Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 106


Sementara tak jauh dari tempat duduk Cinta dan Baim ada dua pasang mata yang menyaksikan mereka sedang berbincang-bincang sambil menikmati makan siang mereka.


Langkah Melodi terhenti saat melihat satu pemandangan yang membuat hatinya kembali panas. Di sana disudut kantin Cinta sedang duduk berdua dengan seorang pria yang tak lain adalah Baim.


Tangan Melodi mengepal dan dia hendak pergi menghampiri Cinta dan Baim. Amarah sangat terlihat dari wajah Melodi.


Wildan langsung menahan tubuh Melodi dan mencegah suatu hal buruk terjadi.


"Od jangan lakukan itu, ini di kantor Od dan semua orang tidak tau kamu itu siapanya Cinta" cegah Odi.


"Bagus, biar semua orang tau kalau aku adalah suami Cinta. Aku jadi tidak perlu bersusah payah memperkenalkan siapa diriku didalam hidup Cinta" jawab Melodi.


"Tapi mungkin Cinta tidak menyukainya. Jangan egois dalam hal mencintai Od. Kamu harus jaga perasaan Cinta" ujar Wildan.


"Apa Cinta juga menjaga perasaanku?" tanya Melodi geram.


"Menurutku mereka hanya makan siang biasa, selayaknya teman" jawab Wildan.


"Mengapa mereka memisahkan diri dengan yang lainnya?" tanya Melodi.


"Mungkin ada yang ingin mereka bicarakan Od, kamu jangan suudzon duluan" ucap Wildan mengingatkan.


Melodi masih mengerang menahan amarah.


"Kalau Cinta berniat selingkuh mengapa dia harus melakukannya di sini, di kantor ini. Tempat yang dengan mudah bisa kamu lihat melalui CCTV. Kalau Cinta punya niat lain dia tinggal atur rencana pergi dan makan siang diluar Od" sambung Wildan.


Melodi hanya diam.


"Aku yakin mereka tidak punya hubungan apapun. Hanya sebatas teman kerja saja" ucap Wildan.


"Tapi aku tidak mau pria itu mengganggu istriku. Aku harus mencegahnya" tegas Melodi.


"Kalau kamu bisa menahan amarah kamu dan bermain cantik aku akan ikuti permaian kamu. Tapi kalau kamu main kasar dan hanya bisa marah lebih baik kita pergi dari tempat ini" ujar Wildan.


Melodi berpikir sejenak, dia mencoba mempertimbangkan apa yang akan dia lakukan untuk memperingatkan istrinya untuk menjaga jarak dengan lawan jenis.


Saat ini Melodi sangat lapar karena tadi malam dan tadi pagi belum ada makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya. Dia sudah terbiasa makan bersama Cinta.


Akhirnya Melodi mengambil keputusan.


"Ya sudah kita makan siang bersama saja dengan mereka. Anggap seperti aku melakukan sidak lagi di kantin ini" ujar Melodi.


"Okey.. kalau begitu aku ikuti permainan kamu. Tapi kalau kamu emosi jangan salahkan aku kalau aku akan meninggalkan kamu dan perusahaan kamu ini. Aku akan kembali ke perusahaan Papaku" ancam Wildan.


Melodi dan Wildan masuk ke dalam kantin. Sontak semua karyawan berdiri ketika melihat kehadiran Melodi dan Wildan.


Mereka sengaja berjalan menuju meja Cinta dan Baim. Membuat wajah Cinta dan Ratna memucat karena takut. Mereka tidak menyangka dua pria itu akan hadir di sini.


Mati aku, pasti Pak Melodi akan memecatku karena tidak bisa menjaga Cinta. Batin Ratna.


Ya Allah mengapa Mas Melodi tiba - tiba bisa ada di sini? Apakah dia sudah baikan. Dan tatapan apa itu? Apakah dia masih marah padaku? tanya Cinta dalam hati.


"Boleh kami bergabung dengan kalian?" tanya Wildan dengan ramah.


Sementara Melodi tampak diam dan menatap Baim dengan tatapan mengintimidasi, membuat Baim takut jadinya.


"Si.. silahkan Pak" jawab Baim.


Melodi duduk tepat di samping Cinta sedangkan Wildan duduk disamping Baim. Pelayan datang dengan terburu - buru.


"Maaf Pak, mau pesan makanan apa?" tanya pelayan.


Melodi melirik ke arah piring Cinta.


"I.. ini namanya apa?" tanya Melodi sambil menunjuk ke arah piring Cinta.


"Sio... may Pak" jawab Cinta takut.


"Makan siangnya itu?" tanya Melodi.


Cinta menelan salivanya, bingung dengan pertanyaan Melodi.


"Sa.. saya pengen makan ini" jawab Cinta.


"Enak?" tanya Melodi.


Cinta menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah saya pesan sama" jawab Melodi.


Cinta akhirnya menarik nafas lega.


"Pak Wildan?" tanya Pelayan.


Membuat Cinta semakin tegang.


"Minumnya apa Pak?" tanya Pelayan lagi.


Melodi menatap ke arah Cinta.


"Mas tolong tambahin jus belimbing ya" jawab Cinta.


Baim menatap Cinta dengan tatapan penasaran.


"Itu aja Mbak?" tanya Pelayan.


"Aku jus jeruk deh, kayaknya seger banget tuh" sambut Wildan.


Melodi menatap tajam ke arah Baim.


"Kok tumben pisah meja dengan yang lain?" tanya Melodi kepada Baim.


Cinta meremas kedua tangannya. Dia tau suaminya saat ini sedang marah. Apalagi ingat kejadian kemarin, Melodi bersikap dingin kepadanya. Bahkan mereka tidak tidur seranjang tadi malam.


"Ada yang mau saya bicarakan dengan Cinta Pak" jawab Baim.


"Kamu kan dari bidang pengembangan proyek, setau saya masalah dinas kalian sudah selesai. Apa ada yang masih perlu di bahas?" selidik Melodi.


"Masalah pribadi Pak" jawab Baim.


"Oooo... " Melodi mengangguk - anggukkan kepalanya.


Wildan menatap wajah Melodi dengan seksama. Sejujurnya dia juga takut kalau Melodi akan melakukan sesuatu kepada Baim.


"Sepertinya kita mengganggu Wil" ucap Melodi.


"Su.. sudah selesai kok Pak. Kami hanya makan saja" jawab Cinta cepat.


"Iya Pak, Bapak berdua tidak mengganggu kok" Sambut Baim.


Ratna tampak bulak balik melirik ke meja Cinta. Dia sangat takut Melodi marah karena Baim mendekati Cinta.


Tak lama pelayan datang membawa makanan yang dipesan Melodi dan Wildan. Melodi dan Wildan mulai memakan makanan mereka.


"Lanjut aja pembicaraannya anggap saja kami tidak ada di sini" ujar Melodi.


Melodi memakan makanannya dengan lahap. Mana mungkin Baim dan Cinta bisa berbincang-bincang santai lagi di depan kedua atasan mereka di Perusahaan ini.


"Kok pada diam? Makan" ucap Wildan.


"Ah iya Pak" sahut Cinta.


Entah mengapa tiba - tiba selera makan Cinta jadi tumpat. Siomay yang ada di hadapannya jadi tak enak lagi rasanya. Tenggorokannya sangat sulit sekali menelan makanan yang ada di hadapannya.


Tapi tidak dengan Melodi, dengan cepat dia sudah menghabiskan semua makanan yang ada di dalam piringnya.


"Cinta laporan keuangan yang kemarin tolong kamu bawa ke ruangan saya" perintah Melodi.


Seketika Cinta tampak tegang. Dia sangat sadar tidak ada laporan keuangan yang diminta Melodi kepadanya. Itu hanyalah alasan Melodi untuk menyuruh Cinta datang ke ruangannya.


"Ba.. Baik Pak" jawab Cinta.


"Kamu sudah selesai Wil?" tanya Melodi sembari menghabiskan minumannya.


"Sudah" jawab Wildan.


"Kalau begitu lebih baik kita segera pergi dari sini. Aku tidak ingin kehadiran kita mengganggu masalah pribadi mereka. Silahkan kalian lanjutkan pembicaraan kalian yang terhenti karena kedatangan kami" ujar Melodi.


Melodi berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar kantin. Baim dan Cinta berdiri memberikan penghormatan kepada pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


Sambil berlalu dari hadapan Cinta, Melodi sempat melirik ke arah Cinta.


"Jangan lupa pesan saya tadi" ucap Melodi.


"Iya Pak" jawab Cinta.


Ya Tuhaaan.. apa yang akan Mas Melodi lakukan lagi kepadaku. Kuatkan aku... Doa Cinta dalam hati.


.


.


BERSAMBUNG