Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 180


Setelah Pak Ramlan selesai mandi dan bersiap mereka semua duduk di depan meja makan dan makan siang bersama. Selama ini kejadian ini belum pernah terjadi di dalam rumah ini.


Semua terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka masing - masing. Berusaha menyimpan kenangan ini sebagain kenangan yang tidak akan pernah mereka lupakan.


Bu Ramlan melayani suaminya dengan penuh perasaan. Mengambilkan makanan ke dalam piring Pak Ramlan, mengisinya dengan lauk pauk yang tadi dia masak bersama anak - anaknya.


"Makan Pak" ucap Bu Ramlan.


"Terimakasih Bu" jawab Pak Ramlan sambil tersenyum penuh arti.


Ternyata menjadi manusia baru tidak berat jika serius ingin menjalaninya. Hal seperti ini memang pernah beberapa kali terlintas dalam pikirannya tapi dia tidak punya kekuatan yang besar.


Disamping itu himpitan hutang dan kejaran para rentenir yang selalu membuat kepalanya serasa mau pecah sehingga dia terus kembali pada minum - minuman.


Sambil makan dia pandangani satu persatu putri - putrinya yang paling cantik. Dan tatapannya lama menatap Ratna. Putri kesayangannya yang sejak kecil sudah sangat dia banggakan.


Dulu dia, istrinya dan putri sulungnya ini hidup bahagia, sebelum Pak Ramlan di fitnah di perusahaan tempat dia bekerja. Dia dituduh mencuri dan akhirnya di pecat.


Sejak saat itu Pak Ramlan kecewa dan marah tapi tidak tau kepada siapa harus dia lampiaskan. Akhirnya dia menemukan teman baru yaitu minum - minuman.


Setelah itu kehidupan mereka berubah menjadi suram. Makanya jarak usia Ratna dan tiga orang adiknya jauh karena masa - masa sulit yang Pak Ramlan dan istrinya lalui.


Air mata Pak Ramlan kembali menetes.


"Paaak kenapa menangis lagi?" tanya Bu Ramlan.


"Lihat Bu, putri kecilku yang dulu ku timang - timang kini sudah sebesar itu. Dulu setiap pulang kerja dia selalu menungguku dan minta diajak jalan naik motor keliling kampung. Sekarang dia sudah besar dan cantik sekali. Bahkan sebentar lagi dia akan menikah" ucap Pak Ramlan.


Ratna dan adik - adiknya kembali menangis.


"Kita sedang makan Pak, tak baik kalau sambil menangis. Nanti Allah marah, rezeki hari ini kita sambut dengan tangisan" sahut Bu Ramlan.


Pak Ramlan menghapus air matanya.


"Dulu kamu suka sekali gula kapas, setiap ada pasar malam di kampung kamu pasti akan merengek minta dibawa kesana untuk membeli gula kapas" lanjut Pak Ramlan bercerita.


Lalu Pak Ramlan menatap putri lainnya.


"Untuk kalian bertiga Bapak minta maaf, kalian tidak pernah merasakan kebahagiaan. Bapak tidak pernah meninggalkan kenangan indah dimasa kecil kalian" ungkap Pak Ramlan.


"Kalau masa kecil sudah berlalu kan ada masa depan Pak" sahut Retno.


"Kamu benar No, hari depan masih sangat panjang. Kita bisa mengukir kenangan indah di kemudian hari" jawab Pak Ramlan.


Setelah selesai makan siang bersama mereka berkumpul di ruang keluarga untuk berpamitan.


"Maaf ya Retno, Riska dan Rafika. Kalian tidak bisa ikut. Biar Mas, Mbak Ratna dan Ibu yang mengantar Bapak ke tempat rehabilitasi" ucap Wildan.


"Tidak apa Mas, kami mengerti" jawab Retno.


"Jaga rumah dan adik - adik ya Nduk. Bapak pergi tidak akan lama" ucap Pak Ramlan.


"Iya Pak kami akan menunggu Bapak pulang" sahut Retno.


Retno, Riska dan Rafika kembali memeluk Bapak nya sebagai salam perpisahan.


"Kami mungkin akan pulang malam, kalian hati - hati ya di rumah" ujar Ratna pada adik - adiknya.


"Iya Mbak, hati - hati ya" sahut Riska.


Tiga jam kemudian sampailah mereka di pusat rehabilitasi. Sebelumnya Wildan sudah mendaftarkan Pak Ramlan sebagai pasien rehab yang akan masuk hari ini juga.


Pak Ramlan disambut dengan baik di sana. Setelah melakukan daftar ulang dan beberapa pengecekan akhirnya Pak Ramlan bisa masuk dan mulai menjalani rehabilitasi mulai hari ini.


"Bagaimana Pak, setelah Bapak melihat keadaan tempat ini secara langsung?" tanya Wildan.


"Sepertinya Bapak akan betak Nak Wildan. Harus.. Bapak harus betah demi anak - anak" jawab Pak Ramlan.


"Jangan betah donk Pak, kalau Bapak nanti Bapak gak pengen pulang" potong Ratna.


Pak Ramlan tersenyum tipis.


"Itu pasti Nduk.. maksud Bapak untuk sementara Bapak akan betah di sini selama masa pengobatan Bapak. Tempatnya nyaman dan Bapak lihat di sana ada mesjid besar. Nanti Bapak akan bisa mendalami ilmu agama selama di sini untuk bekal Bapak pulang nanti" jawab Pak Ramlan.


Bu Ramlan tersenyum penuh kasih kepada suaminya. Bagaimana pun selama hidup bersama suaminya mereka pernah bahagia. Itu yang membuat Bu Ramlan bisa bertahan selama ini.


Dia tau sejak awal mengenal suaminya Pak Ramlan bukanlah pria yang jahat. Pria itu kecewa pada nasih dan akhirnya menyerah pada kehidupan dan jatuh kedalam dunia minuman.


Dulu suaminya ini adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Pria jujur tapi karena sebuah fitnah dia berubah menjadi pria pengecut dan putus asa.


"Mari Pak kami antar ke kamar Bapak" ajak Wildan.


Mereka berjalan menuju asrama rehabilitasi. Lokasi rehabilitasi tersebut sangat luas, dengan fasilitas lengkap seperti mesjid ruang olahraga. Di tempat ini nanti para anggota rehabilitasi akan di didik menjadi manusia yang bisa bermanfaat setelah keluar dari tempat ini.


Mereka akan dibekali keterampilan. Bagi yang suka bertukang akan diajari cara membuat keterampilan seperti membuat lemari, kitchen set, tempat tidur dan lain - lain. Yang suka berkebun akan diajari cara bercocok tanam. Bagi yang suka mekanik mereka akan diajarkan bongkar pasang mesin dan lainnya.


Tempat ini sebenarnya lebih banyak untuk para pengguna narboka yang ingin sembuh. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk para pemabuk dan penjudi yang ingin sembuh dari penyakit buruk dalam hidup mereka.


Banyak yang menyebut tempat ini adalah pesantren kehidupan. Bukan tempat rehabilitasi. Dimana lingkungannya nyaman, dengan udara yang sejuk dan sehat.


"Kamu kok bisa menemukan tempat ini Mas?" tanya Ratna saat mereka berjalan menuju kamar Pak Ramlan.


"Pastinya aku mencari informasi dari temanku" jawab Wildan.


Ratna tersenyum curiga.


"Teman atau orang suruhan kamu Mas yang bekerja sebagai detektif. Dari tadi siang aku sudah curiga mengapa kamu bisa membawa para juragan kampung ke rumahku. Dan mereka seperti ketakutan melihat kamu. Pasti kamu sudah mengancam mereka?" tanya Ratna.


"Hahaha.. kamu memang selalu pintar membaca situasi. Itu juga kelebihan kamu. Aku akui aku tidak menyapu bersih kehidupan kotorku dulu. Masih ada yang aku gunakan sampai saat ini, tapi tentu saja bukan untuk berbuat kotor. Contohnya saat - saat seperti ini bisa aku gunakan. Aku mencari informasi semua rentenir itu, setelah aku mendapatkan kelemahan mereka baru aku tekan sampai mereka tidak bisa berkutik lagi" ungkap Wildan.


"Pantas saja mereka patuh pada semua ucapan kamu" sahut Ratna.


Tibalah mereka di sebuah kamar berukuran tiga kali tiga. Kamarnya terlihat sangat nyaman dan jaraknya antara kamar lain tidak begitu dekat.


Hal ini dilakukan agar para anggota rehab mempunyai privasi pada hidup mereka. Karena pada saat mereka melewati masa - masa sulit dalam proses penyembuhan mereka tidak merasa malu dengan teman - teman mereka.


"Nah ini kamar Bapak selama di sini. Untuk sementara aku memesan kamar sendiri buat Bapak. Nanti kalau Bapak merasa tidak nyaman atau kesepian Bapak bisa bilang ke Ratna agar pindah kamar yang di dalamnya ada beberapa orang" ucap Wildan.


"Tidak apa Nak Wildan yang ini saja Bapak suka kok. Terimakasih banyak, kamu sudah berbuat banyak sekali untuk Bapak dan keluarga Bapak" jawab Pak Ramlan.


Akhirnya setelah shalat maghrib Wildan, Ratna dan Bu Ramlan pamit untuk kembali pulang ke Kota Pati dan meninggalkan Pak Ramlan di pusat rehabilitasi.


.


.


BERSAMBUNG