
Beberapa hari kemudian di PT. Raharjo Group.
"Aku mengundurkan diri dari Perusahaan ini" ucap Rania sambil melemparkan surat pengunduran dirinya di hadapan Wildan.
"Kamu gak bisa bersikap sopan sedikit?" tanya Wildan tidak senang.
"Kamu kan yang merencanakan semua ini?" tanya Rania marah.
"Tidak" jawab Wildan tegas.
"Kamu sengaja menyuruh aku datang ke hotel" tuduh Rania.
"Kalau itu memang iya, apa aku salah menyuruh kamu ke sana untuk mengantarkan oleh - oleh buat Mr. Smithson? Mr. Smithson adalah teman kuliah kamu, bukan kah lebih baik kamu yang antar?" tanya Wildan.
Rania mendengus kesal kepada Wildan.
"Harusnya aku yang marah kepada kamu. Kalau saja aku tidak melihat video itu mungkin saat ini kita sudah tunangan. Dan aku tidak tau kalau ternyata tunanganku bermain di belakangku" ucap Wildan dengan nada dingin.
"Cih kamu seperti pria yang bersih saja. Ayolah Wil aku tau sepak terjang kamu" ujar Rania.
"Itu dulu Ran tapi sudah lama sekali aku tinggalkan. Walau aku memang pria brengsek dulu tapi untuk urusan masa depan aku tidak akan main - main. Aku tidak ingin ibu dari anak - anakku adalah wanita yang suka selingkuh dan hidup bebas" sambut Wildan.
"Tapi kamu mempermainkan aku Wil, kamu sudah membuat malu keluargaku" tuduh Rania.
Wildan menatap geram kepada Rania.
"Yang membuat malu keluarga kamu itu ya kamu sendiri. Makanya kalau mau melakukan sesuatu itu mikir dulu, jangan seenaknya sendiri. Kalau sudah begini mau diapain lagi. Ya terima akibatnya" jawab Wildan.
"Kamu memang menjebakku kan Wil. Aku mencintai kamu Wil, aku dan Smith hanya punya hutang makanya aku melakukan hal itu" ungkap Rania.
"Hutang apa? Hutang yang dibayar dengan tidur di ranjang? Kamu kan anak orang kaya Ran, aku yakin Papa kamu bisa membayar hutang kamu. Asal kamu tau sejak awal aku memang tidak setuju dengan perjodohan kita. Tapi karena permintaan orang tua aku coba jalani. Syukurlah kamu yang membuka aib kamu sendiri hingga pertunangan kita batal. Aku berterimakasih kepada kamu" sambut Wildan.
"Aku tidak bisa terima ini Wil, lihatlah kamu akan dapatkan balasannya" ancam Rania.
"Kamu mau melakukan apa? Aku tidak takut" tegas Wildan.
Rania dengan kesal segera meninggalkan ruangan kerja Wildan. Begitu dia keluar dari pintu Rania langsung melihat Ratna sedang duduk di meja kerjanya.
Dengan kesalnya Rania menghampiri Ratna. Ratna berpura - pura tidak menanggapi dan memilih cuek. Karena itu permintaan Wildan dan orang tua Wildan.
"Sekarang kamu senang?" tanya Rania.
"Maaf Mbak saya gak mengerti apa yang Mbak tanyakan?" jawab Ratna.
"Kamu gak perlu pura - pura. Aku tau kamu tertarik dengan Wildan. Kamu pasti sangat senang kan pertunangan kami batal?" tanya Rania.
"Aku tidak ikut campur dalam masalah kalian. Aku tidak tau apa - apa" jawab Ratna.
"Cih gadis kampung berharap jadi istri seorang CEO" umpat Rania.
Ratna berusaha menahan emosinya. Dia sibuk melanjutkan pekerjaannya dan mengabaikan Rania.
"Ingat ya, kalau aku tidak bisa mendapatkan Wildan kamu juga tidak bisa. Jangan berharap ketinggian gadis kampung. Segeralah bangun jangan terlena mimpi manis" ejek Rania.
Ceklek... pintu ruangan Wildan terbuka.
"Ngapain kamu masih di sini? Katanya tadi mau pergi? Jangan mengganggu sekretarisku. Dia harus menyiapkan pekerjaannya tepat waktu" usir Wildan.
Rania berbalik badan dan menatap tajam ke arah Wildan.
"Ratna ke ruangan saya sebentar" perintah Wildan.
"Baik Pak" jawab Ratna.
Ratna segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam ruangan CEO Perusahaannya.
Di dalam ruangan kerja Wildan.
"Apa yang Rania katakan pada kamu? Apa dia menyakiti kamu?" tanya Wildan dengan lembut.
"Nggak Mas, dia hanya mengeluarkan kekesalannya saja karena pertunangan kalian batal" jawab Ratna.
"Kalau dia mengancam kamu kasih tau aku" ujar Wildan.
"Iya Mas" jawab Ratna.
"Gak ada Mas" jawab Ratna.
Wildan menatap wajah Ratna mencoba mencari kebenaran tapi Ratna terlihat memang tidak berbohong.
"Hati - hati pada Rania, apalagi sepertinya dia tidak terima dengan semua yang terjadi malam itu" ungkap Wildan.
"Iya Mas" jawab Ratna.
****
Hari ini Melodi bersama Cinta, Bik Sumi dan Pak Ilham sedang dalam perjalanan menuju Kota Cirebon. Di belakang mereka ada mobil Wildan yang pergi bersama Ratna.
Besok Pak Ilham dan Bik Sumi akan menikah. Surya, Amel dan anak Bik Sumi sudah mempersiapkan semuanya di kampung.
Rumah Melodi di kampung sudah selesai. Surya mengerahkan banyak tukang bangunan agar rumah Melodi segera selesai.
Sesampainya di kampung Bik Sumi menginap di rumahnya yang ditempati Amel dan Surya. Ratna juga menhinap di sana karena rumah Melodi di kampung tidah punya banyak kamar.
Pak Ilham, Wildan dan Ratna menginap di rumah Wildan dan Cinta. Mereka sampai si kampung sekitar jam sepuluh malam. Karena malam semakin larut mereka langsung istirahat.
Esok paginya Pak Ilham, Melodi dan Wildan shalat subuh ke Mesjid. Mereka shalat di Mesjid kampung.
"Enak banget ya tinggal di sini" ucap Pak Ilham saat mereka pulang dari Mesjid.
Melodi tersenyum menanggapi ucapan Pak Ilham.
"Makanya saya bangun rumah di sini Pak. Saya suka suasana di sini" sambut Melodi.
Sesampainya di rumah ternyata Cinta dan Ratna sudah memasak sarapan untuk mereka. Usai shalat subuh Ratna datang ke rumah Cinta dan membantunya memasak. Mereka memasak masakan yang simple, tahu goreng, tempe goreng, ikan goreng, lalapan dan sambel.
"Heeem.. wangi sekali sayang" ucap Melodi.
"Kok lama Mas pulang dari Mesjidnya?" tanya Cinta.
"Tadi bawa Pak Ilham jalan - jalan keliling kampung" jawab Melodi sambil memeluk Cinta.
"Makan dulu yuk" ajak Cinta.
Mereka berlima duduk di depan meja makan dan mulai menikmati masakan Cinta dan Ratna. Usai sarapan pagi semuanya bersiap untuk menghadiri acara akad nikah Pak Ilham.
Pak Ilham keluar dari kamarnya dengan memakai baju koko putih. Wajahnya tampak sangat tenang dan teduh. Dia terlihat semakin tampan dengan pakaian seperti itu.
"Sudah siap Pak?" tanya Melodi.
"Sudah Den" jawab Pak Ilham.
Mereka berangkat menuju rumah Bik Sumi. Di sana sudah ramai oleh pada tetangga dan keluarga Bik Sumi. Kadi nikah juga sudah sampai di sana.
Tepat jam sembilan pagi acara akad nikah Pak Ilham dimulai. Dengan lantang Pak Ilham mengucapkan ijab kabulnya.
"Bagaimana saksi?" tanya Kadi nikah.
"Sah" jawab Surya dan Melodi yang menjadi saksi pernikahan Pak Ilham dan Bik Sumi.
"Barakallahu" sambut yang lainnya.
"Alhamdulillah" ucap Pak Ilham dan Bik Sumi lega.
Pak Ilham membacakan Surah Ar-Rahman sebagai mahar pernikahan mereka. Suara Pak Ilham sangat merdu terdengar. Bik Sumi sampai meneteskan air mata.
Setelah selesai membaca surah itu Bik Sumi mencium tangan Pak Ilham dengan takjim. Kini mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri. Pak Ilham mencium lembut kening Bik Sumi.
.
.
BERSAMBUNG