
Pernikahan Ratna dan Wildan tinggal hitungan hari. Persiapan pernikahan mereka juga sudah hampir rampung. Undangan sudah mulai disebar untuk keluarga, sahabat, seluruh karyawan PT. Raharjo Group dan anak perusahaannya, juga para relasi bisnis.
Wildan mengirimkan undangan pernikahannya ke desa tempat Rania dan keluarganya tinggal. Kini Rania sudah putus dengan Mr. Smithson setelah dia mengetahui ternyata Mr. Smithson yang menjebak dia di hotel dan memutar video di hari pertunangannya dengan Wildan.
Bukan karena marah akibat perbuatan Mr. Smithson dia batal bertunangan dengan Wildan tapi lebih kepada tidak ada jalan keluar atas hubungan mereka untuk masa depan.
Mereka memiliki keyakinan yang berbeda. Dan saat ini Rania sedang sibuk mendalami ilmu agama di desa. Rania mulai belajar shalat dan mengaji.
Untuk sementara mereka hidup dari tabungan Rania karena uang Papanya sudah habis. Mereka membuka toko grosir untuk memenuhi kegiatan dan kebutuhan hidup mereka di desa
"Papa gak mau datang ke pernikahan Wildan?" tanya Rania.
"Tidak, kenapa? kamu mau datang?" tanya Pak Sudibyo.
Rania menggelengkan kepalanya.
"Aku kan sudah janji pada Wildan dan Melodi untuk tidak menunjukkan wajahku lagi di Jakarta. Lagian aku malu pada mereka dan orang - orang yang ada di sana. Aku kan dulu pernah bekerja di PT. Raharjo Group. Banyak orang - orang yang aku kenal dan juga mengenalku di sana. Biarlah aku tetap di sini. Kalau Papa ingin ke sana silahkan saja. Tabunganku masih cukup kok untuk ongkos Papa dan Mama pulang pergi dari sini ke Jakarta " jawab Rania.
Pak Sudibyo tersenyum lembut menatap putrinya. Sekarang dia sudah bisa bernafas lega. Putrinya perlahan - lahan telah sadar dan berubah menjadi sosok manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
"Tidak usah sayang. Kondisi Papa kan masih belum stabil. Wildan pasti mengerti" jawab Pak Sudibyo.
"Baiklah Pa" sahut Rania.
"Nanti Papa akan hubungi Wildan untuk mengucapkan selamat kepadanya" ujar Pak Sudibyo.
Sementara di Jakarta.
"Tidak apa Om aku mengerti. Doa saja aku sudah sangat berterima kasih. Yang penting Om sekeluarga sehat - sehat semua ya" jawab Wildan yang sedang berbicara dengan Pak Sudibyo melalui panggilan telepon.
Melodi masuk ke dalam ruangan Wildan. Dia meletakkan amplop putih kepada Wildan. Wildan yang baru saja selesai bertelepon dengan Pak Sudibyo langsung melirik Melodi.
"Apa ini?" tanya Wildan.
"Paket honeymoon kalian. Aku kan udah janji sama kamu" jawab Melodi.
"Makasih Od" sambut Wildan dengan senang hati.
"Jangan dibuka sampai setelah resepsi pernikahan kalian. Nanti supir akan menjemput kalian ke Hotel lanjut berangkat ke kota tempat kalian honeymoon" pesan Melodi.
"Okey, jika itu syarat dari kamu" sambut Wildan.
"Oh iya tadi kamu teleponan dengan siapa? Tadi aku dengan kamu sedang mengundang seseorang?" tanya Melodi penasaran.
Karena kedengarannya Wildan sangat sopan dan hormat saat berbicara dengan seseorang yang dia hubungi tadi.
"Ooo Om Sudibyo. Aku mengirim undangan ke desa tempat mereka tinggal. Dia izin padaku tidak bisa datang karena kepergian mereka kan baru seminggu lebih. Dia takut Rania curiga dengan sandiwaranya. Baru kena serangan jantung udah bepergian jauh. Walau sebenarnya Rania sudah menyuruh Om dan Tante Sudibyo berangkat menghadiri pesta pernikahanku" jawab Wildan.
"Benar itu, kalau mau sandiwara harus totalitas. Kalau sandiwara ini sampai bocor dan Rania tau bisa gagal rencana Om Sudibyo mendidik Rania jadi lebih baik. Rania bisa jadi tidak mempercayai bahkan kecewa dengan orang tuanya sendiri. Bisa - bisanya Papa dan Mamanya pura - pura bangkrut dan hidup sederhana di Desa" sambut Melodi.
"Nah itu dia makanya Om Sudibyo hubungi aku. Dia cerita katanya sekarang Rania rajin shalat dan belajar mengaji. Mereka membuka usaha grosir di desa. Sebagai kegiatan dan tambahan hidup di desa. Katanya hidup di desa lebih nyaman dan tenang" ungkap Wildan.
"Itu benar Wil, setiap kali kami pulang kampung itu juga yang aku rasakan. Makanya aku cari rumah jauh ke Bogor. Tidak apalah jauh sedikit dari kantor tapi begitu pulang aku merasa damai dan tenang. Juah dari keramaian Kota Jakarta" sambut Melodi.
"Aku juga sedang mencari rumah masa depan. Tapi Ratna tidak setuju kalau kami beli rumah di kampung" curhat Wildan.
"Kenapa?" tanya Melodi penasaran.
"Benar itu pemikiran Ratna. Sudah kamu cari rumah dekat - dekat rumah aku saja. Masih banyak rumah kosong, lahan kosong juga banyak. Terserah kamu mau bangun rumah sendiri atau tinggal renovasi" pesan Melodi.
"Boleh juga tuh tawaran kamu. Nanti setelah menikah dan pulang honeymoon aku akan ajak Ratna cari - cari rumah dekat rumah kalian. Dia pasti senang banget bisa berdekatan dengan Cinta juga" ujar Wildan.
"Gimana persiapan pernikahan kalian?" tanya Melodi.
"Sudah rampung, besok keluarga Ratna akan datang. Besok aku dan Ratna juga sudah mulai cuti. Kami akan adakan pertemuan keluarga. Kalian datang ya, ajak Pak Ilham dan Bik Sumi. Kalian juga kan keluarga kami" pinta Wildan.
"InsyaAllah besok kami datang. Acaranya malam kan?" tanya Melodi.
"Iya malam di rumah orang tuaku" jawab Wildan.
"Baiklah kalau begitu aku pulang ya. Istriku tadi berpesan aku jangan pulang telat" Melodi melirik jam tangannya.
"Ini sebenarnya masih terlalu cepat aku pulang tapi tak apalah aku sudah sangat merindukan istriku" ungkap Melodi.
"Aaah lebay kamu" ejek Wildan.
"Sebentar lagi juga kamu akan merasakannya" jawab Melodi sambil tersenyum nakal.
Melodi bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu keluar. Saat dia membuka pintu Melodi langsung melihat Ratna yang sedang duduk di depan meja kerjanya sambil mengerjakan sesuatu.
"Ratna Wildan memanggil kamu" ucap Melodi iseng.
"Baik Pak eh Mas" sambut Ratna.
"Okey aku pulang dulu ya Rat, sampai ketemu besok. Daaaan... hati - hati beberapa hari ini jangan dekat - dekat Wildan. Sepertinya dia sedang kena sindrom menikah. Bawaannya pengen nerkam terus" goda Melodi.
Melodi berlalu dari kantor Wildan.
"Dasar" umpat Wildan dari dalam ruangannya.
Dia masih mendengar ucapan Melodi tadi karena Melodi sengaja berbicara dengan suara yang kuat agar dia bisa mendengarnya.
Tak lama Ratna masuk ke ruangan Wildan.
"Ada apa Mas?" tanya Ratna serius.
"Ada apa bagaimana?" Wildan balik bertanya, dia tidak mengerti maksud dari pertanyaan Ratna.
"Tadi kata Mas Melodi, kamu memanggil aku?" tanya Ratna.
"Aku tidak ada pesan begitu padanya. Dia aja tuh yang iseng" jawab Wildan.
Tiba - tiba Wildan terpesona dengan wajah Ratna yang cantik dan merah merona saat ini.
Aaaakh cantiknya calon istriku, rasanya udah gak sabar pengen unboxing. Teriak Wildan dalam hati.
Waduuuuuh gawat, benar juga tuh ucapan si kunyuk. Apa ini yang dinamakan sindrom pernikahan? Tanya Wildan bingung di dalam hatinya.
.
.
BERSAMBUNG