
Sambil menangis Ratna memanggil taxi dan memberikan alamat tujuan dia. Satu - satunya yang bisa tempat untuk mengadu adalah rumah Cinta. Ratna harus segera bertemu dengan Cinta karena hanya Cintalah satu - satunya keluarga yang dia miliki di Jakarta ini.
Sekitar satu jam Ratna sudah sampai di rumah Cinta. Begitu Ratna masuk dia langsung memeluk Cinta sambil menangis.
"Rat kenapa kamu menangis? Ada apa Ratna?" tanya Cinta terkejut.
"Mas Wildan Cin.. Mas Wildan" jawab Ratna sambil terisak.
"Ada apa dengan Mas Wildan?" tanya Cinta bingung.
"Mas Wildan di suruh Papa menikah lagi Cin karena.. karena aku tidak bisa memberinya anak" jawab Ratna sambil terus terisak.
"Astaghfirullah... " sambut Cinta sambil mengelus punggung Ratna.
"Ayo kita duduk dulu biar kamu tenang. Bik tolong buatkan minum untuk Ratna" pinta Cinta.
"Baik Cin, tunggu sebentar ya" sambut Bibik.
Cinta dan Ratna duduk di sofa ruang keluarga. Tangisan Ratna sudah mulai reda. Cinta memberikan tisu kepada Ratna.
"Kamu sudah tenang Rat?" tanya Cinta sambil menyentuh bahu Ratna.
Ratna hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil sesekali terisak. Ratna menarik nafas panjang lalu melepaskannya agar dadanya terasa sedikit lega.
"Kamu dari mana ini?" tanya Cinta.
"Aku dari kantor. Tadi Papa datang ke kantor dan berbicara dengan Mas Wildan. Tanpa sengaja aku dengar suara keributan di dalam ruangan Mas Wildan jadi aku mendekat dan mendengar semua pembicaraan Papa dengan Mas Wildan" jawab Ratna.
Cinta diam dan mulai mendengarkan curhatan hati Ratna. Itu yang Ratna butuhkan saat ini. Sekalian Cinta juga ingin tau permasalahan yang sebenarnya.
"Kata Papa dia sudah sepakat dengan Om Sudibyo Papanya Rania untuk menyambung perjodohan mereka yang dulu sempat batal. Mereka ingin kembali menikahkan Mas Wildan dengan Rania. Dan katanya Rania juga setuju untuk menjadi istri kedua Mas Wildan" ungkap Ratna sambil kembali terisak.
"Astaghfirullah... kamu yang sabar ya Rat. Terus kenapa Om Raharjo bertengkar dengan Mas Wildan?" tanya Cinta penasaran.
"Mas Wildan menolak perjodohan itu Cin, dia mau melakukan apapun juga untuk mendapatkan keturunan asalkan tidak disuruh menikah lagi. Aku harus bagaimana Cin, pasti aku yang terus disalahkan dan di desak karena aku belum juga hamil?" tanya Ratna bingung.
Cinta terdiam sesaat dan berpikir apa jawaban yang harus dia berikan kepada Ratna.
"Menurut aku ikuti apa kata Mas Wildan Rat. Kalau sudah begini ceritanya ya lakukan apapun caranya yang bisa membuat kamu hamil. Program hamil, inseminasi atau program bayi tabung" jawab Cinta.
"Tapi kalau aku gak hamil juga gimana Cin?" tanya Ratna takut.
"Jangan pikirkan yang belum terjadi. Kamu dan Mas Wildan kan sehat - sehat saja pasti tidak akan ada masalah. Yang penting kalian sudah ikhtiar dan selanjutnya pasrahkan pada Allah. Yakinlah perjuangan tidak akan mengkhianati hasil" ucap Cinta memberi semangat
"Assalamu'alaikum" ucap Wildan tiba - tiba.
"Wa'alaikumsalam" sahut Cinta
"M.. Ma.. Mas Wildan" ucap Ratna terkejut melihat suaminya sudah ada di rumah Cinta.
"Sayang" sahut Wildan.
Cinta langsung menjauh dan membiarkan pasangan suami istri itu saling menguatkan.
"Kamu kenapa pergi?" tanya Wildan.
"A.. Aku.. " Ratna sulit untuk menjawab.
"Kamu mendengar pembicaraan aku dengan Papa?" tanya Wildan.
"Iya Mas" jawab Ratna sedih.
"Kamu jangan takut jangan bersedih dan menangis. Aku tidak akan menikah lagi. Kita akan serius berobat program hamil. Semua akan kita lakukan agar kamu hamil" ujar Wildan sambil memeluk tubuh Ratna.
"Kalau aku tidak hamil juga Mas?" tanya Ratna takut.
"Aku tidak perduli masih banyak cara untuk mempunyai anak. Kita bisa adopsi anak" jawab Wildan.
"Ta.. tapi Papa gak mau kalau kita adopsi anak" ujar Ratna.
"Aku tidak perduli sayang. Yang penting aku tidak akan meninggalkan kamu. Kamu harus percaya padaku ya. Aku tidak akan menduakan kamu dan menikah lagi. Aku tidak mau, aku hanya milik kamu seorang" tegas Wildan.
"Lho Den Wildan udah datang toh. Ini minumnya Ratna. Den Wildan mau minum apa?" tanya Bibik yang datang dari arah dapur.
"Kopi aja Bik" jawab Wildan.
"Oke tunggu sebentar ya. Minum dulu airnya Ratna" perintah Bibik.
"Iya Bik terimakasih ya" balas Ratna.
Bibik kembali berjalan ke dapur untuk membuatkan kopi Wildan.
"Tadi aku bilang pada Ratna juga begitu Mas. Banyak program hamil yang bisa dilakukan. Bisa inseminasi atau bayi tabung. Atau program hamil biasa juga bisa seperti Kak Amel dulu. Apalagi Ratna dan Mas Wildan sehat keduanya. Aku rasa peluang Ratna untuk hamil lebih besar" ujar Cinta.
"Iya Cin, secepatnya kami akan melakukan program hamil" sambut Wildan.
"Kamu jangan stres Rat. Dokter juga dulu berpesan seperti itu pada MlKak Amel dan aku juga setalah aku keguguran dulu. Itu sangat mempengaruhi. Sebaiknya kamu berhenti bekerja Rat biar kamu juga tidak capek. Nikmati aja profesi baru kamu sebagai ibu rumah tangga" pesan Cinta.
"Kalau aku berhenti peluang Mas Wildan dekat sama Ratna lebih besar. Kalian kan sering ketemu urusan kantor" ujar Ratna cemburu.
"Sayaaaang... kamu gak percaya padaku? Kalau aku mau menikah dengan Rania sejak awal pasti sudah aku lakukan tapi nyatanya aku tidak mau kan? Aku hanya mencintai kamu sayang" tegas Wildan kembali.
"Sayang sepertinya kita harus kembali ke apartementku yang dulu. Aku tidak mau kamu kepikiran dan stres karena desakan Papa. Lebih baik kita tinggal berdua tanpa ada gangguan atau desakan dari manapun" sambung Wildan.
"Terserah kamu saja Mas, aku akan ikut kemanapun kamu bawa pergi" jawab Ratna.
Bibik kembali datang membawa secangkir kopi untuk Wildan. Mereka ngobrol sampai malam. Setelah makan malam bersama dengan Melodi dan keluarganya Wildan dan Ratna pamit pulang.
Mereka sengaja pulang larut malam untuk menghindari pertemuan dengan orang tua Wildan. Saat mereka sampai sudah larut malam. Kedua orang tua Wildan sudah istirahat tidur di kamar.
Wildan dan Ratna langsung masuk ke dalam kamar mereka. Malam itu Wildan membantu Ratna untuk menyusun baju - baju yang akan mereka bawa kembali ke apartement.
Sepertinya hidup berdua saat ini untuk mereka lebih baik. Karena Wildan tidak ingin jiwa istrinya terganggu oleh desakan Papa dan Mamanya agar Ratna hamil.
Wildan juga takut Papa dan Mamanya akan memaksa Ratna untuk menerima kalau Wildan harus menikah lagi. Wildan tidak ingin hal ini terjadi dalam rumah tangganya.
Tidak ada istilah poligami dalam hidup Wildan. Karena Wildan sangat yakin dia tidak akan bisa adil sebagai seorang suami. Dia hanya mencintai Ratna, kalau dia menikah lagi pasti akan ada hati yang tersakiti dan mereka semua pasti tidak akan bahagia.
"Besok pagi kita akan pamit kepada Papa dan Mama. Kamu susun pakaian - pakaian yang penting - penting saja. Selebihnya nanti bisa kita ambil lagi atau bila perlu kita beli saja" perintah Wildan.
"I.. Iya Mas" jawab Ratna.
.
.
BERSAMBUNG