
Cinta langsung menangis begitu bayi mereka di letakkan di dadanya. Cinta memeluk erat tubuh putranya. Dengan penuh cinta Melodi menghapus air mata istrinya.
"Alhamdulillah anak kita laki - laki sayang dan sangat sehat" ucap Melodi.
Melodi mencium kening Cinta dan membelai puncak kepala Cinta yang tertutup jilbab.
"Iya Mas alhamdulillah.. sayang Mama..." sambut Cinta sambil membelai lembut tubuh putranya.
Dokter melanjutkan aktivitasnya membersihkan bagian bawah tubuh Cinta. Tak lama kemudian perawat datang untuk mengambil putra Cinta dan Melodi.
"Putranya kami bawa dulu ya Bu untuk dibersihkan. Nanti setelah itu baru Bapak bisa mengadzankannya" ucap Perawat.
"Iya Suster" jawab Cinta.
Melodi tetap menggenggam tangan Cinta dengan erat.
"Kamu hebat sayang, kamu kuat. Terimakasih sudah berjuang untukku dan anak kita" ucap Melodi tak henti - hentinya sambil mengucap syukur.
"Iya Mas, terimakasih kamu juga sudah sabar mau menemani dan selalu disampingku" sambut Cinta.
Tak lama kemudian perawat datang menghampiri Melodi.
"Pak Putranya sudah selesai dibersihkan silahkan di adzankan" perintah perawat.
"Baik Suster" jawab Melodi.
"Sebentar ya sayang aku adzankan putra kita dulu" ujar Melodi pada Cinta.
"Iya Mas" sahut Cinta.
Melodi melepaskan tangan Cinta dan berjalan ke ruangan yang ada disamping ruangan bersalin. Melodi diajarkan cara menggendong bayinya lalu dengan pelan - pelan Melodi mengumandangkan adzan di telinga kanan putranya.
Bayi kecil itu terlihat tenang dan mendengarkan suara Melodi. Tanpa terasa air mata Melodi jatuh kepipinya. Kini dia sudah merasa menjadi pria sempurna.
Hidupnya kini sudah sempurna, memiliki keluarga yang utuh. Walau sembilan tahun yang lalu dia sudah kehilangan keluarganya, kini Allah sudah menggantikannya dengan keluarga kecilnya.
"Terimakasih ya Allah.. KAU berikan aku satu kebahagiaan lagi. Pa.. Ma.. kini aku sudah menjadi seorang Papa. Semoga kalian tenang disana. Kini aku sudah memiliki keluarga yang utuh" gumam Melodi.
"Sebentar lagi Ibu akan kita pindahkan Pak ke ruangan rawat inap" ucap seorang perawat.
"Baik Suster, tolong pindahkan putra saya ini. Saya tidak berani bergerak berlebihan" pinta Melodi.
Melodi masih terlihat kaku menggendong putranya. Maklum ini adalah pengalaman baru baginya. Dokter tersenyum menatap Melodi lalu membantunya mengambil alih putra Melodi dan memindahkannya ke dalam box.
Bayi mungil itu terlihat tenang di dalam boxnya. Sungguh sangat menggemaskan. Melodi tersenyum bangga lalu pergi meninggalkan putranya untuk melihat istrinya.
Satu jam kemudian Cinta sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap. Dan Putra mereka tentu saja selalu berada di samping Cinta.
"Selamat ya Cinta.. Melodi, semoga anak ini menjadi anak yang soleh" ucap Bim Sumi.
"Aamiin... " jawab Cinta dan Melodi serentak.
"Semoga menjadi pembela orang tuanya kelak di akhirat. Menjadi anak pintar dan berguna bagi agama dan negara" sambut Pak Ilham.
"Aaamiin.. " sahut Cinta dan Melodi kembali.
"Tampan sekali anak kalian? Siapa namanya? Apakah kalian sudah mempersiapkan namanya?" tanya Pak. Ilham.
Cinta menatap wajah suaminya.
"Sudak Pak namanya Muhammad Tradita Sanjaya" jawab Melodi tegas.
"Dipanggil Radit ya Mas" sahut Cinta.
"Iya sayang" jawab Melodi.
"Apa itu arti Tradita?" tanya Pak Ilham.
"Putra Melodi dan Cinta" jawab Melodi.
"Waaah iya ya, namanya bagus. Benar - benar pembela Papa dan Mamanya ini" sambut Pak Ilham.
"Aaamiin... " jawab Cinta dan Melodi lagi.
Tiba - tiba Ratna dan Wildan datang.
"Aaaah mana jagoannya? Aku sudah tak sabar ingin menggendongnya" teriak Ratna begitu masuk ke kamar Cinta.
"Sayaaang kamu jangan berteriak seperti itu nanti anak mereka terkejut mendengar suara kamu" potong Wildan.
Wildan langsung memeluk Melodi.
"Selamat ya kamu sudah menjadi orang tua" ucap Wildan tulus.
"Terimakasih Wil, semoga kamu menyusul segera" balas Melodi.
"Aamin.. " sambut Wildan.
"Oh ya Allah tampan sekali kamu sayang .. ciapa cih nama kamu?" tanya Ratna.
"Muhammad Tradita Sanjaya Onty" jawab Cinta.
"Waaah.. jadi Onty panggil apa kamu sayang?" tanya Ratna lagi.
"Radit Onty" sahut Cinta.
"Radit ya.. Radit kamu ganteng banget Onty jatuh cinta" gumam Ratna.
"Gawat Mas kamu punya saingan" ucap Cinta pada Wildan.
Wildan hanya tersenyum mendengar ucapan Cinta.
Kini Wildan, Melodi dan Pak Ilham duduk di sofa sedangkan Bik Sumi sedang menggendong Tradita. Tinggal Ratna yang menemani Cinta istirahat. Cinta kembali melihat wajah sedih Ratna.
Pasti karena dia sudah melahirkan dan mempunyai anak. Sedangkan Ratna belum juga kunjung hamil.
"Kenapa Rat?" tanya Cinta.
"Tidak kenapa - kenapa" elak Ratna.
"Aku kenal kamu Rat, kamu kan sahabat aku" ujar Cinta.
"Benar Cin, tidak ada" Ratna masih mengelak.
"Soal anak lagi?" tebak Cinta.
Ratna mengangguk pelan.
"Kalau kamu kepikiran terus kenapa gak ke dokter kandungan untuk memeriksakan keadaan kamu?" tanya Cinta.
"Sudah Cin, tiga bulan pernikahan kami aku dan Mas Wildan datang ke Dokter kandungan karena aku merasa tidak enak pada mertuaku yang terlihat sangat mengharapkan cucu" jawab Ratna.
"Terus apa hasilnya?" tanya Cinta.
"Aku dan Mas Wildan sehat, tidak ada masalah" jawab Ratna.
"Yah mungkin Allah belum memberikan kalian rezeki, sabar saja dan nikmati pernikahan kamu, jangan terbebani" nasehat Cinta.
"Tapi Cin dalam keadaan ini pasti aku sebagai wanita yang dianggap tidak baik - baik saja. Pasti aku yang akan selalu disalahkan" ujar Ratna.
"Emangnya Mas Wildan berkata begitu?" tanya Cinta tak percaya.
"Tidak" jawab Ratna.
"Mertua kamu?" tanya Cinta lagi.
Ratna menggelengkan kepalanya.
"Tidak" jawab Ratna.
"Ya sudah kan gak ada masalah, kamu aja yang terlalu sensitif" sahut Cinta mencoba untuk menghibur Ratna.
"Nikmati hidup Rat dan kamu harus bahagia. Kalau kamu merasa terbebani itu yang akan membuat kamu semakin sulit hamil" nasehat Cinta.
Ratna terdiam mendengar perkataan Cinta.
"Mana sahabat aku yang ceria dan selalu percaya diri?" tanya Cinta.
Air mata Ratna jatuh perlahan.
"Aku merasa lemah Cin, seperti berperang dan aku tak punya senjata. Aku hanya bisa pasrah menerima serangan dalam tatapan mata setiap orang setiap kali melihat aku dan Mas Wildan dan sampai sekarang aku belum juga hamil" ungkap Ratna.
Cinta menarik tangan Ratna dan menggenggamnya. Cinta berusaha membuat Ratna tenang.
"Itu hanya perasaan kamu. Sama seperti kita masuk kampus dulu Rat. Semua menatap remeh kepada kita karena kita berasal dari kampung dan tidak kaya. Bukankah dulu kamu yang selalu memberikan semangat padaku untuk cuek pada semua tatapan anak - anak kampus yang selalu memandang rendah pada kita" sahut Cinta.
Cinta menghapus air mata di pipi Ratna.
"Tidak ada yang akan menyalahkan kamu, siapa wanita yang tidak ingin punya anak? Jangan merasa bersalah karena kamu sehat, cukup yakini kamu sehat dan tidak punya kekurangan" ucap Cinta memberi semangat.
Cinta kembali menggenggam tangan Ratna.
"Ayo Rat semangat, hadapi masa depan dengan semangat dan penuh percaya diri. Kamu kuat, kamu hebat Allah pasti akan beri kamu dan Mas Wildan keturunan. Yakin lah itu masih banyak waktu jangan merasa takut" sambung Cinta.
Ratna menatap mata Cinta. Entah mengapa tatapan mata Cinta bisa membuat Ratna kembali semangat. Cinta tersenyum senang karena dia tau semangat sahabatnya sudah kembali.
"Jaga pola hidup sehat, jauhkan stres kurangi kesibukan kamu di kantor. Jurus terakhir tantang Mas Wildan diatas ranjang dan mintalah kepada Allah doa terbaik untuk kalian" ucap Cinta terakhir.
"Terimakasih Cinta kamu sudah memberi aku semangat sehingga aku masih punya secercah harapan" jawab Ratna.
Mereka kemudian saling berpelukan.
.
.
BERSAMBUNG