Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi
Bab 209


"Sudah saya duga pasti dia orangnya" ucap Wildan.


"Ta.. tapi bagaimana Nak Wildan bisa membongkar kejahatannya setelah sebegitu lamanya?" tanya Pak Ramlan bingung.


"Pria ini masih melakukan hal yang sama Pak pada karyawan - karyawan lain. Untuk menghilangkan jejak sekaligus mengambil keuntungan dari perbuatannya dia mengkambing hitamkan perbuatannya pada orang lain yang tidak bersalah. Dia selalu membuat korban baru" jawab Wildan.


"Astaghfirullah..." ucap Pak Ramlan.


"Besok apakah Bapak mau ikut bersama saya datang ke PT. Raharjo Pelangi?" pinta Wildan.


"U.. untuk apa Nak Wildan?" tanya Pak Ramlan.


"Untuk menyaksikan kehancuran pria ini. Dia sudah memfitnah banyak orang Pak" jawab Wildan.


"Tapi apa Bapak pantas datang ke sana?" tanya Pak Ramlan.


"Kenapa tidak, Bapak kan calon mertuaku" jawab Wildan.


Pak Ramlan menatap mata Wildan lama, mencoba untuk mengumpulkan rasa percaya diri. Lalu dia menarik nafas panjang.


"Baiklah Nak Wildan, Bapak akan ikut kamu besok" jawab Pak Ramlan.


"Bagaimana kalau kita berangkat hari ini Pak. Saya menginap di Hotel Semarang. Kalau besok pagi saya jemput Bapak ke sini saya rasa akan memakan waktu yang lama. Bagaimana kalau Bapak ikut saya saja ke Semarang hari ini, besok baru Bapak saya antar lagi ke sini" pinta Wildan.


Pak Ramlan menatap istrinya.


"Bagaimana Bu?" tanya Pak Ramlan pada istrinya.


"Terserah Bapak saja. Tapi ada benarnya juga sih apa yang dikatakan Nak Wildan Pak. Kalau besok dia jemput Bapak ke sini, kasihan juga Nak Wildan capek dan makan waktu. Semarang - Pati kan jauh Pak" jawab Bu Ramlan.


"Baiklah Nak Wildan kalau begitu Bapak ikut Nak Wildan hari ini. Tapi sebaiknya kita makan malam di sini dulu ya. Biar ibu masak sesuatu untuk kamu" pinta Pak Ramlan.


"Boleh Pak, tapi jangan repot - repot ya Bu" sambut Wildan.


"Ah tidak kok Nak Wildan" sahut Bu Ramlan.


"Tapi Pak, Bu satu lagi permintaan saya" ujar Wildan.


"Apa itu?" tanya Pak Ramlan penasaran.


"Tolong rahasiakan semua ini dari Ratna ya. Dia baru saja diterima bekerja di perusahaan baru, saya tidak mau kerjanya terganggu" jawab Wildan.


"Na.. Nak Wildan tau kalah Ratna sudah dapat pekerjaan baru?" tanya Pak Ramlan terkejut begitu juga dengan istrinya.


Wildan tersenyum tipis.


"Saya tau semua Pak, saya juga tau dimana Ratna tinggal. Setelah saya pastikan semua aman, saya hanya memantau Ratna dari kejauhan. Saya tau dia tidak akan mencoba menjauh dari saya kalau masalah Bapak belum selesai. Dia sangat menyayangi keluarganya. Putri Bapak itu sangat keras kepala. Dia rela menekan kesedihannya demi membuat kalian bahagia" ungkap Wildan.


Mata Pak Ramlan berkaca - kaca.


"Dia putri kesayanganku, Bapak tidak ingin dia menderita Nak Wildan. Jika semua masalah ini sudah selesai tolong bahagiakan dia" ujar Pak Wildan dengan wajah sedihnya.


"Itu pasti Pak, saya tidak akan berlama - lama lagi. Ratna adalah tujuan hidup saya sekarang ini. Saya sangat ingin membuat dia bahagia karena dialah sumber kebahagiaan saya" sambut Wildan.


"Terimakasih Nak Wildan. Terimakasih" balas Pak Wildan sambil menangis terharu.


Bu Ramlan juga tampak meneteskan air mata. Mereka merasa sangat beruntung mempunyai putri seperti Ratna. Dan sangat bahagia jika Ratna mempunyai suami seperti Wildan yang tampak begitu mencintai putri mereka.


Sebenarnya tak ada salah Wildan lagi di mata mereka hanya saja Pak Ramlan sakit hati dengan masa lalunya bersama Pak Raharjo orang tua Wildan. Apakah dia dikatakan egois karena hal itu?


Tapi Ratna yang lebih memilih mengalah. Mundur dan pergi jauh dari kebahagiaannya dan berharap mendapat kebahagiaan yang lain.


"Ah sudah sore Bu, sebaiknya Ibu masak untuk makan malam kita bersama Nak Wildan" perintah Pak Ramlan tiba - tiba saat tersadar waktu terus berlalu.


"Ah iya Pak, Ibu jadi terbawa suasana" sahut Bu Ramlan.


Mereka tersenyum melihat Bu Ramlan yang terlihat bingung. Bu Ratna langsung berjalan ke dapur. Kini hanya tinggal Wildan dan Pak Ramlan berdua.


"Bagaimana perkembangan renovasi rumahnya Pak?" tanya Wildan.


"Tinggal sedikit lagi Nak Wildan. Bapak rasa satu bulan lagi sudah selesai" Jawab Pak Ramlan.


"Tidak percuma ya ada mantan pengawas proyek" goda Wildan.


"Hahaha Nak Wildan bisa saja. Kini hanya tinggal sisa - sisa pengalaman masa lalu" sahut Pak Ramlan.


"Yuk kita lihat ke belakang" ajak Pak Ramlan.


Wildan dan Pak Ramlan berjalan ke belakang ruko dimana rumah Pak Wildan sedang di renovasi. Wildan melihat pembangunan kembali rumah calon mertuanya itu sangat rapi dan juga cepat.


Dari semua itu Wildan bisa melihat kalau calon mertuanya itu memiliki skill yang sangat hebat.


"Sangat rapi Pak pengerjaannya. Sepertinya Bapak memang memeriksa semua dengan detail" puji Ramlan.


"Ya memang harus begitu Nak Wildan agar tidak rugi dan juga mendapatkan hasil yang optimal dan berkualitas" Jawab Pak Ramlan.


"Kalau Bapak bekerja kembali lagi gimana Pak?" tanya Wildan memberi penawaran.


"Ah Nak Wildan, Bapak sudah tua" tolak Pak Ramlan.


"Belum Pak, usia Bapak masih sekitar lima puluh tahun lebih sedikit saja. Belum masuk masa pensiun" bujuk Wildan.


"Hahaha tapi Bapak sudah lama meninggalkan semua pekerjaan itu" elak Pak Ramlan karena sungkan.


"Sudah lama bukan berarti lupa Pak. Saya melihat Bapak sangat teliti sekali mengawas pembangunan rumah ini. Saya tidak meminta Bapak untuk bekerja keras lagi seperti saat Bapak muda. Saya hanya menawarkan yah sekaligus memang sesuai dengan keahlian Bapak. Dengan keadaan perusahaan seperti itu saya sangat butuh orang yang bisa dipercaya. Agar tidak terjadi lagi hal - hal seperti yang terjadi saat ini Pak bahkan sampai bertahun - tahun berlalu. Bagaimana kalau Bapak saya pinta bekerja kembali di bagian perencanaan proyek. Nanti tugas Bapak hanya mengawasi berjalannya proyek sesuai dengan perencanaan perusahaan?" tanya Wildan memberi penawaran.


Pak Ramlan tampak sedang berpikir. Menimbang dan tidak berani memutuskan semua ini dengan cepat.


"Apa harus saya jawab sekarang?" tanya Pak Ramlan.


"Tidak, tapi lebih cepat lebih baik Pak. Saya akan tenang meninggalkan perusahaan di Semarang jika ada orang yang bisa saya percaya" jawab Wildan.


"Tapi Semarang - Pati tidaklah dekat Nak Wildan" sambut Pak Ramlan.


"Bapak kan hanya pengawas Pak. Tugas lapangan, hanya sesekali masuk kantor. Pati - Semarang hanya sekitar dua setengah jam atau tiga jam. Saya rasa Bapak bisa mengatur waktunya" bujuk Wildan.


Pak Ramlan menarik nafas panjang.


"Baiklah saya akan coba pertimbangkan lagi tawaran dari Nak Wildan" jawab Pak Ramlan.


.


.


BERSAMBUNG