
Wildan
Rat, kita butuh bicara. Kedua orang tuaku sudah datang ke Kota kamu. Tidak mungkin semua selesai dengan cara seperti ini.
Ratna
Iya Mas, aku juga mau ngabari kamu tadi.
Wildan
Aku jemput ya
Ratna
Gak usah Mas, biar aku aja yang kesana. Dimana kita ketemuannya?
Wildan
Diluar aja, jangan di Hotel biar lebih enak ngobrolnya.
Ratna
Gimana kalau di alun - alun aja?
Wildan
oke, jam setengah delapan ya
Ratna
Iya Mas
Setelah shalat maghrib Ratna pamit pada Bapak dan Ibunya.
"Pak, Bu, Ratna keluar dulu ya" ucap Ratna minta izin.
"Kamu mau kemana?" tanya Bu Ramlan.
"Mau ke alun - alun" jawab Ratna.
"Ketemu Wildan?" tebak Bu Ramlan.
Ratna menganggukkan kepalanya ragu.
"Iya Bu, semua harus selesai dengan jelas. Gak mungkin kan usai begitu saja, orang tuanya sudah datang" jawab Ratna.
Pak Ramlan meletakkan gelas kopinya ke atas meja.
"Kamu pikirkan baik - baik Nduk keputusan yang terbaik untuk kalian berdua. Ingat pesan Bapak tadi, pikirkan kebahagiaan kamu. Apapun keputusan kamu Bapak akan restui selama itu membuat kamu bahagia" ujar Pak Ramlan.
"Iya Pak, InsyaAllah Ratna akan putuskan hal yang terbaik untuk hidup Ratna dan kita semua" jawab Ratna.
Tak lama di depan sudah menunggu taxi online. Ratna segera mencium tangan kedua orang tuanya untuk berpamitan. Mobil bergerak meninggalkan rumah orang tua Ratna menuju alun - alun Kota Pati.
Sesampainya di alun - alun Ratna duduk di bangku taman yang memang ada di dalam alun - alun. Tak lama kemudian ponsel Ratna berdering, Ratna mengangkat telepon itu.
"Assalamu'alaikum Mas" ucap Ratna.
"Wa'alaikumsalam Rat, kamu dimana?" tanya Wildan.
"Aku duduk di alun - alun yang tepat berada depan gedung Bank XXX" jawab Ratna.
"Oke tunggu ya, aku akan ke sana" jawab Wildan.
Telepon terputus, Ratna langsung menyimpan ponselnya ke dalam tas. Dia menatap langit cerah malam ini. Perasaannya sangat iri dengan malam ini.
Langit sangat cerah penuh dengan bintang. Sangat berbeda dengan perasaan hatinya malam ini. Pilih Wildan atau keluarga? Tentu saja Ratna memilih keluarga.
Secinta apapun Ratna pada Wildan tidak akan bisa memutuskan cintanya pada keluarganya. Tapi cinta keluarga mampu memutuskan cintanya pada Wildan.
Walau Ratna sangat bingung bagaimana cara mengembalikan semua pemberian Wildan pada keluarganya. Tapi dia harus memutuskan semuanya. Ratna tidak ingin mengecewakan hati Bapaknya.
Cukup Bapaknya kecewa pada hidup karena dulu di fitnah dan akhirnya dipecat oleh pemilik perusahaan tempat dia bekerja yang tak lain adalah Papanya Wildan. Ratna tidak mau Bapaknya kecewa lagi karena dia harus menikah dengan putra pemilih perusahaan tempat Bapaknya dulu bekerja.
Tak lama kemudian dari seberang jalan Ratna melihat Wildan berjalan dengan gagahnya. Pria itu sangat tampan, bukan hanya malam ini. Pria itu memang selalu tampan di mata Ratna.
Pria pertama yang mampu membuat hatinya bergetar. Pria yang melamarnya dengan sangat manis dan memintanya sebagai pendamping hidupnya juga ibu dari anak - anaknya kelak.
Air mata Ratna jatuh perlahan. Hatinya terasa semakin goyah melihat Wildan saat ini. Tapi dia berhadapan dengan pilihan yang sangat sulit. Dan yang pasti Ratna tidak mau mengecewakan Bapaknya.
Wajah sendu Bapaknya tadi sore masih terbayang jelas dalam ingatannya. Walau bibir Bapaknya berkata, dia akan merestui pernikahan Ratna dengan Wildan. Tapi Ratna bisa melihat kesedihan di mata Bapaknya. Apalagi Bapaknya memang sampai menangis tadi sore.
Hati Ratna sangat sakit mengingatnya. Tapi pria yang ada di depannya sana, apakah dia kuat menjalani hari - hari ke depan tanpa sosok pria itu lagi.
Bismillah.. ya Allah beri aku petunjuk MU untuk memutuskan keputusan yang terbaik untuk hubungan kami. Aamiin. Doa Ratna dalam hati.
Wildan sudah sampai tepat di hadapan Ratna. Ratna menatap dalam mata Ratna, ada kesedihan yang sangat jauh dan dalam di sana.
"Sudah lama menunggu?" tanya Wildan.
"Belum Mas, silahkan duduk" sambut Ratna.
Wildan duduk tepat disamping Ratna. Mereka sama - sama menatap ramainya jalanan di sepanjang alun - alun malam ini. Tapi keramaian itu tak bisa merubah perasaan hati mereka yang sangat sepi.
"Aku baru mendengar cerita Cinta tadi sore setelah kamu dan keluarga kamu pergi" ucap Wildan memulai pembicaraan mereka malam ini.
Ratna menunduk dan diam sambil meremas tangannya.
"Aku bahkan Papa sendiri tidak menyangka, kamu adalah anak dari pria yang dua puluh tahun lalu di pecat Papa. Dulu Papa membuka anak perusahaannya pertama kali di Semarang. Saat itu perusahaan Papa belum sebesar sekarang. Masih dibilang merintis. Papa ingat siapa Bapak kamu. Pria yang baik dan pintar. Bapak kamu juga pria pekerja keras. Hingga suatu hari Papa mendapat laporan bahwa Bapak kamu melakukan penggelapan dana proyek. Sebenarnya Papa tidak percaya dengan semuanya tapi Bapak kamu tidak bisa menunjukkan bukti - bukti yang menyatakan kalau bukan dia pelakunya. Oleh sebab itu Papa memecat Bapak kamu hari itu juga" ungkap Wildan.
Air mata Ratna mengalir mendengar kisah hidup Bapaknya dulu.
"Kata Cinta, sejak saat itu Bapak kamu stres dan sangat kecewa pada hidup dan akhirnya lari ke minum - minuman keras dan mabuk - mabukan setiap hari" lanjut Wildan.
Ratna menghapus air mata di pipinya.
"Iya Mas. Bapak tidak bisa membuktikan kalau dia tidak bersalah karena temannya itu sangat pintar memutar balikkan fakta dan memfitnah Bapak. Sejak saat itu Bapak patah hati pada kehidupan. Dia akhirnya masuk dalam dunia gelap yang penuh dengan minuman keras, sejak saat itu keluarga kami berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ibu yang berjuang untuk keluarga sedangkan Bapak hanya minum dan marah - marah setiap pulang ke rumah" sambut Ratna.
"Kejadiannya sudah sangat lama Rat. Bagaimana kita bisa membuktikan kalau Papa kamu tidak bersalah? Aku juga tidak bisa menyalahkan Papaku melakukan tindakan seperti itu. Karena Papa memang menemukan bukti - bukti penyelewengan Bapak kamu?" tanya Wildan.
"Tidak ada yang perlu di buktikan Mas semua memang sudah berlalu. Bapak juga tidak menuntut nama baiknya di pulihkan. Toh sudah tidak ada artinya lagi" jawab Ratna.
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita? Apa yang harus kita lakukan setelah kita mengetahui hubungan masa lalu kedua orang tua kita yang ternyata sangat buruk?" tanya Wildan bingung.
Ratna menarik nafas panjang.
"Aku juga tidak tau Mas apa yang harus kita lakukan. Tapi satu yang pasti, aku tidak bisa membuat Bapak kecewa lagi. Cukup satu kali Bapak kecewa pada hidup dan itu sudah membuat keluarga kami hancur. Aku tidak mau hal itu terjadi sekali lagi dalam keluarga kami. Terlebih setelah Bapak berusaha kuat untuk merubah semuanya menjadi lebih baik. Dia sudah bekerja keras untuk hidup lebih baik lagi Mas, menjadi pria, suami dan orang tua yang bertanggungjawab kepada kami semua istri dan anak - anaknya" jawab Ratna.
Ratna tersenyum pahit.
"Kamu tau apa tadi pesan Bapak kepadaku?" tanya Ratna.
Wildan menatap Ratna, air mata Ratna mengalir di kedua pipinya.
"Bapak tetap meresetui hubungan kita. Dia menangis dan menekan rasa kecewanya demi kebahagiaanku. Tapi Mas aku sebagai seorang anak tidak sanggup melihat Bapak sesakit itu. Aku gak sanggup Mas" jawab Ratna terisak.
Sesaat perkataan Ratna terhenti karena dia harus mengatus nafasnya berbicara sambil menangis.
"Maaf Mas, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita kearah masa depan. Aku memilih mundur" ucap Ratna.
.
.
BERSAMBUNG
Ada yang sama gak dengan aku menulis dengan mata berkaca - kaca? ada yang baca sambil nangis?