Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 105


Sepulang dari ruangan Wildan Cinta merasa sangat lega. Kini dia sudah memahami apa yang terjadi dengan suaminya. Melodi sedang tercubit hatinya karena teringat kembali dengan luka lama atas kematian orang tuanya.


"Besok - besok lebih baik tidak lewat jalan itu" ucap Cinta.


Cinta mulai bekerja dengan perasaan tenang. Dia akan memberikan Melodi waktu untuk berpikir tenang. Pelan - pelan Cinta akan mencoba menyembuhkan luka hati suaminya.


Aku akan mengisi hati kamu dengan cinta Mas. Agar semua luka hati kamu sembuh. Janji Cinta dalam hati.


"Kamu dari mana Cin?" tanya Ratna.


"Dari ruangan Pak Wildan" jawab Cinta.


"Ngapain?" tanya Ratna.


"Ada yang ingin aku tanyakan tentang Mas Melodi. Saat ini Mas Melodi sedang gak enak badan dan dia masih istirahat di apartement. Jadi aku bertanya sedikit dengan Pak Wildan apa - apa saja yang Mas Melodi suka dan tak suka" jawab Cinta.


"Oooo" sahut Ratna.


Mereka mulai bekerja dengan serius. Hingga tiba waktu makan siang. Cinta, Ratna dan Santi turun ke lantai dasar. Mereka sudah janjian dengan teman - teman yang lain untuk makan siang bersama.


Sesampainya di kantor Baim langsung mencegat Cinta.


"Maaf Rat, aku pinjam teman kamu sebentar saja ya. Ada yang ingin aku katakan padanya" pinta Baim.


"Kamu mau bawa Cinta kemana?" tanya Ratna.


"Gak kemana - mana kok, tetap di kantin ini tapi beda meja. Ku harap kamu tidak keberatan" jawab Baim.


Ratna melirik ke arah Cinta. Cinta menganggukan kepalanya membalas tatapan Ratna.


Ini kan kantin, banyak orang lagi di sini. Baim gak akan berbuat macam - macam. Lagian Pak Melodi kata Cinta lagi sakit, pasti dia gak datang ke kantor dan dia tidak akan melihat Cinta dan Baim makan berdua. Batin Ratna.


"Ya sudah kalau begitu, tapi sebentar aku bicara sama kamu dulu" Ratna menarik Cinta menjauh sebentar.


"Cinta kamu jangan sering - sering seperti ini. Aku serem tau lihatnya. Takut Pak Melodi dengar apalagi melihat kamu dan Baim makan berdua" bisik Ratna.


"Iya Rat, aku juga mau jelasin ke Baim kalau aku sudah menikah" ungkap Cinta.


"Kamu serius Cin?" tanya Ratna terkejut.


"Iya, surat nikah ku sudah terbit hari ini dan Mas Surya akan segera mengirimnya ke Jakarta" jawab Cinta.


Ratna tersenyum senang.


"Aaah aku lega jadinya kalau begitu. Ya sudah monggo" ujar Ratna.


Cinta dan Ratna kembali berhadapan dengan Baim.


"Udah Ratna? Sudah bolehkan aku pinjam teman kamu ini?" pinta Baim sambil tersenyum manis kepada Ratna.


"Boleh silahkan. Tapi kami jangan macem - macem sama Cinta ya. Aku mengawasi kamu dari jauh" ancam Ratna.


"Siap Bos" Baim mengangkat tangannya memberi hormat kepada Ratna.


"Yuk Cin, kita duduk di meja sana" ajak Baim.


Baim sudah sengaja memilih meja yang sedikit tersembunyi dan letaknya di pojok. Tapi Ratna dan teman - teman lain masih bisa memperhatikan gerak - gerik mereka.


Cinta dan Baim duduk saling berhadapan. Ternyata Baim sudah memesan makanan untuk Cinta.


"Cin.. sebenarnya aku pengen ajak kamu makan di luar, tapi sepertinya kamu sibuk terus dan sekarang kamu makin sulit di dekati. Ada satpam kamu tuh si Ratna" ucap Baim sambil melirik ke arah Ratna.


"Tuh lihat dia masih lirik - lirik ke sini" ujar Baim.


Cinta tertawa tipis karena lucu melihat Baim dan Ratna.


"Cin ada yang ingin aku katakan pada kamu dan ini sangat penting" ucap Baim serius.


"Ada apa Im?" tanya Cinta penasaran.


"Begini Cin, sebenarnya gak pantas aku bicara di sini tapi aku tidak tau bagaimana lagi bilangnya ke kamu. Mmm... Cin, sejak pertama melihat kamu aku sudah senang berkenalan dengan kamu. Kita berteman dan saling mengenal. Semakin banyak tau tentang dirimu aku merasa simpatik dan semakin mengagumimu. Perasaan kagum itu semakin berkembang menjadi rasa sayang dan cinta. Seminggu kamu cuti kemarin aku semakin takut kehilangan kamu Cin. Makanya sejak saat itu aku berusaha mencari waktu untuk mendekati kamu dan bicara pada kamu. Kalau aku ingin serius melamar kamu" ungkap Baim.


Cinta menarik nafas panjang.


"Maaf Om aku tidak bisa membalas perasaan kamu. Sebenarnya aku cuti seminggu kemarin karena aku menikah. Aku sudah menjadi istri orang Im. Rasanya gak pantas kalau aku menggantung dan memberi harapan kepada kamu" tolak Cinta.


"Jadi benar kata teman - teman kemarin Cin, kamu pulang kampung karena mau menikah dengan pria yang sudah di jodohkan keluarga kamu?" tanya Baim terkejut.


Cinta tersenyum bahagia.


"Tebakan teman - teman benar, aku menikah di kampung tapi bukan dengan pria yang di jodohkan keluarga kepadaku. Aku menikah dengan pria yang aku cintai Im, dan dia juga mencintaiku. Kami saling mencintai" jawab Cinta.


"Mengapa kamu merahasiakannya kepada kami Cin? Mengapa kamu tidak mengundang kami?" tanya Baim tak percaya.


Wajah Baim tampak tegang, bersedih dan kecewa.


"Aku tidak berniat menyembunyikan, semua terjadi begitu mendadak Im. Suamiku awalnya hanya berniat ingin melamarku saja, tapi kata keluargaku niat baik kenapa harus di tunda. Kalau memang kami saling mencintai mengapa tidak langsung menikah saja? Ketepatan aku dan suamiku sama - sama anak yatim piatu ya sudah pernikahan dilangsungkan besok harinya juga. Setelah semuanya selesai kami rencananya akan membuat resepsi di sini" jawab Cinta.


"Apa aku boleh tau siapa suami kamu Cin?" tanya Baim penasaran.


Cinta tersenyum kepada Baim.


"Maaf Im untuk saat ini belum bisa. Tapi secepatnya kamu akan mengetahuinya kok, sabar ya. Kamu orang pertama nanti yang akan aku undang" ujar Cinta.


"Jadi aku sudah tidak punya kesempatan lagi Cin?" tanya Baim masih tidak puas.


"Maaf ya Im, sejak awal hatiku hanya milik suamiku seorang. Dia adalah cinta pertamaku dan aku juga meminta kepada Allah semoga dia menjadi cinta terakhirku. Dan kami hanya akan terpisahkan oleh maut" jawab Cinta.


Baim tampak sangat kecewa. Tiba - tiba makanan yang mereka pesan datang dan disajikan untuk mereka.


"Jangan kecewa Im, aku yakin kamu pasti akan menemukan jodoh kamu kelak. Dan aku mendoakan semoga kamu mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku" ujar Cinta.


"Tapi aku belum bisa melupakan kamu Cinta, apalagi.. " sahut Baim.


"Aku tidak bisa memaksa kamu untuk melupakan aku dan berhenti mencintaiku. Karena urusan hati itu hak kita masing-masing. Aku hanya berharap kamu bisa mengerti keadaan dan perasaanku saat ini. Aku adalah wanita yang sudah bersuami. Jadi ada batasan - batasan yang tidak bisa aku lakukan seperti dulu lagi. Aku harap kamu mau mengerti" potong Cinta.


"Pantasan belakangan ini kamu mengelak setiap ajakanku Cin, kamu juga selalu ditemani sama satpam kamu itu. Apakah dia diutus oleh suami kamu untuk menjaga kamu di kantor?" tanya Baim.


Cinta tersenyum tipis.


"Bisa dikatakan begitu. Tapi Ratna memang sahabatku. Layaknya seorang sahabat, dia selalu mengingatkan aku untuk tau akan posisiku saat ini. Ada perasaan suami yang harus aku jaga. Aku tidak ingin dia salah mengartikan kedekatan kita. Aku menganggap kamu sebagai teman, dan akan selamanya menjadi teman Im. Tolong hargai perasaanku, aku juga akan sangat menghargai perasaan kamu" pinta Cinta dengan santun.


"Jujur aku sangat kecewa Cinta tapi aku akan berusaha melupakan kamu. Mungkin kamu memang bukan jodohku" ujar Baim.


"Jadi apakah kita sudah bisa memakan makanan ini? Aku sudah sangat lapar" tanya Cinta.


"Oooh silahkan Cinta, aku adalah pria sejati. Walau cintaku di tolak tapi kamu tenang saja aku tidak akan lari ke dukun apalagi orang pintar" jawab Baim berusaha bercanda.


Cinta tersenyum lebar.


"Ternyata kamu pria yang sangat baik Im, dalam keadaan seperti ini kamu masih bisa bercanda" puji Cinta.


"Mari makan Cinta" ajak Baim.


Cinta dan Baim mulai menikmati hidangan makan siang mereka.


.


.


BERSAMBUNG