
Satu jam kemudian tujuh pria yang sudah memiliki jabatan di anak perusahaan yang tergabung dalam PT. Raharjo Group kembali berkumpul di ruangan rapat.
Semua memegang berkas mereka masing - masing. Wajah mereka semua tampak tegang.
"Apakah rapat sudah bisa kita mulai?" tanya Wildan.
"Bisa Pak" jawab mereka.
"Saya minta data keuangan terlebih dahulu" pinta Wildan.
Direktur menyuruh bagian keuangan memberikan laporan keuangan Perusahaan kepada Wildan.
Wildan melihat data keuangan lima tahun terakhir. Ada yang aneh dengan pengeluaran juga budget proyek.
"Mengapa setiap proyek pengeluarannya selalu lebih dari budget?" tanya Wildan.
"Memang setiap proyek pengeluarannya kan tak selalu bisa sama persis dengan budget Pak" jawab Direktur.
"Iya saya bisa terima kalau alasannya tepat" sambut Wildan.
"Beberapa kali kita mengalami kerugian Pak karena adanya penggelapan bahan - bahan proyek" ungkap bagian keuangan.
"Mengapa bisa terjadi hal seperti itu?" selidik Wildan.
"Beberapa kali anggota kerja lapangan ketahuan melakukan pencurian bahan proyek Pak. Sehingga kita mengalami kerugian.
Apa mengapa persis sama seperti yang terjadi dengan kisah dua puluh tahun lalu? Kalau tersangkanya sudah di pecat mengapa bisa terulang kembali hal yang sama? Itu artinya sang pelaku masih ada dan bekerja di perusahaan ini.
Wildan tersenyum tipis menerka hal ini.
Tidak aku sangka akan semudah ini aku mendapatkan kamu. Batin Wildan.
"Mengapa penjagaan nya tidak di perketat dan sudah berapa kali kejadian ini terjadi?" tanya Wildan.
"Sekitar empat kali Pak selama lima sampai sepuluh tahun terakhir ini" jawab bagian keuangan.
"Apa solusi yang diambil?" tanya Wildan.
"Saya memecat okmun yang kedapatan melakukan pencurian Pak" Jawab Direktur.
"Sama seperti yang terjadi dua puluh tahun yang lalu?" tanya Wildan.
Sontak wajah Direktur memucat. Dia tidak menyangka Wildan melemparkan jebakan - jebakan.
"Aku mencium bau - bau pengkhianatan disini" ujar Wildan.
Semua tampak tegang.
"Saya minta data karyawan yang sudah melakukan kecurangan dan akhirnya di pecat?" pinta Wildan.
Bagian HRD melirik Direktur sesaat.
"Ada apa?" tanya Wildan.
"Data karyawan yang sudah dipecat tidak ada Pak saya bawa" jawab pria itu ketakutan.
"Kalau begitu segera bawa ke hadapan saya, cepat" perintah Wildan.
"Baik Pak" jawab Pria itu.
Pria dari bagian HRD segera pergi meninggalkan ruangan rapat dan kembali ke meja kerjanya untuk mencari data yang Wildan pinta.
"Mana bagian perencanaan proyek?" tanya Wildan.
"Sa.. saya Pak" jawab Seorang pria.
"Dimana tanggung jawab Anda sebagai bagian perencanaan proyek. Anda terjun langsung ke lapangan, mengapa bisa hal ini berulang kali terjadi? Apa ada konspirasi di sini?" bentak Wildan.
Sontak semua yang ada di ruangan itu terkejut mendengar suara teriakan Wildan.
Tak lama datang pejabat dari bagian HRD. Dengan tangan yang gemetaran dia segera menyerahkan data karyawan yang dipecat karena tuduhan penggelapan bahan proyek.
"Ternyata bukan hanya lima orang tapi ada sepuluh orang. Dan hal ini kalian anggap hal yang wajar tanpa ada perbaikan sistem?" bentak Wildan.
Wildan menggebrak meja. Membuat beberapa orang terlonjak karena terkejut.
"Kejadian ini terus berulang, dan tidak ada usaha kalian untuk memperketat penjagaan. Hukumannya hanya pecat, kemudian datang karyawan baru dan hal itu terus berulang kali terjadi. Apa tidak ada yang curiga?" tanya Wildan.
Wildan menatap satu persatu dari tujuh pria yang ada di hadapannya.
"Ada yang bisa buka suara?" tanya Wildan.
Semua diam.
"Apa perlu saya memecat kalian semua? Agar kalian bisa merasakan penderitaan mereka yang telah kalian pecat. PHK tanpa pesangon haaaah?" tanya Wildan.
"Saya akan kasih waktu buat kalian. Sampai hari esok saya belum juga menemukan jawaban dari semua permasalahan ini, saya akan memecat kalian semua. Zaman sekarang ini, sangat mudah mendapatkan pengganti kalian yang jauh lebih muda dan lebih baik kerjanya dari kalian" ancam Wildan.
Wildan bangkit dari duduknya.
"Setelah saya pergi silahkan kalian musyawarahkan siapa kali ini yang akan kalian korbankan dan jadikan kambing hitam untuk menutupi semua kejahatan busuk kalian. Cih... sudah tua tapi perbuatan kalian seperti tak takut dosa. Padahal harta tidak dibawa mati. Justru jabatan, harta dan tanggung jawab kalian yang pertama kali akan dituntut kelak di akhirat. Ingat hidup itu tidak abadi. Kalian pikirkan apa akibat dari perbuatan kalian ini bagi orang - orang yang telah kalian fitnah" sambung Wildan.
Wildan meninggalkan ruangan meeting dan membawa semua data - data karyawan yang dia bawa dari Jakarta. Wildan keluar dari area PT. Raharjo Pelangi dan pergi menuju suatu tempat.
Sebelum sampai ke tempat yang dia tuju Wildan singgah ke sebuah restoran untuk makan siang. Setelah itu Wildan melanjutkan perjalanan menuju kampung tempat tinggal keluarga Ratna.
Mobil yang Wildan kendarai berhenti tepat di depan rumah Ratna. Rumah yang masih dalam tahap renovasi. Wildan sudah membayar semua bahan - bahan dan biaya tukang sampai selesai sehingga proses renovasi masih tetap berjalan.
Wildan keluar dari mobil dan berjalan ke dalam ruko yang kini sudah terisi penuh bahan - bahan sembako. Wildan sudah mengisi penuh isi ruko tersebut sehingga menjadi sebuah grosir bahan pokok yang bisa dijual oleh keluarga Ratna.
Wildan masuk ke dalam ruko. Retno yang sedang menjaga toko sontak terkejut dan berlari ke belakang.
"Bapaaaak.. Ibu..." panggil Retno.
"Ada apa sih No lari - lari seperti dikejar setan?" tanya Bu Ramlan.
"Di.. didepan ada Mas Wildan" jawab Ratna.
Bapak dan Bu Ramlan saling pandang.
"Pak Nak Wildan. Mau ngapain dia ke sini? Ratna kan gak ada di sini?" tanya Bu Ramlan.
"Mau minta uangnya kali Bu" jawab Retno.
"Hus... " potong Bu Ramlan langsung.
"Suruh dia masuk, Bapak mau cuci tangan dulu" perintah Pak Ramlan.
"I.. iya Pak" jawab Retno.
Bapak dan Bu Ramlan segera memberiskan tangan mereka lalu menyusul Retno ke depan.
"Silahkan masuk Mas" ucap Retno mempersilahkan Wildan masuk.
"Bapak sama Ibu ada?" tanya Wildan.
"Ada di belakang, sebentar lagi mereka akan datang" jawab Retno.
Wildan duduk di sofa menunggu calon mertuanya datang. Tak lama Bapak dan Bu Ramlan datang menghampiri Wildan. Wildan langsung menyambut mereka dan mengulurkan tangan untuk mencium tangan orang tua Ratna.
"Ada apa Nak Wildan datang ke sini? Ratna tidak ada di sini?" tanya Pak Ramlan.
"Saya tau Pak, saya bukan ingin bertemu Ratna. Saya ingin bertemu Bapak, ada yang ingin saya bicarakan" jawab Wildan.
"Kalau tentang hubungan Nak Wildan dan Ratna, Bapak tidak bisa memutuskannya. Kalian yang jalani, semua terserah Ratna saja" jawab Pak Ramlan bijak.
"Saya tau Pak, saya ingin meluruskan sesuatu di masa lalu yang berhubungan dengan hubungan saya dengan Ratna" ujar Wildan.
Mereka bertiga duduk di atas sofa. Wildan membuka berkas yang dia bawa dari Jakarta dan menunjukkannya di hadapan Pak Ramlan.
"Apa ini?" tanya Pak Ramlan bingung.
"Coba Bapak perhatikan baik - baik. Ini adalah daftar para pegawai lama yang usianya tak jauh beda dengan usia Bapak. Mereka semua juga sudah bekerja di PT. Raharjo Pelangi saat Bapak bekerja disana" ungkap Wildan.
Pak Ramlan membaca dan meme lihat satu persatu mantan teman kerjanya dulu.
"Apa Bapak mengenal mereka?" tanya Wildan.
Pak Ramlan menganggukkan kepalanya.
"Ya" jawab Pak Ramlan.
"Pasti Bapak masih ingat siapa teman Bapak yang sudah memfitnah Bapak dulu?" tanya Wildan.
Pak Ramlan kembali melihat foto - foto mantan temennya, lalu dia kembali menganggukkan kepalanya.
"Coba Bapak tunjuk yang mana orangnya?" tanya Wildan.
Pak Ramlan mengangkat tangannya dan menunjuk ke sebuah gambar. Wildan tersenyum tipis.
"Sudah saya duga pasti dia orangnya" ucap Wildan.
.
.
BERSAMBUNG