
Melodi sampai di sebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah kecil tapi mempunyai halaman rumah yang penuh dengan tanaman yang tertata rapi.
Tapi rumah ini sangat sepi, tidak ada yang menyambut kedatangannya bersama Pak Tua ini. Pak Tua membuka pintu rumahnya.
"Masuk Den" ajak Pak Tua.
Melodi masuk ke dalam rumah yang amat sangat sederhana tapi bersih dan rapi. Dia melihat sekeliling rumah itu.
"Maaf kita belum sempat berkenalan tadi" ucap Bapak tua sambil mengulurkan tangannya.
"Melodi Pak" sambut Melodi.
"Ilham" jawab Pak Tua itu.
Mereka saling berjabat tangan. Melodi menatap sekeliling dan mencari keberadaan orang lain di rumah ini tapi sepertinya tidak ada tanda - tanda ada orang lain lagi selain mereka berdua di rumah ini.
"Sendirian Pak?" tanya Melodi.
"Iya Den, Bapak tinggal sendiri sudah tiga tahun. Istri Bapak sudah meninggal dunia dan Bapak tidak punya anak" jawab pria tua itu.
Berarti Bapak ini juga hidup sebatang kara? tanya Melodi dalam hati.
"Kalau begitu siapa yang masakin Bapak makanan?" tanya Melodi.
"Bapak masak sendiri Den, apa adanya. Bapak masak sayur yang Bapak tanam di halaman belakang. Bapak juga pelihara ayam dan ada ikan di kolam belakang" jawab pria tua itu.
Melodi seketika menjadi malu. Pria ini sudah tua, hidup sederhana dan hanya sendirian saja masih optimis menjalani hidup. Lalu bagaimana dengan dia?
Masih muda punya semua yang diinginkan semua orang. Harta, tahta dan... para wanita. Wanita mana saja yang dia inginkan bisa dia dapatkan. Tapi tetap saja dia merasa sepi.
"Bapak gak ngerasa kesepian hidup sendirian?" tanya Melodi.
"Sepi itu pasti ada Den tapi pada dasarnya begitu lah siklus kehidupan. Pada akhirnya kita akan sendiri. Di alam kubur juga sendirian. Tapi Bapak kan sudah menjalani hidup dengan bahagia Den. Bapak punya istri yang sangat baik, kelak Bapak berharap nanti di akhirat akan bertemu dan berkumpul dengannya. Seperti yang Aden rasakan saat ini itu lumrah. Pasti akan sedih kehilangan orang yang sangat kita sayangi Tapi masa depan Aden masih panjang. Aden belum berumah tangga, kalau merasa kesepian sok atuh dicari pendampingnya? Masak mau kalah sama temannya" ucap Pak tua itu.
"Saya belum memikirkannya Pak" jawab Melodi jujur.
"Usia Aden saat ini dua puluh tujuh tahun kan?" tanya Pak Tua.
"Iya Pak, jalan dua puluh delapan sebentar lagi" jawab Melodi.
"Sudah matang Den dari segi usia sudah cukup. Dari segi materi Bapak yakin Aden bisa. Sudah jatuh hukuman wajib untuk menikah. Tidak baik di tunda - tunda Den. Menikah itu untuk menjauhkan kita berbuat dosa. Menikah itu menyempurnakan separuh agama dan menikah itu adalah ibadah. Menikah itu ibadah yang paling panjang Den. Apakah Aden tidak mau beribadah seperti itu?" tanya Pak Tua.
"Aku belum punya calon yang cocok Pak" jawab Melodi.
"Manusia hidup berpasangan untuk saling mengisi. Tidak ada yang akan mempunyai sifat yang sama. Kita lahir dari perut yang berbeda, hidup dalam keluarga dan lingkungan yang berbeda. Ketidak cocokan itu pasti akan ada sampai nanti kita tua. Itulah tugas kita untuk saling mencocokkan. Mengalah saat pasangan kita lebih di depan tapi adakalanya kita yang harus memimpin. Mendengarkan saat dia butuh bercerita dan ada juga kalanya omongan kita harus dia dengar. Kalau kita memandang pernikahan itu sederhana insyaallah akan terasa ringan tapi kalau kita berpikiran berat pasti akan berat yang kita hadapi" sambut Pak Tua.
Melodi menundukkan wajahnya.
"Menikahlah Den, cari kebahagian Aden yang baru. Lupakan kesedihan yang lalu. Itu memang sudah jalanNYA. Ikhlaskan kepergian kedua orang tua Aden dan raih kebahagiaan masa depan Aden" Ucap Pak Tua sambil memeluk bahu Melodi.
Pak Tua berjalan menuju dapurnya meninggalkan Melodi termenung sendirian. Tak lama Pak Tua datang membawa minuman untuk Melodi. Dia memberikannya kepada Melodi.
"Di minum Den" ucap Pak Tua.
"Terimakasih Pak" sambut Melodi.
Pak Tua berjalan ke belakang sambil menggulung celananya.
"Bapak mau tangkap ikan. Aden mau ikut? Siapa tau bisa melupakan sedikit masalah yang memberati pikiran Aden" ajak Pak Tua.
Melodi berjalan mengikuti Pak Tua itu ke belakang rumahnya. Ternyata banyak hewan peliharaan di belakang rumahnya. Ada kandang ayam dan juga kolam ikan.
Pak Tua itu mengambil jaring dan mulai menjaring ikan di dalam kolam.
"Wah lumayan besar - besar ya Pak ikan - ikannya" ucap Melodi semangat.
"Iya sudah Bapak pelihara selama enam bulan ini" jawab Pak Tua dengan riang gembira.
Pak Tua menangkap tiga ekor ikan lalu dia membersigkannya dan membakar ikan - ikan tersebut. Kemudian Pak Tua mengambil beberapa sayur untuk lalapan. Pak Tua juga mengulek sambel untuk mereka berdua.
Melodi hanya bisa memperhatikan semua kegiatan Pak Tua dan duduk di dekat kolam ikan. Entah mengapa suasana di rumah Pak Tua ini terasa sangat nyaman dan membuatnya betah.
"Yuk Den, mari kita makan" ajak Pak Tua.
Melodi berjalan masuk ke dalam rumah. Pak Tua sudah menyiapkan semua hidangan diatas meja makan. Pria ini hidup sendiri dengan usia yang sudah tua tapi dia masih tetap kuat dan optimis menjalani hidupnya.
Diam - diam Melodi simpatik kepada Pria Tua ini. Walau hidup sederhana dan apa adanya tapi dia terlihat bahagia.
"Usia berapa Bapak menikah dulu?" tanya Melodi.
"Dua puluh lima tahun, istri Bapak berumur dua puluh dua tahun" jawab Pak Tua yang bernama Ilham itu.
"Apakah selama pernikahan Bapak dan Ibu memang tidak berkesempatan memiliki momongan?" tanya Melodi hati - hati takut pria yang ada dihadapannya ini tersinggung.
"Kami punya dua kali kesempatan, tapi istri Bapak keguguran di usia tiga bulan kehamilannya. Setelah itu kami berdua hanya pasrah. Kalau memang Allah memberi kami kesempatan untuk memiliki anak kami akan sangat senang menerimanya. Kalaupun memang tidak rezeki ya tidak apa mungkin itulah yang terbaik" jawab Pak Tua.
"Apakah Bapak bahagia dengan pernikahan Bapak?" tanya Melodi.
"Alhamdulillah Bapak sangat bahagia Den, istri Bapak lucu orangnya, dia juga cerewet, tapi dia sangat pintar memasak membuat Bapak betah di rumah" jawab Pak Tua dengan semangat.
Tiba - tiba Melodi terbayang wajah Cinta. Lucu, cerewet dan pintar masak.
Cinta ngedumel mengumpatnya sambil membersihkan dapur kemudian Cinta sambil bergoyang dan bernyanyi memasak untuknya.
Duuuh kenapa wajahnya yang aku bayangkan. Batin Melodi.
"Sejak menikah dengannya walau kami hidup berdua tapi Bapak tidak pernah merasa kesepian. Sesekali setelah dia meninggal terkadang Bapak merindukannya tapi Bapak berdoa dan meminta kepada Allah agar Bapak bisa segera bertemu dan berkumpul lagi dengannya" sambung Pak Tua.
Melodi bisa melihat raut bahagia diwajah Pak Tua saat bercerita tentang istrinya. Tak lama kemudian terdengar suara adzan.
Mereka sudah selesai makan. Pak Tua masuk ke kamarnya dan berganti pakaian.
"Yuk Den kita ke mesjid" ajak Pak Tua.
Sontak tubuh Melodi menegang.
Aduuuh bagaimana ini aku sudah lama tidak melakukannya. Batin Melodi.
.
.
BERSAMBUNG