Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 134


Tiga hari menjelang pesta resepsi pernikahan Cinta dan Melodi.


Melodi sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan dia dikantor karena rencananya setelah pesta selesai dia akan mengambil cuti. Dia ingin menikmati liburan di rumah barunya bersama keluarganya. Menikmati kehidupan yang sekarang rasanya jauh lebih tenang.


Wildan juga tak kalah lebih sibuk dari Melodi. Setelah Melodi cuti dan kembali bekerja, dia akan meninggalkan perusahaan Melodi dan kembali mengurus perusahaan oreng tuanya.


Tapi satu yang masih membuat Wildan kepikiran, sampai saat ini Ratna belum memutuskan untuk ikut dengan Wildan pindah ke Perusahaan keluarga Wildan.


Sebenarnya Wildan ingin sekali menanyakannya kepad Ratna tapi akhir - akhir ini dia sangat sibuk sekali, selalu pulang larut malam dan kalau pagi dia jadi telat datang ke kantor. Sehingga tak sempat bertemu Ratna saat berangkat kerja.


Rencananya hari ini dia akan meluangkan waktu untuk bertemu dengan Ratna dan bertanya. Wildan segera mempercepat kerjanya agar segera selesai dan dia bisa pulang.


Sekitar jam enam sore Wildan sudah sampai di apartementnya. Saat dia masuk ternyata Ratna sedang asik memasak di dapur.


"Lho Bapak udah pulang? tumben cepat pulang? Biasanya sampai larut malam?" tanya Ratna terkejut.


"Ada yang ingin aku selesaikan. Kamu sudah shalat maghrib?" tanya Wildan.


"Ini baru mau pulang ke apartement saya dan shalat" jawab Ratna.


"Ya sudah shalat dulu, aku juga mau shalat. Setelah itu balik ke sini lagi, kita makan bareng. Udah lama banget kita gak makan bareng" perintah Wildan.


"I.. iya Pak" jawab Ratna.


Ratna kembali ke apartementnya. Setengah jam kemudian dia sudah kembali ke apartement Wildan dan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


Wildan keluar dari kamarnya dengan penampilan yang lebih fresh. Dia sudah mandi dan memakai baju santai.


"Kamu masak apa?" tanya Wildan.


"Sup dan sambel cumi aja Pak" jawab Ratna.


"Tidak apa, itu aja udah enak banget" sahut Wildan


Wildan duduk di depan meja makan dan mengisi piringnya dengan makanan yang dimasak Ratna. Dia mulai menyantap hidangan tersebut dengan antusias.


"Laper banget sepertinya Pak" ujar Ratna yang dari tadi memperhatikan sikap Wildan.


"Iya aku belum makan dari siang" jawab Wildan.


"Buseeet... kalau kerja seperti itu bisa langsung koit Pak" ujar Ratna.


"Husss.. do'ain yang baik - baik aja. Masak do'ain aku mati cepat. Aku sibuk banget siapin kerjaan aku. Bantuin kerjaan Melodi karena dia mau cuti. Urus persiapan pesta resepsi mereka yang udah tinggal beberapa hari lagi" ungkap Wildan.


"Ooo" sahut Ratna.


Ratna mulai menyendok makanan ke dalam mulutnya.


"Rat gimana tawaran aku kemarin? Kamu belum kasih jawaban. Kamu mau kan bantuin aku di Perusahaan Papaku Aku janji deh akan gaji kamu dua kali lipat dari gaji kamu di Sanjaya Corp" tanya Wildan.


"Uhuk... uhuk... " Ratna batuk karena tersedak.


"Hei.. hei.. pelan - pelan" tegur Wildan khawatir.


Wildan menyodorkan gelas kepada Ratna dan Ratna segera menyambutnya.


Setelah Ratna tenang Wildan kembali bertanya.


"Aku gak mau dengar alasan. Saat ini juga kamu harus menjawab tawaran aku. Apa coba yang buat kamu menolak tawaran aku. Gaji lebih tinggi, jabatan lebih bagus, Cinta juga udah gak kerja lagi jadi gak ada alasan karena Cinta dan Cinta?" desak Wildan.


"Saya udah punya jawabannya kok Pak" jawab Ratna.


"Jangan ditolak ya.. aku gak mau dengar penolakan" Wildan menutup kedua telinganya.


Ratna tersenyum karena lucu melihat tingkah Wildan.


"Aku akan ikut dengan Bapak" jawab Ratna akhirnya.


"Yaaaah tega banget kamu Rat. Eh apa? tadi kami jawab apa?" tanya Wildan tersadar.


Wildan langsung memajukan tubuhnya merapat ke meja agar bisa lebih dekat melihat Ratna.


"Aku ikut Bapak ke Perusahaan baru" ulang Ratna.


"Nah gitu donk, kamu mau tanda tangan perjanjian kita" pinta Wildan.


"Perjanjian Pak?" tanya Ratna bingung.


"Gak usah Pak, gak perlu. Saya percaya kok. Kalau Bapak bohong saya cukup lapor pada Cinta biar Bapak di sikat sama Pak Melodi" ujar Ratna.


"Hahaha.. kamu pakai deking ya" sambut Wildan tertawa.


"Saya kan harus cari aman Pak" ujar Ratna polos.


"Ya.. ya.. ya.. hahaha" sahut Wildan.


Mereka selesai makan, Ratna langsung membersihkan area dapur apartement Wildan. Sedangkan Wildan masih asik memperhatikan kegiatan Ratna tersebut.


Wildan tersenyum penuh arti, membayangkan tentang masa depan mereka.


Mungkin dulu seperti ini yang Melodi rasakan setiap kali melihat Cinta bekerja di dapurnya. Aaaakh.. akhirnya aku bisa merasakannya juga. Dimasa yang akan datang aku akan sering melihat pemandangan seperti ini. Batin Wildan.


Ratna merasa risih karena diperhatikan Wildan saat dia bekerja.


"Bapak kenapa senyum - senyum?" tanya Ratna.


"Aku hanya membayangkan sesuatu untuk masa depanku" jawab Wildan.


"Ooo.. " sahut Ratna bingung.


Dia tak ingin bertanya lebih lanjut mengenai kehidupan pribadi Wildan. Cukup seperti ini saja, Ratna tidak mau perasaannya terjebak keadaan.


Untuk menjaga hatinya agar tidak menyukai Wildan saja dia sudah sangat kesulitan. Ratna takut dia akan menelan pil pahit kekecewaan.


Jauh dilubuk hatinya berharap kelak hidupnya akan sama beruntungnya seperti Cinta. Tapi dia tahu diri, lebih baik tidak berharap dari pada kecewa. Karena semakin besar harapan kita, akan lebih menyakitkan jika akhirnya harus kecewa.


"Nanti kalau saya sudah mulai bekerja di Perusahaan Papa saya, saya akan bawa kamu untuk menghadap Papa saya" ucap Wildan.


Sontak Ratna terkejut, nyalinya langsung menciut.


"A.. apa saya akan melewati ujian masuk lagi Pak?" tanya Ratna polos.


"Ya nggak, kamu kan emang saya yang pilih pasti Papa mengerti alasan saya membawa kamu. Tentu kerja kamu memang sudah baik makanya saya bawa. Saya hanya ingin mengenalkan kamu" jawab Wildan.


Sebagai calon istri saya, kelak akan menjadi ibu dari anak - anak saya. Sambung Wildan dalam hati.


Ratna menarik nafas panjang. Pekerjaannya akhirnya selesai.


"Baiklah Pak, pekerjaan saya sudah selesai" ujar Ratna.


"Kamu mau kembali?" tanya Wildan.


"Ya tentu saja Pak, untuk apa saya berlama - lama di sini. Bapak mau kerja lagi kan? Bukannya saat pulang tadi Bapak bilang ada yang harus Bapak selesaikan?" Ratna balik bertanya.


"Sebenarnya sudah selesai" jawab Wildan.


"Ha... cepat banget Pak?" tanya Ratna bingung.


Perasaan tadi dia cuma meninggalkan Wildan hanya sekitar tiga puluh menit untuk shalat di apartementnya. Apa cukup waktu segitu dipakai untuk bekerja, mandi dan shalat? tanya Ratna dalam hati.


Wildan hanya tersebut melihat wajah lucu Ratna.


"Sebelum kamu pulang buatkan aku kopi untuk menemaniku di ruangan kerja nanti" perintah Wildan.


"Ba.. baik Pak" jawab Ratna.


Ratna semakin bingung dengan sikap Wildan. Bukannya barusan dia bilang pekerjaannya sudah selesai? tapi mengapa sekarang dia mau minta kopi untuk menemaninya bekerja?


Ah orang kaya memang membingungkan. Batin Ratna.


Hahaha.. kamu pasti bingung kan? Padahal aku hanya berusaha ingin menahan kamu lebih lama lagi di sini. Melihat kamu disini, didapur ini seperti ini membuat hatiku sangat nyaman. Aku merasa sebentar lagi mas depan yang aku impikan akan segera tercapai. Batin Wildan.


.


.


BERSAMBUNG


Hai Readers tercinta.. gimana pagi kalian hari ini? Aku harap semuanya semangat ya.


Aku juga semangat pagi ini. Tapi akan lebih semangat lagi jika kalian mau memberikan like, vote, hadiah dan komentar kalian.


Terimakasih 🥰🥰