
Esok harinya Melodi berangkat ke kantor seperti biasa. Dia meninggalkan Cinta bersama Amel dan Bibik. Melodi juga meminta anak buahnya untuk menjaga kamar rawat inap Melodi di luar.
"Gimana keadaan Papa kamu? Maaf aku belum bisa menjenguk mereka karena aku juga sedang ada masalah" ucap Melodi kepada Wildan yang sudah masuk hari ini.
"Kamu sih masalah dibuat sendiri, selalu seperti itu diselesaikan di diskotik" sindir Wildan.
"Aku sudah jera Wil" ungkap Melodi.
"Halaaah selalu seperti itu tapi nanti kalau ada masalah lagi kembali lagi ke diskotik. Kesal aku lihat tingkah kamu" ujar Wildan kesal.
"Kali ini aku benar - benar jera, aku sudah bertaubat. Kemarin memang aku ke sana tapi hanya minum aku tidak melakukan apapun dengan Sofia. Sejak menikah aku tidak bisa melakukannya dengan wanita lain" jawab Melodi.
"Itu mungkin karena kamu baru menikah, nanti kalau sudah lama, sudah bosan balik lagi" balas Wildan.
"Wil, Cinta saat ini sedang hamil" ujar Melodi.
"Cinta hamil, benarkah?" tanya Wildan terkejut.
"Iya Cinta hamil, kemarin dia pingsan di sini dan aku segera bawa dia ke Rumah Sakit. Dokter mengatakan kalau Cinta sedang hamil" jawab Melodi.
"Alhamdulillah syukur lah.. aku harap anak itu membawa berkah pada Papanya agar tidak nakal lagi" sambut Wildan lega.
"Wil ada yang lebih mengkhawatirkan lagi" ujar Melodi.
"Apa? Kehamilan Cinta mengkhawatirkan?" tanya Wildan.
"Memang Cinta tidak boleh stress saat hamil ini. Dia seperti mendapat tekanan. Aku merasa ada orang yang ingin merusak rumah tangga kami. Orang tersebut tapi tau tentang masa lalu aku dan Cinta. Tentang kecelakaan orang tuaku dan keluarga Cinta" jawab Melodi.
Wajah Wildan tampak sedang menanggapi ucapan Melodi dengan serius.
"Ada orang yang ingin merusak hubungan kamu? Dan orang itu juga mengetahui cerita masa lalu keluarga kalian?" tanya Wildan penasaran.
Wildan memegang dagunya sambil berpikir.
"Kamu ingat foto yang ada di dalam surat kaleng itu?" tanya Melodi.
"Foto Papa Cinta bersama Om Andar?" Wildan balik bertanya.
"Ya.. ternyata Cinta mengenal Om Andar. Dia adalah teman Papanya Cinta. Mbak Amel dan Bibik sudah sampai di Jakarta tadi malam dan aku sudah bicara langsung kepada mereka. Aku bicara sejelas - jelasnya tanpa ada yang dirahasiakan lagi. Dan kamu tau apa yang aku dapatkan dari penjelasan mereka?" tanya Melodi.
"Apa?" tanya Wildan tak sabar.
Dia ingin sekali mengetahui cerita sebenarnya karena jujur sebenarnya dia juga merasa aneh dengan cerita kisah hidup Cinta.
"Selama Cinta koma enam bulan di Rumah Sakit ada orang yang ingin mencelakakan dia. Aku kok merasa curiga dengan seseorang" ungkap Melodi.
"Siapa?" tanya Wildan.
"Om Andar" jawab Melodi.
"Om Andar? Dia kan di penjara?" tanya Wildan.
"Kamu lupa, setelah Papa meninggal dia kan gak langsung di penjara. Beberapa bulan dia pegang Perusahaan hingga akhirnya Perusahaan hampir bangkrut dibawah kepemimpinannya. Bukan kah dia punya kesempatan untuk mencelakakan Cinta?" sambut Melodi.
"Tapi untuk apa dia mencelakakan Cinta?" tanya Wildan semakin bingung.
Mereka berdua sama - sama terdiam sambil memikirkan semua kemungkinan yang terjadi.
"Kalau benar Cinta adalah anak temannya masak iya dia tega ingin membunuh Cinta? Cinta sudah kehilangan orang tuanya, mengalami luka berat dan koma. Om Andar masih ingin menghabisi nyawanya? tega banget" jawab Wildan.
Melodi dan Wildan langsung tegang karena perkataan Melodi barusan.
"Apa yang kamu pikirkan saat berkata seperti itu?" tanya Wildan serius.
"Tiba - tiba saja aku kepikiran seperti itu. Apa iya ada sesuatu yang ingin ditutupi Om Andar? Cinta adalah satu - satunya orang yang selamat dalam kecelakaan itu. Dia takut sesuatu terbongkar" jawab Melodi.
"Kita harus segera cari tau hal ini Od. Walau Om Andar sudah di penjara sepertinya dia masih punya kaki tangan yang tetap mengawasi kehidupan kamu dan Cinta. Bisa bahaya ini, apalagi dia tau kalian malah bersatu dalam ikatan pernikahan" ucap Wildan mengingatkan.
"Iya, aku sudah buat penjagaan. Sudah ada orang yang menjaga ruangan Cinta. Kalau bukan dokter yang berkepentingan gak boleh masuk" ujar Melodi.
"Eh tapi aku melupakan sesuatu" sambung Melodi.
Melodi langsung menghubungi orang suruhannya.
"Halo Pak Melodi baru saja saya mau hubungi Bapak. Saya sudah mendapatkan informasi mengenai dua orang yang ada di salam foto tersebut. Mereka adalah Andar Kesuma dan Bapak Syarif mertuanya Bapak. Mereka adalah teman sekolah. Mereka hanya punya hubungan itu saja Pak tidak ada hubungan yang lain. Paling dulu Pak Andar suka membeli barang - barang di Toko milik mertua Bapak" lapor pria yang dihubungi oleh Melodi.
"Kalau begitu kamu cari informasi mengenai Andar Kesuma, seluruh keluarga dan orang - orang yang berhubungan dengannya di penjara" perintah Melodi.
"Baik Pak perintah akan segera saya laksanakan" jawab pria itu.
Telepon terputus.
"Ternyata kamu gerak cepat juga ya" puji Wildan.
"Sekarang aku sudah tidak galau lagi. Aku sangat yakin baik aku ataupun Cinta adalah korban dari kejahatan pria itu. Lihat saja aku akan menyelesaikan masalah ini sampai tuntas. Tidak ada lagi orang yang bisa menyentuh keluargaku" tegas Melodi.
"Syukur lah kalau kamu sudah yakin seperti ini. Aku jadi lega mendengarnya. Trus bagaimana resepsi pernikahan kalian yang akan berlangsung tiga minggu lagi?" tanya Wildan.
"Tetap akan dilaksanakan walau dengan penjagaan ketat. Aku tidak mau menundanya, apalagi Cinta sedang hamil saat ini. Lebih baik segera diadakan resepsi sebelum perut Cinta lebih besar lagi sedangkan menundanya sampai dia melahirkan itu terlalu lama waktunya" jawab Melodi.
"Baguslah kalau begitu" sambut Wildan.
"Oh iya nanti tolong kamu suruh Ratna ke Rumah Sakit. Cinta pasti senang jika dijaga oleh orang - orang terdekatnya. Aku ingin dia juga merasa terhibur dan tidak kesepian" perintah Melodi.
"Iya nanti aku akan bilang sama Ratna. Btw tentang Ratna, aku minta izin kepada kamu untuk membawanya nanti ikut ke Perusahaan aku" pinta Wildan.
"Enak saja kamu mencuri karyawan aku" ujar Melodi.
"Cuma Ratna Od, tolonglah. Aku butuh sekretaris nanti disana. Aku tidak suka memakai sekretaris Papa sudah terlalu tua" ungkap Wildan.
"Bilang saja kalau kamu memang sekalian ingin selalu berdekatan dengan Ratna" sambut Melodi.
"Yaaah sambil menyelam kelelep lah, begitu istilahnya" sambung Wildan.
"Hati - hati bro nanti kamu kembung, kebanyak minum air karena kelelep" pesan Melodi.
"Kamu curang, giliran waktu kamu jatuh cinta kemana - mana pengen selalu dekat sama Cinta. Aku kan juga mau usaha. Emangnya kalian aja yang ingin berumah tangga? Aku juga mau bro" protes Wildan.
"Hahaha... silahkan.. silahkan.. bawalah Ratna kemanapun kamu pergi. Bila perlu sebagian karyawan disini pun ingin kamu bawa silahkan. Aku sudah banyak berhutang kepada kamu. Mana mungkin aku menolak permintaan kamu" ujar Melodi.
"Tidak perlu, cukup Ratna saja" jawab Wildan.
.
.
BERSAMBUNG