Raharjo.
Sontak Wildan dan Mamanya terkejut mendengar ucapan Pak Raharjo.
"Papa kok mutusin sendiri sih Pa, tanpa bertanya pada Wildan dulu?" protes Wildan tak suka.
"Iya Pa, Mama juga gak setuju Pa" dukung Bu Raharjo.
"Ini demi kebaikan kalian berdua" jawab Pak Raharjo.
"Kebaikan kami berdua atau karena rencana Papa dan Papanya Rania yang ingin menyatukan dua perusahaan? Aku gak mau menikah karena sebuah kesepakatan bisnis" tolak Wildan dengan tegas.
"Pa pikirkan kebahagian Wildan. Dia gak suka sama Rania Pa" sambung Bu Raharjo.
"Rasa suka dan cinta bisa tumbuh seiring sejalannya waktu Wil" ujar Pak Raharjo.
"Papa mau punya menantu yang hidup bebas dengan pria manapun?" tanya Wildan.
"Apa maksud kamu? Rania bukan wanita seperti itu?" tanya Pak Raharjo dengan nada tidak suka.
"Pa Rania itu punya hubungan dengan Mr. Smithson" jawab Wildan.
"Jangan asal nuduh Wil bisa fitnah jadinya" protes Papa Wildan.
"Aku gak fitnah Pa, ini fakta. Aku melihat dengan kepalaku sendiri Mr. Smithson menggenggam erat tangan Rania saat kami rapat" jawab Wildan.
"Itu biasa Wil, mungkin Mr. Smithson mengagumi Rania" ujar Pak Raharjo tidak percaya.
"Tidak Pa, naluriku sebagai laki - laki mengatakan kalau hubungan mereka lebih dari sebatas mengagumi. Aku akan buktikan pada Papa bahwa ucapanku ini benar" jawab Wildan.
"Silahkan kamu memang harus membuktikan ucapan kamu. Pria yang terhormat itu adalah pria yang bisa dipegang kata - katanya" tegas Pak Raharjo
"Baik Pa, pegang kata - kataku. Aku akan memberikan bukti kepada Papa bahwa semua ucapanku ini benar adanya. Dan kalau hal itu terjadi, Papa harus segera membatalkan perjodohan aku dan Rania" pinta Wildan.
Pak Raharjo menarik nafas panjang.
"Baik, Papa yang akan membatalkan perjodohan ini. Papa akan bicara langsung pada Papanya Rania kalau Papa ingin mendapatkan menantu yang terhormat" ujar Papa Wildan dengan tegas.
.
.
BERSAMBUNG
Pagi readers.. sebenarnya kemarin aku tu pengen up 3bab tapi karena review dan baru lulus malam hari. Makanya uploadnya jadi langsung 2 bab barengan. Akhirnya 1 babnya aku simpan untuk pagi ini.
Semoga kalian suka ya, happy weekend. Jangan lupa like, vote dan hadiahnya. komentar yang membangun dari kalian juga selalu jadi penyemangatku.
I luv u all