Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 248


"Papa" ucap Ratna saat dia terkejut melihat mertuanya datang ke kantor.


"Wildan ada di dalam kan?" tanya Pak Raharjo.


"Ada Pa, silahkan masuk Pa" jawab Ratna.


Ratna langsung membukakan pintu ruangan Wildan untuk mertuanya. Pak Raharjo masuk ke dalam ruangan Wildan.


"Papa mau minum apa?" tanya Ratna sopan.


"Kopi saja Ratna, tapi gulanya sedikit ya" pinta Pak Raharjo.


"Iya Pa" jawab Ratna.


Wildan merasa aneh Papanya datang ke kantor. Kalau memang ada urusan kantor yang akan dibicarakan biasanya mereka akan bicara di ruangan kerja Wildan di rumah bukan di kantor.


"Tumben Papa datang ke kantor?" tanya Wildan.


Pak Raharjo duduk di sofa tanpa dipersilahkan. Ruangan ini dulunya adalah miliknya sebelum dia menyerahkan kepemimpinan Perusahaan ini di tangan Wildan.


"Papa baru saja bertemu Sudibyo di Perusahaannya" jawab Pak Raharjo.


Dua tahun sudah perusahaan Pak Sudibyo menjadi anak perusahaan PT. Raharjo Group. Satu tahun terakhir Perusahaan itu berhasil di pimpin Rania. Rania benar - benar sudah berubah dan menunjukkan prestasinya.


Akhirnya Pak Sudibyo dan istrinya memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan kembali ke rumah mereka. Perusahaan mereka akhirnya dikembalikan kepada Rania sebagai Direkturnya.


Kini semua sudah kembali ke asalnya. Perusahaan Pak Sudibyo kini kembali berdiri sendiri di bawah kepemimpinan Rania Sudibyo sebagai penerus keluarga.


"Ya itu baik, menjalin silaturahmi sesama sahabat lama" ujar Wildan.


"Yah itu juga yang kami bicarakan. Kami ingin kembali menjalin silaturahmi yang sudah sempat terputus" ungkap Pak Raharjo.


Kening Wildan mengkerut mendengar ucapan Papanya. Entah mengapa perasaannya tiba - tiba gak enak mendengar ucapan Papanya.


"Apa maksud Papa?" tanya Wildan.


"Kami sepakat untuk menyambung tali perjodohan kamu dan Rania. Sudibyo mau menerima Rania jadi istri kedua kamu. Kamu tak perlu menceraikan Ratna. Sudibyo sadar kalau masa lalu Rania juga tidak baik tapi kami sama - sama berharap pernikahan kalian nanti akan menghasilkan keturunan dan penerus keluarga kita" ungkap Pak Raharjo.


Tanpa sadar Wildan memukul meja karena marah mendengar ucapan Wildan. Ratna sampai terkejut mendengar ada keributan di ruangan kerja suaminya.


Ratna mendekat dan mencoba mendengarkan apa yang terjadi di dalam sana. Dia sangat cemas, apakah suami dan mertuanya bertengkar tapi apa sebabnya?


"Pa sudah berapa kali aku katakan aku tidak mau menduakan Ratna. Hanya Ratna satu - satunya istriku tidak ada yang lain termasuk Rania. Sejak dulu aku tidak pernah mencintainya Pa" ucap Wildan kesal.


Mata Ratna terbelalak setelah mendengar ucapan Wildan.


A.. apa, Papa ingin menikahkan Mas Wildan dengan Rania? tanya Ratna dalam hati.


"Tapi Rania sudah sangat berubah Wil, dia sudah tumbuh menjadi wanita yang solehah. Dia sadar kalau dia tidak suci lagi makanya dia juga setuju menjadi istri kedua kamu. Papa lihat dia juga dan Ratna berhubungan baik. Papa rasa tidak akan sulit untuk mereka berbagi hati, berbagi kamu" sahut Pak Raharjo.


Air mata Ratna jatuh perlahan dan semakin deras. Dia sangat tidak menyangka Rania akan menusuknya dari belakang. Selama ini dia memang berhubungan baik dengan Rania.


Mereka sering ikut kajian agama bersama Aiko. Tepatnya Ratna yang mengajak Rania agar dia tetap istiqomah di jalan Allah.


Tapi Ratna tidak menyangka kalau ternyata Rania masih menaruh perasaan pada suaminya. Bahkan rela menjadi istri kedua.


"Aku tidak perduli Rania mau berubah jadi apa. Aku tidak perduli masa lalu Rania. Aku tidak mencintainya Pa. Berbeda dengan Ratna, seandainya masa lalunya seburuk Rania aku akan menerimanya dengan lapang dada itu karena dia adalah Ratna. Wanita yang aku cintai Pa tidak ada yang lain" Wildan dengan tegas menolaknya.


"Lantas siapa yang berani menjamin Rania bisa memberikan semua itu Pa? Tidak ada kan? Aku sudah berulang kali bilang kepada Papa kalau Ratna itu sehat. Kami berdua sehat tidak ada kurang apapun. Allah belum kasih kami rezeki untuk mempunyai anak. Sabar Pa, sabar mungkin memang belum waktunya" bantah Wildan.


"Sampai kapan Papa harus bersabar. Papa sudah tua Wil? Papa ingin sekali menimang cucu. Hidup Papa belum lengkap jika belum bisa melihat anak kamu keturunan Papa, penerus keluarga kita" desak Pak Raharjo.


"Tapi bukan itu satu - satunya solusi Pa. Baik kalau Papa ingin aku segera punya anak. Aku dan Ratna akan segera program hamil. Dengan cara apapun akan kami lakukan asalkan aku tidak menikah lagi. Aku tidak akan menduakan Ratna. Hanya Ratna satu - satunya istriku Pa, aku tidak ingin yang lain. Jangan paksa aku Ratna sehat, keluarga Ratna punya banyak keturunan mungkin aku yang salah Pa. Kita yang salah, aku anak tunggal. Kenapa anak Papa hanya aku saja? Kenapa Pa? Apa Papa bisa menjamin kalau aku menikah dengan Rania aku juga akan mendapatkan keturunan?" tanya Wildan marah.


Dia sangat kesal karena Papanya terus saja mendesak dia untuk menikah lagi untuk mendapatkan keturunan. Ini bukan kali pertama Papanya menyuruh dia menikah. Ini sudah kedua atau ketiga kalinya.


Ratna meraba dadanya. Hatinya sangat sakit dan dia sangat takut Wildan akan mengabulkan permintaan Papanya. Tapi apa yang bisa Ratna lakukan.


Disetiap permasalahan rumah tangga seperti ini pasti wanita yang akan disalahkan dan wanita lah yang jari korban juga pilihan. Ratna merasa bahwa dirinya lah yang tidak bisa memberikan keturunan pada Wildan karena sampai saat ini dia belum juga hamil.


Tiba - tiba seorang office girl datang membawa minuman dan tanpa sadar Ratna menyenggolnya hingga gelas - gelas itu pecah.


Wildan dan Pak Raharjo terdiam setelah mendengar suara pecahan kaca di luar. Wildan langsung berjalan menuju pintu ruangannya dan membuka pintu.


Dia melihat office girl sedang membersihkan pecahan kaca.


"Ada apa?" tanya Wildan pada gadis itu.


Dengan tangan bergetar wanita itu menjawab.


"Ta.. tadi tanpa sengaja Bu Ratna menabrak saya Pak sehingga gelasnya jatuh" jawab wanita itu.


"Mana Ratna?" tanya Wildan.


"Bu.. Bu Ratna pergi Pak sambil menangis" Jawab wanita itu.


"Baiklah sekarang kamu boleh pergi" perintah Wildan.


"Ba.. baik Pak, saya permisi" ucap wanita itu sambil berlalu dari hadapan Wildan.


Wildan masuk ke dalam ruangannya dan mengambil dompet, ponsel dan kunci mobilnya.


"Ini semua gara - gara Papa, Ratna pasti sudah mendengar pembicaraan kita makanya dia pergi sambil menangis" ucap Wildan kesal.


"Bagus, kamu jadi tidak perlu repot - repot menjelaskannya lagi pada Ratna" sambut Pak Raharjo.


"Cukup Pa! Aku masih menghormati Papa sebagai orang tuaku makanya aku tidak ingin melawan Papa. Tapi kalau cara Papa terus seperti ini jangan salahkan kalau aku akan menjadi anak durhaka" ancam Wildan.


Wildan segera pergi meninggalkan ruangannya dan mencoba mengejar Ratna. Wildan meraih ponselnya dan mencoba menghubungi nomor istrinya. Tapi nomor yang dituju sedang tidak aktif.


"Shiiit.... Ratna jangan pergi, aku tidak ingin kamu pergi lagi seperti dulu. Aku hanya mempunyai kamu Rat, sampai kapanpun dan aku tidak mau siapapun lagi di dunia ini selain kamu" gumam Wildan.


Wildan segera berjalan menuju basement. Dia masuk ke dalam mobil lalu menyalakannya. Tak lama kemudian Wildan melakukan mobilnya menuju suatu tempat.


Sepertinya dia tau kemana Ratna akan pergi. Wildan akan segera menuju kesana.


.


.


BERSAMBUNG