
Melodi keluar dari ruangan kerjanya. Perutnya sudah terasa lapar. Dia segera berjalan menuju dapur dan melihat apa yang sudah di masak asisten rumah tangganya.
Ada bubur, soto dan buah - buahan untuk hidangan pencuci mulut. Tak lupa Cinta juga membuatkan ramuan tradisional dari kampungnya untuk diminum Melodi.
Wangi masakan Cinta sangat menggugah selera Melodi. Dia langsung duduk dan mulai menikmati hidangan makan siangnya hari ini.
"Eeem enak.. harus aku akui semua masakannya memang enak. Aku tak menyangka gadis semuda itu bisa memasak apa saja" komentar Melodi.
Melodi menghabiskan makan siangnya. Hari ini Cinta memasak lebih banyak dari hari biasanya. Mungkin karena dia tau Melodi tidak ke kantor hari ini.
"Enak juga ada dia di sini, walau cerewet tak apalah tapi dia pinter masak. Aku gak perlu keluar lagi cari makanan atau pesan online. Aku juga tidak lagi merepotkan Wildan untuk mencarikan makananku" gumam Melodi.
Melodi berjalan ke teras samping dan duduk di kursi santai dekat kolam renang. Saat dia ingin menyalakan rokokmu tiba - tiba dia teringat pesan Cinta.
"Jangan merokok, tidak baik untuk kesehatan paru - paru Bos" pesan Cinta tadi.
"Cih... kenapa aku jadi ingat kata - kata dia terus. Dasar cerewet, orangnya sudah pergi tapi dia seperti hantu. Kata - katanya terus menggema di telingaku" umpat Melodi kesal.
Akhirnya Melodi tertidur di atas kursi santai hingga sore hari.
"Od.. Odiiii" panggil Wildan.
Melodi tersentak dari tidurnya.
"Astaga aku kira siapa?" udap Melodi.
"Kamu nyenyak banget tidurnya. Kenapa tidur di luar? Nanti kamu masuk angin jadi tambah sakit" tanah Wildan.
"Aku tadi santai habis makan siang eh rupanya ketiduran" jawab Melodi.
"Lho kamu makan siang? terus Cinta mana?" tanya Wildan sambil mencari sosok Cinta di dalam apartement Melodi.
"Dia sudah pulang sebelum aku keluar ruangan kerjaku" jawab Melodi.
"Gimana tampang aslinya, cantik gak?" tanya Wildan penasaran.
"Gak tau" jawab Melodi cuek.
"Kamu gak coba intip gitu?" tanya Wildan lagi dengan sedikit kesal.
"Ngapain aku mengintipnya, emangnya aku penjahat mesum?" balas Melodi.
"Ish.. masak kamu gak penasaran sih lihat wajah aslinya. Gimana bentuk tubuhnya, pendek, tinggi, gemuk atau langsing?" tanya Wildan penasaran.
"Biasa aja. Seperti yang kamu lihat di CCTV, kurus kayak triplek. Gak ada bagus - bagusnya" jawab Melodi kesal.
Melodi beranjak masuk ke dalam apartement.
"Cinta masak apa tadi Od?" tanya Wildan.
"Masak Soto" jawab Melodi.
"Waah enak tuh, aku mau makan ah" sambut Wildan.
"Gak ada nasi, si cerewet itu cuma masak bubur untukku" balas Melodi.
"Si cerewet?" tanya Wildan tak mengerti.
"Iya anak itu cerewet banget kayak emak - emak udah akhir bulan belum dikasih suaminya gaji bulanan. Dia sibuk ngatur aku gak boleh merokok lah, gak boleh begadang. Makan harus tepat waktu dan lainnya. Saat aku suruh bersihin kamar dia tanya apakah aku ada di dalam kamar. Katanya kalau dua orang muhrim berada dalam satu ruangan yang ketiga itu setan. Dia gak mau hal - hal yang aku ingin kan terjadi. Enak aja dia ngomong begitu. Siapa juga yang menginginkannya?" ungkap Melodi kesal.
"Hahahaha.. dia bilang gitu sama kamu?" tanya Wildan tak percaya.
"Iya, kesal gak?" tanya Melodi.
"Pasti wajahnya lucu. Gadis itu memang lucu dan sangat menarik. Sejak awal aku memang sudah merasa begitu bahkan melihat fotonya pertama kali di surat lamaran aku merasa dia itu memang gadis yang berbeda dari yang lain" ungkap Wildan.
"Kamu suka sama Cinta atau mau promosi? Kalau kamu suka sama dia silahkan kejar. Tapi kalau kamu mau promosi bukan di sini tempatnya. Aku gak tertarik sama pembokat" ucap Melodi kesal.
"Aku cuma mau kamu ngerubah pola pikir kamu aja. Kalau Cinta itu memang anak yang baik, lucu dan pintar" jawab Wildan.
"Gak penting apa yang kamu katakan itu. Sana cepat makan bagian kamu. Aku sudah bilang sama dia masak yang banyak setiap hari karena kamu akan numpang makan setiap hari di sini" ujar Melodi.
Melodi berjalan menuju ruang TV.
"Odi.. Odi.. kalau ngelihat sesuatu itu selalu pakai emosi. Gak pernah mau mencoba lihat dari sudut pandang yang lain. Terkadang dari sisi yang lain lebih bagus lho pemandangannya. Dan pasti kamu akan menyesal nantinya" ujar Wildan.
Wildan melihat panci di atas kompor. Selera makannya langsung timbul. Dengan semangat empat lima dia juga ikutan makan buburnya Melodi.
"Od, gak ada dessertnya? Biasanya Si Cinta selalu buat?" tanya Wildan.
"Gak ada, aku menyuruhnya cepat pulang setelah selesai masak" jawab Melodi.
****
Di kos - kosan Cinta.
"Wah makan enak nih, beli dimana?" tanya Ratna saat dia masuk ke kamar Cinta.
"Aku bawa dari rumah si Bos" jawab Cinta.
"Siapa yang masak?" tanya Ratna.
"Aku, enak lho, kamu mau? Yuk makan aku bawa rada banyak nih tadi" ajak Cinta.
"Bentar aku ambil nasi dulu ya" jawab Ratna.
"Gak usah ambil aja nasiku, banyak tu di rice cooker" sambut Cinta.
Ratna mengikuti perintah Cinta dan mereka duduk diatas lantai di kamar Cinta.
"Kamu masak juga di sana Cin?" tanya Ratna.
"Iya, semua aku kerjain kecuali cuci baju dan setrika" jawab Cinta sambil makan.
"Boleh tau berapa gaji kamu kerja di sana?" tanya Ratna.
Cinta menunjukkan lima jarinya.
"Berapa? Lima ratus ribu? Sikit amat, orang kaya kok pelit" tanya Ratna penasaran.
"Lima juta" jawab Cinta.
"Subhanallah... lima juta Cin? Banyak amat? Kelar deh kuliah kamu" ujar Ratna.
"Iya mudah - mudahan aku betah kerja di sana. Setidaknya sampai kuliahku selesai. Setelah terima ijazah baru aku berhenti dari majikan itu" ungkap Cintamu
"Betah donk, kan majikan kamu cuma sendiri. Rumahnya pasti gak kotor dan gak banyak kerja" sambut Ratna.
"Siapa bilang, kemarin apartementnya porak poranda. Jorok banyak tisu dan sarung pengaman.. iiiiih geli aku" ucap Cinta.
"Sarung pengaman gimana? Emangnya Bos kamu orang udik suka pakai sarung di rumah?" tanya Ratna.
"Kodo* dan yang paling parah aku temukan celana dala* super sexy di kamarnya. Seprainya amburadul mungkin semalaman mereka bertempur di atas ranjang" jawab Cinta.
"Astaghfirullah... majikan kamu Om - om nakal Cin?" tanya Ratna.
"Nggak, masih muda, gagah dan keren tapi suka jajan. Tadi dia sakit, dia gak ngantor jadi di apartement kami hanya berdua. Selama di sana aku jantungan banget, takut di jebak dan di perkos* sama dia" jawab Cinta.
"Kalau dinikahin dan tanggung jawab gak apa - apa deh Cin, kamu bilang dia keren, gagah dan kaya lagi. Mau donk punya suami seperti itu" ujar Ratna.
"Dinikahi setelah di perkos*. Gak lah yaw.. emang aku wanita apaan. Aku gak suka pria hidung belang seperti itu. Tipe pria seperti dia pasti hanya menilai wanita dari penampilannya saja bukan dari hati. Untuk apa jadi istrinya? Yang ada cuma makan hati, dia suka jajan diluaran. Takut kena penyakit yang aneh - aneh ah" sambut Cinta.
"Iya juga ya Cin. Jadi gimana tadi waktu kamu datang?" tanya Ratna.
"Untung dia memang buat syarat sejak awal kalau dia memang tidak mau bertemu denganku. Jadi dia pindah ke ruangan terlarang. Baru aku masuk ke kamarnya untuk bersihin semua" jawab Cinta.
"Ruangan terlarang gimana?" tanya Ratna.
"Ruangan kerjanya. Hanya ruangan itu satu - satunya tempat yang tidak boleh aku masukin" jawab Cinta.
"Ada apa di sana? Apa dia memutilasi para wanitanya dan menyimpannya di sana?" tanya Ratna khawatir.
"Ih kamu kok malah nakut - nakutin aku sih" ujar Cinta.
"Ya habis aneh, kenapa coba kamu gak boleh masuk ke situ?" tanya Ratna.
"Mungkin dia takut rahasia pekerjaannya terbongkar" jawab Cinta.
"Emang dia kerja apa? Begal wanita?" tanya Ratna lagi.
"Iiih kaaan kamu ngomong begitu lagi buat aku takut jadinya. Tapi sebenarnya dia itu orang yang baik kok. Cuma tertutup aja dan dingin. Kurang healing kali. Buktinya dia kasih aku gaji besar, dia juga gak pelit suruh aku belanja sendiri dikasih ATM dan aku bebas mau belanja apa saja, masak apa aja dan aku juga boleh bawa makanan saat pulang" ungkap Cinta.
"Mudah - mudahan dia bukan orang jahat ya Cin" sambut Ratna.
"Aamiiin... semoga saja" jawab Cinta.
.
.
BERSAMBUNG