
Pak Raharjo dan Wildan kini sudah berada di ruangan kerja. Sedangkan jam makan siang sudah tiba. Ratna segera bergegas masuk ke ruang Direktur.
"Maaf Pak mengganggu, Bapak mau makan siang di kantor atau diluar?" tanya Ratna dengan sopan.
"Makan siang di sini aja Rat. Tolong pesankan kami makan siang ya. Saya seperti biasa, Papa mau apa?" tangan Wildan.
"Tanya saja Rania dia tau makanan favorit saya" jawab Pak Raharjo tanpa sedikitpun melirik Ratna.
"Baik Pak, akan saya tanyakan. Saya permisi dulu" ujar Ratna pamit.
Tak lama kemudian Ratna kembali lagi.
"Maaf Pak, Mbak Rania baru saja keluar makan siang. Ponselnya tidak aktif jadi saya tidak bisa menanyakan makanan favorit Bapak kepadanya" ungkap Ratna.
"Kemana dia siang - siang begini?" sahut Pak Raharjo.
Wildan tersenyum tipis mendengar keluhan Papanya.
"Kalau begitu Bapak mau pesan makan apa, biar saya pesankan?" tanya Ratna.
"Samakan aja deh dengan Wildan. Saya mau tau apa makanan dia yang biasanya" jawab Pak Raharjo.
"Baik Pak" sahut Ratna.
Ratna berlalu dari hadapan mereka.
"Seperti itulah kerjaan Rania Pa sejak ada Ratna. Jam makan siang dia selalu pergi lebih dulu tanpa bertanya tentang makan siangku. Semua pekerjaan dia limpahkan kepada Ratna. Sedikitpun tidak punya tanggung jawab. Bagaimanapun status dia kan masih sekretaris saat ini. Dan dia aku tugaskan untuk mengajari Ratna. Harusnya dia jadi contoh yang baik bagi juniornya" ujar Wildan.
"Itu karena gadis kampungan itu berusaha menyerobot pekerjaan dia. Sehingga dia jadi tidak nyaman" bela Papa Wildan.
"Kenapa sih Papa selalu belain dia?" tanya Wildan kesal.
"Sebenarnya kerja dia bagus Wil, kamu aja yang sepertinya udah terikat sama gadis kampung itu. Heran Papa, apa sih kelebihannya. Rania itu cantik Wil, dia tamatan luar negeri. Sebenarnya Rania itu adalah anak sahabat Papa yang akan Papa jodohkan sama kamu. Jadi sebaiknya kamu bersikap baik padanya" ungkap Pak Raharjo.
Sontak Wildan terkejut mendengar ucapan Papanya.
"Papa ngejodohin aku seenaknya begitu tanpa bertanya kepadaku lebih dulu. Gak bisa Pa, aku gak mau. Aku tidak suka gadis seperti Rania. Tamatan luar negeri tidak menjamin dia pintar dan punya etika yang baik. Aku malah sangsi melihat gaya hidupnya. Melihat pakaiannya seperti itu aku menduga dia menganut hidup bebas di luar negeri sana" tolak Wildan dengan tegas.
"Dia gadis yang baik Wil, Papa bisa menjaminnya. Mana mungkin Papa jodohin kamu sama gadis yang gak jelas asal usulnya" ujar Pak Raharjo.
"Tapi yang menjalani itu aku Pa. Aku yang tau mana wanita yang cocok denganku atau tidak. Aku punya rencana masa depan Pa dan tidak bisa wanita sembarangan yang akan mengisi masa depanku" elak Wildan.
"Masa depan apa sih, semua masa depan pasti sama, menikah dan punya anak" ujar Pak Raharjo.
"Benar apa yang Papa bilang. Tapi aku punya impian rumah tangga sendiri Pa. Dan aku tidak pernah membayangkan wanita seperti itu yang akan menjadi istriku kelak. Dia pasti bukan tipe wanita yang betah di rumah mengurus rumah, memasak dan mengurus suami dan anak - anak" sahut Wildan.
"Dia wanita karir Wil. Lagian soal rumah kamu tinggal serahkan pada asisten rumah tangga" ujar Pak Raharjo.
"Kalau begitu aku akan menikah dengan asisten rumah tangga" jawab Wildan.
Sontak Pak Raharjo terkejut mendengar jawaban putranya.
"Jangan coba - coba kamu menikah dengan perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Papa pastikan akan menentang kamu dengan keras" tegas Pak Raharjo.
"Pa jaman sekarang asisten rumah tangga keren - keren lho, sarjana dan juga wanita karir" ujar Wildan.
"Mimpi kamu, mana ada asisten rumah tangga begitu" bantah Pak Raharjo.
Ada Pa, Ratna. Nanti suatu hari aku akan memperkenalkannya kepada Papa sebagai calon istriku. Batin Wildan.
Wildan tersenyum menatap Papanya.
"Kenapa kamu senyum - senyum? Papa serius Wil. Papa tidak sudi punya menantu seorang asisten rumah tangga" ucap Pak Raharjo.
"Aku juga serius Pa. Aku akan tunjukkan pada Papa kalau di dunia ini ada gadis seperti yang aku katakan tadi. Dia benar - benar asisten rumah tangga berkelas Pa, bukan sembarangan" jawab Wildan.
Tak lama Ratna masuk dengan membawa dia bungkus nasi padang langganan Wildan. Ratna membawa dua piring, sendok dan gelas untuk Wildan dan Pak Raharjo.
"Nasi padang?" tanya Pak Raharjo terkejut saat melihat apa yang disajikan Ratna di hadapannya.
"Iya Pa. Papa pasti suka" jawab Wildan sambil tersenyum.
Wildan langsung meraih piring yang ada di hadapannya dan membuka nasi padang tersebut.
"Apa itu?" tanya Pak Raharjo saat melihat isi nasi Wildan.
"Rendang Pa" jawab Wildan tersenyum.
"Apa itu yang bulat - bulat?" tanya Pak Raharjo penasaran.
"Oh ini.. ini jengkol Pa" jawab Wildan sambil mengangkat makanan yang ditanyakan Pak Raharjo.
"Jengkol?" tanya Pak Wildan terkejut.
"Kamu semakin aneh Wil, sejak kapan kamu suka jengkol?" tanya Pak Raharjo tak percaya.
"Sejak asisten saya suka memasakkannya untuk saya Pa" jawab Wildan sambil melirik ke arah Ratna.
Ratna hanya tertunduk malu karena di rumah Ratna memang suka memasak tendang jengkol kesukaannya yang ketepatan juga Wildan suka. Malah Wildan jadi ketagihan karenanya.
"Kamu lupa Rat, saya suka makan pakai tangan" ujar Wildan.
"Eh tunggu sebentar Pak" sahut Ratna.
Ratna segera berjalan menuju pantri untuk mengambil mangkok cuci tangan dan memberikannya kepada Wildan.
Wildan segera mencuci tangannya dan memakan nasi bungkusnya dengan lahap. Pak Raharjo hanya bisa menatapi aksi putranya itu dengan tatapan tak percaya.
"Ayo Pa dicoba. Dimakan Pa, jangan dilihatin aja" ujar Wildan.
Pak Raharjo akhirnya menyentuh hidangan makan siangnya dan mulai makan. Tapi dia menepikan rendang jengkol yang ada di piringnya.
"Kok dibuang Pa? Sini buat aku aja" pinta Wildan.
Tanpa malu - malu Wildan langsung mengambil jengkol milik Papanya.
Pak Raharjo seperti tidak mengenali puteranya. Sejak Wildan memilih tinggal di apartement dia jarang sekali makan bareng bersama Wildan. Sehingga dia tidak tau kalau putranya ini sudah banyak berubah.
Ratna tersenyum melihat wajah bingung Pak Raharjo menatap Wildan yang sedang lahap memakan nasi padangnya.
"Saya pamit dulu Pak mau shalat. Kalau ada perlu hubungi ke ponsel saya aja ya Pak" ujar Ratna.
"Oke Rat, terimakasih" sahut Wildan.
Ratna berlalu dari hadapan kedua pria itu.
"Kamu sangat berbeda sekarang Wil, Papa hampir tidak mengenali putra Papa sendiri. Siapa yang merubah kamu jadi seperti ini? Asisten rumah tangga kamu?" tanya Pak Raharjo curiga.
Wildan hanya tersenyum dan asik makan, tidak menjawab pertanyaan Papanya.
Sepertinya aku harus mengajak istriku mampir ke apartement Wildan. Aku penasaran dengan asisten rumah tangganya yang membuat Wildan berubah tiga ratus enam puluh derajat. Batin Pak Raharjo.
.
.
BERSAMBUNG