
"Kalau Bapak khawatir dengan keadaan Ibu tidak apa Ibu dirawat beberapa hari di sini. Nanti saya akan resep kan obat penguat kandungan dan vitamin. Sejauh ini apa ada keluhan lain Bu seperti mual muntah?" tanya Dokter.
"Tidak ada Dok saya hanya gampang ngantuk dan cepat sekali merasa kelelahan" jawab Ratna.
"Itu adalah hal wajar untuk Ibu hamil. Jangan banyak pikiran ya Bu nanti akan terpengaruh pada kondisi bayi di dalam" pesan Dokter.
"Baik Dok" sambut Ratna.
"Setelah ini Ibu bisa langsung di pindahkan ke ruangan rawat inap" ujar Dokter.
"Terimakasih Dokter" jawab Wildan
Ratna langsung dipindahkan ke ruangan rawat inap. Perlahan - lahan wajah pucat nya sudah mulai bercahaya dan semakin segar setelah mendapat infus.
"Apa yang terjadi dengan Ratna sebenarnya Wil?" tanya Bu Raharjo tak sabar.
Wildan dan Ratna saling tatap lalu tersenyum membuat kedua orang tua itu semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada menantu mereka.
"Kami sudah khawatir kalian masih bisa tersenyum" potong Pak Raharjo.
Wildan menyerahkan selembar kertas has USG kepada Mamanya.
"Lihat ini Ma" ucap Wildan.
Tangan Bu Raharjo langsung bergetar ketika melihat dan mengerti dengan apa yang terjadi pada menantunya.
"Benarkah?" tanya Bu Raharjo tak percaya.
Wildan tersenyum lalu menganggukkan kepala.
"Ada apa Ma?" tanya Pak Raharjo tak kalah penasaran.
"Ratna hamil Pa" jawab Bu Ratna dengan mata berkaca - kaca.
"Benarkah? Alhamdulillah" sambut Pak Raharjo.
"Perhatikan lagi Ma gambarnya" pesan Wildan.
Bu Raharjo kembali memperhatikan hasil USG Ratna tadi. Dia melihat ada dua lingkaran di sana.
"A.. apa maksudnya ini?" tanya Bu Raharjo.
"Ratna hamil anak kembar Ma. Sebentar lagi kalian tidak hanya mempunyai satu cucu tapi dua sekaligus" jawab Wildan bangga.
"Oh ya Allah alhamdulillah..... " sambut Bu Raharjo.
Dia langsung memeluk Ratna dengan penuh kasih sayang.
"Selamat sayang, Allah mendengar doa - doa kalian selama ini. Sekaligus menjawab permasalahan tadi kan? Tidak ada pernikahan dan no poligami" ucap Bu Raharjo tegas.
Pak Raharjo juga memeluk tubuh putranya.
"Selamat Nak, akhirnya kamu akan menjadi orang tua. Jaga baik - baik kandungan Ratna ya. Semoga Ratna dan calon cucu - cucuku semua sehat sampai lahiran" ucap Pak Raharjo.
"Aamiin... " sambut Wildan.
"Tidak ada masalah dengan kandungan kamu kan?" tanya Bu Raharjo.
"InsyaAllah tidak ada Ma. Ratna hanya tidak boleh banyak pikiran dan lelah" jawab Wildan.
"Kalian kembali ke rumah ya.. Mama akan urus kamu sayang. InsyaAllah kita akan jaga sama - sama kandungan kamu ya" bujuk Bu Raharjo.
"Maaaa" jawab Wildan.
"Tidak apa Mas, aku mau kok kembali ke rumah Mama" potong Ratna.
"Alhamdulillah senangnya sebentar lagi akan dapat dua cucu" Bu Raharjo kembali memeluk Ratna erat.
"Kabari mertua kamu Wildan. Mereka juga harus tau kabar gembira ini" pesan Pak Raharjo.
"Ah iya aku lupa" jawab Wildan.
Wildan langsung meraih ponselnya dan menghubungi Pak Ramlan untuk memberi tau kabar gembira ini. Tak lama kemudian telepon tersambung.
"Assalamu'alaikum Pak" ucap Wildan.
"Wa'alaikumsalam Wil, gimana kabar kamu dan Ratna?" sambut Pak Ramlan.
"Alhamdulillah sehat Pak, terlebih Ratna. Aku mau kabari Bapak kalau saat ini Ratna sedang di rawat di Rumah Sakit" jawab Wildan.
"Itu bukan kabar baik Wildan" protes Pak Ramlan.
"Maaf.. maaf.. saya terlalu bahagia Pak" ujar Wildan.
"Bu.. bukan begitu Pak. Tolong dengarkan dulu perkataan saya Pak sampai selesai. Ratna masuk Rumah Sakit karena tadi dia pingsan di rumah Papa. Lalu sesampainya di Rumah Sakit Ratna diperiksa dan hasilnya Ratna ternyata hamil Pak" ungkap Wildan akhirnya.
"Apa Ratna hamil? Bu Ratna hamil Bu" sambut Pak Ramlan senang.
"Ratna hamil Pak?" tanya Bu Ramlan yang berbaring di samping suaminya.
"Iya, ni Wildan lagi ngabari Bapak" jawab Pak Ramlan senang.
"Aku harap Bapak dan Ibu bisa datang ke Jakarta untuk memberikan semangat pada Ratna karena cucu kalian yang akan lahir nantinya bukan hanya satu tapi dua" lanjut Wildan.
"Ma... maksud kamu Ratna hamil anak kembar?" tanya Pak Ramlan tak percaya.
"Iya Pak, Alhamdulillah anak kami kembar" jawab Wildan.
"Baik Wil, besok pagi - pagi kami akan ke Semarang dan pesan tiket pesawat langsung ke Jakarta. Titip salam dulu buat Ratna ya, besok baru kita bisa berkumpul" sambut Pak Ramlan senang.
"Baik Pak, salam Bapak akan saya sampaikan pada Ratna. Udah dulu ya Pak, di sana pasti sudah larut. Bapak dan Ibu lanjut istirahat ya, maaf saya ganggu malam- malam begini" pamit Wildan.
"Tidak apa Wildan, justru kalau kamu gak kabari kami itu udah kelewatan. Bapak akan marah pada kamu" sahut Pak Ramlan.
"Iya Pak, salam buat Ibu ya Pak. Assalamu'alaikum" tutup Wildan.
"Wa'alaikumsalam" jawab Pak Ramlan.
Pak Ramlan menutup layar ponselnya.
"Bu ayo siapkan barang - barang kita malam ini juga, besok pagi kita akan berangkat ke Jakarta" perintah Pak Ramlan.
"Iya Pak" jawab Bu Ramlan.
Bu Ramlan langsung turun dari tempat tidur. Dia mengambil koper lalu menyusun pakaian dia dan suaminya untuk dibawa besok ke Jakarta. Sudah dua tahun lebih mereka menunggu kabar gembira ini.
Mereka sangat tau bagaimana perjuangan Wildan dan Ratna untuk mendapatkan momongan. Jadi begitu mendapat kabar seperti ini mereka sangat merasa bahagia. Apalagi tadi mendengar kalau cucu mereka kembar.
Rasanya semua kesedihan dan pengharapan terbayar sudah. Semua berakhir bahagia. Mereka sebagai orang tua dari Ratna merasa senang luar biasa.
Selama ini mereka juga ikut terbebani karena Ratna belum juga kunjung hamil. Selaku keluarga dari menantu perempuan ada perasaan khawatir karena anak mereka belum juga kunjung hamil. Walau Wildan tidak pernah berkata apapun kepada Ratna.
"Gimana Mas apa kata Bapak?" tanya Ratna penasaran.
"Mereka akan datang besok sayang" jawab Wildan.
Wildan bernafas lega.
"Sudah kamu jangan mikirin apapun. sekarang kamu istirahat ya, sudah malam. Papa dan Mama juga sebaiknya pulang saja. Istirahat di rumah lebih baik dari pada tidur di Rumah Sakit. Biar aku yang jaga Ratna" ucap Wildan pada kedua orang tuanya.
"Iya Ma kita pulang saja, besok biar kita yang jemput Ramlan dan istrinya ke Bandara setelah itu kita sama - sama ke Rumah Sakit" ajak Pak Raharjo.
"Iya Pa. Sayang Mama pulang dulu ya. Kalau kamu menginginkan sesuatu jangan sungkan memintanya. Pinta saja sama Wildan atau kamu hubungi Mama langsung. Mama akan buatkan apapun yang kamu mau ya" ujar Bu Raharjo pada menantu kesayangannya.
"Iya Ma, terimakasih ya Ma" ucap Ratna.
Bu Raharjo memeluk Ratna untuk berpamitan.
"Papa pulang dulu ya, jaga diri kamu baik - baik. Jangan banyak pikiran" ucap Pak Raharjo sambil mengelus lembut puncak kepala Ratna.
"Iya Pa, makasih ya Pa" sambut Ratna.
Pak Raharjo dan istrinya keluar dari Rumah Sakit meninggalkan Ratna dan Wildan berdua. Wildan terus menggenggam erat tangan Ratna.
"Mas maafkan perkataan aku tadi ya. Aku sudah membuat kamu marah tadi" ucap Ratna merasa bersalah.
"Tidak apa sayang tapi aku minta tolong kepada kamu jangan pernah lakukan itu lagi sayang. Aku sudah berulang kali bilang kepada kamu sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Jangan terus mengalah, sesekali tidak ada salahnya kamu jadi istri egois yang hanya ingin memilikiku untuk kamu seorang bukan untuk berbagi dengan yang lain. Aku hanya manusia biasa, aku tidak akan pernah bisa berlaku adil. Semua bukan menyelesaikan masalah melainkan malah memperburuk keadaan. Akan banyak hati yang tersakiti, bukan hanya kamu tapi aku juga sangat sakit" jawab Wildan.
"Iya Mas aku tidak akan melakukannya lagi. Sekali lagi aku minta maaf" ulang Ratna.
Wildan mengelus lembut perut Ratna.
"Hai anak - anak Papa, kalian harus kuat ya agar Mama kalian tidak lari dari Papa lagi. Kalian harus bisa jadi pahlawan untuk Mama kalian yang cengeng ini" gumam Wildan menatap perut Ratna yang masih rata.
"Iya Papa" jawab Ratna dengan suara anak kecil.
"Papa mencintai kalian.. Aku sangat mencintai kamu sayang" Wildan mengecup lembut bibit Ratna.
.
.
BERSAMBUNG