Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 147


Sudah sepekan Wildan dan Ratna bekerja di PT. Raharja Group. Mereka tampak sangat bersemangat sekali bekerja. Terutama Ratna, dalam seminggu dia sudah menguasai pekerjaannya.


Hal ini membuat Rania semakin takut karena memiliki saingan yang sangat kompeten. Rania juga melihat kedekatan antara Wildan dan Ratna sangat dekat.


Satu-satunya cara untuk memisahkan mereka adalah dengan cara melaporkan perkembangan mereka kepada sang pemilik Perusahaan ini, yaitu Pak Raharjo.


"Bapak sehat?" tanya Rania basa - basi.


"Semakin sehat Rania semenjak aku tidak bekerja di kantor lagi dan putraku mau menggantikanku. Bagimana keadaan kantor?" tanya Pak Rahajro pada Rania.


"Baik Pak, Pak Wildan sangat baik menyelesaikan tugas - tugasnya. Dia cekatan dan sangat pintar mengambil keputusan. Dalam waktu seminggu aja dia sudah memenangkan tiga tender Pak" jawab Rania penuh semangat.


"Waaah hebat anakku itu gak percuma aku titipkan perusahaan ini kepadanya. Oh iya wanita yang dia bawa itu apa saja tugasnya?" tanya Pak Raharjo mulai mencari informasi.


"Dia selalu ikut kemana saja Pak Widan pergi Pak sepertinya dia merencanakan sesuatu Pak kepada Pak Wildan. Pak Wildan kelihatannya tidak bisa mengelak bahkan menuruti semua ucapan perempuan itu" adu Rania.


"Kurang aja* perempuan tak tau diri itu. Apa sih yang dilihat Wildan dari perempuan seperti itu. Dari tampangnya saja aku tau kalau dia itu gadis kampung" umpat Pak Raharjo geram.


Rania tersenyum mendengar ucapan mantan Bosnya itu.


"Kamu awasi dia terus, laporkan hal - hal yang dia kerjakan. Aku akan mengingatkan Wildan bila perlu aku akan mengancam Wildan agar dia segera mengusir gadis kampung itu dari perusahaanku" perintah Pak Raharjo.


"Baik Pak, saya akan laporkan setiap hari Pak" sahut Rania.


Tak lama Ratna keluar dari ruangah Wildan. Rania menghampiri meja Rania dan menyerahkan berkas yang baru saja dititipkan Wildan kepadanya untuk diberikan kepada Rania.


"Mbak Ran, ini titipan dari Pak Wildan. Katanya tolong Mbak cek dulu isinya" ucap Ratna sopan.


"Lihat Pak dia sudah berani menyuruh aku. Padahal kan dia baru aja seminggu bekerja di sini dan aku ini adalah seniornya. Dia mengatasnamakan Pak Wildan untuk memberikan perintah" ucap Rania kepada Pak Raharjo melalui telepon.


Sontak Ratna terlonjak karena kaget mendengar ucapan Rania lewat telepon. Entah sama siapa Rania mengadu dan memfitnah dirinya.


"Astaghfirullah.. "'ucap Ratna sambil mengelus dadanya.


"Dia pura - pura suci Pak padahal hatinya busuk. Dia pasti ingin memikat hati Pak Wildan untuk mendapatkan kekayaan Bapak" sambung Rania.


Mata Ratna membelalak sangking terkejutnya.


Oh jadi Mbak Rania lagi ngadu sama Pak Rahajro? Astaghfirullah.. ada ya orang sejahat ini. Batin Ratna.


Ratna kembali menarik berkas yang dititipan Wildan tadi. Dia membawanya ke meja kerjanya dan menyelesaikan sendiri pekerjaan yang harusnya Rania kerjakan.


"Udah dulu ya Pak, Pak Wildan memanggil saya" pamit Rania.


Rania melirik tidak suka kepada Rata.


"Kamu jangan coba - coba memerintah saya ya.. dan kamu jangan merasa besar kepala. Kamu kira kamu sudah hebat karena Pak Wildan yang bawa kamu ke Perusahaan ini? Aku ini senior kamu dan aku lebih dipercaya oleh Pak Raharjo" ucap Rania memperingatkan Ratna.


Ratna hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat sikap busuk Rania. Tiba - tiba interkom di meja Rania berbunyi.


"Rania apa sudah kamu perbaiki proposal yang tadi diberikan Ratna? Kamu sepertinya tidak fokus mengerjakannya. Banyak sekali kalimat yang salah ketik" tanya Wildan.


"Eh iya Pak akan segera saya revisi" sambut Rania.


Telepon terputus, Rania berdiri dan berjalan menghampiri meja Ratna lalu menarik paksa berkas yang tadi Ratna berikan kepadanya.


"Dasar penjilat" umpat Rania.


Ratna mengepalkan tangannya geram.


"Mbak.. jaga kata - kata Mbak ya. Saya masih diam karena menghargai Mbak sebagai senior saya. Tapi saya punya batas kesabaran. Jangan sampai kesabaran saya habis. Ingat Mbak apa yang Mbak tanam itu nanti yang akan Mbak tuai" ujar Ratna geram.


"Kamu nantangin saya?" tanya Rania.


"Saya suka mengalah Mbak tapi saya gak suka diinjak apalagi Mbak menipu saya. Kalau mau bersaing harus adil, sportif dan profesional. Kalau Mbak mau ayo kita bersaing sehat. Kita lihat siapa yang menang" jawab Ratna.


Rania pergi dari meja kerja Ratna.


Lihat saja nanti Pak Raharjo akan menghajar kamu. Tadi kamu sudah aku laporkan pada mantan Bosku. Habis kamu merasa diatas angin sih mentang - mentang Pak Wildan bela kamu. Umpat Rania dalam hati.


Rania segera merevisi bahan meeting yang dia buat. Dia merasa sangat kesal karena Wildan tipe bos yang sangat detail memperhatikan segala sesuatunya. Dulu Pak Raharjo sangat memanjakannya dan memaafkannya kalau mempunyai kesalahan kecil.


Saat ini Rania merasa posisinya di perusahaan ini sudah terancam. Dari gelagat Wildan dia meragukan kalau Wildan akan memberikan posisi yang lebih tinggi dari saat ini. Karena Wildan selalu mengoreksi pekerjaannya.


*****


Keesokan harinya Pak Raharjo sidak dadakan ke Perusahaannya. Semua karyawan menunduk hormat menyambut kedatangannya.


Wildan dan beberapa staffnya sedang rapat membahas proyek yang sedang berjalan. Rania dan Ratna juga ikut di dalamnya. Mereka tidak tau kalau Pak Rahajro datang ke Kantor.


Tok.. Tok..


Pintu di ketuk dari luar. Semua saling pandang karena merasa heran siapa yang berani mengetuk ruang rapat saat di dalamnya berjalan rapat penting.


Tak lama kemudian pintu terbuka dan muncullah Pak Raharjo. Sontak semua karyawan yang sedang rapat berdiri menyambut kedatangan Pak Raharjo.


Wildan langsung berjalan menghampiri Papanya dan mencium tangannya.


"Papa kenapa datang gak kasih kabar?" tanya Wildan.


Pak Raharjo tersenyum menjawab pertanyaan putranya.


"Papa hanya mampir sebentar, kangen sama suasana kantor" jawab Pak Raharjo.


"Kami sedang rapat Pa" ujar Wildan.


"Silahkan lanjutkan saja rapatnya. Papa akan melihat kalian di belakang. Ayo semua anggap saja saya tidak ada di ruangan ini. Saya hanya kangen dengan suasana kantor" ujar Pak Raharjo.


Rania segera menyiapkan kursi dibelakang untuk Pak Raharjo dan mempersilahkan pria tua itu duduk.


"Silahkan duduk Pak" ujar Rania.


Rania mulai mengambil kesempatan dan melirik dingin kearah Ratna. Dia merasa besar kepala karena saat ini dia punya deking sang pemilik perusahaan.


Rapat kembali berjalan dengan serius. Wildan kembali memimpin rapat.


"Ratna mana bahan yang tadi kamu susun" pinta Wildan.


"Eh ini Pak" jawab Ratna


Wildan membuka bahan yang Ratna berikan.


"Bisa kamu jelaskan saja apa isi di dalamnya?" tanya Wildan.


"Baik Pak" jawab Ratna.


Ratna dengan cekatan dan lancar langsung menjelaskan isi bahan. Pak Raharjo menyaksikan semuanya. Selama ini dia tidak pernah melakukan itu kepada Rania.


Rania hanya bertugas menyusun jadwalnya, menyiapkan bahan rapat dan menemaninya dalam rapat. Tapi Wildan melakukan semua ini kepada Ratna.


Apa Wildan sedang mendidik wanita ini atau wanita ini memang mempunyai kehebatan yang lebih dari Rania? Sepertinya aku terlalu menyepelekan gadis ini. Batin Pak Raharjo.


Wildan tersenyum tipis melihat Ratna dengan lancar dan lugas bisa menjelaskan isi bahan di hadapan Papanya. Tak perlu dia menjelaskan kepada Papanya lagi tentang kelebihan Ratna. Saat ini Papanya bisa melihat sendiri.


.


.


BERSAMBUNG