Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 236


Melodi dan Cinta sedang bersiap - siap hendak pergi ke rumah orang tua Wildan nanti malam. Karena letak rumah mereka yang jauh, mereka memutuskan untuk berangkat sore hari agar tidak terlambat dalam acara keluarga Wildan dan Ratna.


Cinta memakai gaun cantik berwarna coklat susu dipadu dengan jilbab bercorak berwarna senanda. Walau sekilas tampak sederhana tapi pakaian itu sukses membuat tampilan Cinta terlihat elegan dan cantik.


Melodi terpesona akan kecantikan istrinya itu. Dia memeluk Cinta dari belakang.


"Sayaang... " ucap Melodi sambil berbisik di telinga kanan Cinta.


"Yaa" jawab Cinta masih sibuk merapikan jilbabnya.


"Bisa tidak kita tunda keberangkatan kita sebentar?" tanya Mely.


"Kenapa Mas?" tanya Cinta bingung.


Cinta membalikkan tubuhnya, kini dia dan Melodi sudah berdiri berhadapan dan saling tatap. Bibir Cinta yang basah dan berwarna kemerahan semakin membuat Melodi terpesona dengan penampilan Cinta.


"Kamu manis sekali saat ini, aku pengen nyicipi kamu" rengek Melodi.


Sontak mata Cinta bulat membesar.


"Maaaas jangan iseng deh. Ini sudah jam berapa? Nanti kita telat lho, lagian gak enak sama Pak Ilham dan Bik Sumi. Mereka sudah menunggu kita dari tadi" jawab Cinta panjang.


"Jadi gimana donk?" Wajah Melodi tampak memelas.


Dalam hati gak dikasih ya sudahlah, tapi kalau berhasil rasanya waaaaowwww... luar biasa, soraknya.


"Ditunda dulu ya sampai nanti malam. Nanti malam aku service deh" ujar Cinta.


Mata Melodi langsung bersinar mendengar kata service dari Cinta. Itu artinya malam ini mereka akan menjalani malam panas yang panjang.


"Bener ya, janji?" tanya Melodi meyakinkan.


"Iya janji, udahan yuk kita kelurahan. Bibik dan Pak Ilham udah nunggu kita dari tadi" desak Cinta.


"Oke.. oke.. sabar Ibu negara. Bapak negara mau rapiin pakaian dulu biar cakep" goda Melodi.


"Kamu udah cakep dari tadi. Udah yuuuk" ajak Cinta.


Melodi dan Cinta keluar dari kamar, Pak Ilham dan Bik Sumi sudah menunggu dari tadi. Amel dan Surya juga sudah sampai Jakarta tadi sore. Mereka pergi menaiki dua mobil menuju rumah orang tua Wildan.


Sesampainya di sana rumah orang tua Wildan sudah ramai. Ada beberapa keluarga dekat dari Wildan juga Ratna yang juga ikut datang. Mereka makan siang bersama sambil mengakrabkan dua keluarga yang sebentar lagi akan bersatu.


"Besok siang semua harus datang ke hotel ya, kita akan gladi resik" ujar Wildan.


"Iya jangan sampai telat" sambung Bu Raharjo.


Dia yang paling tampak sibuk dari semuanya. Karena pernikahan Wildan sudah lama dia nanti - nantikan. Dia sudah tidak sabar mendapatkan menantu.


"Wildan, Ratna ada yang ingin Papa bilang pada kalian" ucap Pak Raharjo.


"Papa dan Mama sudah tua, anak kami juga cuma satu, hanya kamu seorang. Rumah ini terasa sangat sepi. Papa sudah dengar kalau kamu sedang mencari rumah, tapi kalau boleh Papa dan Mama meminta lebih baik kalian pulang ke rumah. Kami sudah siapkan kamar yang besar untuk kalian di atas. Disamping kamar kalian juga sudah kami siapkan kamar anak - anak untuk cucu - cucu kami nanti. Kami sangat merindukan keramaian juga kehangatan di rumah ini dengan tawa dan canda anak dan cucu kami. Mungkin itulah permintaan kami di hari tua" ungkap Pak Raharjo


"Benar Wil, Mama sudah lama banget menginginkan anak perempuan tapi tidak kesampaian. Sebentar lagi kamu akan menikah Mama akan punya anak perempuan. Mama ingin sekali merasakan punya anak perempuan. Kami bisa memasak bersama, menanam bunga di taman sambil ngeteh. Dan terakhir Mama ingin segera menimang cucu. Rumah ini pasti sangat ramai jika terdengar tangisan bayi" sambut Mama Wildan.


Wildan dan Ratna saling pandang.


"Rumah kita juga sangat luas ada kebun dan kolam ikan di belakang. Kamu cari rumah yang seperti itu kan? Untuk apa lagi kamu cari - cari. Kalau kami sudah tiada rumah ini juga akan menjadi milik kamu" sambung Papa Wildan.


"Menurut Bapak juga begitu. Kami - kami ini sudah tua, mudah sekali kesepian. Kalau kata orang, sebentar lagi kami akan kembali lagi seperti anak kecil. Butuh perhatian dan kasih sayang. Siapa lagi coba yang bisa memberikan semua itu kalau bukan anak - anak. Bapak dan Ibu beruntung punya anak empat. Mas Raharjo dan Mbak Yu hanya punya kamu Wil. Sedangkan Ratna setelah menjadi istri kamu akan ikut kemanapun kamu bawa. Waktunya kalian berbakti mengurus orang tua. Sebenarnya bukan kami meminta imbalan kepada kalian karena sudah membesarkan kalian sampai seperti ini. Sungguh kami sangat ikhlas mengurus dan mendidik kalian. Tapi kasihanilah kami, mungkin sebentar lagi kami butuh mata untuk membacakan surat kabar kepada kami. Kami butuh tangan yang kokoh untuk pegangan saat kami berjalan. Kami butuh kasih sayang dan kelembutan juga kekuatan kalian saat kami diri kami merasa semakin lemah. Tidak ada salahnya kalian tinggal di sini karena tinggal di Kota yang sama. Kalaupun kalian tinggal di Pati pasti Bapak juga akan meminta hal yang sama" sambut Pak Ramlan.


"Benar juga Wil, permintaan Papa kamu gak salah. Kamu beruntung masih ouni orang tua yang bisa kamu lihat setiap hari. Kalau aku harus ke makam dulu kalau kangen mereka" potong Melodi.


Wildan melirik ke arah Ratna. Ratna membalasnya dengan senyuman sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju. Wildan menarik nafas panjang.


"Baiklah setelau menikah kami akan tinggal di sini. Lebih tepatnya setelah pulang dari honeymoon" ucap Wildan.


"Alhamdulillah" sambut Papa dan Mama Wildan.


"Syukurlah kalau kalian bersedia" sambut Pak Ramlan.


"Kalian juga jangan sungkan ya datang ke rumah ini kalau kangen sama Ratna. Sebentar lagi kita kan akan menjadi keluarga" ucap Pak Raharjo kepada Pak Ramlan dan keluarganya.


"Iya Mas" sahut Pak Ramlan.


"Mas dan Mbak Yu juga sesekali main ke Pati untuk liburan. Kalau bosan sama Kota yuk lihat sawah di kampung" sahur Bu Ramlan.


"Iya Jeng nanti sesekali kami mampir. Kita bisa jalan bareng lagi ya seperti kemarin" jawab Mamanya Wildan.


Ratna dan Wildan merasa sangat bahagia melihat dua keluarga mereka sekarang sudah akur dan menjalin hubungan yang sangat baik. Tapi perjuangan untuk mewujudkan hal seperti ini sangat berat kemarin. Bahkan hubungan mereka terancam bubur.


Kini buah kesabaran akan segera mereka petik. Hanya dalam hitungan hari Ratna dan Wildan akan segera menjadi pasangan suami istri.


"Sudah malam sayang, kita pamit pulang duluan yuk" Melodi mengajak istrinya pulang.


"Sebentar lagi Mas, masih asik ngobrol ini" jawab Cinta.


Melodi mendekati Cinta dan berbisik di telinganya.


"Kamu lupa kalau malam ini akan menservice suami kamu? ini kan malam jumat sayang" ucap Melodi dengan suara pelan.


Mati aku Mas Melodi masih ingat, apa dari tadi terus memikirkan hal itu ya? gawat, tubuhnya ada di sini tapi pikirannya ada di kamar. Hihihi... gak apa - apa deh kan di hitung pahala menservice suami. Batin Cinta.


.


.


BERSAMBUNG